Compartilhar

CHAPTER 264 |

last update Última atualização: 2025-12-18 08:02:44

“Ada apa, Fika?”

Suara Isandro datar, nyaris tanpa intonasi. Tatapannya menusuk lurus, seolah tidak terpengaruh oleh cara Fika memanggilnya tadi.

Fika menelan ludah, melangkah setengah mendekat. “Saya masih mau tetap tinggal di sini, Mas. Boleh, kan?”

Hening sesaat.

Isandro tidak langsung menjawab—namun dari sorot matanya, Yessa bisa membaca dengan jelas bahwa ketegasan itu sudah mengeras sebelum kata-katanya keluar.

“Tidak bisa,” ucap Isandro akhirnya, dingin dan tak terbantahkan. “Rumah tangga saya butuh privasi. Saya sudah jelaskan dari awal bahwa ini rumah keluarga. Bukan tempat untuk siapa pun tinggal dalam waktu lama.”

Fika menggertakkan rahang kecilnya, merasa terhina sekaligus tidak percaya.

Isandro melanjutkan, suaranya tetap tenang namun tegas menusuk.

“Saya sudah membeli rumah baru untuk kamu. Lengkap dengan fasilitas yang tidak kamu miliki saat di kampung. Malam ini, kamu akan diantar ke sana. Jadi, kemasi barang kamu.”

Yessa menatap Fika dengan iba, namu
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 309 |

    “Mbak Aurora? Dia udah pergi, Mas. Tadi ke sini karena mau anter Arby untuk karnaval. Rencananya, Mbak Aurora mau menunggu sampai acara selesai,” jelas Yessa tenang. Luke tertegun sesaat. Sorot matanya redup, seolah ada banyak hal yang berputar di kepalanya. “Begitu, ya? Saya pikir dia masih di sini.” Yessa hanya membalas dengan senyum kecil. “Mau masuk dulu?” tawarnya sopan. Luke tak langsung menjawab. Pandangannya sempat beralih pada Isandro yang menatapnya datar—dingin, nyaris tanpa ekspresi. Di pangkuan pria itu, Yessy sibuk memainkan mainannya, sesekali menggumam kecil pada Isandro. Mengingatkan interaksinya dengan Arsy. “Bagaimana kondisi Isandro? Apa sudah lebih baik dari sebelumnya?” tanya Luke akhirnya. “Kebetulan sudah, Mas,” jawab Yessa singkat. Luke mengangguk pelan. Namun alih-alih melangkah masuk, ia justru menarik napas panjang—seakan sedang mengumpulkan keberanian. “Yessa,” panggilnya kemudian, suaranya berubah lebih rendah dan serius. Yessa menoleh. “Iya, Mas

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 308 |

    “Aurora,” panggil Luke yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan tak menemukan istrinya di mana-mana. Bahkan Arsy, sedang bermain sendirian di atas ranjang. “Mama kamu ke mana, Nak?” tanyanya seraya naik ke atas ranjang masih dengan bathrobe yang menutupi tubuh tegapnya. Arsy menoleh, tak paham pertanyaaan sang ayah dan kembali memainkan mainannya. Ia serahkan pada Luke, seolah ingin mengajak ayahnya itu bermain. Luke tersenyum kecil, dan menerima mainannya. “Main sendiri dulu, ya? Papa mau ganti baju dulu. Kalau gak, nanti Papa masuk angin.” Ketika Luke bangkit dari duduknya, Arsy langsung merengek dan meminta untuk digendong. Luke dengan sigap meraih putrinya ke dalam gendongan. “Ya udah, kalau gitu temenin Papa ganti baju sebentar. Setelah itu kita sarapan bareng sama Mama. Pasti udah nunggu di bawah.” Beberapa saat kemudian, Luke selesai berganti pakaian. Ia dan anaknya turun ke lantai satu, menuju meja makan yang dia kira Aurora sudah menunggu di sana. “Di mana istri say

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 307 |

    Pagi itu, Arby sudah siap berangkat ke sekolah. Hari ini akan digelar karnaval dengan dresscode sesuai cita-cita masing-masing murid. Bocah itu mengenakan kemeja hitam rapi, celana hitam yang pas di tubuh kecilnya, dan jas dokter berwarna putih yang membingkai tubuhnya dengan manis. Dasi maroon terpasang rapi di lehernya, sementara stetoskop mainan melingkar sempurna, menambah kesan gagah pada penampilannya. “Ya Tuhan,” gumam Yessa sambil tersenyum lebar usai membantu merapikan kerah jas Arby. “Anak Mama ganteng banget, sayang.” Arby tersenyum sumringah, dadanya mengembang bangga. “Iya dong, Ma. Arby kan anaknya Papa,” katanya santai. “Papa Arby juga ganteng.” Yessa terkekeh kecil, lalu mencubit pelan pipi sang anak. “Pinter banget anak Mama.” Ia meraih tangan Arby. “Ya udah, yuk. Kita pamerin ke Papa.” Mereka melangkah keluar kamar mandi menuju ruang rawat inap. Begitu Isandro melihat sosok kecil itu berdiri di ambang pintu, matanya langsung membesar, lalu berbinar. “Papa!”

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 306 |

    Arby langsung berlari menghampiri sang ayah yang terbaring di atas brankar. Melihat itu, Isandro sigap mengubah posisinya menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang. Yessa cepat-cepat mengambil bantalan tambahan, menyelipkannya di belakang punggung sang suami agar ia lebih nyaman untuk duduk. “Papa kenapa, Pa? Ma?” suara Arby bergetar. Matanya berkaca-kaca, tak sanggup menyembunyikan rasa takut melihat sosok ayah yang selama ini ia kenal selalu kuat, kini tampak begitu lemah. Dada Yessa ikut terasa sesak. Ia berjongkok di depan Arby, lalu membantu melepaskan tas sekolah yang masih bertengger di punggung kecil itu. “Papa lagi sakit, sayang,” ucap Yessa lembut. “Tapi kamu jangan khawatir. Papa udah sembuh. Sekarang tinggal istirahat.” Tas bergambar robot itu kemudian diletakkan di atas sofa, tepat di dekat Yessy yang masih terlelap dengan napas teratur. “Papa ….” lirih Arby lagi. “Sini, Nak,” panggil Isandro pelan, membuka satu tangannya. Arby segera naik ke atas brankar deng

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 305 |

    Aurora tak pernah membayangkan hidupnya akan sampai di titik ini. Terbaring kaku di atas ranjang usai memuaskan hasrat Luke dengan terpaksa, tubuhnya terasa berat dan asing, seolah bukan lagi miliknya sendiri. Dadanya naik turun tak beraturan, sementara pandangannya kosong menatap langit-langit kamar yang terasa begitu sempit. Luke benar-benar gila. Seolah suami yang memperkosa istrinya sendiri. Bagi Luke, semua yang baru saja terjadi adalah hukuman. Hukuman karena Aurora berani membantah, karena ia memaksa pergi ke rumah sakit, karena ia masih peduli pada Isandro—lelaki yang seharusnya sudah menjadi masa lalunya. Di sisi kanan, Luke sudah terlelap. Napasnya teratur, wajahnya tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Seolah yang barusan terjadi hanyalah rutinitas rumah tangga biasa. Aurora mengepalkan jemarinya di atas seprai. Rahangnya mengeras. Padahal dia yang dipaksa. Tapi tampaknya Luke yang paling kelelahan di sini. “Bener-bener nyebelin,” gumamnya lirih, suaranya nyaris tak t

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 304 |

    “Kamu ngancem?” Aurora mendesis pelan, tatapannya dingin pada sang suami. “Dan kamu pikir aku takut sama ancaman kamu?” Luke tetap tenang, menjaga wibawanya. “Selama ini aku nurut, bukan berarti aku takut sama kamu. Bukan juga karena aku setuju atas semua sikap dan perbuatan kamu.” “Terus?” Aurora menantang, dagunya terangkat. “Salah aku ke rumah sakit buat lihat kondisi Isandro? Dia orang yang pernah hidup sama aku, dan kita punya anak dari pernikahan kami.” “Jangan lupa, kamu udah punya suami. Tidak salah kamu jenguk dia. Tapi kamu harus izin lebih dulu sama suami kamu yang sekarang, dan aku gak izinin,” ucap Luke menekan. “Aku gak peduli kamu izinin atau gak, karena aku bakal tetep pergi,” Aurora mengepalkan tangannya erat sampai buku-buku jarinya memutih, dadanya naik turun menahan emosi. Luke terdiam beberapa detik. Tatapannya datar, terlalu tenang untuk ukuran amarah. Lalu ia mengangguk singkat. “Baik. Berarti kamu siap nerima konsekuensi dari keras kepala kamu sendiri.”

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status