LOGINKetika akhirnya pintu terbuka, ia mendapati sosok Joan yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan dengan celana olahraga biasanya. Ia tidak mengatakan apapun, hanya memberinya senyum miring sembari mengulurkan tangan untuk meraih pinggang Jiyya dan menarik wanita itu masuk ke dalam apartment-nya.Seolah waktu berhenti ketika ia membiarkan pria itu menuntunnya masuk ke dalam, dan ia nyaris tidak mendengar bunyi lembut dari pintu yang ditutup oleh sang tuan rumah di belakangnya ketika tangan pria itu telah melingkar manis dipinggang dan menariknya dalam sebuah ciuman yang membuat ujung kakinya melengkung.Tatkala bibirnya menyentuh bibir Joan saat ia pikir tidak akan pernah merasakannya lagi, wanita itu mendesah lega dan lengannya secara otomatis melingkari leher sang lelaki dengan tubuhnya yang memanas sementara hatinya diliputi oleh kebahagiaan bercampur rasa bersalah yang ia rasakan sebelumnya ketika mereka masih di pub.Rasanya begitu tepat jika Jiyya bersamanya, meskipun pikiran itu j
Malam itu berlalu begitu cepat karena sebagai besar telah semakin mabuk, dan sebelum ia menyadarinya. Jiyya sudah berdiri di luar pub bersama Joan, menyaksikan Dean berusaha keras agar tidak tersungkur ke jalanan saat dipapah oleh istrinya. Juga sang pemilik pesta yang saling berangkulan bahu dengan yang lain sembari bernyanyi dengan keras tak peduli suara mereka yang sumbang.Jarvis dan istrinya yang tidak begitu mabuk melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan dan pulang beriringan, diikuti oleh Silvana dan Leon (yang sedikit lebih ekspersif saat mabuk daripada saat sadar) adalah yang terakhir pergi, tetapi tidak sebelum si pirang memeluk Jiyya dan mengatakan omong kosong soal dia yang mencintainya dan mendukung Jiyya apapun pilihan yang ia ambil.Jiyya yang sejatinya tidak terlalu sadar seratus persen hanya membalas dengan senyum simpul saat Leon menyeret istrinya yang berlebihan itu untuk pulang bersama. Dan setelah semua keributan itu, kini hanya ada ia dan Joan saja disana. Be
Lebih dari seminggu telah berlalu sejak terakhir kali Jiyya melihat Joan. Sejak ia sendiri mengatakan padanya bahwa mereka tidak bisa terus bersama. Keputusan itu didasari atas kebahagiaan Luna, dan itu adalah hal yang wajar bagi seorang ibu untuk melakukan apapun demi anaknya. Hanya saja, sekarang ia jadi sangat merindukan pria itu. Bahkan sampai dititik penuh pengharapan bahwa pria itu akan muncul dimana pun ia berada seperti kebetulan-kebetulan yang pernah ia alami.Meskipun yang sekarang, Jiyya sendiri tahu bahwa ia sengaja mencari celah demi bisa berjumpa dengan Joan dengan cara menghadiri acara salah satu kenalannya yang dirayakan di pub. Meskipun memang sangat tidak adil baginya untuk bisa mengharapkan keberadaan Joan, saat ia sendiri telah berkeputusan untuk mengakhiri.Namun meski begitu keinginan untuk bertemu jauh lebih kuat dibandingkan seluruh logika manapun. Dan itu sangatlah menyebalkan.Jiyya pun menghela napas.Joan barangkali tidak akan datang. Ia mungkin tidak akan
“Joan, kau perlu tidur,” kata Jiyya pelan. Mereka kini ada di beranda kamar Jiyya, dan duduk berhadapan.Semua urusan pekerjaan ternyata memakan waktu yang terbilang singkat. Urusan soal kontrak dan beberapa hal terkait masalah penulisan juga sudah diselesaikan. Mereka akhirnya bisa bercengkrama kembali begitu Jiyya tiba dan menemukan putrinya sudah tertidur lelap dengan Joan yang duduk di beranda kamar mereka.Keduanya berada dalam keheningan yang berat sementara bintang di langit berkelap-kelip seakan meledek mereka berdua. Karena tak kunjung mendapatkan balasan, akhirnya Jiyya memutuskan untuk kembali buka suara dan memecah keheningan yang ada. Terutama karena ia sedikit terganggu dengan penampakan lingkaran hitam dibawah mata sang pria.“Apa semalam kau tidur?” tanya Jiyya lagi dengan kekhawatiran terlihat jelas dari nada suara dan kerutan cemas dialisnya.Pria itu berhenti menatap ke arah langit, dan mulai melirik pada Jiyya. Tatapannya begitu sulit ditebak. Namun setelah satu me
Seperti orang bodoh, Joan bergegas masuk ke dalam kamarnya begitu mendengar suara jendela kamar di kamar sebelah terbuka. Ia mengintip dari balik jendela hanya untuk mendapati Jiyya dan Bestian keluar dari kamar berdua saja. Dan adegan berikutnya yang ia lihat adalah Bestian yang mencium Jiyya disana. Joan berusaha keras untuk tidak merasa terluka, karena toh… apa pun yang mereka lakukan adalah hal yang wajar mengingat mereka berdua adalah suami istri.Ia mencoba menyabotase dirinya untuk tidak ikut campur lagi. Memutuskan untuk membaringkan diri di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar seperti seorang pria menyedihkan.Ada banyak kemungkinan bertebangan dikepala. Seperti mungkin mereka cukup gila untuk melakukan hubungan seks di beranda kamar mengingat mereka telah lama tak berjumpa. Meskipun Joan rasa, keduanya bukan tipe yang demikian sih. Tapi pemikiran gila itu pula-lah yang mengingatkan dirinya bahwa mereka tentu akan melakukannya dan otaknya yang masokis malah sibuk
Jiyya memaksakan diri untuk menyingkirkan seluruh kesedihan juga kegelisahan yang ada di dalam dirinya sebelum ia bergabung dengan suami dan putrinya. Malam itu entah bagaimana terasa berlalu begitu saja dengan penuh kecanggungan. Jiyya ingin bertanya soal yang ia temukan tadi siang, tentang perempuan yang menggandeng Bestian dan bagaimana mereka terlihat begitu dekat satu sama lain untuk dikatakan sebagai rekan kerja. Namun apalah daya, semua itu tidak bisa ia katakan terutama karena ini bukan dirumah dan Luna ada disini bersama mereka.Bahkan di atas ranjang pun ia berbaring membelakangi suaminya, sembari menatap putrinya yang tertidur di ranjang berbeda tampak telah tertidur dengan nyaman sementara ia sendiri menyadari bahwa Bestian tidak tidur disampingnya.Joan tak terlihat sejak pria itu memutuskan memisahkan diri dari mereka dan itu sangatlah wajar. Karena meski bagi Jiyya mereka telah sedekat nadi, tetapi pria itu tetaplah pihak luar di dalam keluarganya. Dia bertanya-tanya ap







