Home / Romansa / Gelora Cinta Sang Mafia / Api yang Dinyalakan Dendam

Share

Api yang Dinyalakan Dendam

Author: Embun Senja
last update Last Updated: 2025-07-10 15:34:44

Raka Anggana berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Di luar, kota berjalan seperti biasa. Tapi di dalam dirinya, badai sudah mulai mengguncang. Ia memegang secarik kertas laporan awal tentang pria bernama Dimas Wirawan.

“Punya bisnis legal tapi semua hasilnya haram,” gumam Raka. “Main di bawah, jual informasi, punya anak buah yang tersebar di banyak tempat.” Wajahnya menegang.

Orang seperti ini tidak bisa dibiarkan hidup terlalu lama.

Ia menaruh laporan itu, lalu meraih ponsel. Jari-jarinya bergerak cepat.

“Temukan kelemahan Dimas. Aku ingin semua rekam jejaknya, dari dulu hingga sekarang. Termasuk orang-orang yang pernah berurusan dengannya. Segera.”

Raka bukan pria biasa. Di balik wibawa dan senyumnya, ada sisi kelam yang tak banyak orang tahu. Ia tumbuh bersama dunia bawah, dan meskipun kini lebih tenang, bukan berarti ia kehilangan taring.

Sementara itu di rumah, Adelia masih mencoba bicara dengan Amelia. Namun gadis itu belum mau membuka hati. Ia lebih banyak diam, bahkan menghindar saat Adelia mendekat.

“Amel…” suara Adelia lirih di depan pintu kamar.

“Kakak rela kau membenci kakak… tapi jangan percaya pada Dimas. Dia bukan orang baik.”

Tak ada balasan. Tapi dari balik pintu, Amelia bisa mendengar suara tangis itu. Suara yang dulu selalu membuatnya merasa aman. Kini, ia hanya merasa asing. Namun sesuatu dalam hatinya mulai goyah.

Malam harinya, Raka masuk ke kamar dan mendapati Adelia duduk termenung di ranjang.

“Dia belum mau bicara” bisik Adelia.

Raka duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam tangan Adelia erat.

“Percayalah, Del. Semua ini akan segera selesai. Aku nggak akan biarkan orang itu merusak keluarga kita.”

Adelia menatap Raka, bingung. “Kamu akan melakukan apa?” Tatapan Adelia sangat sayu, terlihat seperti ia tidak memiliki semangat hidup.

Raka tidak menjawab. Ia hanya mencium tangan Adelia perlahan, lalu berdiri. Matanya tajam.

“Tidurlah. Aku akan pastikan besok semuanya berubah.”

Keesokan harinya, Dimas menerima pesan dari seseorang yang tak ia kenal. Isinya hanya sebuah kalimat.

“Jangan menyentuh milik Raka Anggana.”

Dimas tersenyum. Lalu tertawa.

“Jadi akhirnya kau bergerak juga, Raka?” gumamnya.

“Sudah waktunya permainan ini naik level.” Dimas merasa lebih bersemangat lagi untuk mengacaukan hidupnya.

Ia membanting gelas di hadapannya. “Tapi kau terlalu naif kalau mengira bisa menghapus aku semudah itu.”

Dimas membuka laptop, menyambungkan ke jaringan pribadinya. Ia mengetik sesuatu, lalu muncullah data tentang beberapa orang penting dalam jaringan Raka. Ia mulai menyusun serangan balik.

“Kau ingin perang, Raka? Ayo kita lihat siapa yang akan terbakar duluan.”

Malam itu, Amelia akhirnya keluar dari kamar. Ia berjalan perlahan ke arah dapur untuk mengambil air, tapi tak sengaja mendengar pembicaraan Raka dengan salah satu orang kepercayaannya.

“Kita harus cari celahnya dari si wanita bernama Agnesia Halim. Dia mantan pacar Raka. Dimas tahu itu. Dan dia sedang coba memanfaatkannya.”

Amelia membeku.

“Dimas nggak cuma ingin hancurkan rumah tangga kakakku… dia mau buat semuanya runtuh.”

Ia kembali ke kamarnya. Matanya mulai memerah. Hatinya remuk. Apa yang telah ia lakukan selama ini? Ia mulai sadar, mungkin semua yang dikatakan Adelia benar.

Di sisi lain kota, Dimas bertemu Agnesia.

“Aku tahu kamu masih punya rasa dengan Raka,” ucap Dimas pelan sambil menyodorkan foto-foto kedekatan Raka dengan Adelia.

“Wanita itu hanya numpang hidup darinya. Coba lihat siapa dia sebenarnya. Adelia Anjani… gadis kampung yang jual kehormatannya demi uang. Dan sekarang hidup enak di rumah mewah.” Dimas mencoba meracuni pikiran Agnesia supaya ia membantu Dimas untuk menghancurkan Raka Anggana.

Agnesia menggertakkan giginya. Luka lama di hatinya kembali menganga. Rasa dendam yang selama ini ia tekan, mulai naik ke permukaan.

“Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Agnesia dingin.

Dimas tersenyum licik. “Bantu aku buka topeng mereka. Lalu lihat bagaimana Raka bertekuk lutut di hadapan dunia.”

Di rumah, Raka duduk bersama Adelia dan Amelia di meja makan.

Amelia menatap kakaknya lama, lalu bicara lirih, “Kak… maaf.”

Adelia menatapnya kaget. “Amel…”

“Aku salah. Aku percaya orang yang salah. Aku terlalu labil,” ucap Amelia sambil menggenggam tangan Adelia.

Adelia langsung memeluk adiknya. Raka pun mengangguk tenang.

Namun dalam pelukan itu, Adelia berbisik, “Tapi ini belum berakhir, Mel. Dimas belum menyerah.”

Dan Raka mengangguk, menyadari bahwa pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Akhir Cerita

    Raka hanya tersenyum, di matanya ada kerinduan yang amat dalam terhadap Antoni, namun tidak pernah ia ungkapkan. "Aku juga tidak pernah memberi kabar padanya, aku sangat sibuk, dia juga pasti sibuk, meskipun tidak memberi kabar tapi hubungan hati selalu terikat." Adelia tiba-tiba pergi dari pangkuan Raka, ia duduk di sofa sambil menatap mata suaminya itu. "Apakah ikatan hatimu sangat kuat padanya?" tanya Adelia. "Adelia, Antoni tumbuh besar denganku, sejak kecil kami selalu bersama, kami tahu kap gyan waktunya akan bicara." Adelia pun diam, tapi kenapa hatinya merindukanmu sosok yang tidak asing bagi suaminya?" "Mungkin dia juga merindukan mu!" Raka tersenyum, mereka pun jalan-jalan ke mall sebelum pulang ke rumah, Adelia ingin membeli beberapa barang dan makanan untuk stok di rumah jika Raka sangat sibuk sehingga tidak bisa menemaninya belanja. Adelia pun tidak lagi memikirkan apa yang dia rasakan saat di kantor setelah melewati ruang kerja Antoni dulu. Ia pun sibuk

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Setelah 5 Tahun

    Malam itu, setelah semua kekacauan berlalu, tak terasa 5 tahun berlalu tanpa terasa, hanya seperti hembusan angin, namun banyak yang sudah dilalui Adelia, dan banyak pelajaran yang ia ambil dari masalah yang terjadi padanya. Raka melihat Adelia duduk di meja rias, tatapan itu sangat tajam seolah ujung sembilu menusuk kedua matanya. "Adelia, kenapa tidak turun ke bawah? apa kau tidak makan?" tanya Raka sambil mengelus-elus punggung Adelia. Adelia menggenggam tangan Raka, lalu ia membalikkan badannya. "Biarkan aku berada di pelukan mu hingga aku tidur, aku hanya butuh itu." Adelia pun jatuh ke pelukan Raka. Nafas Raka memburu, jantungnya berdegup pelan, ia menghela nafasnya. "Maafkan aku Adelia, selama bertahun-tahun ini kau masih merasa dihantui masalah masa lalu, tapi aku akan terus melindungi mu semampuku." batinnya. Raka membawa Adelia ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya disana dengan pelan. mata meraka menyatu, Adelia mampu merasakan detak jantung Raka. Adelia

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Mengakhiri salah paham

    Raka duduk di kursinya, matanya terpaku pada layar ponsel.Di layar itu, nama Adelia muncul, dan hatinya terasa berdebar entah karena gugup atau karena rasa bersalah yang sejak kemarin terus menghantuinya. Ia baru saja menghubungi istrinya untuk mengajukan pertanyaan yang sebenarnya ia tak berani tanyakan sebelumnya.“Del…,” suara Raka terdengar berat. “Selama aku menghilang setahun penuh, apa Antoni pernah mengecewakanmu? Pernah membuat hatimu terluka?”Di ujung telepon, Adelia terdiam sejenak. Suara napasnya terdengar pelan, seolah menimbang kata-kata. Lalu, dengan nada lembut namun tegas, ia menjawab, “Tidak, Ka. Antoni justru menjaga aku dan Delara seperti keluarganya sendiri. Dia selalu ada setiap kali aku butuh bantuan. Bahkan saat aku tidak meminta, dia tetap datang memastikan kami aman.”Raka menggenggam ponselnya lebih erat. Kata-kata itu seperti hantaman di dadanya. Ia teringat semua momen di mana ia membiarkan prasangka menutupi akal sehatnya. “Aku… aku sudah terlalu keterl

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Penjelasan Demi Kebaikan

    Langkah kaki Antoni terdengar berat saat ia memasuki ruang kantor Anggana Grup. Wajahnya pucat, napasnya teratur tapi jelas mengandung beban pikiran yang berat. Beberapa karyawan yang sedang melintas berhenti sejenak, saling berbisik.Mereka masih mengingat jelas bagaimana dua orang terdekat di perusahaan itu, Raka dan Antoni selama ini seperti saudara sendiri. Tapi beberapa hari terakhir, keduanya nyaris saling pukul, bahkan tatapan mereka pun penuh ketegangan.“Itu dia Antoni. Kira-kira dia mau apa ke ruangan pak Raka?” bisik salah satu staf, mencoba menyembunyikan rasa penasaran di balik tumpukan berkas.Yang lain menjawab pelan, “Aku dengar mereka bertengkar hebat. Padahal sebelumnya nggak pernah ada masalah.”Antoni mengabaikan bisik-bisik itu. Ia tidak datang untuk membela diri di mata karyawan, tapi untuk menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih penting, hubungan dan kepercayaan yang telah ia bangun bersama Raka selama bertahun-tahun.Sampai di depan ruang kerja Raka, ia menarik n

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Kelicikan Menjadikan Perkelahian

    Dimas menekan nomor Antoni, duduk dengan posisi santai di kursi kantornya. Namun nada bicaranya dingin dan penuh ancaman. “Kalau kau tidak menemuiku besok, aku akan katakan pada Raka kalau kau jatuh cinta pada Adel.” Antoni terdiam. Tangannya langsung mengepal, otot rahangnya menegang. Ia menatap kosong ke depan, mencoba mengatur napas agar emosinya tidak meledak. “Jangan macam-macam, Dimas,” jawabnya dengan nada berat, setiap kata keluar seperti ancaman balik. “Terserah kau percaya atau tidak,” balas Dimas santai. Suaranya tenang, namun di balik itu ada niat jahat yang jelas terasa. Tanpa memberi kesempatan bagi Antoni untuk bicara lagi, ia menutup telepon begitu saja. Antoni menatap layar ponselnya yang kini gelap. Suasana di ruangannya terasa makin sempit. Ia berjalan mondar-mandir, pikirannya berpacu. Ia tahu Dimas sedang memancingnya. Selama ini, Dimas memang selalu bermain dengan cara kotor menekan lawan, memanfaatkan celah. Setelah menimbang-nimbang, Antoni memutuskan unt

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Rencana Jahat Semakin Panas

    Dimas tidak senang karena Raka dan Antoni tidak bertengkar seperti yang ia harapkan. Ia sudah menunggu kabar itu berhari-hari, berharap benih kebencian yang ia tanam bisa tumbuh menjadi masalah besar. Tapi kenyataannya, hubungan mereka masih utuh. Raka bahkan masih terlihat tenang saat bersama Antoni, dan itu membuat Dimas semakin kesal. Duduk di ruangannya, Dimas memandang layar ponsel sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. “Berarti semua rencanaku kemarin tidak berhasil,” geramnya dalam hati. Ia memikirkan kembali semua langkah yang sudah ia lakukan, bunga misterius, pesan yang dibuat untuk memicu kecurigaan, bahkan gosip yang ia sebarkan. Tidak ada yang membuahkan hasil. “Kalau begitu, aku harus buat langkah yang lebih kejam.” Di rumah, Adelia duduk sendirian di ruang tamu. Di depannya ada cangkir teh yang sudah dingin karena terlalu lama tak tersentuh. Pandangannya kosong, tapi pikirannya sibuk memikirkan semua kejadian yang menimpa mereka akhir-akhir ini. Ia merasa sedih ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status