Inicio / Fantasi / Geger Kahyangan / 936.Pelahap Kehampaan

Compartir

936.Pelahap Kehampaan

Autor: Gibran
last update Última actualización: 2026-02-12 21:57:28

Bara Sena mengerahkan kekuatan pada pedang Dewa Matahari yang ada di tangannya. Saat itu juga, Pedang tersebut menyala terang disertai kobaran aura merah membara. Aura kekuatan dari Pedang tersebut membuat Astra dan makhluk raksasa yang baru saja dia keluarkan sama-sama tertegun.

"Karena kau adalah makhluk yang sudah berada di Ranah Alam Semesta Tingkat 10, maka...cobalah seranganku yang satu ini," kata Bara kemudian dia mengayunkan pedang miliknya ke depan.

Cahaya kuning kemerahan melesat kelu
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Geger Kahyangan   937.Tunduk Sepenuhnya

    Dewa Astra dan Limbo berteriak keras minta ampun saat tubuh mereka tak lagi mampu bertahan dari kekuatan aneh yang ada di atas telapak tangan Tubuh Dewa Bertangan Delapan milik Bara Sena. Jurus itu sebenarnya adalah milik Dewi Merak Bulan Indira yang Bara pinjam untuk menggertak dua roh Dewa tersebut.Begitu mereka meminta ampun, Bara segera menghentikan serangannya. Saat itu juga, tubuh Astra dan Limbo jatuh ke bawah dan mendarat di tanah yang telah hancur. Mereka berdua sangat ketakutan.Apa yang Bara lakukan, sebenarnya tidak benar-benar berniat membunuh mereka berdua. Karena bagaimana pun, Astra merupakan roh senjata Tombak Pashupata. Jika rohnya lenyap, maka senjata itu hanya akan menjadi rongsokan seperti Golok Iblis miliknya saat ini. Ada pun Limbo, yang merupakan tunggangan Astra, adalah sosok Dewa Binatang yang sudah mencapai tingkat tertinggi pertapaannya dan setingkat dengan Anoman."Kalian menyerah begitu saja?" tanya Bara yang kini nampak duduk dengan santai di atas kepal

  • Geger Kahyangan   936.Pelahap Kehampaan

    Bara Sena mengerahkan kekuatan pada pedang Dewa Matahari yang ada di tangannya. Saat itu juga, Pedang tersebut menyala terang disertai kobaran aura merah membara. Aura kekuatan dari Pedang tersebut membuat Astra dan makhluk raksasa yang baru saja dia keluarkan sama-sama tertegun."Karena kau adalah makhluk yang sudah berada di Ranah Alam Semesta Tingkat 10, maka...cobalah seranganku yang satu ini," kata Bara kemudian dia mengayunkan pedang miliknya ke depan.Cahaya kuning kemerahan melesat keluar dari dalam Pedang membentuk sabit raksasa yang besarnya tidak main-main. Aura tersebut membuat tanah terbelah dan semua yang dilewatinya hancur.Astra benar-benar tak percaya melihat kekuatan yang bisa membelah ruang tersebut. Dia menoleh kearah Limbo yang baru saja keluar dari dunia ilusi miliknya."Apa yang kau tunggu? Lawan kekuatan itu dengan kekuatan yang kau miliki." kata Astra kepada makhluk bertanduk empat tersebut.Seolah baru tersadar dari lamunannya, Limbo berteriak keras sambil me

  • Geger Kahyangan   935.Dewa Bintang Merah,(2)

    Tombak biru dengan ujung tombak menyala merah itu bergetar hebat setelah melihat Bara Sena yang mendekat kearahnya. "Kau menciptakan kehancuran seperti ini, siapa sebenarnya dirimu manusia?" tanya roh senjata yang ada di dalam tombak tersebut."Aku Bara Sena. Orang yang akan mengambil dirimu sebagai senjata milikku. Apakah sekarang kau sudah menyerah?" sahut Bara Sena. Tombak itu bergetar hebat mengeluarkan aura warna merah."Pertarungan tadi masih belum selesai. Apa kau berpikir aku sudah kalah? Serangan mu memang kuat, tapi tetap tidak mampu menembus pertahanan Dewa Bintang Merah milikku." kata sosok roh bernama Astra.Bara terdiam."Benar juga...Dia baik-baik saja setelah ledakan Pukulan Sakti milikku...meski gunung harta ini lenyap..." batinnya."Pertarungan yang sesungguhnya akan dimulai...Jika kau berhasil mengalahkan diriku, maka...Aku akan menjadikan dirimu sebagai Tuanku yang baru," ucap Astra lalu dari dalam tombak tersebut muncul bayangan samar yang kemudian memadat dan me

  • Geger Kahyangan   934.Dewa Bintang Merah

    Bara Sena melesat kearah tombak yang masih terikat oleh rantai cahaya miliknya. Tangannya langsung memcengkram tombak tersebut tanpa ragu-ragu. Torun yang menyaksikan hal itu pun hanya bisa berdecak kagum dengan keberanian Bara.Begitu pemuda itu menyentuh tombak tersebut, saat itu juga kekuatan yang luar biasa dahsyat menghempaskan tubuhnya. Bara bertahan sekuat tenaga agar tubuhnya tidak terpental oleh gelombang yang sangat kuat tersebut. "Ugh! Kuat sekali!" serunya dalam hati."BERANI KAU MENYENTUH SENJATA INI!?" terdengar suara yang sangat dalam dari arah Tombak Pashupata Astra tersebut.Bara menyeringai lalu mengerahkan kekuatan cahaya yang dia miliki. Sinar kuning keemasan menyeruak dari tubuhnya menekan aura merah. Namun ternyata tombak itu tidak diam saja. Saat itu juga aura merah yang menyelimuti senjata tersebut merebak dengan kuat sehingga dua kekuatan itu saling bertabrakan.Drrrttt! Blar!"KAU HEBAT JUGA BISA BERTAHAN SETELAH MENYENTUH SENJATA INI. KALAU BEGITU, BIAR KAU

  • Geger Kahyangan   933.Mata Langit & Pashupata Astra

    Bara menatap sosok Kera raksasa yang kini mengubah ukuran tubuhnya menjadi sebesar manusia biasa. Setelah Torun menyerah, Dewa Cahaya itu sedikit mempertanyakan alasan Makhluk tersebut menyerah begitu saja di saat-saat terakhir dia menyerang. Torun pun menceritakan tentang Pedang Dewa Matahari yang Bara Sena miliki. Dan semua perkataannya tidak ada yang meleset sama sekali. Semuanya benar bagi Bara Sena."Jadi kau adalah penjaga yang ikut dibawa oleh Resi Karmapala ke tempat ini?" tanya Bara setelah Torun menjelaskan semuanya. Kera tersebut mengangguk."Harta yang aku jaga di tempat ini adalah Mata Langit." kata Torun sambil menancapkan tangannya ke dada. Jleb!Darah muncrat dari luka yang Torun ciptakan di dadanya sendiri. Bara terkejut dan sempat ingin melarang. Namun Kera iu sudah terlanjur melakukanya."Apa yang kau lakukan!?" seru pemuda itu yang mengira Torun akan bunuh diri karena tidak mampu menjaga harta yang ada di tempat itu.Kera berbulu lebat itu menyeringai lalu menarik

  • Geger Kahyangan   932.Menyerah

    Ledakan yang sangat besar tercipta setelah Torun menghantam tameng Angkara dengan kedua tinjunya. Bara Sena masih bertahan di balik tameng tersebut meski dia bisa merasakan kehebatan Torun, sang penjaga."Hanya dengan serangan fisik sudah menciptakan kehebohan seperti ini...Dia memang hebat..." batin Bara.Kedua tangan Torun yang besar mencengkram tameng yang menjadi perisai andalan Bara Sena. Dia berniat merebut harta tersebut dan membuangnya. Tapi sayangnya tameng itu bukanlah tameng sembarangan. Begitu dia berniat untuk meraih tameng Angkara, tiba-tiba saja aura merah keluar dari dalam tameng lalu kemudian melilit kedua tangannya dengan sangat kuat membuat Torun terkejut setengah mati.Bara tersenyum melihat hal itu."Indira tidak terima tameng ini disentuh oleh orang lain...Hahaha!" batinnya."Aaaarrrrrggghhh!"Kera raksasa itu meraung setinggi langit saat kedua tangannya dililit aura yang membentuk sulur (tanaman merambat).Bara mengangkat tameng besar itu kemudian melepaskan ten

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status