INICIAR SESIÓN"Kenapa Anda berkata seperti itu. Tapi Anda kan ...." Malik menghentikan ucapannya karena melihat Darren menatapnya dengan tajam.
Dia tidak ingin ada yang mengetahui jati diri dari Rossa terlebih lagi lawan bicaranya saat ini yang tidak lain adalah kliennya. Klien Francis Darren menatap ke arah mereka. Walaupun sedikit agak jauh tapi Darren yakin mereka pasti mendengar sedikit banyaknya pembicaraan mereka berdua. Darren tidak melanjutkan pembicaraan dan kembali bergabung dengan kliennya. "Maaf pembicaraan kita sedikit terganggu. Sampai di mana tadi?" tanya Darren dengan ramah. "Siapa itu Rossa ? Apa dia wanitamu?" tanya klien Francis yang membuat Darren langsung terdiam memandang ke arah kliennya itu dengan datar. Sudah dia duga kalau mereka pasti mendengar dan sekarang malah bertanya. Dengan tenang Darren menjawab siapa itu Rossa. "Aku tidak tahu siapa, mungkin kekasihnya. Apa dia kekasihmu, Malik ? Kenapa dengan dia? Sakit dan memintamu pulang?" tanya Darren dengan tatapan mengintimidasi ke arah Malik hingga Malik sedikit gugup dengan pertanyaan dari tuannya. Dia yang biasanya tenang kini menjadi salah tingkah karena tuannya mengatakan kalau Rossa itu kekasih dia. Padahal sudah jelas tuannya lah yang menikahi Rossa bukan dia. Tidak mendapat jawaban dari Malik membuat Darren semakin kesal. Darren makin melotot meminta Malik untuk mengatakan iya. Kode yang diberikan Darren membuat Malik takut. Malik takut dipecat akhirnya menganggukkan kepala. "benar, Tuan. Rossa itu kekasih saya. Dan dia sakit jadi saya diminta untuk datang ke rumah sakit. Saya meminta izin untuk pergi menjenguk dia," jawab Malik dengan suara terbata-bata dan juga gugup. "Oh. Ya sudah pergi saja. Kasihan kekasihmu itu pasti dia membutuhkanmu. Ayolah, Tuan Darren izinkan asistenmu itu untuk bertemu dengan kekasihnya. Kamu juga pernah merasakan hal yang sama saat mendiang istrimu sakit bukan? Pasti kamu sangat cemas. Begitu juga dengan Tuan Malik. Izinkanlah dia untuk pergi melihat kekasihnya itu. Aiapa tahu kekasih Tuan Malik membutuhkan dia," ucap klien Darren yang menepuk pundaknya Malik. Mendengar klien tuannya berkata seperti itu, Malik semakin takut. Apalagi melihat sorot mata dari majikannya itu tajam. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya sudah katakan kalau saya akan datang setelah acara selesai. Anda tenang saja dan terima kasih perhatiannya," jawab Malik menundukkan kepala. Perkataan Malik yang menolak untuk pergi membuat klien dari Darren lagi-lagi memandang ke arah Darren. "Ayolah, Tuan Darren jangan terlalu tegang. Dia masih lajang dia masih butuh wanita yang bisa menemaninya dan dia juga pasti sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu," ucap kliennya lagi yang membuat Darren mau tidak mau mengizinkan Malik untuk pergi. "Ya sudah kamu pergi sana tapi nanti jemput saya. Karena kita mau ke Belanda setelah ini," ucap Darren yang akhirnya setuju untuk mengizinkan Malik pergi ke rumah sakit menemui Rossa istrinya mewakili dirinya. Malik mengerjapkan matanya, dia tidak percaya kalau Darren mengizinkan dia untuk pergi. "Anda yakin Tuan?" tanya Malik sekali lagi. "Hhm. Ya pergilah nanti kabari aku. Dan ingat cepat kembali," jawab Darren yang terpaksa mengiyakan sekali lagi pertanyaan dari Malik. Padahal dia sudah muak dan kesal dengan kliennya. "Nah, begitulah jadi majikan. Kita harus peduli dengan bawahan kita. Lagi pula ini bukan jamnya kerja jadi dia bisa bertemu dengan kekasihnya kapan saja. Aku juga seperti itu dengan asistenku ini bukan begitu Aldo ?" tanya klien Darren yang bernama Jack. "Benar, Tuan Jack." Aldo mengiyakan perkataan majikannya itu. Darren hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kecil. Dia tidak ingin membahas lagi dan dia penasaran kenapa Rossa bisa sakit apakah dia tidak makan atau dia masih memikirkan kecelakaan kedua orang tuanya. Darren masih menerka-nerka kenapa bisa Rossa sampai masuk rumah sakit. Sedangkan, Malik yang diberikan izin segera pergi ke rumah sakit. Dia berlari menuju ke pintu lift dan dia yakin kalau saat ini orang tua dari bosnya sudah ada di rumah sakit. "Tuhan, apa yang harus aku katakan nanti jika tuan dan nyonya menanyakan ke mana Tuan Darren. Oh, ya Tuhan. Bisa-bisa aku diomelin oleh keduanya," dumel Malik yang sudah pasrah jika nanti dia diomeli oleh kedua orang tua majikannya itu. Sesampainya di pintu lift Malik menekan tombol lift dan langsung terbuka. Malik segera masuk dan kembali menekan tombol satu. Tidak lama pintu lift terbuka kembali dan Malik segera bergegas menuju ke parkiran karena teleponnya terus berdering dan dia yakin kalau itu orang tua dari majikannya. Tidak mungkin dia menjawab karena tidak ada tuannya di sini. Malik segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil menuju ke Rumah Sakit Harapan Bunda. Tangannya gemetar dan dia keringat dingin. Bingung apa yang harus dia katakan. Alasan apa lagi yang akan dia katakan untuk membela bosnya. Sedangkan di rumah sakit Tuan dan Nyonya Tommy Wijaya masih menunggu dokter keluar dari ruang IGD dan tidak lama dokter keluar menemui keduanya. "Saya ingin bertemu dengan keluarga pasien. Apakah Anda orang tua dari pasien ?" tanya Dokter kepada Tuan dan Nyonya Tommy Wijaya. Keduanya berdiri dan menghampiri dokter. "ya kami orang tuanya. Bagaimana dengan anak kami. Kenapa dia bisa seperti ini ?" tanya Nyonya Pingkan dengan raut wajah yang cemas. "Anak Anda mengalami shock berat dan dia harus dirawat di rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut dan kalau perlu anak Anda ini bisa dibawa ke terapis untuk menghilangkan shock atau traumanya. Kalau boleh tahu dia trauma atau shock apa ya?" tanya Dokter dengan serius. Nyonya Pingkan dan Tuan Tommy Wijaya hanya bisa diam. Mereka tidak bisa berkata apa-apa. Yang menimpa menantunya itu benar-benar cukup berat. "Dia sebenarnya menantu kami. Dia baru kehilangan orang tuanya atas kecelakaan pesawat terbang. Anda tahu 'kan pesawat terbang baru saja kecelakaan dan semua penumpangnya meninggal dunia. Pesawatnya masuk ke dalam laut. Nah, salah satu penumpangnya adalah kedua orang tua dari menantu kami. Mungkin itu yang membuat dia shock atau trauma atau mungkin terguncang jiwanya karena kehilangan kedua orang tuanya sekaligus dan di hari yang sama dia juga baru menikah dokter. Jadi, masalahnya bertubi-tubi menimpa dia," jawab Nyonya Pingkan menjelaskan kenapa Rossa bisa seperti itu dengan air mata berlinang. "Oh, seperti itu ya ceritanya. Saya turut berduka cita Tuan dan Nyonya. Pantas saja dia seperti ini tapi saya yakin menantu Anda bisa lebih baik lagi jika suaminya menemaninya dan memberi support agar dia lebih tenang karena kita tidak tahu apa yang dibutuhkan menantu Anda. Yang pasti menantu Anda ini butuh dukungan dari orang terdekat salah satunya suaminya," jawab dokter yang dianggukan Nyonya Pingkan dan Tuan Tommy Wijaya. "Terima kasih banyak dokter kami akan usahakan agar menantu kami kembali pulih seperti semula. Terima kasih banyak," ucap Tuan Tommy Wijaya yang dianggukan 'kan oleh dokter. Tuan Tommy tidak mau memperpanjang masalah. Karena dia yakin anaknya itu tidak datang ke sini. Dan Rossa seperti ini juga ada kaitannya dengan dia. "Ayo, Pa. Kita pindahkan Rossa ke ruangan yang sudah kita siapkan. Mama ingin menemani Rossa dia anak sahabat Mama satu-satunya. Mama tidak ingin anak sahabat Mama itu sedih berlarut-larut ditinggalkan oleh kedua orang tuanya," ajak Nyonya Pingkan dengan mata yang berkaca-kaca. "Iya sudah. Ayo kita pergi ke ruangan yang sudah kita siapkan. Makasih banyak dokter atas bantuannya." "Sama-sama. Kalau begitu saya permisi. Nanti saya cek lagi pasien jika sudah sadar kabari saya," jawab Pak Dokter segera pergi setelah mengatakan kondisi Rossa. Tuan Tommy menganggukkan kepala membiarkan Dokter pergi. Tuan Tommy menoleh ke arah Pak Yan. "Pak Yan, dan kamu Mayang pulanglah dulu. Siapkan pakaian untuk anakku dan bawa makanan yang enak-enak untuknya dan buatkan juga sup kepiting yang biasa kami makan cepat ya. Biar kami di sini temani Rossa," ujar Tuan Tommy Wijaya yang meminta kepada Pak Yan dan juga Mayang untuk pulang dan menyiapkan semua kebutuhan dari menantunya. "Baik Tuan. Kami akan siapkan semuanya kalau begitu kami permisi dulu. Nanti kami datang lagi. Tuan dan Nyonya apakah ingin saya bawakan pakaian juga?" tanya Pak Yan. "Iya bawakan juga. Sekalian beritahukan kepada pelayan di sana kami tidak pulang beberapa hari kalau ada yang mencari kami berdua katakan kami ke rumah sakit. Dan kalau makanan kalian saja yang siapkan," jawab Tuan Tommy Wijaya yang dianggukan oleh Pak Yan dan juga Mayang. Keduanya segera pergi untuk menyiapkan keperluan dari majikan mereka. Tidak lama suster membawa Rossa keluar dari ruangan IGD terlihat Rossa memejamkan matanya wajahnya juga pucat. Nyonya Pingkan menangis melihat Rossa yang sangat sayu, matanya bengkak dia yakin kalau Rossa pasti menangis sepanjang waktu. Keduanya segera mengikuti suster ke ruangan di mana Rossa akan dirawat. Malik yang baru datang segera keluar dari mobil dan berlari ke dalam. Dia ingin bertemu dengan tuan dan nyonya Tommy Wijaya. Sesampainya di lobby rumah sakit Malik segera mendekati resepsionis. "Permisi, saya ingin bertanya pasien atas nama Rossa di mana ya ? Eh, maksud saya kamar berapa eh maksudnya dia dirawat di ruangan apa?" tanya Malik yang gugup dengan nafas yang tersengal bertanya kepada resepsionis, Rossa dirawat di kamar berapa. "Oh pasien atas nama Nona Rossa Bayuni? Dirawat di ruangan VIP lantai 3 sebelah kanan ruangannya," ucap resepsionis tersebut. "Terima kasih banyak," jawab Malik yang segera naik ke lantai 3. "Aku harap Tuan besar tidak marah karena anaknya tidak bisa datang. Benar-benar aneh, dapat istri cantik kok ditolak," ucap Malik yang berlari ke arah lift. "Eh, Malik kamu kenapa ada di sini? Siapa yang sakit, Malik?" tanya seseorang dari belakang yang membuat Malik terkejut dan berbalik melihat siapa yang memanggilnya dan bertanya padanya.Kehidupan Darren dan Rossa semakin hari semakin penuh kebahagiaan tidak ada lagi drama balas dendam musuh mereka. Apalagi, Bunga kini hamil dan Verrel yang merasakan ngidam simpatik Bunga. "Kalian tidak bisa menjauh diriku. Kenapa kalian ke kantor tidak mandi. Kalian bau sekali," teriak Verrel yang wajahnya pucat karena dirinya mencium aroma tidak sedap dari adik kembarnya, asistennya dan juga sahabatnya Miko. "Bro, kenapa berkata seperti itu. Apa kamu tidak tahu aku ini sangat pusing mendengar kamu berkata kami bau. Setiap hari kamu seperti ini. Apakah kamu tidak tahu aku ini kesal mendengar kamu itu saja yang diucapkan. Aku tidak datang kamy hubungi aku dan bertanya ini dan itu. Sekarang, aku ke sini malah dikatakan bau. Mau kamu itu apa?" tanya Miko dengan wajah kesal. "Kakak, dia ini kan kena ngidamnya kakak Bunga jadi agak lain dia. Jadi, dimaklumi saja ya. Paling sebentar lagi dia akan tidur. Lihat saja. Nah, itu lihat dah tidur dia. Sejak hamil dia pemalas dan entah kenapa d
"Aku janji kalau aku tidak akan melakukan pekerjaan ini lagi. Mama jangan khawatir ya," ucap Verrel ke ibunya. Verrel tahu kalau ibunya sangat sayang kepada dirinya hingga berkata seperti itu. Kasih sayang ibu itu tidak akan pernah putus. Rossa menganggukkan kepala. Dia senang karena anaknya berjanji tidak lagi mengikuti mafia. Semuanya demi kebaikan anaknya dan cucunya nanti. "Ayo kita temui Bunga. Aku yakin bunga saat ini pasti sangat sedih karena memikirkan kamu Verrel. Ayo pergi sekarang," ajak Darren ke istri dan anaknya. Mereka yang sudah tiba di rumah sakit bergegas menuju ke ruangan dimana Bunga di rawat. Saat ini anak kembarnya Rafa sudah katakan dimana ruangan Bunga. Dan mereka langsung bergeges menemui Bunga di ruangannya. Saat pintu terbuka terlihat Bunga bersama sahabatnya dan Verrel menatap ke arah Bunga yang saat ini menangis saat melihat dirinya. "Sayang," panggil Verrel ke Bunga. Dengan cepat Verrel mendekati Bunga dan memeluk Bunga. Rasa rindu ditumpahkan Verr
Tanpa mereka duga wanita yang mereka sayangi ada di depan matanya bersama dengan mafia yang baru saja datang yaitu mafia yang akan membantu Oliver Junior. Sontak saja Darren dan Verrel juga Chiko dan Malik terkejut melihat wanita yang mereka cintai yaitu istri dan ibu mereka ada di depan mereka. "Terkutuklah kau Oliver Junior. Apa maumu?" tanya Darren dengan menahan amarahnya karena Rossa ada di depannya dan terlihat istrinya Rossa ketakutan karena dibawa ke sini. "Sayang, tolong aku. Selamatkan aku," cicit Rossa memohon untuk diselamatkan. Rossa menatap ke arah Darren dan Verrel yang ada di depannya. Chiko dan Malik juga menahan amarah istri mereka ada di sini dan sekarang istri mereka malah diancam oleh musuh mereka. "Ck, dasar tidak tahu malu kalian. Harusnya kalau mau bertarung itu satu sama lain. Bukan bawa wanita. Apa ini yang namanya mafia? Memalukan. Kalau mafia lain tahu maka kalian akan dipermalukan oleh mereka," ejek Chiko mencoba menjadi provokator agar mafia yang mem
"Bunga," cicit Verrel saat melihat Bunga yang terkulai lemas dan Bunga dipapah oleh dua pria untuk berdiri. Verrel menatap tajam ke arah si pria yang menyentuh istrinya. "Lepaskan tanganmu dari istriku!" Verrel dengan tegas mengatakan kepada dua pria tadi untuk melepaskan Bunga. "Lepaskan dia. Kamu siapa? Jangan berani mendekati dia. Dia mau dibawa pergi," ucap salah satu pria ke Verrel. Bunga berhasil membujuk keduanya untuk melepaskan dia. Dan sayup-sayup dia dengar suara suaminya. "Verrel, kamu kah itu?" tanya Bunga mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pintu. Dengan sisa tenaga yang tersisa Bunga berhasil menatap suaminya yang datang menyelamatkan dirinya. Bunga menangis akhirnya dia bisa bertemu dengan Verrel. "Dia suamiku. Kalian jangan takut. Dia baik," jawab Bunga kepada dua orang anak buah Oliver Junior yang mau membawa dia pergi. "Oh, maaf tuan. Saya tidak tahu. Bunga sakit dia pukul oleh Tantri jadi dia meminta kami untuk membawa dia pergi. Dan kami ingin bawa dia
Verrel dan rombongan sudah jalan menuju ke tempat dimana Bunga disekap. Dirinya segera memerintahkan kepada anak buahnya yang sudah berada di sana untuk mengawasi situasi di markas milik Oliver Junior. Dan anak buah dari Darren juga sudah berada di sana mereka memberitahukan kalau saat ini menurut informasi Oliver Junior memanggil mafia lain untuk membantunya. Dan mafia itu adalah lawan bos mereka. Darren memandang ke arah anaknya saat kabar itu sampai di telinganya."Sepertinya, mereka meminta bantuan mafia lain. Aku sangat tahu betul mafia yang diminta bantuan itu. Mereka musuhku." Darren menjelaskan kalau Oliver Junior meminta bantuan dari musuhnya. Dan mafia yang bekerjasama dengan Oliver Junior, sama seperti mafia yang dulu Oliver minta bantuan. "Waktu dulu, Oliver juga memakai mereka sekarang anaknya juga memakai mereka. Apa kamu tahu Chiko siapa saja mafia itu?" tanya Darren yang dijawab oleh Chiko dengan anggukan kepala. "Hmm, aku tahu siapa mafia itu. Kamu tenang saja kit
"Entahlah, aku tidk tahu. Aku hanya bisa berharap dia tidak menyakiti anak perempuanku. Aku minta ke anak buahku agar mereka segera beritahukan segera kabari aku. Aku mau tahu seberapa besar kekuatan dia. Kalau sudah tahu maka kita mudah untuk lakukan semuanya," jawab Darren ke Chiko. "Aku harap tidak ada masalah yang berarti semoga saja mereka bisa mendapatkan informasi yang kita butuhkan. Karena jika tidak maka sudah dipastikan kalau kita akan kesulitan untuk mendapatkan Bunga kembali.""Aku harap ini cepat selesai karena jika tidak maka kita akan mendapatkan kesulitan." Chiko pun berharap agar menantu dari temannya sekaligus sepupu iparnya ini bisa kembali ke keluarga.Puas istirahat Darren mendapatkan kabar kalau markas yang dikatakan oleh sahabat dari Bunga ternyata benar adanya dan penjagaan yang cukup ketat terjadi di sana. Darren memerintahkan kepada anak buahnya untuk segera mencari jalan masuk yang aman agar tidak diketahui karena dia akan bergegas pergi ke tempat tersebut







