Share

Bab 35

Author: umi roihan
last update Last Updated: 2023-09-27 16:00:00

"Tante, aku nggak tahu ini waktunya tepat atau enggak tapi aku mau ngundang Tante Astri sama Nadia ke ulang tahun pernikahan mama. Tante bisa dateng, kan?"

"Kapan, Sal?" tanya Astri.

"Insyaallah malam Minggu nanti, Tan. Tolong usahain dateng ya, Tan. Mama pasti seneng kalau bisa ketemu Tante. Selama ini kan cuma denger cerita dari aku aja. Ayah juga pengen kenalan sama Tante."

Deg. Ah, apakah sekarang waktunya aku bertemu lagi dengan mas Ismail. Setelah sekian lamanya, bagaimana andai kami bertemu lagi? Apa mas Is masih mengenaliku atau sudah melupakanku?

"Tante usahakan ya, Sal."

"Makasih, Tante." Salsa kemudian menatap kedua abangnya di kursi depan. "Abang berdua juga jangan lupa dateng. Ntar ayah sama mama marah kalau kalian nggak dateng."

"Sip, lah. Abang juga udah lama nggak ketemu ayah. Kemarin abang nggak jadi ke sana."

"Lho, kenap

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gara-Gara Utang   Bab 50

    Awan memutuskan tatapan mereka karena tak ingin perasaannya pada Nadia semakin dalam. Nadia menundukkan kepalanya merasa salah tingkah. Bisa-bisanya dia terpesona pada Awan. "Ayo!" Nadia mengangguk dan mengikuti langkah Awan kelhar dari apartemen. Hilanglah sudah segala kekesalan yang dirasakannya tadi. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Namun kali ini, Nadia menjaga langkahnya agar tak sampai tersandung kakinya sendiri. Bisa malu dia nanti kalau Awan tahu pesonanya menggelitik hati Nadia. Awan berjalan lurus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Nadia. Tak bisa dipungkiri jika hatinya berdebar tak karuan. Semakin lama, Awan semakin menyadari akan perasaannya terhadap Nadia. Perasaan yang seharusnya tak boleh tumbuh. Sepanjang perjalanan ke rumah Astri, tak ada percakapan di antara Awan dan Nadia. Hanya ada suara musik dari radio yang disetel Awan agar perjalanan mereka tak terlalu hening. Sayangnya, musik yang diputar di radio kebanyakan tentang indahnya jatuh cinta. Astri m

  • Gara-Gara Utang   Bab 49

    "Duduk dulu, Nad."Nadia menggeleng pelan."Barang-barang Mas, mana yang mau dikemas?""Emang kamu nggak capek habis kuliah?""Sejam doang, mana mungkin capek. Udah ah, sini bajunya keluarin biar aku masukin koper. Eh iya, sama kopernya dong, Mas."Awan mengangguk dan mengambil koper yang tersimpan di atas lemari. Kemudian, lelaki itu membuka pintu lemari dan mengambil beberapa pakaiannya.Awan meletakkan pakaian miliknya di atas kasur yang kemudian dirapikan oleh Nadia ke dalam koper."Aku tinggal mandi dulu nggak papa, Nad?"Nadia yang sedang asyik dengan kegiatannya mendongak ke arah Awan. Gadis itu mengangguk dan membiarkan Awan berlalu menuju ke kamar mandi di pojok ruangan."Kira-kira, mas Awan pernah ngajak cewek main ke sini nggak ya? Duh, malah jadi overthinking gini. Sadar Nad, kamu harus sadar. Bagi mas Awan, kamu itu bukan siapa-siapa. Hanya seorang istri yang dinikahinya secara terpaksa. Kamu nggak boleh berharap lebih."Nadia mengetuk-ngetuk dahinya, berusaha menyadarkan

  • Gara-Gara Utang   Bab 48

    Nadia mengangguk dan berlari kecil menuju mobil Awan. Kepalanya menoleh ke kanan kiri mengamati jika ada orang yang ia kenali. Nadia mengusap dada merasa lega kemudian masuk mobil Awan dan menutup pintunya. Sementara Salsa yang masih memperhatikan sahabatnya, terkikik geli melihat tingkah Nadia. Kayak orang lagi pacaran backstreet aja takut ketahuan padahal mereka udah sah menikah.Setelah Nadia memasang sabuk pengamannya, Awan melajukan mobilnya kembali. Lelaki itu membunyikan klakson tanda pamit pada Salsa yang kemudian melambaikan tangan pada mereka.Suasana canggung terjadi di dalam mobil hitam yang sedang melaju di antara kemacetan lalu lintas itu."Kamu mau makan siang dulu, Nad?""Bentar Mas, aku telepon mami dulu. Takutnya mami nungguin aku buat makan siang."Awan mengangguk dan kembali fokus pada kemudi."Halo, Mi.""Assalamualaikum, Sayang.""Hehe, waalaikumsalam Mi, maaf lupa.""Bukan lupa, kamu emang kebiasaan kayak gitu.""Iya Mi, maaf. Mami udah makan belum?""Udah barus

  • Gara-Gara Utang   Bab 47

    Awan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah selesai melakukan panggilan. Diliriknya pergelangan tangan kirinya yang dihiasi jam tangan berwarna hitam."Sudah hampir jam satu. Nadia sudah selesai belum ya, kuliahnya?" tanya Awan pada dirinya sendiri.Awan beranjak dari duduknya dan menunggu Nadia di parkiran. Awan duduk di kursi samping kemudi dengan pintu mobil yang terbuka. Tak lama, tampaklah Nadia dan Salsa yang berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Awan membuka ponselnya dan melakukan panggilan pada gadis itu. Nadia berhenti berjalan karena merasakan getaran pada ponselnya di dalam tas."Sal, bentar dulu, ada yang telpon.""Eciee, siapa tuh?"Nadia mengedikkan bahu. "Mami mungkin," sahut Nadia cuek sambil mengambil ponselnya. Saat melihat nama pemanggil sontak Nadia melotot dan melihat sekeliling."Kenapa, Nad?" tanya Salsa kemudian."Mas Awan," ucap Nadia tanpa suara karena banyak orang di sekitar mereka."Angkat aja."Dengan ragu, Nadia menggeser layar ponselnya

  • Gara-Gara Utang   Bab 46

    Awan memasuki ruangan dosen yang sedang sepi karena beberapa di antara mereka sedang mengajar. Hanya ada dua orang dosen yang mejanya terletak jauh dari Awan. Lelaki itu menganggukkan kepalanya sekilas sambil tersenyum menyapa kedua rekannya. Hari ini sebenarnya Awan tak ada jam mengajar, tapi daripada dia harus menunggu Nadia di taman yang banyak mahasiswa berlalu lalang, lebih baik dia menunggu di ruangan dosen.Awan merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Diusapnya layar ponsel dan mencari nama seseorang di sana. Awan menempelnya benda persegi panjang itu ke telinga kanannya begitu terdengar nada dering dari telepon seberang. Sampai dering ketiga belum juga diangkat tapi Awan tetap sabar menunggu."Assalamualaikum.""Waalaikumussalam, maaf Tante, apa aku ganggu?""Nggak kok, kamu nggak ganggu. Ada apa? Mau bicara sama ayah kamu?""Emm, sama tante aja lah. Nanti tolong tante yang sampein sama ayah.""Nak, sampai kapan kamu bersikap seperti ini sama ayah kamu? Tante tahu, kamu

  • Gara-Gara Utang   Bab 45

    "Mas, sampai halte aja, ya," pinta Nadia saat mobil yang dikendarai Awan hampir sampai ke area kampus. Awan mengernyitkan dahi sambil menoleh sekilas. Kemudian Awan menepikan mobilnya sejenak."Kenapa kamu mau turun di sini?" tanya Awan sambil memiringkan badannya menghadap Nadia."Aku nggak mau jadi bahan gosip di kampus, Mas. Mas Awan kan udah janji mau nyembunyiin hubungan kita. Aku belum siap jadi sorotan, Mas. Selama ini hidup aku tenang-tenang aja jadi aku nggak mau sampai tiba-tiba bikin banyak orang penasaran. Kalau aku turun dari mobil Mas Awan dan ada yang mergokin apalagi kalau orang itu fans beratnya Mas Awan, bisa-bisa hidup aku nggak tenang. Aku mau orang mengenalku sebagai Nadia yang biasa, bukan karena Nadia yang dekat sama dosennya."Awan mengangkat tangan hendak mengusap surai hitam Nadia tetapi tangannya hanya menggantung di udara. Awan merasa ragu bahkan takut kalau Nadia malah marah dengan perlakuannya."Maaf ya Nad, aku malah buat kamu jadi serba salah.""Bukan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status