Home / Romansa / Gelora Berbahaya sang CEO / 16. Mengubur Kenangan

Share

16. Mengubur Kenangan

Author: Rein Azahra
last update Huling Na-update: 2025-11-10 06:03:20

Mereka memulai perjalanan dengan mengunjungi Kuil Senso-ji di Asakusa. Saat memasuki gerbang besar dengan lentera merah raksasa, Lilyan mengagumi keindahan arsitektur tradisional Jepang. Rega yang melihat ekspresi kagum Lilyan pun tersenyum, merasa puas telah membawa gadis itu ke tempat yang tepat.

"Tempat ini luar biasa indah," ujar Lilyan sambil memegang kameranya dan mulai mengambil beberapa foto.

Rega sendiri diam-diam mengambil foto Lilyan yang terlihat sangat cantik dilihat dari sisi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 98

    Hari-hari selanjutnya diisi dengan langkah-langkah pemulihan. Rega tak hanya memimpin di ruang rapat, tapi juga berjalan menyapa para karyawan dari divisi ke divisi. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia bukan hanya pewaris nama besar, tapi pemimpin sejati yang peduli akan orang-orang yang bekerja di bawahnya. Pak Ferdinan, meski belum pulih sepenuhnya, tersenyum bangga setiap kali melihat Rega duduk di ruang kerjanya, ruang yang dulu pernah ia huni. Kini, tongkat estafet benar-benar telah ia serahkan, bukan karena paksaan atau manipulasi, tapi karena keyakinan bahwa anaknya siap memikul beban besar ini. Dan Lilyan, wanita yang dengan sabar menanti dan menemani Rega melewati badai, kini berada di sampingnya. Ia tak meminta banyak. Cukup melihat Rega tenang dan bahagia, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar baginya. Angkasa Mining pun perlahan kembali bersinar. Bukan hanya sebagai simbol kejayaan, tapi sebagai lambang keteguhan, kebenaran, dan harapan baru. Rega tahu, jalan ini masih

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 97

    Suasana ruangan seketika hening. Beberapa pemegang saham saling berpandangan, sebagian menutup mulutnya, tak percaya dengan fakta-fakta mengerikan yang baru saja mereka saksikan dan dengar. Nama besar keluarga Angkasa, yang selama ini dipandang sebagai simbol kejayaan dan kehormatan, tercoreng dalam hitungan menit. Bu Fatma masih duduk kaku. Wajahnya memucat, sementara tangan Vano mulai gemetar. Ia mencoba bicara, “Itu... itu semua tidak benar. Itu rekayasa—!” “Rekayasa?” Rega menyela cepat. “Semua bukti ini telah diverifikasi oleh tim hukum dan kami siapkan untuk diserahkan ke penyidik. Bahkan beberapa saksi hidup juga bersedia memberikan kesaksian di pengadilan.” Salah satu pemegang saham senior, Pak Johan, berdiri. “Saya tidak percaya keluarga Angkasa bisa serendah ini. Kalau semua ini benar, maka orang-orang seperti Bu Fatma dan Vano tidak pantas memegang satu persen pun saham apalagi kendali perusahaan.” Disusul oleh suara-suara lain. Ada yang mengangguk. Ada pula yang m

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 96

    Di ruang rapat utama Angkasa Mining, suasana tegang menyelimuti. Para pemegang saham mulai berdatangan. Beberapa masih berdiskusi, mencoba memahami apa maksud sebenarnya dari rapat ini. Bu Fatma dan Vano duduk di kursi depan. Wajah Bu Fatma tegas, percaya diri. Sementara Vano tampak gugup, meski berusaha menyembunyikannya. Setelah pembukaan, Bu Fatma menyampaikan pidato singkat. Ia menjelaskan bahwa kondisi Pak Ferdinan sangat mengkhawatirkan, dan demi keberlangsungan perusahaan, perlu segera diambil langkah untuk memastikan adanya penerus sah yang akan menjaga kestabilan perusahaan. “Kondisi Pak Ferdinan saat ini sangat kritis,” ujar Bu Fatma membuka pertemuan, suaranya tenang namun menekan. “Demi kelangsungan perusahaan, kita harus segera menunjuk penerus sementara. Vano adalah pilihan terbaik. Dia telah mengenal sistem perusahaan sejak lama.” Beberapa direksi saling pandang. Pak Wiryo, salah satu pemegang saham senior mengangguk pelan. “Saya setuju. Kita tidak bisa membiarkan

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 95

    "Ma, kalau memang benar Papa sudah siuman, terus bagaimana kalau dia cerita semuanya? Tentang Mama yang berusaha membunuhnya? Kita harus segera bertindak Ma." Vano tampak gusar.“Tenang, Vano,” sahut Bu Fatma cepat. “Belum tentu dia benar-benar sadar. Mungkin ini hanya akal-akalan Rega saja untuk membuat kita takut.""Tapi kita tetap harus bersiap dengan segala kemungkinan Ma," sergah Vano“Kalau benar Papa sadar dan dia menyerahkan kekuasaan pada Rega, lalu bagaimana dengan nasib kita Ma?" Vano mulai terlihat gelisah.Untuk sesaat Bu Fatma terdiam. Wajahnya menegang, tapi kemudian ia menarik napas panjang, memaksa dirinya untuk tetap tenang."Mama akan pastikan semuanya dulu. Apakah Ferdinan benar-benar siuman atau itu hanya akal-akalan Rega saja. Mama akan suruh seseorang untuk memastikan kondisinya dan kalau Ferdinan benar-benar sudah sadar, maka satu-satunya cara adalah memastikan dia tidak bisa lagi menghirup udara lagi."Vano menoleh cepat, seolah tak percaya apa yang baru diden

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 94

    Bu Fatma duduk di dalam mobil mewahnya dengan senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Pikirannya dipenuhi dengan keyakinan bahwa rencananya sebentar lagi akan berhasil. Pak Ferdinan masih terbaring koma, dan Gina sudah dilaporkan tewas. Kini waktunya untuk mengamankan langkah berikutnya yaitu menguasai perusahaan milik keluarga Angkasa lewat tangan Vano. Hari itu, ia mengatur serangkaian pertemuan diam-diam dengan beberapa pemegang saham kecil hingga menengah PT Angkasa Raya. Dengan bahasa yang santun tapi tegas, Bu Fatma membungkus ambisinya dalam narasi “penyelamatan perusahaan". Ia memainkan peran sebagai istri yang setia dan ibu yang peduli, menggambarkan kondisi Ferdinan yang sudah tidak memungkinkan untuk kembali memimpin perusahaan dan mempromosikan Vano sebagai penerus mereka. “Saya yakin, Bapak Ferdinan pun jika dalam keadaan sadar, akan menunjuk Vano,” ujar Bu Fatma dalam salah satu pertemuan, suaranya tenang namun penuh tekanan. "Karena tak ada lagi yang lebih layak

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 93

    Beberapa jam setelah Bu Fatma meninggalkan rumah sakit, seorang staf medis berpakaian rapi menyerahkan salinan surat keterangan medis yang ia minta. Surat itu menyatakan secara formal bahwa Ferdinan Angkasa dinyatakan tidak dalam kondisi sadar baik fisik maupun psikis untuk menjalankan tugas-tugas profesional atau administratif dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Tertanda resmi dan distempel oleh direktur rumah sakit. Bu Fatma tersenyum puas. Ia langsung menaruh salinan itu dalam map coklat, lalu menghubungi pengacaranya untuk menyusun langkah berikutnya. Yaitu mengajukan permohonan pengalihan kekuasaan dalam perusahaan kepada dirinya dan Vano secara penuh. "Aku harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat," ucap Bu Fatma penuh semangat. Dia pergi ke kantor Vano dulu untuk memberitahukan hal ini pada anaknya itu. "Mama yakin Rega akan diam saja melihat tindakan kita?" Vano menyipitkan matanya. "Rega sedang fokus pada kesehatan Ferdinan. Mana sempat dia memikirkan h

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status