"Cantik, bisa cepat sedikit? Cepat lepasin celanamu, kita selesaikan ini dengan cepat."
Di dalam Rutan Sagara yang terletak di wilayah tandus selatan Negara Kradia, Bastian Wiyoko memandang nona bangsawan di hadapannya yang bahkan harus ditopang pelayan untuk bisa berdiri, lalu berkata dengan wajah penuh kegelisahan.
Nona bangsawan di hadapannya memiliki kecantikan yang sangat memesona. Rambut panjangnya terurai, bibirnya merah, giginya putih bersih. Di antara alisnya yang halus tersirat sedikit aura kepahlawanan, seperti semangat seorang wanita perkasa yang tak kalah dari pria.
"Berani sekali! Kamu tahu apa status nona kami? Kalau kamu berani bicara sembarangan lagi, percaya atau nggak, akan kupotong lidahmu!" bentak pelayan itu dengan keras.
"Mau motong lidahku? Omong kosong! Di dunia ini belum ada yang mampu melakukan itu! Lagi pula, kalian sebaiknya pikirkan baik-baik, sekarang kalian yang butuh bantuanku. Kalau nggak mau racunnya dinetralisasi, cari saja orang lain!"
Bastian melambaikan tangannya, lalu berbalik hendak pergi, tetapi dia segera diadang oleh kepala penjara, Dion, yang berjaga di pintu.
"Tuan Muda, jangan marah. Di dunia ini, yang bisa menetralisasi racun di tubuh Bu Joanna hanya kamu. Tolong bantu dia," ucap Dion dengan wajah penuh permohonan.
Seorang kepala penjara meminta bantuan dari seorang narapidana? Sikapnya bahkan penuh hormat.
Tiga tahun lalu, Bastian dipenjara di Rutan Sagara karena melukai seseorang. Kemudian, dia bertemu dengan seorang tokoh besar yang luar biasa.
Orang tua itu mengaku sebagai Penguasa Tertinggi Jalan Keabadian. Dia datang ke Rutan Sagara untuk tinggal beberapa bulan demi memurnikan Batu Sembilan Kegelapan yang belum pernah dilihat siapa pun.
Para narapidana menganggap orang tua itu gila dan tidak memedulikannya.
Namun, setelah Bastian ditangkap dan dipenjara, sang lelaki tua melihat bakatnya yang luar biasa, lalu menjadikannya murid dan mengajarinya berbagai kemampuan. Teknik medis ilahi, metode kultivasi abadi, serta berbagai seni mistik kuno dan modern ....
Sejak saat itu, meskipun Bastian berada di dalam penjara, hidupnya justru berjalan mulus. Dia membuat semua orang di sana patuh kepadanya!
Karena gurunya adalah Penguasa Tertinggi Jalan Keabadian, orang-orang di penjara menghormati Bastian dengan sebutan "Tuan Muda".
"Dion, hari ini adalah hari baik karena masa hukumanku berakhir. Aku bersedia tinggal sedikit lebih lama untuk menyelamatkan seseorang saja sudah memberi kamu muka. Kalau dia nggak mau kerja sama, masa aku harus memohon padanya?" kata Bastian dengan tidak senang.
"Bukan begitu maksudku, Tuan Muda. Tunggu sebentar, aku akan bicara dengan Bu Joanna." Usai berkata demikian, Dion segera berjalan ke sisi nona bangsawan itu dan berbisik beberapa kata.
Setelah berpikir lama, Joanna akhirnya mengangguk dengan terpaksa. "Kalian keluar dulu. Biarkan aku dan Dokter Bastian bicara berdua."
"Baik." Dion dan pelayan keluar dari ruangan.
Joanna duduk di tepi tempat tidur dengan keringat bercucuran karena kesakitan. Dia bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Lukanya berada di bagian bokong.
"Jangan memaksakan diri lagi, cepat tengkurap. Menurut penjelasan Dion, yang menggigitmu kemungkinan adalah ular berbisa yang dipelihara oleh seseorang. Mungkin berasal dari Sekte Lima Racun di Wilayah Magroe."
"Kalau racun itu nggak segera dikeluarkan dari tubuhmu, kamu akan lumpuh dan menghabiskan sisa hidup di kursi roda, atau yang lebih parah, nyawamu bisa melayang."
"Kamu bisa dibilang beruntung karena dapat menemuiku. Sudah, jangan buang waktu lagi. Cepat lakukan seperti yang kukatakan."
Saat Bastian berbicara, racun di tubuh Joanna kembali kambuh. Kedua tangannya berada di pinggangnya, tetapi dia masih ragu.
"Pasien nggak perlu malu pada dokter," ujar Bastian dengan serius.
Akhirnya Joanna mengalah. Setelah dia menurunkan celana luarnya sedikit, lalu dia juga menarik turun celana dalam berendanya.
Bastian duduk di samping dan menatap semua itu dengan tenang. Namun faktanya, api kecil di perut bawahnya sudah semakin membara.
Sebagai pria normal, mustahil tidak bereaksi sedikit pun saat menghadapi pemandangan menggoda seperti ini. Bokong yang bulat dan montok, garis otot yang kencang, benar-benar penuh daya tarik yang tak terbatas.
Namun, ketika pikiran Bastian mulai melayang, kata-kata Joanna berikutnya langsung membuatnya kembali fokus.
"Aku Joanna. Mulai sekarang ingat namaku. Kalau kamu menyembuhkan lukaku, aku pasti akan kasih balasan besar. Tapi kalau kamu berani memanfaatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan dariku, aku jamin kamu akan mati dengan mengenaskan!" Wanita itu memperingatkan dengan tatapan penuh niat membunuh.
"Heh, kamu terlalu meremehkanku. Aku memang bukan orang baik, tapi aku juga nggak serendah itu untuk memanfaatkan orang yang sedang kesusahan." Bastian mencibir dingin.
Joanna tidak berkata lagi, tetapi tatapannya tetap penuh kewaspadaan.
"Nanti mungkin akan sakit sedikit. Tahan saja." Bastian menarik kembali pandangannya dengan enggan, lalu mengeluarkan jarum perak dari saku bajunya dan menusukkannya ke beberapa titik akupunktur Joanna. Tak lama kemudian, darah beracun mulai dipaksa keluar.
Kecepatannya bahkan begitu tinggi hingga darah beracun itu langsung menyembur keluar. Sungguh teknik yang luar biasa!
"Ugh ...." Joanna menahan sakit dengan menggigit kuat-kuat kain bantal di tempat tidur. Dia berusaha tidak mengeluarkan jeritan sedikit pun.
Beberapa menit kemudian, ketika Bastian melihat darah yang keluar dari luka sudah kembali berwarna merah, dia segera mencabut jarum perak dan mengoleskan obat di luka itu dengan hati-hati.
Harus diakui, teksturnya memang sangat bagus.
"Sudah aman. Bangunlah," kata Bastian.
"Secepat itu?" Joanna langsung bangkit, mengenakan kembali celananya, lalu mendapati bahwa selain sedikit bengkak dan nyeri di bagian luka, tidak ada ketidaknyamanan lain.
Tatapannya pada Bastian pun langsung menjadi jauh lebih lembut. Keahlian medis pria itu memang sangat meyakinkan.
"Dokter Bastian, aku berutang budi padamu. Gimana kamu ingin aku membalasnya?" tanya Joanna dengan sedikit kewaspadaan di matanya.
Dia tidak kekurangan uang. Yang dia khawatirkan adalah Bastian meminta dirinya sebagai balasan.
Namun, jelas Joanna berpikir terlalu jauh.
Bastian melambaikan tangan. "Nggak perlu balasan. Hari ini adalah hari baik karena aku keluar dari penjara. Kalau kamu sudah nggak apa-apa, cepat pergi saja. Aku harus berkemas."
Setelah mengatakan itu, Bastian langsung berbalik pergi.
Joanna tampak terkejut.
"Nona sudah baik-baik saja?" Seorang pelayan masuk dan bertanya.
"Mm." Joanna mengangguk.
"Nggak disangka dia benar-benar punya kemampuan," ujar pelayan itu dengan kaget.
Namun, Dion sama sekali tidak terkejut.
"Pak Dion, terima kasih banyak. Tolong kasih kartu nama ini kepada Dokter Bastian. Katakan padanya kalau suatu hari butuh bantuan, dia boleh datang mencariku," kata Joanna sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
"Nggak masalah." Dion mengangguk.
Joanna membawa pelayannya meninggalkan Rutan Sagara. Ketika mengingat ular berbisa yang hampir merenggut nyawanya, keduanya masih merasa takut.
"Nona, gimana kalau menyerah saja? Dua puluh tahun lalu, Keluarga Wiyoko dimusnahkan. Itu pasti ulah ahli kuat. Tuan dipukul sampai luka parah oleh orang misterius, sekarang Nona juga hampir mati digigit ular berbisa yang sengaja dilepas. Pasti dalang di balik semua ini memperingatkan kita agar nggak ikut campur," bujuk pelayan itu.
"Justru karena mereka seperti ini, aku harus menyelidikinya sampai tuntas! Om Rafiar dan ayahku adalah sahabat sehidup semati. Aku harus menuntut keadilan bagi keluarga mereka!"
"Terlebih lagi, aku dan anak Om Rafiar sudah dijodohkan oleh keluarga kita sejak kami masih sangat kecil. Saat Keluarga Wiyoko dimusnahkan, anak Om Rafiar dibawa kabur oleh seorang pelayan."
"Ayahku selama bertahun-tahun selalu memikirkan anak itu. Aku pasti akan menemukannya dan membawanya pulang!" Tatapan Joanna sangat tegas.
"Berarti anak itu tunangan Nona? Gimana kalau nanti setelah ditemukan, Tuan memaksa kalian menikah, tapi orang itu nggak sepadan dengan Nona?" tanya pelayan itu dengan khawatir.
"Soal itu ... kita bicarakan saja nanti." Alis Joanna berkerut. Dia tidak tahu harus bagaimana.
Saat itu, sosok Bastian tiba-tiba muncul di benaknya. Masih muda, tetapi memiliki kemampuan medis yang luar biasa, bahkan mampu membuat para penjahat paling kejam di Rutan Sagara patuh padanya. Selain itu, dia juga cukup tampan.
Mengingat kembali adegan melepas celana tadi, wajah cantik Joanna langsung memerah.
'Kalau saja anak Om Rafiar bisa sehebat dia ... entah kami bisa bersama atau nggak …. Setidaknya ayahku pasti akan sangat senang ...,' pikir Joanna dalam hati.
"Nona, sekarang kita pergi ke mana?" tanya pelayan.
"Ke Kota Kembang. Pak Antonius mengundangku dengan sangat tulus. Aku harus menghargainya."
....
"Dewa Pembunuh Negara Graupel, Glevsky, mengucapkan selamat atas kebebasan Tuan Muda."
"Raja Kegelapan, Bruce, mengucapkan selamat atas kebebasan Tuan Muda."
"Pencuri Bunga, Vitus, mengucapkan selamat atas kebebasan Tuan Muda."
"Seribu Wajah, Chandra, mengucapkan selamat atas kebebasan Tuan Muda."
Bastian menyeret kopernya sepanjang jalan. Ke mana pun dia lewat, para narapidana memberi ucapan selamat.
"Heh, jangan senang terlalu cepat. Dion adalah temanku. Kalau suatu hari dia memberitahuku ada di antara kalian yang nggak patuh di sini, aku akan segera kembali untuk 'ngobrol' dengan kalian," ucap Bastian sambil tersenyum dingin, seolah-olah menembus pikiran mereka.
"Nggak berani, kami nggak berani ...." Para narapidana ketakutan dan langsung menunduk.
Tidak ada yang lebih tahu betapa mengerikannya Bastian. Orang-orang yang dipenjara di sini semuanya adalah penjahat kelas kakap. Dulu di luar, mereka adalah tokoh besar yang terkenal!
Bastian sebenarnya dijebak hingga berakhir di sini. Namun, sekarang dia justru harus berterima kasih kepada orang yang menjebaknya, karena dia tidak akan mempelajari semua kemampuan sekarang tanpa itu.
"Dion, aku pergi dulu. Kalau butuh bantuan, hubungi aku kapan saja," kata Bastian kepada kepala penjara.
"Baik, Tuan Muda. Semoga perjalananmu lancar. Tiket pesawat kembali ke Kota Kembang sudah kupesan. Oh ya, ini kartu nama Bu Joanna. Dia memintaku memberikannya kepadamu," kata Dion.
Bastian malas menanyakan identitas Joanna. Dia memasukkan kartu nama itu ke saku dan memulai perjalanan pulang.
"Aku akan memberikan kalian kehidupan terbaik!" Bastian memegang foto keluarga di tangannya dengan tatapan penuh tekad.
Pada saat yang sama, dia juga tidak melupakan pesan gurunya sebelum pergi. Berlatihlah dengan giat dan dua bulan lagi harus pergi ke Pulau Angin Petir. Di sana ada peluang yang ditinggalkan oleh gurunya!
Lima jam kemudian, Bastian tiba di Kota Kembang, Provinsi Kintar.
Tempat ini adalah sebuah kota kecil dengan pemandangan indah. Malam baru saja tiba, lampu-lampu kota mulai menyala.
Bastian berjalan di jalan yang familier. Berbagai suara pedagang terdengar di telinganya. Berbagai makanan kaki lima di malam hari adalah ciri khas jalan ini.
Namun, saat ini Bastian tidak berminat menikmati semuanya. Dia sangat ingin segera pulang dan bertemu keluarganya.
"Ayah, Ibu, Eira ... apa kalian semua baik-baik saja?"
Tak disangka, belum berjalan jauh, tiba-tiba terdengar suara benturan di sekitar. Sebuah lapak penjual sate milik seorang wanita dihancurkan!
Beberapa preman yang membuat keributan bahkan masih tidak puas dan mulai menggoda wanita yang berjualan itu.
"Aku mohon, tolong lepaskan aku. Ayahku masih terbaring di rumah sakit dan sangat butuh uang. Aku benar-benar nggak mampu bayar uang perlindungan lagi." Wanita itu menangis dengan putus asa sambil memohon.
"Heh, nggak masalah kalau nggak mampu bayar uang perlindungan. Malam ini temani saja kami bersenang-senang," kata preman yang memimpin sambil tertawa.
"Nggak! Tolong lepaskan aku, aku mohon ...." Wanita itu memohon sambil berlutut.
Namun, beberapa preman yang sudah dipenuhi nafsu itu sama sekali tidak berniat melepaskannya. Mereka hendak menyeret wanita itu pergi secara paksa, sementara orang-orang yang menonton tidak ada yang berani ikut campur.
Tepat pada saat itu, sebuah suara dingin terdengar dari belakang para preman. "Lepaskan adikku!"