Beranda / Young Adult / Gejolak Berbahaya Anak Bos. / Bab 1. Gelora liar anak bos

Share

Gejolak Berbahaya Anak Bos.
Gejolak Berbahaya Anak Bos.
Penulis: Bulandari f

Bab 1. Gelora liar anak bos

Penulis: Bulandari f
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-06 19:20:40

Di bawah cahaya neon yang berpendar lembut dan dentuman bass yang menggetarkan lantai, Club Aurora malam itu tampak seperti semesta kecil yang berputar dalam ritmenya sendiri. Lampu-lampu berwarna ungu dan biru menari di antara kabut tipis yang dihembuskan mesin asap, sementara aroma campuran parfum dan koktail memenuhi udara. Suasana hangat, bising, dan penuh tawa—tempat di mana waktu seolah melebur.

Di tengah keramaian itu, Glora melangkah dengan percaya diri. Gaunnya memantulkan cahaya lampu, dan rambutnya tergerai sempurna. Ia ditemani beberapa sahabat yang sama riuh dan glamornya. Mereka duduk di VIP lounge, menatap kerumunan sambil sesekali saling menilai lelaki yang lalu-lalang.

Beberapa pria mencoba datang mendekat—ada yang menawarkan minuman, ada yang berusaha memulai percakapan. Tapi tidak ada satu pun yang mampu menembus dinding di hati Glora. Senyumnya ramah, namun matanya tak tertarik. Pesona lelaki-lelaki itu memudar begitu saja sebelum sempat mendekat lebih jauh.

Hingga tiba-tiba, sesuatu membuat Glora menghentikan gerakannya.

Di dekat pintu masuk, berdiri seorang pria mengenakan kemeja kerja yang masih rapi, lengan sedikit tergulung, seakan ia datang langsung dari kantor. Ia sedang berbicara lewat telepon, wajahnya serius namun tenang, berbeda sekali dari riuh dunia di sekelilingnya. Seolah ia adalah satu-satunya orang yang tidak berusaha menjadi pusat perhatian—dan justru itulah yang membuatnya menonjol.

Pandangan Glora terpaku.

Tanpa menunggu lama, ia bangkit dan berjalan menghampirinya. Ada kepercayaan diri dalam langkahnya, seperti seorang ratu yang sedang memilih takdirnya sendiri.

“Hey,” ucapnya dengan senyum menggoda ketika pria itu menutup telepon. “Kau sendirian? Maukah kau menemaniku malam ini?”

Pria itu menatapnya sejenak. Tatapannya jujur, tidak terintimidasi, dan tak ada sedikit pun kekaguman berlebihan seperti yang biasa diterima Glora.

“Maaf,” katanya singkat, suaranya datar namun sopan. “Aku tidak sedang mencari teman kencan. Selamat malam.”

Tanpa menunggu respons, ia melangkah pergi, meninggalkan Glora yang terpaku dalam campuran kaget dan tidak percaya.

Beberapa detik kemudian, Glora akhirnya bersuara pelan—lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun.

“Serius? Baru kali ini ada pria yang berani menolak aku…”

Ia mengumpat lirih, bukan karena marah, tapi karena hatinya—untuk pertama kalinya—tersengat oleh rasa penasaran yang tajam. Dalam dentuman musik yang kembali mendominasi, satu hal menjadi jelas: pria itu tidak tertarik dengannya.

“Hah, dia berani ….” Sebelum Glora sempat marah, temannya Viola mendekat dan berkata, “Ada apa, Gelora?”

Mata Glora seakan bicara, ia menoleh ke arah si pria yang memilih untuk keluar.

“Pria itu?” tanya Viola ulang.

“Hmmm, dia berani menolak ku.”

Viola memandangi sahabatnya itu dengan dahi berkerut. “Menolakmu? Yang bener aja? Dia mabuk?”

“Dia sangat sadar,” jawab Glora dengan nada getir. Ia memutar arah duduknya, menatap pintu masuk yang kini hanya menyisakan bayang-bayang kepergian pria itu. “Dan dia sama sekali tidak terpesona padaku.”

Viola terkekeh pendek. “Mungkin dia sedang buru-buru. Atau orangnya terlalu kaku. Kau kan tahu, ada saja pria aneh di luar sana.”

Gelora menggeleng pelan. “No, Vi. Itu bukan alasan. Dia… benar-benar tidak tertarik.”

Ada sesuatu dalam nada itu—sesuatu yang membuat Viola berhenti membuat candaan. Sebab ia tahu, sahabatnya ini bukan hanya cantik. Ia menawan. Ia magnetik dan yang terpenting tidak ada seorang pria pun yang berani menolaknya karena dia anak seorang pengusaha kaya raya. Ia—dalam istilah sederhana—selalu bisa mendapatkan apapun yang ia mau.

Dan malam itu, ada sesuatu yang ia inginkan.

Seseorang.

“Sialan itu cowok,” katanya tiba-tiba. “Tapi aku tidak akan tinggal diam, akan aku buat dia datang padaku.”

“Itu baru Gelora yang aku kenal.”

Musik menggema kembali, orang-orang menari dan tertawa tanpa peduli dunia. Tapi Gelora berdiri membeku, seolah seluruh energi klub mengalir melewati dirinya tanpa menyentuh.

Viola menepuk lengannya. “Sudahlah, ayo duduk lagi. Kita cari yang lain.”

Namun Glora tidak bergerak. Matanya seperti terikat pada bayangan di balik pintu kaca.

“Aku ingin dia kembali,” bisiknya, suara rendah namun penuh keputusan.

Viola sontak terdiam. “Gelora… apa maksudmu?”

Gelora menatapnya, mata itu berkilat dengan campuran gengsi yang terluka dan penasaran yang membara. “Aku ingin dia kembali,” ulangnya. “Aku ingin tahu kenapa dia menolak. Tidak mungkin aku membiarkan hal seperti itu terjadi begitu saja.”

Viola menggigit bibir. “Jangan bilang kau mau—”

“Minta tolong seseorang,” potong Gelora sambil tersenyum tipis.

Viola langsung menggeleng cepat. “Gelora! Astaga, jangan buat masalah—”

Tapi sudah terlambat.

Gelora melambaikan tangan memanggil Gekor, petugas keamanan yang sudah lama mengenalnya. Gekor bukan sekadar bodyguard klub; ia juga seseorang yang diam-diam menyukai Gelora, dan selalu bersedia memenuhi permintaannya.

Pria bertubuh besar itu mendekat. “Ada apa, Mbak Gelora?”

Ia menyebut nama Gelora dengan hormat, namun sorot matanya langsung siap siaga.

Gelora menunjuk pintu keluar dengan dagu. “Pria yang baru keluar tadi. Yang pakai kemeja kerja warna abu itu. Kau lihat?”

“Sempat,” jawab Gekor.

“Aku ingin dia dibawa kembali ke sini.”

Viola tersentak. “Gelora!”

Gekor memandang keduanya, ragu. “Mbak… maksudnya saya suruh manggil saja? Atau…?”

“Panggil. Ajak. Seret. Bebas,” jawab Gelora santai, seakan ia hanya meminta diambilkan minuman. “Pokoknya aku ingin dia kembali ke sini.”

Gekor menelan ludah. “Baik.”

---

Udara malam di luar klub lebih sejuk daripada di dalam. Pria berkemeja kerja itu—yang nanti baru Glora tahu bernama Delon—baru saja menyelesaikan teleponnya yang kedua saat ia mendengar langkah-langkah berat mendekat.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan ketika Gekor muncul di dekatnya.

Gekor tidak suka kerumitan. “Mbak Gelora minta kamu balik.”

Delon mengerutkan kening. “Mbak Gelora,” jawabnya keheranan. “Maaf, aku tidak mengenalnya.”

Gekor menyentuh lengannya, sedikit memaksa. “Ayo. Jangan bikin susah.”

Delon menepis tangannya, tidak kasar, tapi tegas. “Apa-apaan sih ah,” decak kesalnya. “Aku juga tidak mengenal mbak Gelora mu!”

Gekor memajukan badan. “Jangan membantah, ayo ikut saja!”

Delon balas menatap. Ia bukan tipe yang mudah takut, meski jelas kalah ukuran. “Dan kau jangan memaksa saya.”

Ketegangan menggantung. Lampu-lampu klub berkilat di balik mereka.

Gekor, entah didorong kecemburuan atau semata menjalankan perintah Glora, akhirnya mendorong bahu Arven dengan cukup keras. Arven tersentak mundur, hampir kehilangan keseimbangan. Ia memijak mundur, menahan diri agar tidak terpeleset.

“Jangan lakukan itu lagi,” katanya, napasnya mulai berat.

“Kalau begitu ikut saya masuk.”

“Tidak.”

Kata itu memicu letupan kecil dalam diri Gekor. Ia memegang kerah Arven, menariknya mendekat. Arven menepis, dan dalam gerakan spontan, ia melepaskan diri. Gekor tidak menyukainya. Sama sekali tidak. Ia bukan memukul keras, tapi cukup untuk menyentakkan Delon ke arah dinding.

Delon terbatuk, menahan sakit yang mengalir di sisi tubuhnya.

Namun bahkan dalam keadaan itu, ia kembali berdiri tegak.

“Sekali lagi,” katanya pelan. “Saya tidak. Akan. Masuk.”

Kata-kata itu, teguh dan tidak goyah, justru membuat Gekor terhenti. Pria ini… tidak takut? Tidak gentar? Bahkan setelah diperlakukan seperti itu?

Ada sesuatu pada tatapan Delon—bukan keberanian kosong, tapi keyakinan. Integritas. Sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan orang yang datang ke klub itu.

Dan itulah yang membuat Gekor perlahan menurunkan tangannya.

“Baik,” katanya dengan suara berat. “Kalau itu pilihan lo.”

Pilihan yang menyakiti, itu maksud Gekor, sebab dia langsung melakukan baku hantam dengan Delon.

Membuat Delon kalah telak. “Jangan sekali-kali berani menolak keinginan Mbak Gelora!” ujarnya dengan suara keras, membuat beberapa orang justru menoleh ke arahnya. Dan saat itu juga, Delon di tarik paksa masuk ke dalam menghadap Gelora.

“Apa maumu sih?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 51 Cahaya Setelah Badai

    Bab 51Cahaya Setelah BadaiHujan belum benar-benar reda ketika malam itu mereka duduk berhadapan di ruang kerja yang selama ini terasa seperti batas tak kasatmata di antara mereka.Meja kayu besar memisahkan Delon dan Gelora—seperti simbol dari pernikahan mereka selama dua tahun terakhir.Tanpa cinta.Tanpa kejujuran sepenuhnya.Dan penuh perhitungan.Kini, tidak ada lagi yang tersisa untuk disembunyikan.“Apa lagi yang belum kamu ceritakan padaku?” tanya Delon tenang, tetapi suaranya mengandung tekanan.Gelora mengusap wajahnya yang basah air mata.“Aku bertemu Andre satu bulan setelah kontrak pernikahan kita ditandatangani,” ucapnya pelan. “Dia bilang dia tidak akan mengganggu kalau aku memberinya akses proyek ekspansi luar negeri. Aku menolak.”“Lalu?”“Dia menunjukkan bukti transaksi lama Papa yang hampir bermasalah pajak. Itu belum diproses hukum, tapi cukup untuk menjatuhkan reputasi perusahaan.”Delon terdiam.Jadi ini bukan sekadar ambisi.Ini pemerasan berlapis.“Aku pikir k

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 50 Bayangan di Balik Hujan

    Bab 50Bayangan di Balik HujanHujan turun semakin deras ketika mobil Delon melaju membelah malam.Wiper bergerak cepat, tetapi pandangan di kepalanya jauh lebih kabur daripada kaca depan yang terus disapu air. Di sampingnya, Gelora duduk kaku. Ia bersikeras ikut, meski Delon sempat menolaknya.“Aku harus tahu kondisi Ibu,” kata Gelora pelan tadi sebelum mereka berangkat. “Dan… kalau ini memang ada hubungannya dengan Andre… aku tidak akan bersembunyi lagi.”Delon tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil untuknya.Kini, keheningan di antara mereka terasa seperti retakan yang membentang panjang—tidak terlihat, tetapi jelas memisahkan.Pak Rahman tidak ikut. Ia memilih tinggal untuk menghubungi tim hukum secara diam-diam, seperti rencana yang mereka sepakati. Namun sebelum Delon pergi, pria itu sempat menahan lengannya.“Jangan ambil keputusan gegabah,” ucap Pak Rahman tegas. “Kalau ini benar ulah Andre, berarti dia ingin memancing emosi.”Delon hanya mengangguk.Emosi.Itulah satu-s

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 49 Retakan yang Tak Terlihat

    Bab 49Retakan yang Tak TerlihatKeheningan setelah pertanyaan Delon terasa jauh lebih mencekam daripada bentakan apa pun.Tatapan pria itu tajam menembus Gelora, seolah ingin menguliti semua dinding yang selama ini ia bangun rapat. Tidak ada lagi nada dingin yang biasa ia gunakan sebagai pelindung. Kali ini yang muncul adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya—ketegasan bercampur luka.Gelora menelan ludah. Dadanya terasa berat seperti ditindih batu.“Kalau begitu… coba kamu ceritakan sekarang… sebenarnya rahasia apa lagi yang kamu sembunyikan dariku, Gelora?”Suara Delon tenang. Terlalu tenang.Pak Rahman berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajah pria paruh baya itu masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya reda, tetapi kini sorot matanya berubah menjadi waspada—seolah ia juga takut dengan jawaban yang mungkin keluar.Gelora menunduk. Jemarinya saling mengunci erat.“Aku…” suaranya serak.Delon menunggu. Tidak menyela. Tidak mendesak. Namun justru itu membuat tekanan terasa lebih

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 47. Rahasia yang Terbuka

    Bab 48 Badai yang Mulai Meledak Suasana kamar masih terasa pengap setelah telepon dari Andre berakhir. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara tiga orang yang berdiri dalam ketegangan. Gelora menatap lantai, jemarinya saling mencengkeram hingga buku jarinya memutih. Sementara Delon berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya keras, tetapi matanya jelas dipenuhi pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Pak Rahman akhirnya memecah keheningan. “Apa maksud Andre dengan permainan belum selesai?” Gelora langsung mengangkat wajah. “Aku tidak tahu, Pa.” Pak Rahman mendengus. “Kamu yakin?” “Aku bilang aku tidak tahu!” suara Gelora meninggi, emosinya mulai meledak. Delon menoleh pelan ke arahnya. “Gelora… kamu masih berhubungan dengan dia?” “Tidak!” jawab Gelora cepat. “Jangan jawab cepat. Jawab jujur,” suara Delon datar, tapi tajam seperti pisau. Gelora terdiam sesaat. Matanya mulai memerah. “Aku… sudah memutuskan semuanya sejak aku menik

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 46

    Bab 46Peran yang Terlalu Nyata**Kalimat Gelora terhenti di udara.“Tapi Delon, apa kamu…?”Ia tidak menyelesaikannya. Bibirnya bergetar, dadanya naik turun. Pertanyaan itu terlalu berat untuk diucapkan penuh, seolah jika diteruskan, sesuatu yang rapuh akan runtuh selamanya.Delon menatapnya. Lama. Tatapan itu bukan tatapan marah, bukan pula dingin. Ada kelelahan yang dalam di sana—lelaki yang terlalu lama menahan beban, terlalu sering menjadi kuat padahal hatinya tidak pernah benar-benar pulih.“Apa?” tanya Delon akhirnya, suaranya pelan tapi waspada.Gelora mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan hanya karena tangis, tapi karena luka yang belum pernah benar-benar sembuh.“Apa kamu akan benar-benar pergi… kalau suatu hari aku berhenti pura-pura kuat?” tanyanya lirih.Delon terdiam.Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam lebih keras dari tuduhan apa pun.Ia memalingkan wajah sesaat, lalu kembali menatap Gelora. “Showing weakness isn’t the problem, Gel,” katanya pelan. “Yang aku

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 45

    Bab 45Sunyi menyelimuti kamar itu setelah pintu tertutup keras. Hanya isak Gelora yang tersisa, memantul di dinding-dinding dingin yang selama ini menjadi saksi pernikahan tanpa cinta.Gelora masih terduduk di lantai, memeluk lututnya. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur. Amarah, kecewa, dan harga diri yang tercabik bercampur jadi satu.Beberapa menit berlalu.Pintu kamar terbuka kembali.Gelora mendongak cepat. Delon berdiri di ambang pintu. Wajahnya lelah, matanya merah, namun langkahnya mantap saat mendekat.“Apa lagi?” suara Gelora serak, dingin, penuh pertahanan.Delon berhenti di hadapannya. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk sedikit agar sejajar dengan tatapan Gelora.“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Aku minta maaf… kalau aku salah di matamu.”Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Gelora terdiam.Amarah yang sejak tadi membara seolah kehilangan bahan bakarnya. Gelora menelan ludah, matanya berkedip beberapa kali, berus

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status