ログインAroma garam laut yang pekat bercampur dengan wangi bunga frangipani tropis menyergap indera penciuman begitu pintu mobil jemputan pribadi terbuka. Hamparan pasir putih Pantai Seminyak membentang luas di bawah terik matahari Bali yang menyengat, kontras dengan dinginnya pendingin udara di dalam kabin resort privat bintang lima tempat kami menginap. Dila berjalan di sebelahku, mengenakan gaun pantai tipis berwarna putih gading dengan senyuman cerah yang menghiasi bibirnya. Ia tampak begitu menikmati udara kebebasan pulau dewata ini, sama sekali tidak menyadari badai intrik yang tengah menghantam dinding-dinding kekuasaan di ibu kota. "Sayang, lihat pemandangannya! Indah banget..." seru Dila riang, merangkul lenganku erat-erat sambil mendesahkan napas lega. "Iya, indah sekali," gumamku pelan, sementara jemariku di dalam saku celana meremas erat gawai yang bergetar pelan, menerima laporan situasi dari Alfin di Jakarta.Meskipun ragaku berada ribuan kilometer di Bali—menikmati kemewa
Pendar cahaya biru dari layar gawai yang tergeletak di atas nakas kayu jati berkedip tajam di tengah kesunyian kamar penthouse yang temaram. Aku merayapkan tangan perlahan, menyambar benda pipih tersebut dengan jari-jariku yang masih menyisakan ketegangan sisa perjumpaan subuh dengan Ayah. Satu pesan teks baru terpampang jelas di layar tanpa nama pengirim, namun deretan angka dan gaya bahasa formal yang dingin itu sudah lebih dari cukup untuk mengungkap identitas aslinya. Ibuku, Nyonya Arimbi, tidak sedang tidur di Jogja. “Permainan Ayahmu sudah melewati batas, Demian. Jangan biarkan dia merasa menang. Aku tahu setiap langkah busuknya, dan aku yang akan menutup tirai sandiwara ini dari belakang.”Napas tertahan di tenggorokan. Mataku menyipit membaca bait kalimat bernada ancaman mutlak itu. Ibu tidak hanya sekadar memantau lewat laporan Gendis ; ia kini memegang kendali penuh atas papan catur di Jogja, siap menjatuhkan sanksi terberat pada Bima Prasetyo. Di tengah himpitan dua p
Udaranya mendadak terasa membeku. Suara serak Dila yang memecah keheningan subuh itu bagaikan hantaman palu baja yang mendarat tepat di tengah-tengah ketegangan antara aku dan Ayah.Dalam sepersekian detik, seluruh sel saraf di tubuhku bergegas merespons. Aroma parfum vetiver dan sisa asap kretek yang masih menguar tipis di udara ruangan ini adalah bukti nyata yang bisa menghancurkan segalanya jika Dila menarik napas terlalu dalam.Tanpa membuang waktu sedetik pun, aku melangkah mundur setengah langkah, menempatkan tubuhku secara natural untuk menghalangi sudut pandang langsung Dila terhadap sosok Ayah yang berdiri di dekat meja bar. Jemariku bergerak cepat, merengkuh pinggang Dila yang baru saja keluar dari ambang pintu kamar tidur, lalu menariknya perlahan kedalam dekapanku.Sentuhan kulit hangat Dila yang berbalut selimut tipis menyentuh dadaku. Napas gadis itu terasa berat, berembus teratur di leherku, membawa aroma khas tidur malam dan sabun mandi vanila yang menenangkan."Kamu b
Derit halus engsel pintu utama bergesekan pelan dengan lantai marmer, menciptakan getaran rendah yang langsung merambat di telapak kakiku yang telanjang.Aroma parfum vetiver pekat bercampur samar bau tembakau dingin meruap masuk menembus celah pintu, menyapa indera penciumanku dengan sengatan yang sangat familiar.Aku berdiri tegak dalam balutan jubah mandi hitam, merapatkan diri ke balik sudut dinding lorong masuk.Manik mataku menyipit tajam menembus temaram cahaya koridor luar. Di ambang pintu yang terbuka selebar setengah meter, sesosok bayangan tegap berdiri mematung. Postur tubuh tinggi besar itu berdiri dengan dagu terangkat penuh wibawa—sebuah siluet yang sangat kukenali di luar kepala.Tuan Besar Bima Prasetyo.Ayah tidak mengetuk lagi. Pria paruh baya itu melangkah masuk dengan ritme tenang tanpa suara, seolah ia adalah pemilik mutlak dari setiap jengkal properti hotel mewah ini.Kemeja linen gelap yang dikenakannya sedikit kusut di bagian lengan, memperlihatkan guratan o
Kepulan napas hangat dan aroma khas tembakau bercampur sandalwood yang menguar di kegelapan kamar itu seketika menyingkap tabir misteri. Di balik siluet remang-remang lampu tidur, jemari kokoh Bima Prasetyo terulur meraba wajahnya sendiri, mengupas perlahan lapisan topeng karet prostetik wajah Darius Amarta yang melekat sempurna di kulitnya. Topeng itu ia lucuti dalam satu gerakan senyap, memperlihatkan garis rahang tegas dan seringai tipis seorang predator licik yang selama ini mempermainkan seluruh skenario di hotel ini.Bima tahu betul bahwa gerak-geriknya sedang dibayangi dan dipantau ketat oleh putranya sendiri, Demian, serta sang pengawal setia, Alfin. Sadar bahwa setiap jengkal lorong hotel diawasi, Bima memainkan langkah paling jenius : ia menyamar menggunakan identitas besannyq sendiri untuk menyusup ke sarang mangsa tanpa mencurigakan siapa pun di bawah pantauan kamera pengawas.Eva menahan napas, dadanya naik turun dengan liar. Gelombang keterkejutan yang hebat menghanta
Suara dentingan es batu yang beradu dengan dinding gelas kaca terasa begitu kontras dengan keheningan mencekam di dalam ruang kerja pribadiku. Aku duduk bersandar malas di atas kursi kerja berlapis kulit hitam di sudut suite hotel, menyesap perlahan ice caffè latte manis yang menyisakan sensasi dingin pekat di kerongkonganku.Ponsel di atas meja marmer mendadak bergetar panjang, memancarkan pendar cahaya terang yang membelah temaram lampu malam.Sebuah panggilan masuk tertera di layar dari nomor Gendis, salah satu dari dua ajudan kepercayaan ibuku di Jogja. Tanpa membuang waktu, ibu jari langsung menggeser ikon hijau."Ya, ada apa, Dis? Ibu aman?" tanyaku langsung to the point, dengan nada datar namun siaga."Ibu baik, Tuan Muda," jawab suara Gendis dari seberang sambungan, terdengar tenang namun menyimpan ketegasan profesional. "Saya dihubungi Nyonya Besar. Beliau meminta saya untuk mengirimkan beberapa berkas dan file penting langsung kepada Tuan Muda.""File apa itu?" dahiku menge







