Share

Bab 6

Penulis: Irma W
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-20 10:41:29

Semua isi perut Sabrina bergejolak seperti badai yang kehilangan batas. Ia berjongkok di depan kloset, tubuhnya melipat, lalu cairan pahit itu kembali memaksa keluar dan membakar kerongkongan.

 

Menjijikkan.

 

Ia terengah, menarik napas panjang yang kacau, lalu meluruskan punggungnya dengan susah payah. Empat gelas—hanya empat gelas—tapi cukup untuk membuat dunia di sekelilingnya berputar seperti karusel rusak yang tak mengenal belas kasihan.

 

Gelombang mual kedua menerjang sebelum ia siap. Ia menunduk cepat, muntah lagi; asin, pahit, dan getir bercampur jadi satu di lidahnya.

 

“Aku haus,” gumamnya.

 

Dengan meraba dinding, ia memaksa dirinya berdiri. Cermin memantulkan wajah pucatnya—mata setengah merah, rambut sedikit berantakan. Ia membuka keran, membasuh wajahnya dengan air dingin yang tak banyak membantu.

 

“Sialan…” desisnya, memijat pelipis. Kepalanya berdetak seperti ada palu kecil memukul dari dalam.

 

Ia keluar dari toilet wanita, langkahnya sedikit goyah. Lorong berpendar cahaya neon, musik dari ballroom bergema sampai terasa di tulang. Orang-orang berlalu-lalang, sebagian tertawa terlalu keras, sebagian menghilang ke pintu toilet dengan niat yang terlalu jelas.

 

Sabrina hanya ingin kembali ke meja temannya—wanita gila yang memasukkannya ke program biro jodoh tanpa persetujuan penuh, kemudian meminta uang muka yang seharusnya menjadi haknya

 

Ketika seorang pelayan lewat dengan nampan koktail, tangannya terulur begitu saja.

 

“K–kuambil satu,” ucap Sabrina.

 

Pelayan itu tersentak, bibirnya bergerak seolah hendak memperingatkan, tapi terlalu terlambat. Cairan bening itu sudah mengalir melewati tenggorokan Sabrina.

 

“Terima kasih.”

 

Pelayan itu hanya menatapnya pergi dengan ekspresi yang ganjil… seolah minuman itu menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya.

 

Brak!

 

Sabrina terhenti. Suara itu datang dari ujung lorong, disusul langkah-langkah cepat yang mendekat, keras dan tergesa.

 

Kening Sabrina mengerut. Ia menyipit, bersiap bila sesuatu yang buruk terjadi.

 

Tiba-tiba—

 

“Kemari!”

 

Sebuah tangan muncul dari sisi gelap lorong, menariknya kasar namun terarah. Sabrina terempas masuk ke toilet pria. Pintu dibanting, dan sebelum ia sempat bernapas, tubuh tinggi dan berotot itu mendorongnya masuk ke salah satu bilik toilet.

 

Tangan besar menutup mulutnya rapat.

 

“Mmph! Lepaskan aku!” Ia meronta dengan tenaga yang tersisa.

 

Pria itu menunduk, napasnya terputus.

“Kumohon… hanya sebentar.”

 

Untuk pertama kalinya Sabrina melihat matanya dengan jelas.

 

Biru. Dalam. Gelap seperti laut tengah malam. Tatapan yang mampu membuat seseorang lupa bernapas. Rahangnya kokoh, alisnya tebal, hidungnya lurus, dan bibirnya…

 

Bibir yang terlalu dekat. Terlalu nyata.

 

Sabrina terdiam, bingung antara ketakutan dan ketertarikan yang merayap begitu saja.

 

Suara langkah-langkah keras mendekat.

 

“Sialan! Periksa semua bilik! Pasti masih disekitaran sini!”

 

Sabrina terpaku sesaat, tubuhnya membeku antara ketakutan dan… ketertarikan yang terlarang.

 

Sabrina tertegun. Ia membuka mulut hendak berbicara—sebuah kesalahan.

 

Pria itu menangkap niatnya sekejap.

 

Dalam satu gerakan cepat, ia menunduk… dan mulutnya menutup bibir Sabrina.

 

Ciuman itu bukan lembut. Bukan halus. Tapi bukan pula kekerasan.

Lebih seperti… penyamaran yang terasa terlalu meyakinkan.

Hangat. Dalam. Menguasai. Dan samar-samar beraroma mint.

 

Tubuh pria itu merapat ke tubuhnya, menjaga agar mereka tidak terlihat dari celah pintu. Sabrina menahan napas. Otaknya menolak—tapi tubuhnya terlalu mabuk untuk memberikan protes yang teratur.

 

Pintu bilik pertama dibuka keras.

 

Kosong.

 

Bilik kedua.

 

Sepasang kekasih menjerit kesal.

Kemudian bilik tempat mereka berdua—

Dibuka.

Dua pria bertubuh besar mengintip. Sabrina menegang, hampir melompat, tetapi tangan di pinggangnya menahan gerakannya—dan ciuman itu semakin dalam, seperti adegan yang harus mereka perankan agar tetap hidup.

“Pergi. Mereka cuma orang yang tak sabar,” desis salah satu penjaga dengan jijik.

Pintu menutup.

Langkah-langkah itu menjauh.

Keheningan kembali turun.

Sabrina langsung mendorong dada pria itu, napasnya kacau, wajahnya panas oleh alkohol dan kemarahan.

“Dasar—kurang ajar!”

Tangannya melayang untuk menampar, tetapi pria itu menangkap pergelangannya dengan kecepatan yang mengejutkan.

Keduanya saling menatap—tegang, bingung, dan terseret ke dalam pusaran yang mereka sendiri tak mengerti.

Liam menurunkan alisnya sedikit.

Ia ingat wanita ini. Gadis yang tadi beradu argumen dengan dua temannya, yang tatapannya menyala seperti bara. Sekarang… bara itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih lembut, lebih rentan.

Sabrina menatap balik, sorot matanya yang tadi tajam kini seperti diselimuti kabut tipis.

Ada apa ini…? batinnya goyah.

Mual itu lenyap, seakan dicabut paksa dari perutnya. Tetapi tubuhnya… tidak kembali normal. Sesuatu berdesir dari tulang ekor hingga tengkuk, seperti listrik ringan berlari di bawah kulitnya.

Jantungnya memukul ribcage, tidak sakit—tapi hangat. Terlalu hangat.

Napasnya terputus ketika pandangannya turun. Kemeja pria itu terbuka dua kancing; dada bidangnya terekspos samar, kulitnya tampak kokoh dan hangat. Lehernya, garis rahangnya, jakunnya yang naik turun—

Sabrina menelan ludah.

Astaga… kenapa tubuhku bereaksi seperti ini?

Ia mundur selangkah, lalu mengetuk kepalanya sendiri dengan siku jari, seperti mencoba mengusir rasa yang merayap liar.

Toilet semakin sunyi. Hanya ada suara kecupan samar dari bilik sebelah, dan dengung musik bass dari luar ruangan.

“Tubuhku panas…” desah Sabrina, tak lagi mampu menyembunyikan getaran di suaranya. “Rasanya aneh. Aku… tidak tahan.”

Liam sontak merengut, kewaspadaannya naik. Ia meraih kedua wrists Sabrina sebelum wanita itu kembali mencengkeram bajunya.

“Wajahnya tidak asing,” gumam Liam pelan, lebih pada dirinya sendiri. “Tapi… apa yang sedang terjadi padanya?”

Ponselnya bergetar di saku. Ia mengangkatnya dengan satu tangan sementara tangan lain menahan Sabrina yang terus merapat seperti orang yang kehilangan pusat gravitasi.

“Tuan, Tuan di mana?” suara Bill terdengar.

Liam menunduk sedikit, dan Sabrina mendesah—lirih, manja, tetapi juga tetap agresif. Suara itu hampir terdengar seperti rintihan tertahan. Pakaiannya sendiri bahkan empat ia tarik, berharap rasa panas ditubuhnya menyingkir.

“Ugh… panas… sekali…” Sabrina memejamkan mata, tubuhnya gemetar kecil. “Aku benar-benar tidak tahan…”

Bill terdiam sejenak.

"Siapa itu, Tuan? Ada masalah?”

Liam mengejang, rahangnya mengeras ketika tangan Sabrina merayap naik ke sisi pinggangnya, lalu ke dada, jari-jarinya mencari-cari sentuhan seolah tubuhnya menjerit minta kelegaan.

“Datang ke toilet. Sekarang,” perintah Liam cepat, nyaris mendesis. Ia langsung memutus panggilan.

Sabrina mendongak, pandangannya buram namun dipenuhi kilau yang memusingkan.

“Kamu… tampan sekali…” ucapnya setengah bernafas, setengah keluhan. “Ayo… aku tidak tahan lagi…”

Liam memutar kepala, frustasi.

“Ini tidak terjadi… bukan di sini…”

 

Ia mendorong Sabrina keluar dari bilik, namun wanita itu justru tersandung ke arahnya, tubuhnya melekat seperti magnet yang kehilangan kendali. Gerak gerik Sabrina menjelaskan cukup jelas kalau ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya.

“Aku… tidak tahu… apa yang terjadi…” Sabrina menggigit bibirnya, kelopak matanya bergetar. “Tubuhku… bergerak sendiri…”

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 101

    Bab 101“Apa-apaan kalian?” suara Liam meledak, berat dan bergetar, memenuhi ruangan itu seperti dentuman. Matanya menyala tajam, rahangnya mengeras, napasnya memburu seolah dadanya tak lagi mampu menampung amarah yang menumpuk terlalu lama.Maria refleks melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gerakan gugup. “Li—Liam, dia—ka-kamu tenang dulu, Nak…,” pintanya dengan suara bergetar, nyaris memohon.Namun Liam justru menepis tangan itu dengan keras, gerakannya kasar dan tanpa ragu.“Bertahun-tahun aku patuh,” katanya, melangkah perlahan menjauh, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Setiap langkahnya terukur, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari wajah Maria dan Ralph. “Aku turuti setiap aturan di rumah ini, sampai aku lupa siapa diriku sendiri.”Ia berhenti. Bahunya naik turun, menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.“Aku ketakutan. Aku trauma. Aku hampir mati,” lanjutnya, suaranya kini serak, penuh tekanan. “Dan tetap saja kalian menganggap semu

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku    Bab 100

    Bab 100Liam dan Bill telah menempuh hampir seperempat perjalanan menuju panti yang menjadi tempat tinggal Bibi Ellen. Mobil hitam itu melaju stabil di jalur antarkota, meninggalkan deretan gedung tinggi dan hiruk pikuk pusat bisnis. Udara terasa lebih lembap, langit mendung menggantung rendah seolah menyimpan firasat yang tak nyaman.Namun, sebelum benar-benar keluar dari batas kota, barikade polisi lalu lintas menghentikan laju mereka.Beberapa mobil di depan bahkan terlihat memutar balik, klakson bersahutan, suasana mendadak kacau.“Ada apa ini, Bill?” tanya Liam, tubuhnya condong ke depan, dahi berkerut.“Saya kurang tahu, Tuan,” jawab Bill singkat, matanya waspada menatap ke depan.Seorang polisi menghampiri. Bill segera menurunkan kaca mobil dan sedikit menyembulkan tubuhnya keluar. Polisi itu memberi hormat singkat sebelum berbicara.“Mohon maaf, Tuan. Perjalanan Anda terganggu,” ucapnya sopan. “Beberapa pohon tumbang akibat hujan semalam. Jalan utama tidak bisa dilalui. Kami a

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 99

    Bab 99Sabrina menggenggam kunci apartemen itu agak terlalu erat. Apartemen milik Amanda—tempat yang dulu dihuni sahabatnya sebelum pindah ke rumah Jonas—kini menjadi pelabuhan sementaranya. Satu ruang singgah bagi hidup yang mendadak tercerabut dari akarnya.Amanda dan Jonas masih bertunangan. Secara logika, seharusnya mereka belum tinggal seatap. Namun keluarga mereka tampaknya memilih menutup mata. Mungkin karena persiapan pernikahan yang kian dekat, mungkin pula karena kelelahan menghadapi aturan yang terlalu banyak. Sabrina tak pernah benar-benar tahu—dan saat ini, ia juga tak cukup peduli untuk bertanya.Pikirannya sudah terlalu penuh.Sejak meninggalkan restoran tadi, bayangan percakapan itu terus berputar di kepalanya. Di meja makan yang tidak pernah hangat sejsk awal, Sabrina hanya membicarakan satu hal: bagaimana ia “dibebaskan” dari rumah yang selama ini ia sebut rumah.Amanda terkejut, tentu saja. Namun keterkejutannya lebih tenang, lebih terukur—seakan sebagian dirinya me

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 98

    Bab 98Sabrina meringis getir sambil menyeret koper besarnya menjauh dari rumah itu. Roda koper berdecit lirih di atas aspal kompleks, bunyinya terdengar menyakitkan—seolah ikut memprotes nasibnya. Ia berhenti sejenak di ujung gerbang, menoleh ke belakang.Bangunan berlantai dua itu berdiri tenang, terlalu tenang. Rumah yang biaya sewanya dilunasi Liam. Rumah yang sempat memberinya ilusi tentang “pulang”.Dan kini, rumah itu pula yang menutup pintunya.Lucu.Atau mungkin menyedihkan.“Kenapa mereka mendadak mengusirku?” gumam Sabrina pelan.Tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang menyapu pepohonan di sepanjang jalan, membuat dedaunan kering berjatuhan di kakinya. Sabrina menunduk, kembali melangkah, bahunya sedikit membungkuk menahan berat koper—dan berat di dadanya.“Mereka melupakan jasaku begitu saja,” desisnya. Nada suaranya mengeras, getir. “Menyebalkan sekali.”Tangannya mengepal di gagang koper. Rahangnya mengencang.“Lihat saja,” lanjutnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 97

    Bab 97Ruangan itu dijaga pada suhu sedang, namun ketegangan membuat udara terasa menekan, seolah dinding-dindingnya bergerak perlahan mendekat. Karpet tebal meredam langkah, tirai berat menutup cahaya siang, dan meja kerja besar di tengah ruangan menjadi satu-satunya batas tak kasatmata antara dua generasi yang kini saling berhadapan.Jacob duduk dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang seharusnya tidak ada di jadwalnya hari ini. Liam duduk berseberangan, sikapnya santai di permukaan, namun bahunya sedikit menegang, rahang mengeras setiap kali Jacob menggeser posisi duduk.Seharusnya Jacob sudah kembali ke ruang rapat, menemui klien yang ia tinggalkan. Namun kehadiran Liam memaksanya menunda segalanya.“Sepertinya ada hal penting,” ucap Jacob akhirnya, suaranya rendah dan terukur.Liam berdehem. Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan bertumpu pada sandaran, seolah ingin terlihat santai—padahal matany

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 96

    Bab 96Sabrina meninggalkan hotel itu sekitar pukul sembilan pagi.Udara masih sejuk, matahari belum sepenuhnya naik, tapi langkahnya terasa berat. Untuk kesekian kalinya, ia terbangun di kamar asing—ranjang rapi, bantal tersusun, aroma sabun hotel yang netral—tanpa sosok pria yang semalam membawanya ke sana.Tidak ada catatan di meja.Tidak ada pesan di ponselnya.Tidak ada panggilan tak terjawab.Sabrina sempat berdiri lama di tengah kamar, menatap layar ponselnya yang gelap. Ia tidak menghubungi Liam lebih dulu. Entah karena gengsi, atau karena nalurinya mengatakan pria itu pasti akan menghubunginya sendiri.Namun, sampai ia menutup pintu kamar hotel itu, tak ada apa-apa.“Pasti dia pergi pagi-pagi lagi,” gumam Sabrina pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Dia selalu dikejar waktu.”Ia menyeberang jalan, melewati deretan pertokoan yang mulai buka. Beberapa etalase masih setengah tertutup, beberapa pedagang sibuk menyusun barang. Dunia berjalan normal, sementara kepalanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status