MasukBab 30Delon membanting pintu kamarnya begitu masuk. Suara dentumannya menggema, seolah melampiaskan segala kemarahan yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Tangannya gemetar saat meraih botol air di meja, meneguknya kasar, tapi tenggorokannya tetap terasa kering.“Brengsek…” gumamnya.Bayangan Gelora dengan tatapan dingin itu terus terpatri di kepalanya. Cara wanita itu berbicara, cara dia menatap seolah Delon hanyalah boneka yang bisa digerakkan sesuka hati. Dan lebih dari segalanya—kata-kata tentang Gaby.Cintamu pada Gaby itu sudah mati.Delon meninju dinding.“Tidak,” bisiknya parau. “Tidak mati.”Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Jarum jam menunjukkan hampir tengah malam. Jarinya berhenti di satu nama yang paling ingin ia hubungi… sekaligus paling ia takuti.Gaby.Delon menatap layar itu lama. Ada ratusan kata yang ingin ia ucapkan, tapi tak satu pun berani keluar. Akhirnya, ia mengunci kembali ponselnya dan melemparkannya ke kasur dengan frustrasi.Di sisi lain rumah,
Bab 29Di dalam kamar Delon geresah gerusuh, memikirkan kelakuan Gelora malam ini. "Dia sudah kelewat batas," erangnya yang menahan amarah. "Aku ini pria, bisa-bisanya dia memperlakukanku seperti ini," lanjutnya yang marah sendiri. Sangking marahnya, membuat Delon tidak bisa tenang, kadang ia berdiri dan berjalan ke arah pintu, kadang tangannya sudah di kepala, belum lagi ia yang menghisap rokok lalu membuangnya. Apapun yang ia lakukan kayaknya serba salah. Itu semua karena pikirannya masih tertuju ke Gelora. "Bisa-bisanya dia bawa pria ke sini." Delon tersenyum kecil. "Ah, apa dia pikir .....," ucapannya menggantung. "Aku juga bisa kalau aku mau."Pikirannya justru tertuju ke Gaby, wanita yang begitu ia cintai. "Seharusnya aku sudah bahagia dengan Gaby."Saat pikirannya tertuju ke Gaby, saat itu ia mendengar suara langkah kaki keluar, diiringi dengan suara marah Gelora. "Tidak seharusnya kamu datang ke sini, Andre!"Delon jadi penasaran, sampai ia mencoba menguping. "Kamu sendiri
Bab 28"Aduh, pakai acara berdiri lag." Delon bergumam di dalam hati, lalu tangannya berusaha menutupi bagian bawah pusar , sesuatu yang sudah terlihat menonjol. "Sial, dia begitu menggoda sih," umatnya kesal. Semakin dia berusaha menahan diri, godaan Gelora semakin terlihat nyata, ingin rasanya ia mendekati Gelora. Lalu menggendong nya ke atas ranjang untuk melakukan sebuah perpaduan, tapi ketika hasratnya menggebu. Tiba-tiba. "Sekarang, di depan pintu?"Gelora bangkit setelah menjawab panggilan masuk dari seseorang yang membuat Delon penasaran. "Siapa yang menelponnya??" Delon bertanya di dalam hati, sementara Gelora. Ia pergi berjalan ke arah pintu..Karena Delon penasaran, ia ikuti. Tapi sedikit menjauh dari Gelora. "Ada apa lagi, Andre?"Delon sedikit menunjukkan sikap marah, setelah mengetahui yang datang itu Andre. Kekasihnya Gelora. "Aku hanya ingin bicara sebentar, sayang." Andre memaksa mencium Gelora, walaupun Gelora sempat menghindar, dan hal itu membuat Delon diam-di
Bab 27 — Retak yang Tak TerlihatPagi datang tanpa sapaan hangat.Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, menyentuh wajah Delon yang terjaga lebih dulu. Ia membuka mata perlahan, sejenak lupa di mana ia berada—hingga aroma asing, ranjang besar, dan jarak dingin di sisi kirinya mengingatkan semuanya.Ia sudah menikah.Delon menoleh. Sisi ranjang itu kosong. Seprai rapi, seolah tak pernah dipakai. Gelora sudah bangun—atau mungkin memang tak pernah benar-benar tidur.Ia bangkit pelan, duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa berat, bukan karena kurang tidur, melainkan oleh kenyataan yang menekan dada. Ia mengusap wajah, menarik napas panjang, lalu berdiri.Di luar kamar, rumah itu sunyi dan luas. Terlalu luas untuk disebut rumah. Setiap langkah kakinya menggema di lantai marmer, mengingatkannya bahwa ia hanyalah tamu di kehidupan orang lain.Aroma kopi tercium dari arah dapur.Gelora berdiri di sana, mengenakan setelan kerja abu-abu, rambutnya terikat rapi. Wajahnya dingin, fokus
Bab 26 “Manusia yang berhutang,” potong Gelora tajam. Kalimat itu membuat dada Delon seperti ditusuk. Ia terdiam, tak mampu membalas. Gelora melanjutkan dengan suara dingin, penuh amarah yang tertahan. “Dengar baik-baik. Pernikahan ini akan tetap terjadi. Kamu akan menjadi suamiku. Dan sebagai suamiku, kamu akan patuh.” Delon mengepalkan tangan. “Aku bukan anak buahmu.” “Tapi hidup ibumu ada di tanganku,” balas Gelora tanpa ragu. Sunyi. Kata-kata itu lebih kejam dari tamparan, membuatnya terngiang-ngiang hingga kini. "Wanita sialan," umatnya kesal. Ia meluapkan amarahnya pada malam yang sunyi, menyusuri jalan tanpa arah dan tujuan. Ponselnya berdering berulang kali, tapi tidak sekalipun ia menjawab panggilan masuk ke ponselnya. "Bagaimana bisa hidupku ...." ia langsung meneteskan air mata, mengingat hari esok adalah hari pernikahannya. Hari yang tidak pernah ia inginkan terjadi di dalam hidupnya. Namun apalah daya, sebuah kesepakatan sudah di buat. Ia hanya bisa men
Bab 25. "Bagaimana pun caranya, aku harus membatalkan pernikahan itu!" Gaby bertekad di dalam hatinya, setelah usahanya sia-sia. Padahal Gaby awalnya sangat yakin, kalau Bu Patimah, ibunya Delon akan mendukungnya, akan membantunya untuk membatalkan pernikahan Delon. Tapi sepertinya tidak? Bu Patimah justru diam tanpa jawaban, ia seperti tertekan dan tidak bisa memberikan keputusan. Hingga alhasil Gaby pulang dengan membawa rasa kecewa. Bu Patimah sempat menatap murung putranya, seakan ia tahu tekanan batin yang dirasakan Delon saat ini. Sampai-sampai Bu Patimah bertanya. "Apa tidak ada cara lain, Delon?" Delon menatap diam. "Dengan membayar semua uang yang ia keluarkan, misalnya.""Uang dari mana, Bu?"" Patimah terdiam."Yang aku pikirkan sekarang kesehatan ibu."Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam hati Bu Patimah lebih keras dari teriakan mana pun. Perempuan itu menunduk, jemarinya meremas ujung kerudung yang sudah mulai pudar warnanya. Ia ingin menangis, tapi air mata t







