Beranda / Rumah Tangga / Gelora Hasrat Terlarang / Nongkrong Bareng Silvana

Share

Nongkrong Bareng Silvana

Penulis: Rucaramia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-20 12:38:44

Sudah beberapa hari lalu sejak insiden Joan mengantarkan makan siang kerumahnya, dan sejak itu pula mereka berdua tak pernah berjumpa dalam kesempatan apapun. Sepertinya Joan memang serius soal memberinya waktu untuk berpikir tentang arah hubungan mereka, dan itu bagus untuk kondisi hatinya.

Namun masalahnya, Jiyya sekarang ini betulan tidak tahu harus berbuat apa. Setiap kali dia mencoba memikirkan soal Joan, soal Bestian dan juga situasi yang dialaminya sekarang. Jiyya kerap kali merasa kepalanya nyaris meledak sekaligus menciptakan beban yang membuatnya sulit bahkan untuk hal sederhana macam bernapas. Dicoba dipikirkan pun tetap tidak ada hasilnya, dan jelas-jelas pula tidak membantu menyelesaikan permasalahan.

Dan lagi bagian terburuknya dari itu semua adalah bahwa orang yang biasa dia ajak bicara tentang hal-hal yang membuatnya pusing tentang satu ini adalah orang yang sama yang menciptakan pusaran itu sendiri.

“Ini benar-benar membuatku gila,” gumam Jiyya sambil menyugar helai r
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gelora Hasrat Terlarang   Pelarian

    Senja terhampar lembut di balik jendela ketika Jiyya mengangkat wajahnya dari monitor laptop. Di sofa seberang, Luna terjerembap dengan tubuh lemas, seolah seluruh dunia telah mengempasnya.“Ada apa, sayang?” tanya Jiyya, menghentikan gerakan tangannya pada keyboard untuk memberikan atensi penuh kepada putri semata wayangnya.“Aku tidak bisa menyelesaikan semuanya,” gumam Luna, tatapannya jatuh pada jemari kecilnya sendiri.Jiyya mengernyit, bingung. “Menyelesaikan apa?”“Soal dari Om Joan,” jawab Luna dengan nada tertunduk. “Semua soalnya.”“Oh begitu …” Jiyya terdiam sejenak, lidahnya kelu. “Berapa yang berhasil kamu selesaikan?”“Lima,” sahut Luna, semakin menyusut ke balik bantal sofa. “Padahal ada sepuluh soal tapi aku tidak bisa menjawab dengan benar sisanya.”“Lima itu banyak untuk ukuranmu sayang, Mama saja dulu kesulitan menyelesaikan soal dari dia. Tapi kamu bisa menjawab setengah dari soalnya itu luar biasa,” ujar Jiyya, mencoba menyelipkan semangat.Luna tampak sedikit ber

  • Gelora Hasrat Terlarang   Isi Kepala Joan

    Ucapan “Terima kasih” adalah hal terakhir yang Joan duga akan keluar dari mulut Bestian. Ia bahkan membutuhkan beberapa detik untuk mengatasi keterkejutannya.Ketika akhirnya ia pulih, ia sendiri tidak yakin apa yang sebetulnya ia rasakan detik itu juga. Rasa bersalah jelas ada, begitu pun dengan rasa getas dan pahit. Mendengar ungkapan terima kasih dari seseorang yang justru diam-diam telah ia khianati menghunjam dirinya cukup dalam. Apalagi ketika ia memaksa dirinya mengakui satu hal yang selama ini ia bungkam: bahwa ia menawarkan diri menjadi guru les privat bagi Luna bukan semata karena ia peduli, tetapi karena Luna adalah putri Jiyya. Meski kemudian dalam perjalanannya ia lama-lama malah menikmati mengajar gadis cilik itu meski tidak sepenuhnya meniadakan motif awalnya.Kening Joan berkerut. Ia menutup mata seraya menengadahkan kepal untuk bersandar pada dinding.Tentu saja ia merasa bersalah mendengar ucapan terima kasih barusan. Mungkin rasa bersalah itu bahkan lebih kuat dari

  • Gelora Hasrat Terlarang   Joan & Bestian

    Joan tiba pada pukul 09.32 dengan ekspresi yang santai karena menurutnya ini adalah hal yang sangat wajar. Namun hal pertama yang ia dapati ialah Luna yang berdiri dengan sorot mata tajam, telunjuk terjulur penuh tuduhan seperti seorang hakim kecil di depan pintu perpustakaan.Hal kedua yang ia sadari ialah tampaknya ada tamu tak diundang yang sedang mengintai mereka dari kejauhan. Bestian.Hal ketiga, dan yang paling menyebalkan, ialah kenyataan bahwa Luna tampaknya sama sekali tidak menyadari kehadiran ayahnya. Dikombinasikan dengan kenyataan bahwa Joan pernah terkejut akan keberadaan Bestian saat membantu Jiyya menemenai Luna saat ia sedang sibuk dengan pekerjaannya.Hal itu membuatnya jengkel. Mengapa Bestian merasa perlu bukan hanya mengintai sesi belajar putrinya, tapi juga memastikan sang guru tahu bahwa dirinya sedang mengintai? Apakah ia tersinggung karena Luna memilih berlatih dengan mantan guru lesnya dulu hari ini alih-alih dengannya?Joan mengangkat alisnya dengan malas n

  • Gelora Hasrat Terlarang   Suasana Pagi

    “Apa yang akan kalian berdua lakukan hari ini selagi Mama bekerja?” tanya Jiyya sembari meletakkan piring-piring yang berisi makanan untuk sarapan mereka di atas meja makan.“Aku mau belajar dengan Om Joan!” jawab putrinya riang sebelum buru-buru mengucapkan, “Selamat makan!” lalu menyendok salah satu sup yang masih mengepul dengan asap.Jiyya sedikit terperanjat, baik oleh penyebutan nama Joan yang begitu tiba-tiba, maupun oleh isi kalimat putrinya. Ia memandang Bestian yang duduk di sisi meja, dan di sana ia mendapati kerutan halus di antara alis suaminya. Dari tatapannya, Jiyya cukup tahu bahwa ia tampaknya sedikit terganggu memikirkan kenyataan bahwa selama ini yang menjadi ia yang selalu menjadi guru les bagi Luna sejak pulang, tapi hari ini tiba-tiba saja anak itu membuat rencana lain tanpa melibatkan dirinya.Tidak tahu harus bereaksi bagaimana, Jiyya hanya memberinya senyum maaf yang setengah jadi, disertai anggukan kecil seolah berkata, “Mau bagaimana lagi? kalau itu kemauan

  • Gelora Hasrat Terlarang   Dengarkan Curhatku

    Joan memicingkan mata, kerut halus di sudut-sudut matanya semakin dalam ketika menatap gadis cilik yang berdiri beberapa langkah darinya dengan posisi tangan di pinggang dan tatapannya penuh kejengkelan. Jujur saja, bersembunyi darinya selama dua hari terakhir adalah satu-satunya hiburan yang ia rasakan dalam lebih dari dua minggu, dan ekspresi murka gadis itu membuat semua usahanya seolah berbuah manis.Belum lagi soal sup itu. Ia harus mengakui keunggulannya dalam hal itu. Mungkin permainan ini akan ia perpanjang beberapa hari lagi jika Luna tidak muncul sambil membawa sup ke tempat persembunyiannya.Setelah menutup wadah itu perlahan, Joan menunggu langkah Luna berikutnya. Dan tak perlu menunggu lama, jari telunjuk bocah itu mengarah padanya dengan mata menyala geram, Luna mendesis."Aku benci kau, dan lagi bagaimana bisa Om Joan tahu aku bawa sup?"Joan mengetuk sisi hidungnya. Luna mendengus, lalu menjatuhkan diri ke tanah di depannya."Bahkan lewat wadah?" tanyanya, ketus."Bahk

  • Gelora Hasrat Terlarang   Mari Coba Lagi

    Hampir pukul empat dini hari ketika lekukan halus pada kasur membangunkan Jiyya. Bestian merebahkan tubuh di samping punggungnya, membawa serta hangat tubuh yang dulu pernah menjadi tempat ia bersandar. Kehangatan itu menempel pada kulitnya dan membuat hatinya berdenyut nyeri. Dulu, sentuhan seperti itu mencipta rasa damai terhadap Jiyya. Namun kini tiada lagi arti yang membersamai, karena ia tak lagi mampu merasa bahagia karenanya seberapa keras pun ia mencoba. Lebih dari itu, Jiyya kini malah berharap kehangatan itu berasal dari lelaki lain.Ia mendengar helaan napas Bestian, dalam dan berat, lalu terdengar suaranya memanggil dengan lirih. "Jiyya."Ia tahu Bestian berbaring menyamping menghadapnya, tetapi Jiyya tidak membalas. Tubuhnya terasa kaku, matanya terpejam rapat, seakan jika ia tak bergerak maka kenyataan tak bisa menuntut jawaban. Bukan karena ia masih marah. Ia telah kehabisan tenaga untuk marah. Ia juga tidak punya cukup ruang untuk menyimpan dendam. Sesungguhnya ia hany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status