Share

Chapter>81.

last update publish date: 2025-11-29 16:43:49

Rasya mengangguk puas melihat hasil kerjanya. Tempat itu adalah sebuah gazebo kaca elegan yang terletak di puncak bukit, jauh dari hiruk pikuk kota. Dinding-dinding kaca transparan memperlihatkan pemandangan city lights yang akan tampil memukau saat malam tiba. Di dalamnya, meja bundar untuk dua orang telah ditata mewah dengan taplak beludru, lilin-lilin aromaterapi, dan buket mawar putih yang besar.

Namun, yang spesial bukanlah hanya makan malamnya. Tepat di samping gazebo, Rasya telah menyiap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Bab 92.

    "Jonathan, kamu bisa antar saya ke luar? Saya merasa membosankan di sini," ucap Gea pelan kepada Jonathan.​"Kamu mau ke mana, Gea?"​"Saya mau ke taman rumah sakit saja, di sini begitu sesak."​"Ayo kita ke sana."​"Makasih."​Sesampainya di taman rumah sakit yang sejuk dengan deretan pohon rindang, Gea justru hanya terdiam. Pandangannya kosong menerawang ke depan, terjebak dalam lamunannya sendiri.​Melihat keheningan itu, Jonathan menggeser kursi roda Gea sedikit mendekat, lalu berjongkok di sampingnya.​"Maafin saya atas semua penderitaan ini," buka Jonathan, memecah kesunyian dengan suara sarat penyesalan.​Gea menoleh perlahan, menatap mata pria di hadapannya yang tampak begitu lelah. "Ini bukan salah Anda, ini sudah menjadi takdir saya. Lagipula, saya sudah sering merasakan hal yang menyakitkan."​Deg!​Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Gea, namun sukses membuat dada Jonathan terasa sesak dan nyeri luar biasa. Rasa bersalah kembali mencengkeram hatinya.​Namun, di ten

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Bab 91.

    Jonathan menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam mata Gea yang masih dipenuhi kebingungan. Pria itu menggenggam tangan Gea lebih erat, seolah takut bayangan masa lalu akan merenggut wanita itu lagi darinya.​"Kamu ingat kejadian satu tahun lalu, sebelum kamu dipromosikan menjadi sekretaris pribadi saya?" tanya Jonathan memulai pengakuannya.​Gea mengerjap, mencoba meraba ingatannya yang sempat terkoyak oleh trauma. "Satu tahun lalu...? Waktu saya dipindahkan ke lantai utama?"​"Ya. Saat itu, saya pikir saya jatuh cinta pada wanita yang selalu menatap saya malu-malu setiap kali mengantar laporan ke ruang kerja saya," ucap Jonathan dengan nada suara yang bergetar pelan. "Wanita itu selalu tahu persis kopi apa yang saya suka, tahu bagaimana cara menenangkan saya saat emosi saya meledak di kantor. Saya pikir... wanita itu adalah kamu, Gea."​Gea tertegun, dadanya bergemuruh hebat. "Tapi... itu tidak mungkin. Saya tidak pernah sengaja melakukan itu semua. Saya hanya mengerjakan t

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>90.

    Hening kembali menguasai ruangan itu, hanya menyisakan bunyi bip statis dari monitor jantung yang seolah mengejek keputusasaan Jonathan. Namun, tepat saat Jonathan hendak melepaskan genggamannya untuk membasuh wajah, ia merasakan sesuatu.Sesuatu yang sangat halus. Hampir tidak terasa.Ujung jari manis Gea bergerak sedikit—sebuah kedutan kecil yang nyaris tak kasat mata—menyentuh telapak tangan Jonathan.Jonathan membeku. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. "Gea?" bisiknya, nyaris tak terdengar. "Gea, kamu dengar saya?"Ia tidak berani berkedip. Matanya terpaku pada kelopak mata Gea yang mulai bergetar hebat. Di layar monitor, grafik aktivitas otak yang tadinya landai mulai menunjukkan lonjakan-lonjakan tajam. Suara alarm alat medis mulai berbunyi nyaring, menandakan adanya perubahan mendadak pada ritme tubuh pasien."Dokter! Dr. Sanjaya!" teriak Jonathan tanpa melepaskan tangan Gea.Dr. Sanjaya yang baru saja mencapai pintu segera berlari kembali

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>89.

    BRENGSEK! LEPASIN GUE SIALAN!" Raungan Selly memecah kesunyian lorong, suaranya serak karena terus memberontak. Tiga pasang tangan kekar mengunci pergelangan dan lengannya, menyeret paksa tubuhnya yang melawan ke tengah ruangan. "JANGAN MAIN-MAIN YA SAMA GUE SETAN! LEPASKAN! LEPASKAN!" Setiap kata terlempar dengan getar kebencian yang murni.Cengkeraman pada lengannya mengeras, seolah berusaha meremukkan tulangnya. Selly meludah, matanya liar mencari celah untuk meloloskan diri, namun sia-sia. Para penjaga itu seolah patung batu tak tergerak.PLAK!Suara tamparan itu begitu nyaring, memantul dari dinding semen yang dingin. Kepala Selly terlempar ke samping, rasa panas dan denyutan seketika menjalar di pipinya. Bintang-bintang kecil seakan meletup di retinanya, dan rasa logam darah memenuhi mulutnya."ANJING!" Selly sontak menjerit, kata umpatan yang tajam itu keluar tanpa sempat ia tahan.Andre, pria bertubuh paling besar dengan rahang persegi, menarik tangannya yang memerah. Matanya

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>88.

    Di luar ruang perawatan intensif tempat Gea terbaring, Rasya berdiri terpaku di koridor yang sedikit lengang. Udara malam yang sejuk menusuk kulitnya, membawa aroma antiseptik rumah sakit yang kental. Matanya, yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini memancarkan kecemasan yang tersembunyi. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, cahaya layarnya memantul tipis di wajahnya yang tegang. Ia sedang berbicara dengan salah satu anak buah terpercaya Jonathan."Oke, sekarang nona Selly ada di mana?" desis Rasya, suaranya pelan namun penuh otoritas, khawatir suaranya akan menembus pintu ruang rawat Gea yang kedap."Selly ada sama Andre sekarang, dia sudah diamankan," jawab suara di seberang, nadanya lega bercampur kepastian.Alis Rasya terangkat sedikit. Ini adalah kabar baik yang sudah lama ditunggu tuannya. "Jaga nona Selly! Jangan sampai dia lepas... Tuan sudah benar-benar menunggu hal ini." Ada penekanan kuat pada kata 'lepas', karena Selly adalah kunci dari segala kekacauan yang terjadi

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>87.

    Dinding putih ruang perawatan VIP itu menjadi saksi bisu atas penantian yang menyiksa. Sudah dua hari sejak insiden mencekam itu, namun Gea masih terperangkap dalam alam bawah sadarnya. Tubuhnya yang biasanya memancarkan aura ceria dan penuh kehidupan, kini terbaring kaku, dikelilingi oleh detak ritmis alat-alat medis yang menjadi penanda rapuh bahwa nyawanya masih ada. Selang infus terpasang di pergelangan tangannya, sementara monitor menampilkan garis-garis elektrokardiogram yang naik turun, menggambarkan perjuangan sunyi di dalam diri gadis itu.Jonathan, sang penguasa yang biasanya dingin dan tak tersentuh, telah berubah menjadi penjaga yang setia dan gelisah. Sejak kemarin, ia praktis menjadikan lorong di depan ruang perawatan Gea sebagai singgasananya. Pakaiannya tampak kusut, dan matanya memerah karena kurang tidur, namun ia tak beranjak. Dokter belum mengizinkannya masuk; larangan itu terasa seperti hukuman yang semakin menggerogoti kesabarannya.Tiba-tiba saja Rasya asiste

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>59.

    "Ssssh! Gue gak butuh penjelasan Lo, tapi yang harus Lo tahu, akan ada saatnya Lo kenapa-kenapa di tangan gue!"Suara itu, menusuk dan dingin seperti ujung belati yang diasah, mengiris keheningan malam yang mulai merayap. Intonasi asing yang kental, beradu dengan tatapan mata si wanita di depannya—

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>56.

    Telepon seluler di meja Gea bergetar, memecah keheningan sore di kantor yang mulai lengang. Nama 'Jonathan' muncul di layar, disertai denyutan kecemasan yang selalu menyertai sapaan dari sang CEO. Gea menghela nafas, berusaha menstabilkan nada suaranya."Iya, halo Pak Jonathan, ada apa?" tanyanya,

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>17.

    “Mama sini main sama aku sama om Jo, lihat ma.” Gea telah kembali kepada Nina, tapi ternyata di samping Nina sudah ada Jonathan yang sedang asik menemani Nina bermain.“Dia habis menangis?” Jonathan menatap wajah Gea yang terlihat sembab, dan hal itu membuat Jonathan berpikir bahwa Gea habis menang

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>15.

    “Nina, kenapa kamu harus bilang sih om yang ajak untuk jalan bertiga— Astaga!” Jonathan masuk kedalam kamarnya dengan tingkah yang buru-buru sekali bahkan sampai pintu kamar ditutup cukup kencang, lalu setelah tiba di kamarnya. Jonathan tampak merutuki Nina putri Gea yang polos itu. Wajar sih polo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status