แชร์

Bab 63

ผู้เขียน: Rein Azahra
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-31 06:38:13

Setelah Lilyan resmi dipecat, suasana perusahaan justru tidak membaik, malah semakin keruh.

Beberapa karyawan merasa keputusan Pak Hartawan terlalu emosional, sebagian lain justru merasa “akhirnya keadilan ditegakkan”. Namun satu hal yang pasti, nama Rega ikut terseret. Bisik-bisik tak lagi hanya soal Lilyan, tapi mulai mengarah pada kapabilitas Rega sebagai pemimpin.

Dan Bu Fatma tidak tinggal diam.

Pagi itu, Bu Fatma duduk di ruang tamu dengan secangkir teh hangat di tangannya. Wajahnya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 101.

    Pagi itu, angin bertiup lembut menyapu halaman rumah besar keluarga Angkasa. Namun di dalam, suasana justru begitu tegang. Lilyan mengerang pelan di ranjangnya, wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis. Rega berdiri di sampingnya, menggenggam erat tangan istrinya yang kini tengah berjuang antara nyawa dan kehidupan baru yang akan segera hadir di dunia. "Sayang kita ke rumah sakit sekarang. Sepertinya bayi kita akan segera lahir." Rega tampak panik. Ia segera memerintahkan sopir untuk menyiapkan mobil. Dengan sangat hati-hati Rega mengangkat tubuh istrinya dan masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu segera meluncur menuju rumah sakit terdekat. “Sayang, tahan sedikit lagi. Kita akan segera sampai," bisik Rega sambil menyeka keringat di dahi Lilyan. Lilyan hanya mengangguk lemah. Perutnya yang besar bergerak tak beraturan, kontraksi semakin intens dan jaraknya kian rapat. Setibanya di rumah sakit, Lilyan segera dibawa ke ruang tindakan. "Jangan tinggalkan aku Mas." Lilyan m

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 100

    Persidangan yang dinantikan seluruh publik akhirnya digelar secara terbuka. Nama Bu Fatma dan Vano menjadi sorotan utama media. Gedung pengadilan dipenuhi oleh wartawan, aktivis hukum, dan masyarakat yang geram atas kejahatan luar biasa yang telah mereka lakukan. Tak hanya karena korupsi dan manipulasi kekuasaan di tubuh Angkasa Mining, tetapi juga karena tindakan mereka telah menyebabkan hilangnya nyawa dan menciptakan trauma mendalam bagi banyak pihak. Jaksa penuntut menghadirkan tumpukan bukti, termasuk rekaman suara, video, dokumen keuangan yang dimanipulasi, hingga bukti percobaan pembunuhan terhadap Gina. Dalam sidang itu pula diputar cuplikan video saat Bu Fatma memberi perintah untuk “menghilangkan pengganggu,” yang merujuk pada Gina. Rekaman tersebut begitu jelas hingga suasana ruang sidang hening—semua yang hadir terpaku dengan ekspresi ngeri. Vano, dalam pembelaannya, mencoba melemparkan seluruh kesalahan pada ibunya. Ia menyatakan dirinya hanyalah “alat” yang dikendalik

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 99

    Rega melanjutkan kesenangannya. Ia meremas pelan melon jumbo istrinya itu. Membuat Lilyan mengerang penuh nikmat. Tubuhnya bergerak gelisah dengan pipi yang merona merah. "Kamu nggak pernah berubah Sayang, dari dulu tetap menggairahkan." Rega melepas satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya. Tubuh molek itu kini terpampang dengan indah. Membuat darah Rega berdesir. Lilyan tersenyum dan jemari lentiknya membantu Rega melepas kancing kemejanya satu persatu. Rega yang semakin rajin olahraga membuat tubuhnya semakin kokoh. Otot-ototnya terlihat liat dan seksi. Rega menciumi seluruh tubuh Lilyan tanpa ada yang terlewat satu jengkal pun. Lilyan meremas erat bantal di bawahnya saat bibir Rega sampai pada area persawahannya. Kedua kakinya di tekuk dan Rega mulai melakukan kecupan demi kecupan kecil di sana. Seperti biasa, Rega selalu senang bermain di sana. Membuat miliknya benar-benar basah. "Yaangg ooohh...." Lilyan melihat ke arah bawah, kepala Rega bergerak-gerak di sana.

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 98

    Hari-hari selanjutnya diisi dengan langkah-langkah pemulihan. Rega tak hanya memimpin di ruang rapat, tapi juga berjalan menyapa para karyawan dari divisi ke divisi. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia bukan hanya pewaris nama besar, tapi pemimpin sejati yang peduli akan orang-orang yang bekerja di bawahnya. Pak Ferdinan, meski belum pulih sepenuhnya, tersenyum bangga setiap kali melihat Rega duduk di ruang kerjanya, ruang yang dulu pernah ia huni. Kini, tongkat estafet benar-benar telah ia serahkan, bukan karena paksaan atau manipulasi, tapi karena keyakinan bahwa anaknya siap memikul beban besar ini. Dan Lilyan, wanita yang dengan sabar menanti dan menemani Rega melewati badai, kini berada di sampingnya. Ia tak meminta banyak. Cukup melihat Rega tenang dan bahagia, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar baginya. Angkasa Mining pun perlahan kembali bersinar. Bukan hanya sebagai simbol kejayaan, tapi sebagai lambang keteguhan, kebenaran, dan harapan baru. Rega tahu, jalan ini masih

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 97

    Suasana ruangan seketika hening. Beberapa pemegang saham saling berpandangan, sebagian menutup mulutnya, tak percaya dengan fakta-fakta mengerikan yang baru saja mereka saksikan dan dengar. Nama besar keluarga Angkasa, yang selama ini dipandang sebagai simbol kejayaan dan kehormatan, tercoreng dalam hitungan menit. Bu Fatma masih duduk kaku. Wajahnya memucat, sementara tangan Vano mulai gemetar. Ia mencoba bicara, “Itu... itu semua tidak benar. Itu rekayasa—!” “Rekayasa?” Rega menyela cepat. “Semua bukti ini telah diverifikasi oleh tim hukum dan kami siapkan untuk diserahkan ke penyidik. Bahkan beberapa saksi hidup juga bersedia memberikan kesaksian di pengadilan.” Salah satu pemegang saham senior, Pak Johan, berdiri. “Saya tidak percaya keluarga Angkasa bisa serendah ini. Kalau semua ini benar, maka orang-orang seperti Bu Fatma dan Vano tidak pantas memegang satu persen pun saham apalagi kendali perusahaan.” Disusul oleh suara-suara lain. Ada yang mengangguk. Ada pula yang m

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 96

    Di ruang rapat utama Angkasa Mining, suasana tegang menyelimuti. Para pemegang saham mulai berdatangan. Beberapa masih berdiskusi, mencoba memahami apa maksud sebenarnya dari rapat ini. Bu Fatma dan Vano duduk di kursi depan. Wajah Bu Fatma tegas, percaya diri. Sementara Vano tampak gugup, meski berusaha menyembunyikannya. Setelah pembukaan, Bu Fatma menyampaikan pidato singkat. Ia menjelaskan bahwa kondisi Pak Ferdinan sangat mengkhawatirkan, dan demi keberlangsungan perusahaan, perlu segera diambil langkah untuk memastikan adanya penerus sah yang akan menjaga kestabilan perusahaan. “Kondisi Pak Ferdinan saat ini sangat kritis,” ujar Bu Fatma membuka pertemuan, suaranya tenang namun menekan. “Demi kelangsungan perusahaan, kita harus segera menunjuk penerus sementara. Vano adalah pilihan terbaik. Dia telah mengenal sistem perusahaan sejak lama.” Beberapa direksi saling pandang. Pak Wiryo, salah satu pemegang saham senior mengangguk pelan. “Saya setuju. Kita tidak bisa membiarkan

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 24

    "Aku tidak mengatakan apapun. Kenapa kamu begitu peduli padanya? Apa kamu mencintai. sekretarismu itu?" Sheila menyipitkan matanya penuh curiga. "Bukan urusanmu," sahut Rega datar. Sheila tercenung. Dia mendekat dan menautkan tangannya pada lengan Rega. Bibirnya menyematkan senyum yang begitu m

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 27. Menginap di Kamar Lilyan

    Rega turun dari dalam mobilnya dan masuk ke halaman rumah Lilyan. Sementara itu Bu Laras menyambut hangat dengan tatapan bingung. "Cari siapa Nak?" tanyanya sopan. "Saya Rega, atasnya Lilyan," jawab Rega tak kalah sopan. "Ah, atasan Lilyan. Duh, Lily, kenapa kamu diam saja? Kenapa tidak bilang k

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 25. Hampir Ketahuan

    "Emmhh..." Lilyan meronta tapi tenaganya tak akan cukup untuk melawan tenaga lelaki itu. Ditambah pula pada akhirnya ia kembali luluh dan hampir masuk ke dalam perangkap Rega lagi. Pemberontakan Lilyan pun akhirnya berhenti. Ia menjadi lebih tenang dan akhirnya membiarkan Rega menikmati bibirnya

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 23. Permainan Hati

    Lilyan terbangun saat matahari sudah meninggi dan hampir sampai di puncak hari. Gadis itu menggeliat, badannya sudah terasa lebih segar dan perutnya sudah terasa lebih baik dari sebelumnya. Gadis bermata belo itu mengedarkan pandangan. Keadaan kamar sangat sunyi. Bukan hanya kamar tapi apartemen

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status