LOGINLiora benar-benar lemas, dia malah sedari tadi berdebat dengan bosnya karena dia tidak mau menghapus fotonya. "Untuk apa anda menyimpan fotoku? Anda tidak akan menjualnya, kan?" Liora malah berfikir jika mungkin saja Alex menjual fotonya. Alex sendiri yang mendengar tuduhan Liora jelas saja melotot terkejut. "Enak saja! Kau pikir aku kekurangan uang sampai menjual fotomu itu," omelnya. "Lalu— "Pulanglah! Ini sudah malam. Jika kau masih di sini. Maka aku akan menyuruhmu memakai seperti yang kau kirim kepadaku." Ucap Alex yang membuat Liora akhirnya terkejut dan panik. Dia lamgsung berbalik dan pergi dari sana. "Kenapa dia menjadi mesum seperti ini!" Gumam Liora yang memilih untuk membereskan mejanya dan pulang dengan cepat. Sesampainya di apartemen, dia menghela nafas panjangnya karena merasa lega. Dia melihat ponselnya yang anehnya Aiden sekarang sudah jarang mengabarinya, padahal waktu seminggu pertama dia pindah, dia sering mengabari Liora. "Apa dia sesibuk itu?"
Meskipun awal pertemuannya dengan bosnya terlihat seperti biasanya, tapi entah kenapa Liora masih saja merasa canggung dan malu jika nantinya berhadapan dengan bosnya. Liora bahkan sedari tadi menghela nafas panjangnya sebelum masuk kedalam ruangan Alex. Tok Tok Setelah terdengar suara Alex yang memperbolehkan dia masuk, dia akhirnya masuk ke dalam. Dia melihat Alex yang sedang serius dengan laptopnya. "Tuan, sepuluh menit lagi anda ada meting." Ucap Liora yang membuat Alex akhirnya menghentikan aktifitasnya dan mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah Liora. Liora yang dilihat seperti itu akhirnya menunduk. "Batalkan saja, hari ini aku tidak ingin ke manapun." Ucap Alex yang dimengerti oleh Liora. Liora keluar dari sana dengan hati yang semakin lega, dia semakin yakin jika foto itu tidak sampai di lihat oleh bosnya. Dia bahkan keluar dari ruangan Alex dengan senyuman yang mengembang sempurna. Liora menghubungi beberapa kliennya karena Alex yang membatalkan meting
Hari-hari berlalu, dan akhirnya Liora benar-benar melakukan hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Kini sudah satu minggu Liora hanya berhubungan lewat ponsel saja. Dia yang baru selesai mandi terkekeh sendiri melihat tubuhnya yang hanya memakai bra dan kain segitiga. Dia jadi mengingat Aiden dan akhirnya mengambil gambar dirinya bahkan dengan pose menggoda. "Perfect! Oke. Tinggal kirim." Gumam Liora mengetik nama My Boy di ponselnya karena dia menamai Aiden dengan nama itu. Setelah mengirim foto itu. Dia memakai bajunya terlebih dahulu. Ketika dia hendak menghubungi kekasihnya, tapi ternyata dia menghubunginya yang jelas langaung di angkat olehnya. "Kau sudah melihatnya? Bagaimana?" Ucap Liora menggodanya namun Aiden malah tidak mengerti apa maksutnya. "Melihat apa, Sayang?" Aiden yang memang tidak tau jelas saja bertanya namun Liora mengerutkan dahinya. "Fotoku, aku mengirimkan foto kepadamu." Liora menjadi gelisah ketika Aiden malah bertanya seperti itu. "Tunggu!
Malam harinya, Aiden menjemput Liora yang ada di apartemen, dia tersenyum ketika melihat kelasihnya sudah cantik dengan berbalit gaun hitam. "Jangan memandangiku saja. Ayo kita pergi. Aku sudah lapar." Bukan karena lapar, sebenarnya Liora merasa malu sendiri jika di lihat seperti ini meskipun itu dengan kekasihnya sendiri. "Kekasihku cantik sekali." Aiden bahkan merengkuh tubuh Liora yang membuat dia tersenyum. "Kita harus berangkat sekarang." Ucap Liora. Aiden tersenyum dan mencium bibir Liora sekilas lalu akhirnya menggandeng tangannya dan membawanya pergi dari sana. Dia sengaja sudah menyewa ruangan privat untuk makan malam berdua dengan Liora. "Ada apa ini? Tumben sekali." Ucap Liora terkekeh. "Ada yang ingin aku bicarakan, Sayang." "Sepertinya serius. Apa ada masalah?" Liora akhirnya mengubah wajahnya menjadi bingung karena sepertinya ada hal yang serius. "Hm, bukan masalah. Tapi lusa aku akan di pindahkan ke kantor cabang selama beberapa bulan." Ucap Aiden yang jel
Hari-hari berlalu, bahkan sudah lebih dari dua tahun Liora tidak juga pulang ke rumah, Leon dan Tasya sudah sering mengunjungi apartemen Liora namun dia tetap tidak mau kembali. Liora bahkan sampai pindah apartemen agar Tasya dan Leon tidak menemuinya lagi. Namun meskipun begitu. Leon tetap tau di mana keberadaan putrinya, hanya saja dia sudah tidak pernah mengunjunginya lagi dan hanya akan memantaunya dari anak buahnya. Pagi ini, Liora pergi ke kantor seperti biasanya, dia selalu naik kendaraan umum saat pergi ke kantor, namun dia juga pernah menggunakan taksi jika dia sudah benar-benar terlambat. Saat di kantor, Liora langsung duduk di mejanya. Dia ingin langsung memulai pekerjaannya karena kemaren belum selesai. Namun tak lama Liora yang melihat bosnya akhirnya berdiri sebentar dan menyapanya. "Jika ada wanita gila itu datang ke sini, jangan sampai dia masuk ke ruanganku." Ucap Alex lalu pergi dari sama sebelum Liora menjawabnya. "Kebiasaan!" Liora mengomel karena bosny
"Aku berjanji akan kembali lebih awal jika metingnya selesai." Leon sebenarnya sudah cuti dan tidak mau menghandle kantornya, namun ada klien penting yang benar-benar tidak bisa di wakilkan orang lain dan harus dia yang datang. "Tidak masalah. Di sini kan ada Noah dan Tante Thresa. Kau bekerjalah saja, cari uang yang banyak." Tasya tersenyum dan memeluk tubuh suaminya meskipun terhalang dengan perutnya yang benar-benar sudah semakin besar, bahkan dia hanya menghirung hari untuk kelahirannya karena memang sudah waktunya dia melahirkan. "Baiklah, hubungi aku jika ada apa-apa. Aku pasti akan mengangkatnya." Ucap Leon yang di angguki saja oleh Tasya. "Aku titip Tasya, Tante." Ucap Leon saat mereka sudah turun dan Leon ingin berangkat meting. "Dia aman bersama kami," Leon berangkat dengan hati yang berat, bagaimana tidak! Masalahnya metingnya berada di luar kota, bahkan perjalanannya saja termasuk lumayan karena waktunya dua jam di perjalanan. Sedangkan di mansion. Tasya sedan







