LOGINKebutuhan rumah tangga yang mendesak membuat Astri nekat berhutang kesana kemari. Namun, apa yang telah dilakukannya membuat sang mertua murka dan mengusirnya. Astri terpaksa pergi dari rumah dan meninggalkan suami serta anak semata wayangnya. Setelah bertahun-tahun berlalu, akankah mereka bisa bertemu kembali?
View MoreLangit Jakarta hari ini kelabu.
Mendengar putusan hakim, Amara justru merasa langit di dadanya ikut runtuh perlahan, menyisakan puing-puing yang tak bersuara. Palunya diketuk tiga kali. Tiga kali itu pula jantung Amara dipaksa berhenti berharap. "Pengadilan mengabulkan permohonan cerai Pemohon, Arka Dirgantara, terhadap Termohon, Amara Salsabila." Suara hakim itu bulat dan dingin, menggema di ruang sidang yang terlalu sunyi untuk sebuah kehancuran. Arka berdiri di seberang meja. Setelan jas hitamnya rapi, tanpa kusut sehelai pun. Berbanding terbalik dengan Amara yang menggenggam ujung blazer lusuhnya sendiri, menahan gemetar yang sudah ia hafal selama tiga tahun pernikahan. Pengacara Arka menyodorkan sebuah map biru tua ke hadapan Amara. Di dalam map itu, kertas putih berlogo burung garuda terasa lebih berat daripada vonis penjara. "Tanda tangan di sini, Bu Amara." Pengacara itu bicara setengah berbisik, seolah takut membangunkan luka yang belum sempat mengering. Amara menatap kertas itu. Nama Arka Dirgantara tercetak tebal sebagai pemohon. Namanya sendiri, Amara Salsabila, tertulis sebagai termohon dengan status: mandul. Kata mandul itu seperti pisau yang sengaja ditancapkan pelan-pelan. Tidak untuk membunuh cepat, tapi untuk memastikan ia merasakan setiap sayatannya. Arka menatap Amara dari jauh. Matanya datar. Tidak ada sesal, tidak ada amarah, tidak ada apa-apa. Kosong seperti danau beku di musim mati. Dulu, mata itu yang Amara puja tiap malam. Dulu, mata itu yang berjanji akan menjaganya sampai tua. Sekarang, mata itu hanya ingin Amara lenyap dari hidupnya. "Amara, cepat tanda tangan." Suara Arka akhirnya pecah juga. Rendah, tegas, dan tidak memberi ruang untuk tawar. Itu suara yang sama yang tiga tahun lalu melamarnya di bawah gerimis Ciwidey. Bedanya, dulu suara itu bergetar karena cinta. Hari ini, bergetar karena ingin cepat selesai. Amara menarik napas. Udara ruang sidang terasa pahit di kerongkongan. Tangannya bergerak mengambil pulpen yang disodorkan. Ujung jarinya dingin, padahal Jakarta sedang panas-panasnya. Ia menunduk. Mencoba membaca sekali lagi alasan perceraian di lembar kedua. "Termohon tidak dapat memberikan keturunan setelah tiga tahun pernikahan. Pemohon merasa dirugikan secara materil dan immateril." Dirugikan. Amara mengulang kata itu dalam hati. Jadi tiga tahun air matanya, tiga tahun masakannya, tiga tahun doanya setiap sepertiga malam, semua itu dianggap kerugian? Tiba-tiba mual itu datang lagi. Sudah tiga minggu ini perutnya sering menolak nasi, kepalanya berputar tiap bangun tidur. Amara pikir itu karena stres. Ternyata, mungkin karena hal lain yang belum sempat ia pastikan. "Ada yang mau Ibu sampaikan sebelum tanda tangan?" Hakim memberi kesempatan terakhir. Suaranya sedikit melunak melihat wajah Amara yang pucat. Amara mendongak. Matanya mencari Arka. Sesaat, ia berharap melihat ragu di sana. Setitik saja. Cukup untuk membuatnya bertahan. Yang ia temukan hanya jam tangan Rolex yang diketuk-ketuk Arka ke meja. Isyarat universal bahwa waktunya berharga, dan Amara hanya membuang-buang menit. Amara tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Tidak ada, Yang Mulia. Saya ikhlas." Ikhlas. Kata itu mudah sekali ia ucapkan. Padahal di dalam dadanya, sesuatu baru saja mati dan tidak akan pernah hidup lagi. Pulpen itu akhirnya mendarat di atas kertas. Amara menulis namanya huruf demi huruf. A-M-A-R-A. Tinta hitam itu meresap, mengunci nasibnya di atas meterai sepuluh ribu. Setelah titik terakhir, ia meletakkan pulpen. Bunyi kecil itu terasa seperti lonceng kematian untuk pernikahannya. "Terima kasih." Arka menyambar map itu cepat, seolah takut Amara berubah pikiran. Ia lalu menoleh ke pengacaranya. "Urus sisanya. Saya ada meeting." Tanpa menoleh lagi, Arka melangkah keluar. Punggungnya tegap. Langkahnya pasti. Tidak goyah sedikit pun. Amara tetap duduk. Ia menatap kursi kosong Arka. Masih hangat. Masih ada jejak lelaki yang ia cintai dengan seluruh napasnya. Tiga tahun lalu, di kursi pelaminan, Arka menggenggam tangannya dan berbisik, "Kamu rumahku, Ra." Hari ini, rumah itu merobohkan dirinya sendiri. "Bu Amara, sidang sudah selesai. Ibu bisa pulang." Panitera mengingatkan lembut. Amara mengangguk. Kakinya ia paksa berdiri. Dunia sedikit berputar, tapi ia menahannya dengan menggigit bibir sampai terasa asin. Di luar ruang sidang, lobi pengadilan ramai. Ada tawa, ada tangis, ada janji yang baru dimulai. Amara berjalan lurus, menembus keramaian itu sendirian. Di tangannya hanya ada tas kain yang sudah pudar dan surat cerai yang masih hangat dari printer. Ponselnya bergetar. Nama Arka muncul di layar. Untuk sedetik, jantung bodohnya berharap. Diterimanya telepon itu dengan tangan gemetar. "Halte di depan. Tunggu saya lima menit. Ada yang harus saya berikan." Suaranya datar. Lalu mati. Amara menurut. Ia berjalan ke halte seperti robot. Di bawah terik, ia menunggu. Lima menit terasa seperti lima tahun. Mobil hitam Arka berhenti. Kaca belakang turun sedikit. Sebuah amplop cokelat diulurkan oleh tangan Arka dari dalam mobil. Tidak ada wajah, hanya tangan. "Ini." Satu kata itu saja. Amara menerima amplop itu. Berat. "Cek isinya. Jangan hubungi saya lagi setelah ini. Anggap kita tidak pernah kenal." Kaca mobil naik. Mobil itu melaju, meninggalkan asap dan debu yang menampar wajah Amara. Ia buka amplop itu di halte. Isinya selembar cek dan satu surat kuasa. Cek itu bernilai satu miliar rupiah. Surat kuasa itu berisi: penyerahan satu unit apartemen di Kuningan atas nama Amara. Di bagian bawah surat, ada catatan tulisan tangan Arka. Tegas dan kaku. "Ganti rugi. Jangan cari aku lagi. Jangan muncul di depan keluargaku." Amara tertawa. Pelan, lalu makin keras. Orang-orang di halte menoleh, menatapnya seperti orang gila. Satu miliar. Sebuah apartemen. Harga yang Arka bayar untuk menghapus Amara dari hidupnya. Amara memasukkan kembali cek dan surat itu ke amplop. Tangannya lalu turun, tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata. Mual itu datang lagi. Lebih kuat. Dan untuk pertama kalinya, Amara berani mengakui pada dirinya sendiri. Mungkin ia tidak mandul. Mungkin, justru di dalam rahim yang dibilang cacat ini, sedang tumbuh sebuah kehidupan. Kehidupan yang akan membuat Arka Dirgantara berlutut. Amara menghapus air matanya. Ia tegakkan punggung. Langkah pertamanya bukan pulang ke rumah kontrakan. Langkahnya menuju bandara. Karena malam ini, Amara Salsabila memutuskan untuk menghilang. Bersama rahasia yang akan menjadi karma untuk Arka Dirgantara.Awan memutuskan tatapan mereka karena tak ingin perasaannya pada Nadia semakin dalam. Nadia menundukkan kepalanya merasa salah tingkah. Bisa-bisanya dia terpesona pada Awan. "Ayo!" Nadia mengangguk dan mengikuti langkah Awan kelhar dari apartemen. Hilanglah sudah segala kekesalan yang dirasakannya tadi. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Namun kali ini, Nadia menjaga langkahnya agar tak sampai tersandung kakinya sendiri. Bisa malu dia nanti kalau Awan tahu pesonanya menggelitik hati Nadia. Awan berjalan lurus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Nadia. Tak bisa dipungkiri jika hatinya berdebar tak karuan. Semakin lama, Awan semakin menyadari akan perasaannya terhadap Nadia. Perasaan yang seharusnya tak boleh tumbuh. Sepanjang perjalanan ke rumah Astri, tak ada percakapan di antara Awan dan Nadia. Hanya ada suara musik dari radio yang disetel Awan agar perjalanan mereka tak terlalu hening. Sayangnya, musik yang diputar di radio kebanyakan tentang indahnya jatuh cinta. Astri m
"Duduk dulu, Nad."Nadia menggeleng pelan."Barang-barang Mas, mana yang mau dikemas?""Emang kamu nggak capek habis kuliah?""Sejam doang, mana mungkin capek. Udah ah, sini bajunya keluarin biar aku masukin koper. Eh iya, sama kopernya dong, Mas."Awan mengangguk dan mengambil koper yang tersimpan di atas lemari. Kemudian, lelaki itu membuka pintu lemari dan mengambil beberapa pakaiannya.Awan meletakkan pakaian miliknya di atas kasur yang kemudian dirapikan oleh Nadia ke dalam koper."Aku tinggal mandi dulu nggak papa, Nad?"Nadia yang sedang asyik dengan kegiatannya mendongak ke arah Awan. Gadis itu mengangguk dan membiarkan Awan berlalu menuju ke kamar mandi di pojok ruangan."Kira-kira, mas Awan pernah ngajak cewek main ke sini nggak ya? Duh, malah jadi overthinking gini. Sadar Nad, kamu harus sadar. Bagi mas Awan, kamu itu bukan siapa-siapa. Hanya seorang istri yang dinikahinya secara terpaksa. Kamu nggak boleh berharap lebih."Nadia mengetuk-ngetuk dahinya, berusaha menyadarkan
Nadia mengangguk dan berlari kecil menuju mobil Awan. Kepalanya menoleh ke kanan kiri mengamati jika ada orang yang ia kenali. Nadia mengusap dada merasa lega kemudian masuk mobil Awan dan menutup pintunya. Sementara Salsa yang masih memperhatikan sahabatnya, terkikik geli melihat tingkah Nadia. Kayak orang lagi pacaran backstreet aja takut ketahuan padahal mereka udah sah menikah.Setelah Nadia memasang sabuk pengamannya, Awan melajukan mobilnya kembali. Lelaki itu membunyikan klakson tanda pamit pada Salsa yang kemudian melambaikan tangan pada mereka.Suasana canggung terjadi di dalam mobil hitam yang sedang melaju di antara kemacetan lalu lintas itu."Kamu mau makan siang dulu, Nad?""Bentar Mas, aku telepon mami dulu. Takutnya mami nungguin aku buat makan siang."Awan mengangguk dan kembali fokus pada kemudi."Halo, Mi.""Assalamualaikum, Sayang.""Hehe, waalaikumsalam Mi, maaf lupa.""Bukan lupa, kamu emang kebiasaan kayak gitu.""Iya Mi, maaf. Mami udah makan belum?""Udah barus
Awan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah selesai melakukan panggilan. Diliriknya pergelangan tangan kirinya yang dihiasi jam tangan berwarna hitam."Sudah hampir jam satu. Nadia sudah selesai belum ya, kuliahnya?" tanya Awan pada dirinya sendiri.Awan beranjak dari duduknya dan menunggu Nadia di parkiran. Awan duduk di kursi samping kemudi dengan pintu mobil yang terbuka. Tak lama, tampaklah Nadia dan Salsa yang berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Awan membuka ponselnya dan melakukan panggilan pada gadis itu. Nadia berhenti berjalan karena merasakan getaran pada ponselnya di dalam tas."Sal, bentar dulu, ada yang telpon.""Eciee, siapa tuh?"Nadia mengedikkan bahu. "Mami mungkin," sahut Nadia cuek sambil mengambil ponselnya. Saat melihat nama pemanggil sontak Nadia melotot dan melihat sekeliling."Kenapa, Nad?" tanya Salsa kemudian."Mas Awan," ucap Nadia tanpa suara karena banyak orang di sekitar mereka."Angkat aja."Dengan ragu, Nadia menggeser layar ponselnya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.