Masuk"Keenan ... di mana kamu? Kumohon, pulanglah!"Dia mulai menghubungi Keenan tanpa henti, namun teleponnya tak pernah tersambung, pesannya tak pernah terkirim. Perusahaan berkata Keenan sudah lama mengundurkan diri, sementara kata pemilik rumah, masa sewanya sudah berakhir dan Keenan tidak memperpanjangnya.Viona bahkan pergi ke kantor polisi, berharap mereka bisa membantunya menemukan Keenan. Namun setelah memeriksa semua data yang ada, polisi tetap tidak menemukan jejak apa pun tentang Keenan, seolah pria itu tidak pernah ada di dunia ini.Tak seorang pun tahu ke mana Keenan pergi.Seolah dia datang tanpa alasan, lalu menghilang tanpa meninggalkan apa pun.Melihat Viona yang mulai panik, Dion diam-diam mencibir. Namun di wajahnya tetap terpasang ekspresi lembut. "Viona, mungkin Kak Keenan sudah menerima kenyataan lalu pergi dari sini. Nggak usah khawatir."Namun, Viona langsung mendorongnya menjauh. Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.Dia teringat pemuda yang sepuluh tahun
Melihat reaksinya, keraguan dalam hati Viona bukan hanya tidak menghilang, tetapi justru makin besar.Tiba-tiba dia teringat, selama ini Dion tidak pernah menunjukkan laporan diagnosis lengkap tentang penyakitnya. Pria itu juga tidak pernah mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.Dia juga teringat setiap kali penyakit Dion kambuh, Dion hanya batuk pelan beberapa kali dan wajahnya memang tampak pucat, tetapi tidak pernah benar-benar terlihat kesulitan bernapas ataupun menahan rasa sakit yang tak tertahankan.Sebuah dugaan mengerikan perlahan muncul di benaknya.Mungkinkah kanker Dion sebenarnya hanyalah kebohongan?Jangan-jangan Dion sengaja memalsukan hasil diagnosis demi menipunya, agar dia meninggalkan Keenan dan tetap berada di sisi Dion?"Dion."Suara Viona berubah dingin. Tatapannya penuh kecurigaan. "Jawab aku. Kankermu itu sebenarnya palsu, 'kan? Kamu sengaja bohongin aku, ya?"Wajah Dion langsung memucat. Tubuhnya bergetar sedikit, sementara panda
Menyadari ada yang tidak beres dengan Viona, Dion segera bertanya dengan cemas sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh dahinya. "Apa kamu merasa nggak enak badan? Apa kita perlu ke rumah sakit?"Setelah kembali ke penginapan, Viona beralasan dirinya kelelahan, lalu masuk ke kamar sendirian.Dia menutup pintu, bersandar di baliknya, dan akhirnya tidak mampu lagi menahan air matanya.Dia sendiri tidak mengerti kenapa menangis. Jelas-jelas dialah yang memilih Dion. Jelas-jelas dia yang menganggap Keenan hanya membuat masalah tanpa alasan. Namun kenapa setiap kali memikirkan Keenan, dadanya terasa sesak dan hatinya dipenuhi kegelisahan?Dia mengambil ponselnya. Tanpa sadar, jarinya membuka percakapan dengan Keenan dan ingin mengirim pesan, menanyakan apakah dia sudah makan dan beristirahat dengan baik. Namun setelah menunggu lama, tidak ada satu pun balasan.Rasa takut yang tidak bisa dijelaskan perlahan menyelimuti hatinya.Dia teringat kalimat terakhir Keenan, juga tatapannya saat itu
Inilah Jianika yang berkali-kali disebut Keenan, tempat yang pernah dia bilang pasti akan mereka kunjungi berdua setelah menikah."Viona, kenapa melamun?"Dion datang membawa secangkir teh hangat yang baru diseduh. Dia duduk di samping Viona dan hendak merangkul bahunya, tetapi Viona diam-diam menghindar.Senyum di wajah Dion sempat membeku sejenak, lalu dia kembali menunjukkan ekspresi lemah seperti orang sakit, lalu terbatuk pelan dua kali. "Apa karena hujan di sini turun terlalu lama, jadi udaranya agak pengap? Kalau kamu lelah, kita balik saja ke kamar untuk istirahat sebentar."Viona menggeleng. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela, sementara suaranya terdengar sedikit kosong. "Nggak. Hanya saja ... tempat ini nggak seperti yang kubayangkan.""Nggak seperti yang kamu bayangkan?"Ada sedikit kepanikan yang melintas di mata Dion, tetapi segera dia kembali tersenyum lembut. "Mana mungkin? Lihat jalan berbatu ini, lihat juga homestay di tepi sungai ini. Bukankah semuanya sesuai
Tepat saat cahaya menyelimuti tubuhku, hiruk-pikuk dunia modern, bayangan gedung-gedung tinggi, hingga mobil Viona yang perlahan menjauh, semuanya memudar di depan mataku.Suara klakson yang biasa memenuhi telinga pun menghilang. Yang tersisa hanya deru angin, suara benturan senjata dari kejauhan, serta bisikan rakyat yang samar terdengar.Ketika membuka mata kembali, aku tidak lagi berdiri di atas lantai keramik yang dingin, melainkan di jalan berbatu hijau yang lembap.Tembok kota di kejauhan tampak tua dan lapuk, panji-panji berkibar diterpa angin. Orang-orang dengan pakaian kain kasar berjalan tergesa-gesa, sementara para pedagang di pinggir jalan sibuk menawarkan beras, tepung, dan minyak. Negeri kelahiranku yang begitu kukenal, namun juga terasa asing setelah sepuluh tahun berlalu, akhirnya kembali muncul di hadapanku."Pembaruan misi sistem: Perbaikan bug ruang dan waktu berhasil. Tuan rumah telah kembali ke ruang dan waktu asal. Mengingat tuan rumah telah menetap selama sepuluh
"Tapi bagaimana denganmu?""Demi sahabat masa kecilmu yang penyakitnya saja masih diragukan, kamu menghancurkan pernikahan kita. Kamu bawa dia tinggal di rumah kita, dan sekarang kamu mau pakai perjalanan impianku untuk buat dia bahagia.""Kamu peduli sama penyesalannya, kamu peduli sama penyakitnya. Terus, siapa yang peduli sama aku?""Siapa yang peduli sama seseorang yang sudah hidup sepuluh tahun di dunia asing ini dan hanya bergantung sama kamu seorang?"Rentetan pertanyaanku membuat Viona terdiam dan mundur sedikit. Tatapannya tampak goyah, tetapi dia masih bersikeras membela diri."Keenan, apa kamu harus terus-terusan ngebahas hal-hal yang nggak masuk akal begini? Dunia asing apanya? Kamu cuma datang dari daerah kecil, kurang pengalaman, dan selalu bikin cerita aneh-aneh untuk mencari belas kasihan!""Surat diagnosis Dion jelas tertulis di sana. Dokter juga sudah bilang kondisinya kritis. Kenapa kamu tetap nggak mau percaya?""Jangan lupa, selama bertahun-tahun ini akulah yang na






