Beranda / Romansa / Gelora Cinta Sang Mafia / Kembalinya Masa Lalu

Share

Kembalinya Masa Lalu

Penulis: Embun Senja
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-10 15:46:00

Sudah seminggu sejak Amelia kembali luluh dan memeluk kakaknya. Rumah itu mulai terasa hangat kembali. Adelia bisa tertawa kecil saat memasak, dan Raka pun kerap menatap istrinya penuh kasih, meski belum menyentuhnya sepenuh hati.

Tapi kebahagiaan mereka ternyata hanya jeda sesaat sebelum badai besar datang menghantam.

Pagi itu, Raka baru saja keluar dari kamar ketika ponselnya berbunyi.

Nama di layar Agnesia Halim.

Wajah Raka langsung berubah. Ia mematung beberapa detik, lalu menjawab dengan suara tenang yang menyembunyikan kegelisahan.

“Agnesia...”

“Aku di Jakarta. Kita perlu bicara.”

“Untuk apa?” Raka bertanya datar.

“Kau masih berhutang banyak hal padaku, Raka. Setidaknya beri aku satu jam.”

Raka terdiam sejenak. Lalu mengangguk, meski tak ada yang bisa melihatnya. “Di tempat biasa. Satu jam lagi.”

Adelia melihat Raka bersiap-siap dari ruang makan. Ia tidak curiga, tapi perasaannya entah kenapa sedikit tidak tenang.

“Mas, kamu ke luar kota lagi?” tanyanya lembut.

“Enggak. Cuma ketemu orang sebentar. Ada urusan kerjaan,” jawab Raka sambil tersenyum kecil.

Adelia mengangguk, walau hatinya tetap gelisah.

Di sebuah kafe mewah di bilangan Sudirman, Agnesia Halim duduk anggun mengenakan dress hitam elegan. Wajahnya tetap cantik seperti dulu, tapi sorot matanya tajam penuh luka dan dendam yang belum sembuh.

Begitu Raka datang dan duduk di hadapannya, Agnesia langsung menyeringai.

“Kau berubah. Tapi mata itu… masih sama. Masih menyimpan rahasia.”

Raka menatapnya dingin. “Langsung ke intinya. Kau kemari karena Dimas?”

Agnesia tertawa pelan. “Tentu saja tidak. Aku datang karena aku ingin kembali.”

“Jangan bercanda, Agnes.”

“Aku serius, Raka. Kau tahu aku satu-satunya wanita yang pernah mencintaimu dengan jujur. Tapi kau campakkan aku, untuk perempuan kampungan yang kau temui entah di mana.”

“Cukup.” Nada suara Raka meninggi. “Adelia adalah istriku. Dan kau tidak berhak mencampuri urusan kami.”

Agnesia mendekatkan wajahnya ke meja. “Apa dia tahu? Kalau aku wanita pertama yang membuatmu menangis? Apa dia tahu kamu dulu memohon agar aku tidak pergi?”

“Waktu kita sudah selesai, Agnesia. Jangan muncul hanya karena aku sudah bahagia.”

Agnesia tersenyum dingin. “Belum tentu kau akan tetap bahagia setelah ini.”

Hari mulai sore saat Raka kembali ke rumah. Adelia menyambutnya dengan senyum, meski hatinya seperti merasakan sesuatu yang tak terlihat.

“Kamu kenapa?” tanya Adelia.

“Nggak apa-apa, cuma capek.”

Adelia ingin percaya, tapi malam itu Raka terlihat lebih banyak diam. Ia menatap langit dari balkon kamarnya, seolah sedang dihantui oleh masa lalu.

Keesokan harinya, Adelia dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita asing di depan rumah mereka.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Adelia sopan.

Wanita itu tersenyum. Matanya tajam dan senyumnya licin.

“Nama saya Agnesia. Aku sahabat lama suamimu.” matanya tajam dan bibirnya seolah menyimpan rahasia dan luka.

Adelia terdiam. Hatinya langsung dicekam perasaan aneh. Namun ia tetap tersenyum dan menyuruhnya masuk.

Raka yang baru turun dari lantai atas langsung membeku melihat keduanya.

“Mas, kenalkan... katanya dia teman lama kamu...” suara Adelia menggantung tapi tatapan matanya terlihat sedih, kenapa sahabat lama suaminya tiba-tiba saja muncul saat rumah tangganya mulai adem.

Raka mengangguk pelan. “Iya... dia teman lama...”

tapi sorot mata Raka terhadap Agnesia sangat tajam.

Hari-hari berikutnya, Agnesia mulai sering datang. Ia pandai bersandiwara, membuat dirinya tampak seperti teman biasa. Tapi Adelia tak buta. Ia tahu, pandangan mata wanita itu pada Raka bukan sekadar nostalgia.

Suatu malam, saat semua sedang bersiap tidur, Adelia mendekati Raka.

“Mas…”

“Hmm?”

“Aku cuma mau bilang, aku tahu siapa dia. Dan aku nggak akan marah… asalkan kamu jujur.”

Raka memejamkan matanya. “Aku nggak pernah berniat menyakitimu, Del.”

Adelia mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi bukan kamu yang ku khawatirkan. Dia.” Setelah bicara Raka pergi ke sofa sedangkan Adelia di atas ranjang seperti biasanya.

Di tempat lain, Dimas tersenyum melihat layar ponselnya. Agnesia ternyata menjalankan rencananya dengan baik.

“Keluarga itu akan hancur dengan sendirinya,” gumamnya.

Lalu ia mengirim pesan singkat ke Agnesia,

"Bagus. Lanjutkan. Buat dia berpikir istrinya nggak cukup untuk memuaskan masa lalunya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Mengakhiri salah paham

    Raka duduk di kursinya, matanya terpaku pada layar ponsel.Di layar itu, nama Adelia muncul, dan hatinya terasa berdebar entah karena gugup atau karena rasa bersalah yang sejak kemarin terus menghantuinya. Ia baru saja menghubungi istrinya untuk mengajukan pertanyaan yang sebenarnya ia tak berani tanyakan sebelumnya.“Del…,” suara Raka terdengar berat. “Selama aku menghilang setahun penuh, apa Antoni pernah mengecewakanmu? Pernah membuat hatimu terluka?”Di ujung telepon, Adelia terdiam sejenak. Suara napasnya terdengar pelan, seolah menimbang kata-kata. Lalu, dengan nada lembut namun tegas, ia menjawab, “Tidak, Ka. Antoni justru menjaga aku dan Delara seperti keluarganya sendiri. Dia selalu ada setiap kali aku butuh bantuan. Bahkan saat aku tidak meminta, dia tetap datang memastikan kami aman.”Raka menggenggam ponselnya lebih erat. Kata-kata itu seperti hantaman di dadanya. Ia teringat semua momen di mana ia membiarkan prasangka menutupi akal sehatnya. “Aku… aku sudah terlalu keterl

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Penjelasan Demi Kebaikan

    Langkah kaki Antoni terdengar berat saat ia memasuki ruang kantor Anggana Grup. Wajahnya pucat, napasnya teratur tapi jelas mengandung beban pikiran yang berat. Beberapa karyawan yang sedang melintas berhenti sejenak, saling berbisik.Mereka masih mengingat jelas bagaimana dua orang terdekat di perusahaan itu, Raka dan Antoni selama ini seperti saudara sendiri. Tapi beberapa hari terakhir, keduanya nyaris saling pukul, bahkan tatapan mereka pun penuh ketegangan.“Itu dia Antoni. Kira-kira dia mau apa ke ruangan pak Raka?” bisik salah satu staf, mencoba menyembunyikan rasa penasaran di balik tumpukan berkas.Yang lain menjawab pelan, “Aku dengar mereka bertengkar hebat. Padahal sebelumnya nggak pernah ada masalah.”Antoni mengabaikan bisik-bisik itu. Ia tidak datang untuk membela diri di mata karyawan, tapi untuk menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih penting, hubungan dan kepercayaan yang telah ia bangun bersama Raka selama bertahun-tahun.Sampai di depan ruang kerja Raka, ia menarik n

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Kelicikan Menjadikan Perkelahian

    Dimas menekan nomor Antoni, duduk dengan posisi santai di kursi kantornya. Namun nada bicaranya dingin dan penuh ancaman. “Kalau kau tidak menemuiku besok, aku akan katakan pada Raka kalau kau jatuh cinta pada Adel.” Antoni terdiam. Tangannya langsung mengepal, otot rahangnya menegang. Ia menatap kosong ke depan, mencoba mengatur napas agar emosinya tidak meledak. “Jangan macam-macam, Dimas,” jawabnya dengan nada berat, setiap kata keluar seperti ancaman balik. “Terserah kau percaya atau tidak,” balas Dimas santai. Suaranya tenang, namun di balik itu ada niat jahat yang jelas terasa. Tanpa memberi kesempatan bagi Antoni untuk bicara lagi, ia menutup telepon begitu saja. Antoni menatap layar ponselnya yang kini gelap. Suasana di ruangannya terasa makin sempit. Ia berjalan mondar-mandir, pikirannya berpacu. Ia tahu Dimas sedang memancingnya. Selama ini, Dimas memang selalu bermain dengan cara kotor menekan lawan, memanfaatkan celah. Setelah menimbang-nimbang, Antoni memutuskan unt

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Rencana Jahat Semakin Panas

    Dimas tidak senang karena Raka dan Antoni tidak bertengkar seperti yang ia harapkan. Ia sudah menunggu kabar itu berhari-hari, berharap benih kebencian yang ia tanam bisa tumbuh menjadi masalah besar. Tapi kenyataannya, hubungan mereka masih utuh. Raka bahkan masih terlihat tenang saat bersama Antoni, dan itu membuat Dimas semakin kesal. Duduk di ruangannya, Dimas memandang layar ponsel sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. “Berarti semua rencanaku kemarin tidak berhasil,” geramnya dalam hati. Ia memikirkan kembali semua langkah yang sudah ia lakukan, bunga misterius, pesan yang dibuat untuk memicu kecurigaan, bahkan gosip yang ia sebarkan. Tidak ada yang membuahkan hasil. “Kalau begitu, aku harus buat langkah yang lebih kejam.” Di rumah, Adelia duduk sendirian di ruang tamu. Di depannya ada cangkir teh yang sudah dingin karena terlalu lama tak tersentuh. Pandangannya kosong, tapi pikirannya sibuk memikirkan semua kejadian yang menimpa mereka akhir-akhir ini. Ia merasa sedih ka

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Kesalahpahaman Di Antara Tiga Hati

    Meskipun Raka tidak berkata sepatah pun, hatinya mulai berbisik lirih, menggerogoti pikirannya pelan-pelan. "Apakah Antoni pada akhirnya akan melakukan itu?" Bisikan itu terdengar seperti suara asing yang ingin merusak ketenangannya. Ia mencoba menepisnya, tapi ingatan tentang pesan misterius dan bunga yang datang ke rumah terus menghantui. Terlebih lagi, ia ingat jelas sebelum pulang, Adelia sempat mengirim pesan kepada Antoni. Di sudut lain, di kamarnya yang sepi, Antoni duduk di tepi ranjang. Ruangan itu terasa semakin sempit karena pikirannya sendiri yang berkecamuk. Matanya kosong menatap ke arah jendela, tapi isi kepalanya penuh dengan satu nama: Dimas. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal di atas lutut. "Aku akan mencari Dimas ke mana pun ia pergi," gumamnya dengan nada dingin, seolah berjanji pada dirinya sendiri. "Jika terjadi kekacauan di rumah ini, aku akan membunuhnya." Suaranya hampir tak terdengar, tapi berat dan sarat dengan kemarahan yang tertahan. Antoni bangkit,

  • Gelora Cinta Sang Mafia    Bunga Misterius

    Raka menghela napas setelah percakapan singkat dengan Antoni. Ia menepuk bahu sahabatnya itu, lalu berkata tegas, “Antoni, aku ingin kau segera membereskan semua pekerjaan yang menumpuk, terutama laporan keuangan bulan ini. Kau tahu hanya kau yang paling bisa kupercaya mengurus keuangan Anggana Grup. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun.”Antoni mengangguk, mencoba fokus pada permintaan Raka meski pikirannya masih berkecamuk. “Baik, Raka. Aku akan segera mengerjakannya.”Keuangan Anggana Grup memang sepenuhnya berada di tangan Antoni. Raka bahkan jarang ikut campur, sebab kepercayaan itu sudah dibangun selama bertahun-tahun. Namun, kepercayaan itu kini terasa rapuh di tengah badai yang mulai terlihat di kejauhan, badai yang dibawa oleh Dimas.Hari itu, Raka juga menerima tawaran kerja sama dari seorang teman lamanya seorang mafia yang dulu pernah bekerja sama dengannya di masa kelam. Orang itu ingin Raka kembali terlibat dalam jaringan black market yang menguntungkan, namun penuh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status