MasukBAB 2 — JEBAKAN Gelora
Tubuh Delon masih oleng ketika Gekor menariknya masuk kembali ke dalam Club Aurora. Musik berdentum, cahaya neon berpendar, dan aroma alkohol bercampur parfum pekat menusuk hidungnya. Keributan tipis muncul—beberapa pengunjung menoleh, penasaran melihat seorang pria dengan kemeja kerja kusut diseret petugas keamanan. Di tengah VIP lounge, Gelora berdiri menunggu. Tatapannya menyapu tubuh Delon dari atas ke bawah—bukan dengan ketertarikan, melainkan kepuasan atas sebuah kemenangan. “Bagus,” katanya pelan saat Gekor melepaskan Delon di hadapannya. “Akhirnya kau kembali.” Delon mengusap sudut bibirnya yang perih. “Apa maumu sebenarnya?” Gelora melangkah mendekat, tumit stilettonya mengetuk lantai dalam ritme pelan tapi mengancam. Wajahnya mendekat sedekat beberapa sentimeter. “Mauku?” ia menghela napas seolah benar-benar mempertimbangkannya. “Hanya… kejujuran. Kau membuatku penasaran. Dan aku tidak suka merasa penasaran.” Ia menjentikkan jarinya. Seorang pelayan datang membawa dua gelas berisi cairan keemasan. Bukan minuman biasa—bau alkoholnya kuat. Delon bergeming. “Aku tidak minum.” “Sekarang kau minum,” sahut Gelora enteng. “Anggap saja… kompensasi karena kau membuatku repot.” Teman-teman Gelora di VIP lounge cekikikan, sebagian menutupi mulut mereka sambil mengamati Delon seperti menonton hiburan gratis. Delon menggeleng, menahan napas. “Aku tidak—” Gelora tiba-tiba mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Delon. Napasnya hangat. Kata-katanya lebih tajam dari minuman itu sendiri. “Ini hukuman… karena kau berani menolak aku.” Delon merinding, bukan karena tertarik—tapi karena merasa terkunci. Gelora menepuk dadanya pelan, wajahnya tersenyum lembut namun tidak ada kehangatan di sana. “Tenang saja, aku hanya ingin kau… santai.” Teman-temannya bersorak kecil. Gekor berdiri tak jauh, mengawasi. Delon akhirnya meraih gelas itu dengan tangan gemetar. Ia tidak minum banyak—hanya satu tegukan. Tapi tegukan kecil itu sudah cukup membuat kepalanya berputar; minumannya sangat kuat. Gelora bertepuk tangan pelan. “Nah. Pintar.” Ia menoleh ke teman-temannya. “Lihat? Tidak sulit membuatnya patuh.” Beberapa teman Gelora tertawa. Ada yang menepuk bahu Delon terlalu keras, ada yang mengomentari kemejanya yang kusut, ada pula yang meniru gaya bicara tegasnya tadi—menjadikannya bahan candaan. Delon mengepalkan tangan. Wajahnya memerah, bukan karena pengaruh alkohol saja, tapi karena dipermalukan. Gelora menyandarkan tubuhnya pada sofa VIP, menyilangkan kaki, menikmati pemandangan itu. “Kau tahu, Delon?” katanya sambil berputar-putar dengan sedotan minumannya. “Orang-orang biasanya berebut untuk sekadar mendapatkan perhatianku. Tapi kau… malah kabur.” Delon mengalihkan pandangan. Gelora tersenyum kecil, puas melihat reaksi itu. Namun momen itu terputus ketika seorang pria masuk ke area VIP—berpakaian rapi, parfum mahalnya menyengat, dan senyumnya langsung tertuju pada Gelora. “Akhirnya ketemu juga,” katanya sambil membuka tangan. “Gelora, kau janji mau keluar sebentar denganku.” Teman-teman Gelora langsung heboh. Viola berseru, “Wah, Evan datang!” Delon menoleh. Evan—pria itu—mendekati Gelora lalu meraih pinggangnya dengan natural, seolah sudah terbiasa. “Kita ke tempat biasa?” tanya Evan sambil membisikkan sesuatu di telinganya—sesuatu yang membuat Gelora tersenyum kecil. Delon tahu senyuman itu bukan senyum manis. Itu senyum yang berbeda: Senyum yang penuh rencana. Gelora menoleh sekilas ke arah Delon. Matanya memancarkan sesuatu yang sulit diartikan—campuran kemenangan, godaan, dan… peringatan. “Maaf,” ucap Gelora pura-pura manis. “Aku ada janji. Jangan pergi dulu, Delon. Nikmati minumannya.” Dan tanpa menunggu jawaban, Gelora menggandeng Evan. Mereka keluar dari area VIP, menuju pintu belakang yang biasanya hanya digunakan pentolan klub atau tamu penting. Teman-temannya menghilang satu per satu mengikuti musik, meninggalkan Delon sendirian di sofa—pusing, terhina, dan muak. “Aku akan buat kamu puas malam ini, Gelora,” rayu Evan. “Aku percaya denganmu,” jawabnya dingin. --- Keesokan Harinya Alarm ponsel Delon berbunyi pukul 06.30. Sakit kepala masih menusuk pelipisnya. “Ah… sial,” desisnya sambil menutup wajah dengan kedua tangan. “Semuanya gara-gara cewek itu…” Ia berdiri sempoyongan, meraih kemeja bersih, dan bergegas ke kantor. Jalan terasa lebih panjang dari biasanya. Tubuhnya berat, dan pikirannya kacau. Saat ia sampai di kantor, jam sudah menunjukkan pukul 09.18. Dan atasannya—Pak Rian—sudah menunggu di pintu ruang kerja. “Delon,” katanya tegas. “Kau pikir ini apa? Kantor taman bermain?” Delon menunduk. “Maaf, Pak. Saya—” “Kau baru seminggu bekerja! Seminggu! Dan kau sudah terlambat hampir satu jam? Apa kau kira kami butuh karyawan tidak disiplin?” “Tidak, Pak. Saya—” “Kalau begini caramu bekerja, tidak usah masuk besok juga tidak apa-apa!” Delon mengepalkan gigi. Dalam hatinya, ia mengumpat keras: “Sialan… ini semua gara-gara wanita gila itu. Kalau aku bertemu dia lagi…” Tapi sebelum Rian sempat melanjutkan amarahnya, seorang staf mengetuk pintu sambil berbisik tergesa: “Pak, anak bos datang. Semua diminta bersiap.” Ranto langsung berubah 180 derajat. Tubuhnya menegak. Suaranya melembut. Ia merapikan dasinya dan berdeham. “Baik. Semua berdiri di lobi.” Delon merasa ini kesempatan bagus untuk menghindar. Ia mundur pelan, lalu kabur ke kamar mandi, berniat bersembunyi sampai acara penyambutan selesai. Namun nasib berkata lain. Saat ia membuka pintu kamar mandi, seseorang melangkah masuk dari arah koridor. Seseorang dengan langkah percaya diri. Parfum mewah. Gaun mahal. Dan aura yang sama dengan malam sebelumnya. Gelora. Mata mereka bertemu. Waktu seakan berhenti. Delon refleks memelototinya, rasa muak dan marah yang ia tahan sejak semalam memuncak begitu saja. “Kau…” Suara Delon serak dan penuh kemarahan. “…cewek gila.” Hening. Lorong kantor tiba-tiba terasa lebih panjang. Semua staf di belakang Gelora menahan napas. Ada yang memekik kecil. Ada yang langsung menutup mulut. Ada pula yang berbisik: “Aduh, habis kau Delon…” “Berani sekali kurang ajar…” “Itu anak bos, bodoh…” “Gila juga ini karyawan baru…” Tapi tidak ada yang berani menghardik Delon. Karena Gelora mengangkat satu tangan—isyarat agar mereka diam. Gelora menatap Delon tanpa berkedip. “Kamu ngapain disini cewek gila?” Tidak marah. Tidak terkejut. Hanya… tajam. Sangat tajam. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya. “Gak nyangka yah kita ketemu di sini,” katanya pelan. “Siapa namamu?” Delon diam tanpa jawaban. “Delon, Bu,” timpal sang direktur utama. “Delon,” katanya sambil mengelilingi badan Delon. “Aku gak nyangka kita bertemu di tempat ini.” Delon melotot marah. “Aku sial bertemu denganmu.” Semua yang ada di situ justru gemetar mendengar jawaban Delon yang lancang. “Tamat riwayatmu, Delon,” bisik seorang karyawan, tapi Gelora, ia justru dengan santai menanggapi ucapan kasar Delon. “Tapi aku merasa beruntung bisa bertemu kamu, Delon.”Bab 51Cahaya Setelah BadaiHujan belum benar-benar reda ketika malam itu mereka duduk berhadapan di ruang kerja yang selama ini terasa seperti batas tak kasatmata di antara mereka.Meja kayu besar memisahkan Delon dan Gelora—seperti simbol dari pernikahan mereka selama dua tahun terakhir.Tanpa cinta.Tanpa kejujuran sepenuhnya.Dan penuh perhitungan.Kini, tidak ada lagi yang tersisa untuk disembunyikan.“Apa lagi yang belum kamu ceritakan padaku?” tanya Delon tenang, tetapi suaranya mengandung tekanan.Gelora mengusap wajahnya yang basah air mata.“Aku bertemu Andre satu bulan setelah kontrak pernikahan kita ditandatangani,” ucapnya pelan. “Dia bilang dia tidak akan mengganggu kalau aku memberinya akses proyek ekspansi luar negeri. Aku menolak.”“Lalu?”“Dia menunjukkan bukti transaksi lama Papa yang hampir bermasalah pajak. Itu belum diproses hukum, tapi cukup untuk menjatuhkan reputasi perusahaan.”Delon terdiam.Jadi ini bukan sekadar ambisi.Ini pemerasan berlapis.“Aku pikir k
Bab 50Bayangan di Balik HujanHujan turun semakin deras ketika mobil Delon melaju membelah malam.Wiper bergerak cepat, tetapi pandangan di kepalanya jauh lebih kabur daripada kaca depan yang terus disapu air. Di sampingnya, Gelora duduk kaku. Ia bersikeras ikut, meski Delon sempat menolaknya.“Aku harus tahu kondisi Ibu,” kata Gelora pelan tadi sebelum mereka berangkat. “Dan… kalau ini memang ada hubungannya dengan Andre… aku tidak akan bersembunyi lagi.”Delon tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil untuknya.Kini, keheningan di antara mereka terasa seperti retakan yang membentang panjang—tidak terlihat, tetapi jelas memisahkan.Pak Rahman tidak ikut. Ia memilih tinggal untuk menghubungi tim hukum secara diam-diam, seperti rencana yang mereka sepakati. Namun sebelum Delon pergi, pria itu sempat menahan lengannya.“Jangan ambil keputusan gegabah,” ucap Pak Rahman tegas. “Kalau ini benar ulah Andre, berarti dia ingin memancing emosi.”Delon hanya mengangguk.Emosi.Itulah satu-s
Bab 49Retakan yang Tak TerlihatKeheningan setelah pertanyaan Delon terasa jauh lebih mencekam daripada bentakan apa pun.Tatapan pria itu tajam menembus Gelora, seolah ingin menguliti semua dinding yang selama ini ia bangun rapat. Tidak ada lagi nada dingin yang biasa ia gunakan sebagai pelindung. Kali ini yang muncul adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya—ketegasan bercampur luka.Gelora menelan ludah. Dadanya terasa berat seperti ditindih batu.“Kalau begitu… coba kamu ceritakan sekarang… sebenarnya rahasia apa lagi yang kamu sembunyikan dariku, Gelora?”Suara Delon tenang. Terlalu tenang.Pak Rahman berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajah pria paruh baya itu masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya reda, tetapi kini sorot matanya berubah menjadi waspada—seolah ia juga takut dengan jawaban yang mungkin keluar.Gelora menunduk. Jemarinya saling mengunci erat.“Aku…” suaranya serak.Delon menunggu. Tidak menyela. Tidak mendesak. Namun justru itu membuat tekanan terasa lebih
Bab 48 Badai yang Mulai Meledak Suasana kamar masih terasa pengap setelah telepon dari Andre berakhir. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara tiga orang yang berdiri dalam ketegangan. Gelora menatap lantai, jemarinya saling mencengkeram hingga buku jarinya memutih. Sementara Delon berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya keras, tetapi matanya jelas dipenuhi pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Pak Rahman akhirnya memecah keheningan. “Apa maksud Andre dengan permainan belum selesai?” Gelora langsung mengangkat wajah. “Aku tidak tahu, Pa.” Pak Rahman mendengus. “Kamu yakin?” “Aku bilang aku tidak tahu!” suara Gelora meninggi, emosinya mulai meledak. Delon menoleh pelan ke arahnya. “Gelora… kamu masih berhubungan dengan dia?” “Tidak!” jawab Gelora cepat. “Jangan jawab cepat. Jawab jujur,” suara Delon datar, tapi tajam seperti pisau. Gelora terdiam sesaat. Matanya mulai memerah. “Aku… sudah memutuskan semuanya sejak aku menik
Bab 46Peran yang Terlalu Nyata**Kalimat Gelora terhenti di udara.“Tapi Delon, apa kamu…?”Ia tidak menyelesaikannya. Bibirnya bergetar, dadanya naik turun. Pertanyaan itu terlalu berat untuk diucapkan penuh, seolah jika diteruskan, sesuatu yang rapuh akan runtuh selamanya.Delon menatapnya. Lama. Tatapan itu bukan tatapan marah, bukan pula dingin. Ada kelelahan yang dalam di sana—lelaki yang terlalu lama menahan beban, terlalu sering menjadi kuat padahal hatinya tidak pernah benar-benar pulih.“Apa?” tanya Delon akhirnya, suaranya pelan tapi waspada.Gelora mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan hanya karena tangis, tapi karena luka yang belum pernah benar-benar sembuh.“Apa kamu akan benar-benar pergi… kalau suatu hari aku berhenti pura-pura kuat?” tanyanya lirih.Delon terdiam.Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam lebih keras dari tuduhan apa pun.Ia memalingkan wajah sesaat, lalu kembali menatap Gelora. “Showing weakness isn’t the problem, Gel,” katanya pelan. “Yang aku
Bab 45Sunyi menyelimuti kamar itu setelah pintu tertutup keras. Hanya isak Gelora yang tersisa, memantul di dinding-dinding dingin yang selama ini menjadi saksi pernikahan tanpa cinta.Gelora masih terduduk di lantai, memeluk lututnya. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur. Amarah, kecewa, dan harga diri yang tercabik bercampur jadi satu.Beberapa menit berlalu.Pintu kamar terbuka kembali.Gelora mendongak cepat. Delon berdiri di ambang pintu. Wajahnya lelah, matanya merah, namun langkahnya mantap saat mendekat.“Apa lagi?” suara Gelora serak, dingin, penuh pertahanan.Delon berhenti di hadapannya. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk sedikit agar sejajar dengan tatapan Gelora.“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Aku minta maaf… kalau aku salah di matamu.”Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Gelora terdiam.Amarah yang sejak tadi membara seolah kehilangan bahan bakarnya. Gelora menelan ludah, matanya berkedip beberapa kali, berus







