แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: C.H
Aku menatapnya, lalu tiba-tiba merasa semua ini begitu konyol.

Selama sepuluh tahun bersama, dia tidak pernah benar-benar memercayaiku. Kini, bahkan kejujuranku pun dianggap hanya sebagai cara untuk mencari simpati dan membuat keributan.

Tidak apa-apa. Mungkin justru perpisahan seperti ini yang akan membuatku pergi tanpa keraguan lagi.

Malam itu, aku tidur di kamar tamu.

Dari kamar utama di sebelah, terdengar suara percakapan pelan yang penuh kelembutan dan kemesraan. Setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti vonis terakhir bagi hubungan kami.

Aku memejamkan mata, lalu suara sistem kembali terdengar.

"Sisa waktu: 18 jam 56 menit 41 detik."

Pagi di hari ketiga, saat langit baru mulai terang, aku sudah terbangun.

Ranjang kamar tamu terasa keras dan dingin, jauh dari kenyamanan kasur di kamar utama yang dulu kami pilih bersama. Namun entah kenapa, malam ini aku justru tidur dengan sangat nyenyak, seolah beban yang telah menekanku selama sepuluh tahun akhirnya akan benar-benar terlepas.

Setelah selesai mencuci muka dan bersiap, terdengar suara koper diseret dari ruang tamu.

Saat membuka pintu, aku melihat Viona mengenakan pakaian santai. Di sampingnya ada dua koper besar, sementara dia sedang membungkuk merapikan kerah baju Dion dan berbicara dengan nada lembut yang terasa menyakitkan di telingaku.

"Tiket pesawatnya sudah aku beli. Aku juga sengaja milih homestay di Jianika yang berada di tepi sungai. Pemandangannya sangat indah. Kita bisa sekalian istirahat dengan tenang di sana. Siapa tahu kondisimu juga bisa lebih cepat membaik."

Dion tersenyum sambil merangkul pinggangnya. Namun tatapannya melewati bahu Viona dan jatuh kepadaku, penuh rasa bangga dan pamer tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikannya.

Aku berdiri di ujung lorong, menyaksikan pemandangan di depanku yang begitu menusuk mata, tetapi yang kurasakan hanya rasa geli yang tak bisa dijelaskan.

Mendengar suara langkahku, Viona mengangkat kepala. Nadanya begitu tenang, seolah sedang meminta bantuan dari seseorang yang memang sudah seharusnya menurut.

"Keenan, pas sekali. Kemari bantu aku lihat apa ada barang yang ketinggalan. Aku dan Dion akan pergi ke Jianika untuk sementara waktu."

Jianika.

Begitu mendengar kata itu, ujung jariku bergetar tanpa sadar.

Sudah berkali-kali aku menceritakan tentang Jianika kepadanya.

Aku pernah mengatakan bahwa aku berasal dari zaman kuno. Aku sudah terbiasa melihat istana megah dan medan perang yang penuh api, tetapi satu-satunya tempat yang selalu kurindukan justru Jianika yang diselimuti gerimis.

Aku pernah berkata, setelah semuanya stabil, kami akan pergi ke Kota Segara untuk tinggal sementara waktu. Berjalan menyusuri jalan batu, menikmati pemandangan jembatan kecil dan aliran sungai, lalu duduk minum teh sambil melamun di dekat jendela yang menghadap sungai.

Bahkan diam-diam aku sudah mencari penginapan, menyimpan panduan perjalanan, dan menandai tanggal keberangkatan di kalender. Aku membayangkan semua itu akan menjadi bulan madu kami.

Namun sekarang, dia justru akan membawa Dion untuk mewujudkan impian yang paling kuinginkan itu.

Aku berjalan mendekat, menundukkan kepala melihat koper-koper itu, lalu membantu merapikan barang mereka satu per satu.

Melihat sikapku yang begitu tenang, sedikit rasa bersalah muncul di wajah Viona. "Keenan, setelah kondisi Dion membaik, aku akan menebusnya. Aku pasti akan pergi sama kamu ke Jianika."

Dion yang berdiri di samping ikut berbicara dengan santai. Nada mengejek dalam suaranya sama sekali tidak dia sembunyikan. "Kak Keenan memang benar-benar berhati besar. Kalau orang lain, mungkin sudah buat keributan besar. Pantas saja Viona menyukaimu. Kamu penurut dan nggak pernah merepotkan."

Kata "menyukai" yang keluar dari mulutnya justru terasa lebih menyakitkan daripada hinaan apa pun.

Namun aku tidak marah. Aku hanya bertanya pelan, "Viona, kalau hari ini aku benar-benar pergi ninggalin kamu, apa yang akan kamu lakukan?"

Dia terdiam sesaat, seolah tidak menyangka aku akan bertanya seperti itu. Kemudian dia mengerutkan kening dengan tidak sabar.

"Di saat kayak begini kamu masih juga membahas itu? Kondisi Dion sedang nggak bagus dan Jianika cocok untuk pemulihannya. Kamu ini laki-laki, bisa nggak jangan permasalahkan hal-hal kecil?"

"Pemulihan?"

Aku mengulang kata itu pelan sambil mengalihkan pandangan ke leher dan pergelangan tangan Dion yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda orang sakit. "Apa penyakitnya benar-benar separah itu sampai kamu harus ninggalin semuanya demi menemaninya berbulan madu?"

Wajah Dion langsung berubah. Dia segera memegangi dada sambil berpura-pura batuk.

Viona seketika marah. Dia berdiri di depan Dion seolah melindunginya, lalu membentakku, "Keenan! Apa maksudmu? Dion sudah hampir mati, tapi kamu masih nyindir dia?"

"Hampir mati?" Aku tersenyum. Tawaku terdengar pelan, tetapi dinginnya terasa menusuk. Akhirnya aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Viona, apa kamu benar-benar percaya dia hampir mati?"

"Lihat dia. Dia masih bisa makan, masih bisa minum, wajahnya juga terlihat sehat. Bahkan berjalan pun nggak perlu dibantu. Sekarang lihat aku."

Aku melangkah maju satu langkah dan menatap matanya lurus.

"Selama sepuluh tahun ini, demi kamu aku belajar bahasa modern, memahami aturan dunia ini, bekerja mati-matian, dan menganggapmu sebagai satu-satunya keluarga serta satu-satunya tempatku bergantung di dunia ini."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 9

    "Keenan ... di mana kamu? Kumohon, pulanglah!"Dia mulai menghubungi Keenan tanpa henti, namun teleponnya tak pernah tersambung, pesannya tak pernah terkirim. Perusahaan berkata Keenan sudah lama mengundurkan diri, sementara kata pemilik rumah, masa sewanya sudah berakhir dan Keenan tidak memperpanjangnya.Viona bahkan pergi ke kantor polisi, berharap mereka bisa membantunya menemukan Keenan. Namun setelah memeriksa semua data yang ada, polisi tetap tidak menemukan jejak apa pun tentang Keenan, seolah pria itu tidak pernah ada di dunia ini.Tak seorang pun tahu ke mana Keenan pergi.Seolah dia datang tanpa alasan, lalu menghilang tanpa meninggalkan apa pun.Melihat Viona yang mulai panik, Dion diam-diam mencibir. Namun di wajahnya tetap terpasang ekspresi lembut. "Viona, mungkin Kak Keenan sudah menerima kenyataan lalu pergi dari sini. Nggak usah khawatir."Namun, Viona langsung mendorongnya menjauh. Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.Dia teringat pemuda yang sepuluh tahun

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 8

    Melihat reaksinya, keraguan dalam hati Viona bukan hanya tidak menghilang, tetapi justru makin besar.Tiba-tiba dia teringat, selama ini Dion tidak pernah menunjukkan laporan diagnosis lengkap tentang penyakitnya. Pria itu juga tidak pernah mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.Dia juga teringat setiap kali penyakit Dion kambuh, Dion hanya batuk pelan beberapa kali dan wajahnya memang tampak pucat, tetapi tidak pernah benar-benar terlihat kesulitan bernapas ataupun menahan rasa sakit yang tak tertahankan.Sebuah dugaan mengerikan perlahan muncul di benaknya.Mungkinkah kanker Dion sebenarnya hanyalah kebohongan?Jangan-jangan Dion sengaja memalsukan hasil diagnosis demi menipunya, agar dia meninggalkan Keenan dan tetap berada di sisi Dion?"Dion."Suara Viona berubah dingin. Tatapannya penuh kecurigaan. "Jawab aku. Kankermu itu sebenarnya palsu, 'kan? Kamu sengaja bohongin aku, ya?"Wajah Dion langsung memucat. Tubuhnya bergetar sedikit, sementara panda

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 7

    Menyadari ada yang tidak beres dengan Viona, Dion segera bertanya dengan cemas sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh dahinya. "Apa kamu merasa nggak enak badan? Apa kita perlu ke rumah sakit?"Setelah kembali ke penginapan, Viona beralasan dirinya kelelahan, lalu masuk ke kamar sendirian.Dia menutup pintu, bersandar di baliknya, dan akhirnya tidak mampu lagi menahan air matanya.Dia sendiri tidak mengerti kenapa menangis. Jelas-jelas dialah yang memilih Dion. Jelas-jelas dia yang menganggap Keenan hanya membuat masalah tanpa alasan. Namun kenapa setiap kali memikirkan Keenan, dadanya terasa sesak dan hatinya dipenuhi kegelisahan?Dia mengambil ponselnya. Tanpa sadar, jarinya membuka percakapan dengan Keenan dan ingin mengirim pesan, menanyakan apakah dia sudah makan dan beristirahat dengan baik. Namun setelah menunggu lama, tidak ada satu pun balasan.Rasa takut yang tidak bisa dijelaskan perlahan menyelimuti hatinya.Dia teringat kalimat terakhir Keenan, juga tatapannya saat itu

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 6

    Inilah Jianika yang berkali-kali disebut Keenan, tempat yang pernah dia bilang pasti akan mereka kunjungi berdua setelah menikah."Viona, kenapa melamun?"Dion datang membawa secangkir teh hangat yang baru diseduh. Dia duduk di samping Viona dan hendak merangkul bahunya, tetapi Viona diam-diam menghindar.Senyum di wajah Dion sempat membeku sejenak, lalu dia kembali menunjukkan ekspresi lemah seperti orang sakit, lalu terbatuk pelan dua kali. "Apa karena hujan di sini turun terlalu lama, jadi udaranya agak pengap? Kalau kamu lelah, kita balik saja ke kamar untuk istirahat sebentar."Viona menggeleng. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela, sementara suaranya terdengar sedikit kosong. "Nggak. Hanya saja ... tempat ini nggak seperti yang kubayangkan.""Nggak seperti yang kamu bayangkan?"Ada sedikit kepanikan yang melintas di mata Dion, tetapi segera dia kembali tersenyum lembut. "Mana mungkin? Lihat jalan berbatu ini, lihat juga homestay di tepi sungai ini. Bukankah semuanya sesuai

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 5

    Tepat saat cahaya menyelimuti tubuhku, hiruk-pikuk dunia modern, bayangan gedung-gedung tinggi, hingga mobil Viona yang perlahan menjauh, semuanya memudar di depan mataku.Suara klakson yang biasa memenuhi telinga pun menghilang. Yang tersisa hanya deru angin, suara benturan senjata dari kejauhan, serta bisikan rakyat yang samar terdengar.Ketika membuka mata kembali, aku tidak lagi berdiri di atas lantai keramik yang dingin, melainkan di jalan berbatu hijau yang lembap.Tembok kota di kejauhan tampak tua dan lapuk, panji-panji berkibar diterpa angin. Orang-orang dengan pakaian kain kasar berjalan tergesa-gesa, sementara para pedagang di pinggir jalan sibuk menawarkan beras, tepung, dan minyak. Negeri kelahiranku yang begitu kukenal, namun juga terasa asing setelah sepuluh tahun berlalu, akhirnya kembali muncul di hadapanku."Pembaruan misi sistem: Perbaikan bug ruang dan waktu berhasil. Tuan rumah telah kembali ke ruang dan waktu asal. Mengingat tuan rumah telah menetap selama sepuluh

  • Gerimis Terakhir di Jianika   Bab 4

    "Tapi bagaimana denganmu?""Demi sahabat masa kecilmu yang penyakitnya saja masih diragukan, kamu menghancurkan pernikahan kita. Kamu bawa dia tinggal di rumah kita, dan sekarang kamu mau pakai perjalanan impianku untuk buat dia bahagia.""Kamu peduli sama penyesalannya, kamu peduli sama penyakitnya. Terus, siapa yang peduli sama aku?""Siapa yang peduli sama seseorang yang sudah hidup sepuluh tahun di dunia asing ini dan hanya bergantung sama kamu seorang?"Rentetan pertanyaanku membuat Viona terdiam dan mundur sedikit. Tatapannya tampak goyah, tetapi dia masih bersikeras membela diri."Keenan, apa kamu harus terus-terusan ngebahas hal-hal yang nggak masuk akal begini? Dunia asing apanya? Kamu cuma datang dari daerah kecil, kurang pengalaman, dan selalu bikin cerita aneh-aneh untuk mencari belas kasihan!""Surat diagnosis Dion jelas tertulis di sana. Dokter juga sudah bilang kondisinya kritis. Kenapa kamu tetap nggak mau percaya?""Jangan lupa, selama bertahun-tahun ini akulah yang na

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status