Share

Bab 2

Penulis: C.H
Setelah berkata begitu, Dion menutup dada sambil terbatuk pelan.

Viona segera memeluknya, tatapannya dipenuhi rasa iba.

Namun ucapan Dion juga mengingatkannya bahwa Keenan memang bukan berasal dari zaman ini. Jika Viona pergi meninggalkannya, dia benar-benar tidak punya tempat untuk dituju.

Mengingat hal itu, tatapan matanya berubah penuh rasa muak.

"Keenan! Aku tahu kamu masih tetap sama seperti dulu. Sudah kubilang, aku hanya bantu mewujudkan satu impian Dion. Apa perlu kamu terus berpura-pura terluka dan mempermasalahkannya?"

Dia mendengus dingin. "Kalau memang mau pergi, pergi saja sekarang. Aku mau lihat sebenarnya kamu bisa pergi ke mana."

Aku tetap berdiri di tempat, sementara angin dingin dari celah jendela membuat tubuhku menggigil.

Melihat punggung mereka yang makin menjauh, aku hanya mencibir.

Berkali-kali dia bilang semua ini demi mewujudkan impian Dion. Tapi, Viona, apa bekas merah yang masih terlihat jelas di lehermu itu juga demi mewujudkan impiannya?

Sudahlah. Dua hari lagi aku juga akan meninggalkan tempat ini.

Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara gaduh dari ruang tamu.

Jam biologisku sudah membuatku terbiasa bangun pagi. Hanya saja, saat terbangun hari ini, rasa nyeri di dadaku sepertinya sudah sedikit mereda.

Begitu keluar ke ruang tamu, aku melihat Viona sedang mengarahkan para pekerja untuk membawa beberapa kardus bertuliskan "Barang Pribadi Dion" ke kamar utama.

Sinar matahari menyelinap masuk, menyinari wajahnya yang sibuk dari samping. Entah kenapa, pemandangan itu terasa begitu wajar.

"Sudah bangun?"

Tanpa mengangkat kepala, dia berbicara dengan nada datar, seolah hanya membahas hal biasa.

"Kondisi Dion kurang baik. Dokter bilang kalau perasaannya terus bahagia, penyakitnya mungkin bisa membaik. Jadi aku minta dia pindah ke sini. Setidaknya dia punya tempat tinggal yang nyaman."

"Lalu aku gimana?" tanyaku. Suaraku begitu tenang hingga aku sendiri merasa asing.

Akhirnya Viona menghentikan pekerjaannya dan menoleh kepadaku dengan sedikit mengernyit, seolah pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan.

"Kamar tamu. Lagi pula, selama ini kamu juga lebih sering di ruang kerja. Dion butuh dirawat, jadi akan lebih mudah kalau dia tinggal lebih dekat."

Aku tidak membantah. Aku hanya mengangguk pelan, lalu kembali masuk ke ruang kerja.

Di rak buku, sebagian besar koleksiku selama bertahun-tahun berisi buku tentang pertanian kuno, irigasi, dan ilmu matematika.

Dulu aku berpikir, setelah menikah dengan Viona dan kehidupan kami stabil, aku akan menyusun semuanya menjadi sebuah buku. Mungkin suatu hari nanti bisa berguna.

Sekarang, buku-buku itu mungkin menjadi satu-satunya penghiburan dan tempatku bersandar.

Sore harinya, Dion dijemput dan dibawa ke sini.

Dia masih terlihat lemah seperti biasa, bersandar di sofa, sementara Viona merawatnya dengan penuh perhatian seperti seorang istri yang baik.

"Kak Keenan, maaf sudah merepotkan. Aku malah nempatin rumah baru milikmu dan Viona."

Dion tersenyum lemah, tetapi di balik tatapannya terselip kepuasan seorang pemenang.

Aku tidak menghiraukannya, hanya terus membereskan barang-barangku dengan tenang.

Sebenarnya tidak banyak yang perlu dibereskan. Sebagian besar barang di sini berasal dari dunia ini dan semuanya berkaitan dengan Viona, jadi tidak mungkin kubawa pergi.

Namun entah kenapa, aku tidak ingin dia mengusik satu-satunya hal yang masih benar-benar menjadi milikku.

Melihatku membongkar lemari dan kardus, Viona akhirnya mengernyit.

"Keenan, sekarang kamu ngambek apa lagi? Dion sudah tinggal di sini. Apa kamu nggak bisa lebih dewasa?"

Tanganku yang sedang bergerak langsung berhenti. Aku mengangkat wajahku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, aku memandangnya dengan tatapan yang terasa asing.

Tidak ada cinta, tidak ada kesedihan, bahkan tidak ada lagi keengganan untuk melepaskan.

Seolah aku sedang melihat seseorang yang sudah tidak penting bagiku.

"Aku nggak sedang ngambek," kataku datar. "Aku cuma sedang beresin barang-barang."

"Memangnya buat apa beresin barang?" Dia langsung waspada. "Jangan bilang kamu masih mau pergi? Keenan, kalau kamu tinggalin aku, kamu nggak punya keluarga ataupun kenalan di kota ini. Kamu bisa pergi ke mana?"

Dion yang berada di sampingnya langsung tertawa mengejek.

"Jangan-jangan kali ini Kak Keenan mau bilang kalau dia mau kembali ke duniamu sendiri? Cerita seperti itu mungkin hanya bisa menipu Viona. Kalau memang nggak suka lihat aku, bilang saja terus terang. Nggak perlu terus mengarang alasan seperti itu."

Wajah Viona langsung berubah muram. "Keenan! Sampai kapan kamu mau terus ngomongin hal-hal yang nggak masuk akal? Dion sudah sakit parah begini. Apa kamu nggak bisa bikin dia tenang sedikit?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 9

    "Keenan ... di mana kamu? Kumohon, pulanglah!"Dia mulai menghubungi Keenan tanpa henti, namun teleponnya tak pernah tersambung, pesannya tak pernah terkirim. Perusahaan berkata Keenan sudah lama mengundurkan diri, sementara kata pemilik rumah, masa sewanya sudah berakhir dan Keenan tidak memperpanjangnya.Viona bahkan pergi ke kantor polisi, berharap mereka bisa membantunya menemukan Keenan. Namun setelah memeriksa semua data yang ada, polisi tetap tidak menemukan jejak apa pun tentang Keenan, seolah pria itu tidak pernah ada di dunia ini.Tak seorang pun tahu ke mana Keenan pergi.Seolah dia datang tanpa alasan, lalu menghilang tanpa meninggalkan apa pun.Melihat Viona yang mulai panik, Dion diam-diam mencibir. Namun di wajahnya tetap terpasang ekspresi lembut. "Viona, mungkin Kak Keenan sudah menerima kenyataan lalu pergi dari sini. Nggak usah khawatir."Namun, Viona langsung mendorongnya menjauh. Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.Dia teringat pemuda yang sepuluh tahun

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 8

    Melihat reaksinya, keraguan dalam hati Viona bukan hanya tidak menghilang, tetapi justru makin besar.Tiba-tiba dia teringat, selama ini Dion tidak pernah menunjukkan laporan diagnosis lengkap tentang penyakitnya. Pria itu juga tidak pernah mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.Dia juga teringat setiap kali penyakit Dion kambuh, Dion hanya batuk pelan beberapa kali dan wajahnya memang tampak pucat, tetapi tidak pernah benar-benar terlihat kesulitan bernapas ataupun menahan rasa sakit yang tak tertahankan.Sebuah dugaan mengerikan perlahan muncul di benaknya.Mungkinkah kanker Dion sebenarnya hanyalah kebohongan?Jangan-jangan Dion sengaja memalsukan hasil diagnosis demi menipunya, agar dia meninggalkan Keenan dan tetap berada di sisi Dion?"Dion."Suara Viona berubah dingin. Tatapannya penuh kecurigaan. "Jawab aku. Kankermu itu sebenarnya palsu, 'kan? Kamu sengaja bohongin aku, ya?"Wajah Dion langsung memucat. Tubuhnya bergetar sedikit, sementara panda

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 7

    Menyadari ada yang tidak beres dengan Viona, Dion segera bertanya dengan cemas sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh dahinya. "Apa kamu merasa nggak enak badan? Apa kita perlu ke rumah sakit?"Setelah kembali ke penginapan, Viona beralasan dirinya kelelahan, lalu masuk ke kamar sendirian.Dia menutup pintu, bersandar di baliknya, dan akhirnya tidak mampu lagi menahan air matanya.Dia sendiri tidak mengerti kenapa menangis. Jelas-jelas dialah yang memilih Dion. Jelas-jelas dia yang menganggap Keenan hanya membuat masalah tanpa alasan. Namun kenapa setiap kali memikirkan Keenan, dadanya terasa sesak dan hatinya dipenuhi kegelisahan?Dia mengambil ponselnya. Tanpa sadar, jarinya membuka percakapan dengan Keenan dan ingin mengirim pesan, menanyakan apakah dia sudah makan dan beristirahat dengan baik. Namun setelah menunggu lama, tidak ada satu pun balasan.Rasa takut yang tidak bisa dijelaskan perlahan menyelimuti hatinya.Dia teringat kalimat terakhir Keenan, juga tatapannya saat itu

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 6

    Inilah Jianika yang berkali-kali disebut Keenan, tempat yang pernah dia bilang pasti akan mereka kunjungi berdua setelah menikah."Viona, kenapa melamun?"Dion datang membawa secangkir teh hangat yang baru diseduh. Dia duduk di samping Viona dan hendak merangkul bahunya, tetapi Viona diam-diam menghindar.Senyum di wajah Dion sempat membeku sejenak, lalu dia kembali menunjukkan ekspresi lemah seperti orang sakit, lalu terbatuk pelan dua kali. "Apa karena hujan di sini turun terlalu lama, jadi udaranya agak pengap? Kalau kamu lelah, kita balik saja ke kamar untuk istirahat sebentar."Viona menggeleng. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela, sementara suaranya terdengar sedikit kosong. "Nggak. Hanya saja ... tempat ini nggak seperti yang kubayangkan.""Nggak seperti yang kamu bayangkan?"Ada sedikit kepanikan yang melintas di mata Dion, tetapi segera dia kembali tersenyum lembut. "Mana mungkin? Lihat jalan berbatu ini, lihat juga homestay di tepi sungai ini. Bukankah semuanya sesuai

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 5

    Tepat saat cahaya menyelimuti tubuhku, hiruk-pikuk dunia modern, bayangan gedung-gedung tinggi, hingga mobil Viona yang perlahan menjauh, semuanya memudar di depan mataku.Suara klakson yang biasa memenuhi telinga pun menghilang. Yang tersisa hanya deru angin, suara benturan senjata dari kejauhan, serta bisikan rakyat yang samar terdengar.Ketika membuka mata kembali, aku tidak lagi berdiri di atas lantai keramik yang dingin, melainkan di jalan berbatu hijau yang lembap.Tembok kota di kejauhan tampak tua dan lapuk, panji-panji berkibar diterpa angin. Orang-orang dengan pakaian kain kasar berjalan tergesa-gesa, sementara para pedagang di pinggir jalan sibuk menawarkan beras, tepung, dan minyak. Negeri kelahiranku yang begitu kukenal, namun juga terasa asing setelah sepuluh tahun berlalu, akhirnya kembali muncul di hadapanku."Pembaruan misi sistem: Perbaikan bug ruang dan waktu berhasil. Tuan rumah telah kembali ke ruang dan waktu asal. Mengingat tuan rumah telah menetap selama sepuluh

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 4

    "Tapi bagaimana denganmu?""Demi sahabat masa kecilmu yang penyakitnya saja masih diragukan, kamu menghancurkan pernikahan kita. Kamu bawa dia tinggal di rumah kita, dan sekarang kamu mau pakai perjalanan impianku untuk buat dia bahagia.""Kamu peduli sama penyesalannya, kamu peduli sama penyakitnya. Terus, siapa yang peduli sama aku?""Siapa yang peduli sama seseorang yang sudah hidup sepuluh tahun di dunia asing ini dan hanya bergantung sama kamu seorang?"Rentetan pertanyaanku membuat Viona terdiam dan mundur sedikit. Tatapannya tampak goyah, tetapi dia masih bersikeras membela diri."Keenan, apa kamu harus terus-terusan ngebahas hal-hal yang nggak masuk akal begini? Dunia asing apanya? Kamu cuma datang dari daerah kecil, kurang pengalaman, dan selalu bikin cerita aneh-aneh untuk mencari belas kasihan!""Surat diagnosis Dion jelas tertulis di sana. Dokter juga sudah bilang kondisinya kritis. Kenapa kamu tetap nggak mau percaya?""Jangan lupa, selama bertahun-tahun ini akulah yang na

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status