LOGINPagi itu, angin bertiup lembut menyapu halaman rumah besar keluarga Angkasa. Namun di dalam, suasana justru begitu tegang. Lilyan mengerang pelan di ranjangnya, wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis. Rega berdiri di sampingnya, menggenggam erat tangan istrinya yang kini tengah berjuang antara nyawa dan kehidupan baru yang akan segera hadir di dunia. "Sayang kita ke rumah sakit sekarang. Sepertinya bayi kita akan segera lahir." Rega tampak panik. Ia segera memerintahkan sopir untuk menyiapkan mobil. Dengan sangat hati-hati Rega mengangkat tubuh istrinya dan masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu segera meluncur menuju rumah sakit terdekat. “Sayang, tahan sedikit lagi. Kita akan segera sampai," bisik Rega sambil menyeka keringat di dahi Lilyan. Lilyan hanya mengangguk lemah. Perutnya yang besar bergerak tak beraturan, kontraksi semakin intens dan jaraknya kian rapat. Setibanya di rumah sakit, Lilyan segera dibawa ke ruang tindakan. "Jangan tinggalkan aku Mas." Lilyan m
Persidangan yang dinantikan seluruh publik akhirnya digelar secara terbuka. Nama Bu Fatma dan Vano menjadi sorotan utama media. Gedung pengadilan dipenuhi oleh wartawan, aktivis hukum, dan masyarakat yang geram atas kejahatan luar biasa yang telah mereka lakukan. Tak hanya karena korupsi dan manipulasi kekuasaan di tubuh Angkasa Mining, tetapi juga karena tindakan mereka telah menyebabkan hilangnya nyawa dan menciptakan trauma mendalam bagi banyak pihak. Jaksa penuntut menghadirkan tumpukan bukti, termasuk rekaman suara, video, dokumen keuangan yang dimanipulasi, hingga bukti percobaan pembunuhan terhadap Gina. Dalam sidang itu pula diputar cuplikan video saat Bu Fatma memberi perintah untuk “menghilangkan pengganggu,” yang merujuk pada Gina. Rekaman tersebut begitu jelas hingga suasana ruang sidang hening—semua yang hadir terpaku dengan ekspresi ngeri. Vano, dalam pembelaannya, mencoba melemparkan seluruh kesalahan pada ibunya. Ia menyatakan dirinya hanyalah “alat” yang dikendalik
Rega melanjutkan kesenangannya. Ia meremas pelan melon jumbo istrinya itu. Membuat Lilyan mengerang penuh nikmat. Tubuhnya bergerak gelisah dengan pipi yang merona merah. "Kamu nggak pernah berubah Sayang, dari dulu tetap menggairahkan." Rega melepas satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya. Tubuh molek itu kini terpampang dengan indah. Membuat darah Rega berdesir. Lilyan tersenyum dan jemari lentiknya membantu Rega melepas kancing kemejanya satu persatu. Rega yang semakin rajin olahraga membuat tubuhnya semakin kokoh. Otot-ototnya terlihat liat dan seksi. Rega menciumi seluruh tubuh Lilyan tanpa ada yang terlewat satu jengkal pun. Lilyan meremas erat bantal di bawahnya saat bibir Rega sampai pada area persawahannya. Kedua kakinya di tekuk dan Rega mulai melakukan kecupan demi kecupan kecil di sana. Seperti biasa, Rega selalu senang bermain di sana. Membuat miliknya benar-benar basah. "Yaangg ooohh...." Lilyan melihat ke arah bawah, kepala Rega bergerak-gerak di sana.
Hari-hari selanjutnya diisi dengan langkah-langkah pemulihan. Rega tak hanya memimpin di ruang rapat, tapi juga berjalan menyapa para karyawan dari divisi ke divisi. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia bukan hanya pewaris nama besar, tapi pemimpin sejati yang peduli akan orang-orang yang bekerja di bawahnya. Pak Ferdinan, meski belum pulih sepenuhnya, tersenyum bangga setiap kali melihat Rega duduk di ruang kerjanya, ruang yang dulu pernah ia huni. Kini, tongkat estafet benar-benar telah ia serahkan, bukan karena paksaan atau manipulasi, tapi karena keyakinan bahwa anaknya siap memikul beban besar ini. Dan Lilyan, wanita yang dengan sabar menanti dan menemani Rega melewati badai, kini berada di sampingnya. Ia tak meminta banyak. Cukup melihat Rega tenang dan bahagia, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar baginya. Angkasa Mining pun perlahan kembali bersinar. Bukan hanya sebagai simbol kejayaan, tapi sebagai lambang keteguhan, kebenaran, dan harapan baru. Rega tahu, jalan ini masih
Suasana ruangan seketika hening. Beberapa pemegang saham saling berpandangan, sebagian menutup mulutnya, tak percaya dengan fakta-fakta mengerikan yang baru saja mereka saksikan dan dengar. Nama besar keluarga Angkasa, yang selama ini dipandang sebagai simbol kejayaan dan kehormatan, tercoreng dalam hitungan menit. Bu Fatma masih duduk kaku. Wajahnya memucat, sementara tangan Vano mulai gemetar. Ia mencoba bicara, “Itu... itu semua tidak benar. Itu rekayasa—!” “Rekayasa?” Rega menyela cepat. “Semua bukti ini telah diverifikasi oleh tim hukum dan kami siapkan untuk diserahkan ke penyidik. Bahkan beberapa saksi hidup juga bersedia memberikan kesaksian di pengadilan.” Salah satu pemegang saham senior, Pak Johan, berdiri. “Saya tidak percaya keluarga Angkasa bisa serendah ini. Kalau semua ini benar, maka orang-orang seperti Bu Fatma dan Vano tidak pantas memegang satu persen pun saham apalagi kendali perusahaan.” Disusul oleh suara-suara lain. Ada yang mengangguk. Ada pula yang m
Di ruang rapat utama Angkasa Mining, suasana tegang menyelimuti. Para pemegang saham mulai berdatangan. Beberapa masih berdiskusi, mencoba memahami apa maksud sebenarnya dari rapat ini. Bu Fatma dan Vano duduk di kursi depan. Wajah Bu Fatma tegas, percaya diri. Sementara Vano tampak gugup, meski berusaha menyembunyikannya. Setelah pembukaan, Bu Fatma menyampaikan pidato singkat. Ia menjelaskan bahwa kondisi Pak Ferdinan sangat mengkhawatirkan, dan demi keberlangsungan perusahaan, perlu segera diambil langkah untuk memastikan adanya penerus sah yang akan menjaga kestabilan perusahaan. “Kondisi Pak Ferdinan saat ini sangat kritis,” ujar Bu Fatma membuka pertemuan, suaranya tenang namun menekan. “Demi kelangsungan perusahaan, kita harus segera menunjuk penerus sementara. Vano adalah pilihan terbaik. Dia telah mengenal sistem perusahaan sejak lama.” Beberapa direksi saling pandang. Pak Wiryo, salah satu pemegang saham senior mengangguk pelan. “Saya setuju. Kita tidak bisa membiarkan







