Home / Male Adult / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 218 Rahasia di Balik Kunci Karat

Share

Bab 218 Rahasia di Balik Kunci Karat

Author: Irbapiko
last update Last Updated: 2026-03-01 08:10:33

Bau debu pengap dan oli mesin tua menyeruak saat Arya menggeser pintu kayu gudang belakang yang sudah lama tidak diminyaki. Suara deritnya memilukan, memecah kesunyian fajar yang baru saja pecah di langit Kemang. Di dalam, tumpukan ban bekas dan tumpukan koran lama yang sudah menguning menjadi saksi bisu barang-barang sisa pemindahan mereka dari Jogja bertahun-tahun silam.

Brian menyusul di belakang, langkahnya berat. Ia mematikan senter ponselnya begitu cahaya matahari mulai menyusup

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 276 Pusara yang Menagih Janji

    "Mas Slamet! Angkat, Mas! Jangan bikin aku gila!"Suara Cindy yang melengking dari pelantang ponsel di atas lantai gudang yang berdebu itu terdengar seperti lonceng kematian yang beradu dengan deru napas Slamet yang kian pendek. Slamet terbatuk, cairan hangat berasa karat memenuhi rongga mulutnya, sementara pandangannya mulai digerogoti bintik-bintik hitam yang menari-nari. Ia sempat terhenti sejenak, menatap rembesan darah yang kian melebar di kemeja putihnya—kemeja yang harusnya ia pakai untuk mengantar Pak Baskoro ke peristirahatan terakhir—dan mendadak ia teringat bahwa ia belum membayar iuran kas pangkalan bulan ini. Distraksi konyol itu menghilang saat bayangan pria berjaket kulit—sang pengacara suruhan Sita—melangkah mendekat dengan kilatan logam di tangannya.Dor!Gema tembakan itu merobek kesunyian gudang, membuat kawanan burung gereja di atap seng terbang berhamburan."Ti-ti-tiarap, bajingan!" Suara serak Brian m

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 275 Pagi Yang Berdarah

    "Bajingan! Lihat ini, Met!"Suara Brian menggelegar di lorong rumah sakit yang biasanya sunyi senyap, memantul di antara dinding-dinding porselen yang dingin. Ia menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Slamet yang masih kuyu karena terjaga semalaman. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang menempel di kaca jendela besar ICU—sebuah distraksi kecil yang tak relevan—sebelum matanya menangkap barisan judul berita di portal media nasional yang baru saja meledak.Skandal Korupsi Miliaran Rupiah: Direksi Perusahaan Logistik Diduga Bangun Perusahaan Cangkang."Data kita tembus, Mas Brian?" tanya Slamet pelan, suaranya parau karena debu ruko semalam masih terasa menyumbat tenggorokannya. Ia meraba saku celananya, mencari koin seribu rupiah kesayangannya, meremasnya kuat-alih-alih membalas antusiasme Brian."Bukan cuma tembus, Met! Hancur lebur itu rencana konferensi pers pengacaranya Sita. Barusan intel pangkalan lapor, s

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 274 Konfrontasi di Kantor Bayangan

    "Gila! Lo beneran bawa map itu keluar lewat lorong tikus, Met?"Suara Brian meledak di tengah sunyinya ruko tua di pinggiran Jakarta Selatan yang mereka sulap menjadi kantor bayangan. Brian tidak menunggu jawaban; ia langsung merenggut map hitam dari tangan Slamet yang masih kotor oleh tanah taman Kemang. Slamet tidak langsung menyahut. Ia lebih memilih menjatuhkan bokongnya di kursi plastik, napasnya masih memburu, sementara jemarinya yang lecet tanpa sadar meraba saku jaket—mencari sensasi dingin koin seribu rupiah yang entah bagaimana terasa seperti jangkar kewarasannya saat ini. Di sudut ruangan, kipas angin berderit berisik, memutar udara pengap yang berbau debu dan kabel terbakar."Bukan cuma map, Bri. Di luar tadi ada empat orang, kayaknya suruhan pengacara Sita. Kalau Slamet nggak tahu celah pagar belakang, mungkin sekarang kita sudah dikeroyok di teras Kemang," Arya menimpali, suaranya parau. Ia menyandarkan punggungnya di tembok kusam, matanya terpejam

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 273 Rahasia di Balik Foto

    "Met, cepet! Jangan sampe ketauan satpam komplek kalau kita bongkar-bongkar malem begini!"Suara Arya terdengar tertahan, nyaris menyerupai desisan di tengah keheningan ruang kerja Rumah Kemang. Slamet tidak menyahut; ia sibuk mengatur napasnya yang menderu pelan. Jemarinya yang kasar menyentuh permukaan meja jati besar milik mendiang Pak Baskoro, merasakan dinginnya kayu yang seolah membawa hawa dari masa lalu. Ia sempat terhenti sejenak, menatap debu yang menari-nari di sorot lampu senter ponselnya, sementara hatinya masih terasa remuk mengingat bunyi datar mesin EKG di rumah sakit tadi. Ada distraksi psikologis yang aneh; Slamet mendadak merasa gatal di ujung hidungnya, namun ia mengabaikannya demi fokus pada laci meja yang terkunci rapat."Sabar, Den. Kuncinya pasti ada di sekitar sini," bisik Slamet. Ia merogoh laci paling bawah, tangannya gemetar hebat hingga terdengar bunyi gesekan kayu yang nyaring di ruangan sunyi itu."Gue nggak tenang, Met. Bayangin k

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 272 Genggaman Terakhir Sang Majikan

    "Mas Arya, Slamet... masuk sekarang, Bapak sudah nunggu."Suara Tante Lina yang bergetar di depan pintu ICU itu nyaris tenggelam oleh desis mesin ventilator, tapi bagi Slamet, kalimat itu seperti lonceng yang memanggilnya ke tepi jurang. Ia sempat terhenti sejenak, menatap ubin putih rumah sakit yang memantulkan cahaya neon dengan dingin, sebelum akhirnya memberanikan diri melangkah masuk ke dalam ruangan yang pengap oleh bau obat dan maut yang mengintai. Slamet meraba saku celananya, mencari koin keberuntungannya yang tadi ia putar-putar dengan gelisah, namun jemarinya justru menemukan lipatan sapu tangan yang sudah basah oleh keringat dingin."Bapak... ini Slamet, Pak," bisik Slamet, ia mendekat ke sisi ranjang yang dipenuhi kabel-kabel monitor yang berkedip tanpa henti.Pak Baskoro terbaring sangat lemah. Masker oksigen menutupi sebagian wajahnya yang kuyu, namun matanya terbuka sedikit—redup, namun tetap memiliki sisa-sisa wibawa Macan Kemang yang dulu

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 271 Kepulangan ke Jakarta

    “Mas, koper yang isi oleh-oleh bakpia sudah masuk bagasi taksi, kan?"Cindy bertanya sembari merapikan anak rambutnya yang berantakan terkena angin pagi bandara YIA yang kencang. Slamet hanya mengangguk pelan, jemarinya masih sibuk memainkan kunci motor yang ia simpan di saku jaket—sebuah distraksi kecil yang selalu ia lakukan saat merasa gelisah. Ia sempat terhenti sejenak, menatap aspal landasan pacu yang mulai berkilau tertimpa matahari pagi, lalu menghela napas panjang. Ada rasa berat yang menggelayut di pundaknya, seolah-olah meninggalkan Jogja berarti meninggalkan sebagian beban, namun ia tahu Jakarta sudah menyiapkan badai yang lebih besar."Sampun, Cin. Semua sudah aman," jawab Slamet pendek. Ia meraih tangan Cindy, merasakan jemari istrinya yang sedikit dingin. "Kamu capek? Kalau di pesawat nanti mau tidur, tidur aja. Biar Mas yang bangunin pas mendarat.""Nggak tahu, Mas. Rasanya malah nggak bisa merem. Kepikiran Papa terus," Cindy menggigi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status