Se connecterPada malam aku menyatakan cintaku pada pacarku, dia menangis tak terkendali. Dia mengatakan bahwa dirinya telah melihat masa depan dan ingin membuat janji denganku. Aku bertanya kenapa dan dia hanya menjawab, "Aku nggak ingat lagi. Aku cuma ingat diriku teramat sangat menyesal di masa depan. Niel, apa pun yang terjadi di masa depan, kamu harus memberiku tiga kesempatan, oke?" Berhubung sangat mencintai Christie, aku langsung setuju. Namun, setelahnya, dia sepertinya sudah melupakan hal ini dan menjadi sangat dekat dengan asisten prianya. Saat itu, aku baru menyadari alasannya. Sebab, pada saat menandatangani surat cerai, aku mendengar suara yang familier. Itu adalah Christie yang berusia 19 tahun. Dia menangis dan berkata, "Niel, kamu sudah janji akan beri aku tiga kesempatan, 'kan?"
Voir plusAku tertawa histeris."Christie, kamu tahu nggak? Waktu dengar kata-kata itu, aku mengucapkan sesuatu pada diriku sendiri. Kamu tahu apa yang kuucapkan?" Christie menatapku dengan mata penuh harapan. "A ... apa?"Aku menatap wajahnya yang sama persis seperti sebelumnya. Namun, wajahnya sekarang tertutup riasan yang sangat indah."Aku bilang, aku nggak pernah menyesal bertemu denganmu. Selain itu, aku juga bersedia kasih kamu satu kesempatan terakhir," ucapku dengan tenang.Seluruh tubuh Christie gemetar. Matanya berbinar dan dia sepertinya sangat gembira. Namun, sebelum dia bisa berbicara, aku melanjutkan, "Tapi, kamu sudah sia-siakan kesempatan itu. Kamu bahkan nggak lepaskan tangan Franky waktu minta maaf. Sebelum berangkat ke bandara, aku ada di rumah selama dua jam penuh. Tapi, di mana kamu?" Seusai berbicara, aku tiba-tiba menekan tombol panggil di meja samping tempat tidur. Saat perawat masuk, aku berbicara dengan dingin, "Tolong suruh nona ini tinggalkan kamarku. Aku nggak ma
Namun, aku masih bertahan mati-matian. Selama bisa menunda waktu meskipun hanya sedetik, peluangku untuk bertahan hidup akan meningkat.Pisau itu menusuk lengan kiriku berulang kali. Aku tak bisa mengendalikan diri lagi dan mulai menjerit kesakitan. Franky mendesakku untuk memohon ampun lagi dan lagi, tetapi bagaimana mungkin aku memohon padanya?Luka-luka itu bertambah banyak dan seluruh lengan kiriku sudah sepenuhnya kehilangan sensasi. Kesadaranku juga mulai memudar. Begitu mengingat yang menantiku adalah penyiksaan lebih lanjut, aku merasa putus asa.Tak disangka, Franky melempar pisau yang dipegangnya. "Ini nggak menarik. Ya sudahlah. Memang langsung membunuhnya yang paling masuk akal."Kata-kata itu seketika membuatku tegang.Franky akhirnya menyerah untuk menyiksaku. Para pria kekar di belakangnya juga menghela napas lega."Kalian bertindak saja." Franky bertepuk tangan dan mengeluarkan saputangan untuk menyeka tangannya.Para pria kekar itu melangkah maju. Mereka mengeluarkan
"Franky, apa maumu?"Aku berusaha sebaik mungkin untuk mengendalikan nada bicaraku. Aku takut membuat marah orang gila di hadapanku."Hahaha, Nathaniel, kamu itu orang pintar. Memangnya kamu masih belum bisa tebak?" Aku tentu saja bisa menebaknya. Namun, saat ini, menenangkan Franky adalah prioritasku. Sebelum aku sempat memikirkan cara untuk menenangkan Franky, orang di sebelahnya berbicara dalam bahasa ibu kami yang terdengar kurang fasih, "Tuan, kita harus gerak cepat. Langsung bunuh saja dia. Staf resor ski akan menyadarinya cepat atau lambat. Kalau terjadi hal di luar dugaan, itu nggak akan baik." Namun, kata-kata ini sepertinya sudah sepenuhnya membuat Franky marah."Diam! Aku sudah beri kalian begitu banyak uang. Lagian, resor ski ini sangat besar, apa yang mungkin terjadi dengan hilangnya satu orang?" seru Franky. Kemudian, dia menamparku dengan keras. Setelah itu, dia menjambak rambutku dengan kuat."Nathaniel, dasar bajingan! Kamu tahu sudah berapa banyak usaha yang kucur
Christie yang merasa pusing mulai menggedor pintu."Nathaniel, buka pintunya. Aku sudah pulang.""Nathaniel, aku tahu kamu di rumah.""Nathaniel, aku tahu aku yang salah. Tolong buka pintunya.""Nathaniel, apa lagi yang kamu inginkan? Aku sudah minta maaf." Christie menggedor pintu dengan amarah yang makin meningkat. Efek alkoholnya bahkan sudah mereda cukup banyak. Mungkin karena sudah lelah menggedor, dia akhirnya ingat untuk memeriksa ponselnya. Tidak lama kemudian, dia menemukan riwayat obrolan aku memberitahunya kata sandi pintu.Namun, setelah memasukkan kata sandi itu, dia tiba-tiba sepenuhnya sadar. Sebab, kata sandinya masih salah. Pada saat ini, dia baru menyadari bahwa aku telah mengubah kata sandi.Menyadari ada yang salah, Christie segera meneleponku."Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."Berhubung berteriak dan menelepon tidak ada gunanya, Christie akhirnya memecahkan jendela vila untuk masuk."Nathaniel, jangan keterlaluan kamu!" Dia bergegas ke kamar tidur
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.