Beranda / Romansa / Gairah Terlarang Calon Mertua / Bab 175 Gairah yang menghangatkan ketegangan

Share

Bab 175 Gairah yang menghangatkan ketegangan

Penulis: Cynta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 14:30:52

Trustin mengangguk, ia memahami rasa penasaran Denzel, akhirnya ia melanjutkan ceritanya. “Amara adalah sahabat Mama Selina, nyonya Katerina Orlova, Amara Mama kandung Shaly. Karena itu Shaly dan Selina dekat, mereka bersahabat, bahkan seperti saudara. Amara dan Shaly lah yang membantu Selina. Sebagian saham minoritas Shaquille, ditangan Selina dengan nama orang lain, mereka bekerja untuk Selina dari perusahaan Mamanya yang tersisa, Orlova Global Corporation. Nyonya Katerina Orlova mewariskan perusahaan pada Selina saat masih usia belasan tahun, dia wanita yang sangat cerdas. Coba kamu periksa saham Shaquille Corporation, cari tau siapa saja pemegang sahamnya!” Trustin menghela nafas panjang, ia lega bisa menceritakan semua pada Denzel.

Sementara itu, Denzel yang terkejut dengan semua kebenaran itu hanya bisa bersandar di sofa. Tapi, itu tidak membuatnya lemah. Denzel yakin, Selina masih di bawah kemampuannya.

“Aku tidak menyangka semua serumit ini.. Tapi, untung aku tidak menju
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 206 ‘Hukuman’ yang menanti

    ​Langit di atas pemakaman keluarga Shaquille seolah terbelah. Di satu sisi, peti mati orang tua Denzel siap bersatu dengan bumi, namun di sisi lain, genangan darah Lorenzo dan pengorbanan tragis Aiden meninggalkan aroma amis yang menyesakkan. Kabut yang merayap di antara nisan-nisan marmer menambah suasana mencekam, seolah-olah maut masih enggan pergi dari sana. ​Melihat ekspresi wajah Denzel yang berubah menjadi gelap dan dingin seperti malam yang tak berbintang, Audrey segera menggelengkan kepalanya. Ia merasakan cengkraman tangan Denzel di bahunya mengeras, tanda bahwa monster posesif di dalam diri pria itu sedang bangkit. ​“Tidak Denzel, aku... Aku hanya ingin tahu kondisinya... Dia... Menyelamatkan aku...” lirih Audrey. Suaranya bergetar, matanya masih terbayang bagaimana Aiden menerjang belati Velove demi melindunginya. ​“Dia menyelamatkanmu karena masih mencintaimu!” bentak Denzel. Suaranya yang berat bergema di antara kesunyian makam. Ia menatap Audrey dengan tatapan yang n

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 205 Tanah pemakaman berdarah

    ​Denzel melangkah maju, perlahan dan pasti. Ia mengambil senjata apinya, menodongkan laras dingin itu tepat ke dahi Lorenzo yang kini bersimbah keringat dingin. "Semua pasukan yang kamu sewa sudah dilumpuhkan dan digantikan oleh orang-orangku satu jam yang lalu. Kamu sendirian, Lorenzo." ​Lorenzo mendongak, matanya merah penuh kebencian. "Kamu pikir ini berakhir di sini? Tidak... Aku sudah menyiapkan sasaran pada kelemahanmu... Lihat ke belakang mu, Denzel!" ​Denzel sempat melirik sekilas ke arah Audrey dan Trustin. Mereka masih berdiri di sana, dijaga ketat. "Mereka aman. Dan sekarang, waktunya kamu menemui Papaku, Lorenzo!" ​Denzel menarik pelatuknya. DOR! Kepala Lorenzo tersentak ke belakang, nyawanya tercabut seketika, di atas tanah pemakaman yang ingin ia hancurkan. ​Sesaat suasana disana terasa begitu hening, tapi keheningan setelah tembakan itu hanya bertahan sedetik karena semua orang tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba.. ​"DENZEL, TOLONG!!!" ​Teriaka

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 204 Pertarungan di pemakaman

    ​Tepat pukul sembilan pagi, iring-iringan mobil jenazah bergerak meninggalkan mansion. Suasana sangat mencekam. Puluhan mobil hitam dengan kaca gelap mengawal dua mobil jenazah di depan. Di sepanjang jalan menuju pemakaman pribadi keluarga Shaquille di perbukitan, tim elit Aksa sudah berjaga di setiap jembatan dan persimpangan. ​Denzel duduk di mobil utama bersama Audrey dan Trustin. Sepanjang perjalanan, tangan Denzel tidak pernah lepas dari pinggang Audrey, mendekapnya posesif seolah sedang melindungi permata paling berharga di dunia. ​Denzel akhirnya merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya yang terus bergetar. Ia baru sempat membuka pesan yang masuk sejak pagi tadi. ​[08123xxxxxxx : Pemakaman keluarga Shaquille telah siap. Semua lubang sudah digali, termasuk untukmu.] ​Mata Denzel menyipit tajam. Kilat kemarahan yang tampak jelas dari manik matanya. Ia tidak membalas pesan itu. Ia justru mematikan ponselnya dan menoleh ke arah jendela, menatap gerbang besi pemakaman kelua

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 203 Gairah di rumah duka

    ​Setelah aktivitas mandi yang cukup panas dan menguras tenaga, Denzel membantu Audrey berpakaian. Mereka mengenakan pakaian serba hitam yang melambangkan duka sekaligus kesiapan untuk berperang. Denzel mengenakan jas hitam dengan rompi antipeluru di dalamnya, sementara Audrey mengenakan dress hitam sederhana namun elegan, lengkap dengan mantel yang menyembunyikan perlindungan yang sama, anti peluru. Mereka juga menyembunyikan senjata api dibaliknya. ​Denzel menggandeng tangan Audrey menuju lift. Wajahnya kini benar-benar mendingin, kembali menjadi sosok pemimpin Shaquille yang tak kenal ampun. ​"Ingat, tetap di dekatku. Jangan lepaskan tanganku sedetik pun saat kita di mansion dan pemakaman," bisik Denzel tegas. ​”Iya, aku mengerti, Denzel!” Audrey mengangguk, ia menggenggam tangan Denzel erat, menyalurkan dukungan penuh lada suaminya. ​Saat mereka melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu di lobi, ponsel Denzel yang berada di saku jasnya bergetar pelan. Denzel tidak la

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 202 Hasrat pagi di balik kabut kematian

    ​Denzel melirik Audrey yang masih terlelap dengan sisa-sisa rona merah di pipinya karena aktivitas panas beberapa jam yang lalu. Ia meraih ponsel itu dengan tangan yang kembali mendingin, seolah emosi hangat yang ia rasakan beberapa jam lalu langsung terhisap habis oleh insting waspadanya. Denzel menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. ​[Ya, Aksa. Ada apa?] ​Suara Aksa di seberang sana terdengar sangat berat, penuh dengan nada darurat yang membuat bulu kuduk Denzel berdiri. [Denzel, aku baru saja sampai di mansion. Jenazah Tuan Besar dan Nyonya sudah tiba dengan pengawalan ketat. Trustin sudah mengambil alih koordinasi keamanan di sini.] [Bagus. Lanjutkan prosesnya di mansion.] ​Denzel menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya. [Oke.. Lalu, bagaimana dengan anggota keluarga yang lain? Apa harus mengabari mereka?] ​[Jangan! Tidak perlu,] potong Denzel cepat. [Kondisi saat ini masih darurat. Lorenzo masih berkeliaran dan aku tidak ingin ada lebih

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 201 Gairah puncak sesungguhnya

    Denzel bersandar di dinding marmer yang dingin, kepalanya mendongak dengan mata terpejam, sementara napasnya tersengal siap merasakan kehangatan basah dan lembut yang akan membungkus pusat gairahnya. ​Audrey menatap Denzel dengan mata yang sayu namun penuh tekad. Tangannya yang lembut meraih Anaconda milik Denzel yang sudah menegang sempurna, berdenyut menuntut kebebasan. Perlahan, Audrey mendekatkan wajahnya, membiarkan napas hangatnya menyentuh ujung kejantanan Denzel yang sensitif. ​“Sshhh... Audrey... Lakukan, baby,” geram Denzel serak. ​Tanpa menunggu lama, Audrey mulai melumat ujung Anaconda itu dengan sensual. Ia menenggelamkannya perlahan ke dalam mulutnya, merasakan ukuran yang memenuhi rongga mulutnya hingga ke pangkalnya. Lidahnya mulai bermain, menjilat dan memutar di bagian kepala yang sensitif layaknya sedang menikmati es krim yang paling lezat di dunia. ​“Oouugghhh... Damn, baby! Kamu akan membuatku gila malam ini!” erang Denzel. Tangannya yang besar merayap ke kep

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status