Share

Bab 7

Penulis: Irma W
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-20 10:44:58

Sunyi menyelimuti lorong lantai lima. Hanya suara langkah mereka bertiga yang menggema — berat, tegang, dan tergesa seolah setiap detik adalah ancaman baru.

Bill mengikuti di belakang, wajahnya kaku sementara pandangannya terus awas mengamati setiap sudut.

Di depan, Liam berusaha keras menahan tubuh Sabrina yang berkali-kali meliuk tak terkendali. Perempuan itu seperti aliran api yang tak mau dipadamkan. Setiap sentuhan kecil, setiap helaan napas, membuat tubuhnya goyah lagi.

“Tuan yakin akan membawanya masuk?” tanya Bill dengan suara parau. “Dia… ini bukan mabuk biasa.”

Liam mengembus napas kasar, kedua tangannya bekerja menahan Sabrina yang terus merengsek.

“Bukan mabuk.” Suaranya datar namun penuh tekanan. “Ini efek obat perangsang.”

Bill menelan ludah, menatap majikannya penuh penilaian dan rasa tak menyangka.

Bill menegang. “Tuan… eumm—”

“Jangan pikir yang aneh!” bentak Liam. “Buka pintunya!”

Begitu kunci diputar dan daun pintu terbuka, Liam hampir mendorong Sabrina masuk saking putus asanya.

Perempuan itu terhuyung ke dalam kamar, sebagian tubuhnya terseret lengannya sendiri. Wajahnya merah, matanya berkaca-kaca, napasnya berat.

“Siapa pun kamu…” Sabrina merintih serak, “tolong aku…”

Liam memejamkan mata sejenak — tubuh wanita itu sekuat badai memohon, sementara akalnya memaksa agar tetap setajam besi dingin.

“Gerah… sekali…” desah Sabrina. “Lepas baju… lepas baju…”

Tubuh Sabrina merapat ke Liam, seperti tak punya kontrol atas dirinya sendiri. Nafasnya panas, gerakannya kacau… namun insting feminin — terpicu oleh sesuatu yang tak ia pahami — membuatnya tampak seperti perempuan yang tengah mencari pegangan, bukan mencari pria.

Bill mengusap tengkuknya, gelisah. “Mau bagaimana, Tuan? Kalau tidak ditangani… efeknya bisa berbahaya bagi tubuhnya.”

“Aku tahu.” Liam mendorong Sabrina hingga perempuan itu terjatuh ke atas ranjang dengan napas tersengal. “Aku tahu!”

Sabrina berguling dalam kebingungan. Jemarinya mencari, meraba, mencoba menemukan pusat kehangatan di tubuhnya sendiri — tubuh yang tidak lagi ia kenali.

“Shit…” Liam membalikkan badan saat Sabrina mulai menarik kausnya naik, hampir melepaskannya.

“Seb… sebaiknya Tuan yang urus.” Bill melangkah mundur. “Saya… keluar dulu.”

“Apa maksudmu?!” Liam menoleh tajam.

“Tuan mengerti.” Bill membungkuk cepat. “Saya permisi.”

Pintu tertutup.

Liam membeku sesaat. Napasnya berat. Kepalanya menunduk, wajahnya tertutup bayangan.

“Aku tidak boleh…” gumamnya pada diri sendiri. “Aku… sudah bertahun-tahun menahan ini… Aku tidak tertarik dengan hal ini.”

Ia menoleh pelan — dan detik itu pula matanya melebar.

“ASTAGA.”

Gerakan spontan, bukan keinginan — secepat refleks seorang prajurit, ia melompat ke ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Sabrina.

Namun refleks itu pula membuatnya tak sadar posisi mereka:

lutut Liam terkunci di antara kedua kaki Sabrina, tubuhnya membungkuk, napasnya menyapu leher wanita itu.

“Gila!” Liam memaki rendah. “Kamu perempuan liar!”

Ia hendak mundur — ketika Sabrina tiba-tiba terduduk, matanya redup namun tajam.

Dua tangannya meraih tengkuk Liam.

Dalam satu gerakan agresif — dan memohon — ia menarik tubuh Liam hingga pria itu terjatuh menahan beban dengan kedua tangannya di sisi kepala Sabrina.

“Tolong aku…” suaranya pecah, memohon dari tempat yang terdalam.

“Ini sakit… aku… aku…”

Liam menelan ludah, tenggorokannya bergerak naik turun dengan keras.

Di luar, Bill tampak mondar-mandir gelisah. Langkahnya pendek–pendek tapi cepat, seolah lantai karpet hotel itu terlalu panas untuk diinjak. Dari tadi ia mendesis, menggigit ujung jarinya, lalu melirik pintu kamar yang tertutup rapat itu dengan tatapan seperti menanti ledakan terjadi kapan saja.

“Apa Tuan akan baik-baik saja…?” gumam Bill, suaranya hampir hilang ditelan lorong yang sunyi.

“Apa dia tidak akan kambuh…?”

Ia kembali berjalan mondar-mandir, kini sambil mengusap tengkuknya yang dingin berpeluh. Setiap detik terasa lebih panjang dari sebelumnya.

Ingatan itu datang tiba-tiba. Dua tahun lalu—di sebuah vila mewah dekat bukit—ia masih berdiri di sudut ruangan, menjadi saksi sunyi dari pertemuan Liam dengan wanita pilihan ibunya. Wanita yang, setidaknya di awal, tampak sempurna untuk Liam.

Pertemuan itu berjalan mulus. Liam tidak menolak, tidak berusaha lari dari tanggung jawab seperti biasanya. Bahkan, setelah sebulan, ia tampak benar-benar siap.

“Kita atur tanggalnya,” kata Liam waktu itu, suaranya tenang namun penuh keyakinan.

Bill memantau dari kejauhan, menyaksikan perempuan itu mengangguk dengan senyum lebar.

“Tentu saja.”

Wanita itu lalu meraih tangan Liam, merengkuhnya, dan menariknya masuk ke dalam kamar. Bill tetap di luar, berdiri sebagai penjaga, hanya mengawasi lewat dengusan angin yang keluar lewat celah pintu.

“Kita akan lakukan ini setiap hari setelah resmi menikah,” ujar Liam.

Ia dalam puncak hasrat yang jarang Bill lihat. Terlalu percaya. Terlalu lepas.

Dan justru di saat itu—saat semuanya tampak sempurna—wanita itu tiba-tiba menjauh. Gerakannya cepat, panik.

“Astaga, Liam! Aku… aku minta maaf. Aku lupa!”

Penyatuan itu terhenti; keinginan Liam terputus mendadak. Tubuhnya menegang, bingung.

“Ada apa?” tanya Liam, tetapi jawabannya tidak pernah datang.

Wanita itu sudah melompat turun dari ranjang, meraih pakaiannya dengan terburu-buru. Ia merapikan rambutnya, memasang sepatu, dan bahkan tersenyum tanpa rasa bersalah.

“Aku pergi. Kita ketemu lagi nanti malam.”

Pintu tertutup. Sunyi.

Liam hanya duduk di tepi ranjang, menatap kosong seperti orang tolol yang baru saja dijatuhi hukuman tanpa tahu alasan.

Bill masih bisa merasakan dinginnya malam itu di tulang punggungnya, saat Liam menceritakan semua yang terjadi.

“Astaga…” Bill bergidik keras sekarang. “Itu sudah lama berlalu. Seharusnya tidak terjadi lagi hari ini.”

Namun pikirannya tak mau berhenti. Ada sesuatu yang mengganggu sejak tadi.

Tunggu…

Bill mengerutkan kening, lalu mengetuk dahinya. “Perempuan itu… sepertinya memang tidak asing.”

Ia mencoba mengingat—kilasan wajah, tatapan, gaya bicara. Dan seketika bola matanya membesar.

“Aaah! Aku ingat. Dia yang tidak sengaja tertabrak siang tadi.”

Tapi detik berikutnya, tubuhnya justru merinding.

Karena sepertinya… bukan itu jawaban yang ia cari.

Dengan tangan sedikit bergetar, Bill merogoh saku. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka berkas yang sudah ia simpan sejak seminggu lalu—foto dari pihak biro jodoh untuk meyakinkan identitas calon pendamping Tuan Liam.

Layar menyala.

Bill menatapnya.

Wajahnya memucat.

“Wajahnya… sama.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 101

    Bab 101“Apa-apaan kalian?” suara Liam meledak, berat dan bergetar, memenuhi ruangan itu seperti dentuman. Matanya menyala tajam, rahangnya mengeras, napasnya memburu seolah dadanya tak lagi mampu menampung amarah yang menumpuk terlalu lama.Maria refleks melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gerakan gugup. “Li—Liam, dia—ka-kamu tenang dulu, Nak…,” pintanya dengan suara bergetar, nyaris memohon.Namun Liam justru menepis tangan itu dengan keras, gerakannya kasar dan tanpa ragu.“Bertahun-tahun aku patuh,” katanya, melangkah perlahan menjauh, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Setiap langkahnya terukur, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari wajah Maria dan Ralph. “Aku turuti setiap aturan di rumah ini, sampai aku lupa siapa diriku sendiri.”Ia berhenti. Bahunya naik turun, menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.“Aku ketakutan. Aku trauma. Aku hampir mati,” lanjutnya, suaranya kini serak, penuh tekanan. “Dan tetap saja kalian menganggap semu

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku    Bab 100

    Bab 100Liam dan Bill telah menempuh hampir seperempat perjalanan menuju panti yang menjadi tempat tinggal Bibi Ellen. Mobil hitam itu melaju stabil di jalur antarkota, meninggalkan deretan gedung tinggi dan hiruk pikuk pusat bisnis. Udara terasa lebih lembap, langit mendung menggantung rendah seolah menyimpan firasat yang tak nyaman.Namun, sebelum benar-benar keluar dari batas kota, barikade polisi lalu lintas menghentikan laju mereka.Beberapa mobil di depan bahkan terlihat memutar balik, klakson bersahutan, suasana mendadak kacau.“Ada apa ini, Bill?” tanya Liam, tubuhnya condong ke depan, dahi berkerut.“Saya kurang tahu, Tuan,” jawab Bill singkat, matanya waspada menatap ke depan.Seorang polisi menghampiri. Bill segera menurunkan kaca mobil dan sedikit menyembulkan tubuhnya keluar. Polisi itu memberi hormat singkat sebelum berbicara.“Mohon maaf, Tuan. Perjalanan Anda terganggu,” ucapnya sopan. “Beberapa pohon tumbang akibat hujan semalam. Jalan utama tidak bisa dilalui. Kami a

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 99

    Bab 99Sabrina menggenggam kunci apartemen itu agak terlalu erat. Apartemen milik Amanda—tempat yang dulu dihuni sahabatnya sebelum pindah ke rumah Jonas—kini menjadi pelabuhan sementaranya. Satu ruang singgah bagi hidup yang mendadak tercerabut dari akarnya.Amanda dan Jonas masih bertunangan. Secara logika, seharusnya mereka belum tinggal seatap. Namun keluarga mereka tampaknya memilih menutup mata. Mungkin karena persiapan pernikahan yang kian dekat, mungkin pula karena kelelahan menghadapi aturan yang terlalu banyak. Sabrina tak pernah benar-benar tahu—dan saat ini, ia juga tak cukup peduli untuk bertanya.Pikirannya sudah terlalu penuh.Sejak meninggalkan restoran tadi, bayangan percakapan itu terus berputar di kepalanya. Di meja makan yang tidak pernah hangat sejsk awal, Sabrina hanya membicarakan satu hal: bagaimana ia “dibebaskan” dari rumah yang selama ini ia sebut rumah.Amanda terkejut, tentu saja. Namun keterkejutannya lebih tenang, lebih terukur—seakan sebagian dirinya me

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 98

    Bab 98Sabrina meringis getir sambil menyeret koper besarnya menjauh dari rumah itu. Roda koper berdecit lirih di atas aspal kompleks, bunyinya terdengar menyakitkan—seolah ikut memprotes nasibnya. Ia berhenti sejenak di ujung gerbang, menoleh ke belakang.Bangunan berlantai dua itu berdiri tenang, terlalu tenang. Rumah yang biaya sewanya dilunasi Liam. Rumah yang sempat memberinya ilusi tentang “pulang”.Dan kini, rumah itu pula yang menutup pintunya.Lucu.Atau mungkin menyedihkan.“Kenapa mereka mendadak mengusirku?” gumam Sabrina pelan.Tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang menyapu pepohonan di sepanjang jalan, membuat dedaunan kering berjatuhan di kakinya. Sabrina menunduk, kembali melangkah, bahunya sedikit membungkuk menahan berat koper—dan berat di dadanya.“Mereka melupakan jasaku begitu saja,” desisnya. Nada suaranya mengeras, getir. “Menyebalkan sekali.”Tangannya mengepal di gagang koper. Rahangnya mengencang.“Lihat saja,” lanjutnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 97

    Bab 97Ruangan itu dijaga pada suhu sedang, namun ketegangan membuat udara terasa menekan, seolah dinding-dindingnya bergerak perlahan mendekat. Karpet tebal meredam langkah, tirai berat menutup cahaya siang, dan meja kerja besar di tengah ruangan menjadi satu-satunya batas tak kasatmata antara dua generasi yang kini saling berhadapan.Jacob duduk dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang seharusnya tidak ada di jadwalnya hari ini. Liam duduk berseberangan, sikapnya santai di permukaan, namun bahunya sedikit menegang, rahang mengeras setiap kali Jacob menggeser posisi duduk.Seharusnya Jacob sudah kembali ke ruang rapat, menemui klien yang ia tinggalkan. Namun kehadiran Liam memaksanya menunda segalanya.“Sepertinya ada hal penting,” ucap Jacob akhirnya, suaranya rendah dan terukur.Liam berdehem. Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan bertumpu pada sandaran, seolah ingin terlihat santai—padahal matany

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 96

    Bab 96Sabrina meninggalkan hotel itu sekitar pukul sembilan pagi.Udara masih sejuk, matahari belum sepenuhnya naik, tapi langkahnya terasa berat. Untuk kesekian kalinya, ia terbangun di kamar asing—ranjang rapi, bantal tersusun, aroma sabun hotel yang netral—tanpa sosok pria yang semalam membawanya ke sana.Tidak ada catatan di meja.Tidak ada pesan di ponselnya.Tidak ada panggilan tak terjawab.Sabrina sempat berdiri lama di tengah kamar, menatap layar ponselnya yang gelap. Ia tidak menghubungi Liam lebih dulu. Entah karena gengsi, atau karena nalurinya mengatakan pria itu pasti akan menghubunginya sendiri.Namun, sampai ia menutup pintu kamar hotel itu, tak ada apa-apa.“Pasti dia pergi pagi-pagi lagi,” gumam Sabrina pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Dia selalu dikejar waktu.”Ia menyeberang jalan, melewati deretan pertokoan yang mulai buka. Beberapa etalase masih setengah tertutup, beberapa pedagang sibuk menyusun barang. Dunia berjalan normal, sementara kepalanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status