Share

Bab 8

Penulis: Fryda
Jazli kembali pergi dengan tergesa-gesa.

Helena tidak peduli apakah dia pergi atau tinggal. Dia hanya diam-diam melanjutkan membereskan barang-barangnya, menghapus semua jejak dirinya dari vila itu.

Semua kenangan tentang mereka berdua, dari 99 surat cinta yang dulu dikirim Jazli dengan gembar-gembor demi mematahkan gosip kampus, jepit rambut yang dia hadiahkan saat kencan pertama menemani Helena berbelanja, foto boks kecil yang mereka ambil bersama di pinggir jalan .... Semua benda yang dulu dia simpan seperti harta karun, kini dimasukkan ke dalam kardus satu per satu, lalu dibuangnya ke tempat sampah di luar.

Setelah membuang kardus terakhir, dia berdiri di bawah lampu jalan yang redup. Langit tiba-tiba mulai menurunkan salju. Dia mendongak, membiarkan kepingan salju yang dingin jatuh ke wajahnya.

Tiba-tiba, dia teringat adegan saat Jazli pertama kali datang ke bawah apartemennya untuk memohon rujuk kembali.

Hari itu saljunya sangat lebat. Jazli hanya mengenakan mantel, berdiri di bawah gedungnya dari pagi hingga malam, lalu sampai larut malam. Dia mengamati Jazli dari atas, ingin melihat sampai sejauh mana dia bisa bertahan.

Jazli berdiri tiga hari tiga malam dan akhirnya jatuh sakit dengan demam tinggi serta pneumonia hingga harus masuk rumah sakit. Jazli pernah memohon padanya dengan penuh cinta agar dia kembali. Namun apa yang disebut cinta mendalam itu, ternyata hanyalah sebuah penipuan cinta yang berdarah-darah.

Salju jatuh ke matanya, lalu mencair menjadi air mata.

Helena berdiri cukup lama. Saat dia berbalik hendak masuk, sebuah karung tiba-tiba disarungkan ke kepalanya!

Detik berikutnya, rasa sakit yang hebat menghantam kepalanya dan dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Saat terbangun kembali, Helena menyadari dirinya masih terbungkus karung, tangan dan kaki terikat erat, mulut tersumbat rapat. Dia mendengar suara yang tidak asing. "Pak Jazli, orangnya sudah tertangkap. Inilah orang yang menerima perintah dari mantan suami Bu Veronica untuk menculiknya."

Itu suara Jazli!

"Umm ... umm!" Helena membelalakkan mata dan meronta-ronta dengan panik.

Nada suara Jazli dingin saat berkata, "Buka. Aku ingin lihat, siapa yang seberani itu menyentuh orangku!"

Seorang pengawal menjawab, "Siap," lalu mendekat ke arahnya.

Saat dia hendak membungkuk untuk membuka ikatan, Veronica tiba-tiba menghentikan, "Sudahlah. Aku sama sekali nggak ingin melihatnya."

"Kali ini memang aku yang diculik, tapi yang terluka malah kamu, Jazli. Hari ini, aku ingin menghajar sendiri orang ini! Aku nggak mau melihat dia berlumuran darah."

Melalui celah karung, dia melihat Veronica memegang tongkat besi dan menyeringai dingin sambil melangkah perlahan mendekatinya.

Seluruh tubuh Helena terasa dingin membeku. Dia akhirnya mengerti, semua yang terjadi hari ini adalah sandiwara yang disutradarai Veronica. Sejak awal, wanita itu sudah tahu bahwa orang di dalam karung adalah dirinya!

Helena semakin meronta, tetapi detik berikutnya, tongkat besi itu menghantam tubuhnya dengan keras!

Helena mengerang tertahan, keringat dingin langsung mengucur.

Namun, pukulan itu tidak berhenti. Satu kali, dua kali, tiga kali ... entah berapa lama berlalu, sampai akhirnya terdengar suara Veronica yang manja, "Jazli, aku sudah nggak kuat mukul lagi. Kamu bantu aku, ya. Aku tadinya mau memukul 99 kali untuk melampiaskan amarahmu, sisanya serahkan ke kamu."

"Oke." Suara Jazli terdengar penuh memanjakan.

Detik berikutnya, tongkat besi yang menghantam jauh lebih kejam. Dengan suara derakan yang tajam, Helena mendengar tulangnya sendiri patah. Dia benar-benar pingsan.

Saat tersadar kembali, tongkat besi terakhir dijatuhkan oleh Jazli ke tubuhnya, lalu besi yang berlumuran darah itu dilempar sembarangan ke tanah.

Napas Helena sangat lemat. Kesadarannya kabur, tetapi suara Jazli yang lembut terdengar begitu jelas. "Sudah puas sekarang?"

"Belum cukup!" Veronica masih terdengar kesal. "Mereka membuatmu terluka separah ini, aku sakit hati."

"Sudah turun salju. Lempar ke sungai saja, biar jadi makanan ikan," perintah Jazli kepada para pengawal. "Jangan sampai mati."

Helena diseret berdiri. Detik berikutnya, sebuah tendangan keras menghantam tubuhnya dan dia terjatuh ke dalam air sungai yang membeku.

Pada saat tubuhnya jatuh ke air, dia mendengar suara Jazli, "Dingin. Kita pulang dulu, aku pijat tanganmu."

Air sungai yang membekukan menyusup ke mulut, hidung, dan paru-paru Helena.

Dingin sekali ....

Napas Helena terhenti.

Saat tersadar kembali, dia sudah berada di rumah sakit. Seorang perawat di samping tempat tidur sedang mengganti infusnya.

Perawat itu berkata dengan lega, "Akhirnya kamu sadar? Bagaimana rasanya sekarang? Waktu kamu dibawa ke sini untuk penyelamatan darurat, kondisimu parah sekali. Pria berpakaian hitam itu meninggalkan setumpuk uang lalu pergi. Beberapa hari ini juga nggak ada keluarga yang datang menjenguk ...."

Helena menatap sinar matahari di luar jendela. Lama sekali sebelum kesadarannya benar-benar kembali. Dia mengucapkan terima kasih pada perawat itu, lalu mengabaikan larangan mencabut infus dan pulang sendiri.

Ponselnya masih tergeletak di atas meja kopi. Ada tiga pesan di layar.

Pesan pertama dari Jazli.

[ Sayang, dua hari ini ada urusan jadi nggak bisa pulang. Kamu istirahat di rumah dan jaga kehamilan dengan baik. Kalau ada apa-apa, hubungi aku kapan saja. Setelah aku menyelesaikan urusan ini, aku akan atur cuti untuk menemanimu. Aku mencintaimu. ]

Helena tersenyum sinis.

Pria yang terus-menerus mengucapkan cinta itu, telah memukulinya hingga setengah mati dengan tangannya sendiri, bahkan belum menyadari bahwa dirinya menghilang. Helena melewati pesan itu dengan cepat dan melihat ke bawah.

[ Yth. Helena, proses penghapusan identitas Anda telah resmi berlaku. ]

[ Yth. Helena, akta cerai Anda telah diterbitkan. Silakan datang ke kantor catatan sipil untuk mengambilnya. ]

Helena menangis bahagia.

Akhirnya dia bisa benar-benar meninggalkan Jazli. Sepanjang sisa hidupnya, dia tidak ingin lagi memiliki sedikit pun keterkaitan dengan pria itu!

Sepulang dari kantor catatan sipil, dia meletakkan buku nikah bersama hasil cetak pesan-pesan provokasi Veronica dan alat perekam di atas meja. Kemudian, dia menelepon rumah duka. "Kirimkan peti es bayi itu ke vila Keluarga Ruslan."

Kemudian, dia mengirimkan alamat vila tersebut.

Terakhir, dia mengirim sebuah pesan kepada Jazli.

[ Malam ini pukul delapan, aku akan memberimu kejutan yang tak akan pernah kamu lupakan. Kamu harus pulang. ]

Setelah menyelesaikan semuanya, Helena mengangkat kopernya dan pergi tanpa menoleh lagi. Dia menuju pelabuhan, lalu naik ke sebuah kapal pesiar dengan tiket yang dibelinya dari calo.

Suara klakson kapal terdengar. Bangunan di daratan makin lama makin menjauh, hingga yang tersisa di hadapannya hanyalah hamparan laut yang luas tanpa batas. Angin laut berembus bebas. Burung-burung terbang berputar di udara, melintas di atas kepalanya lalu terbang menjauh.

Dirinya juga akan menuju dunia baru yang sepenuhnya tak dikenal. Di sana akan ada kemungkinan tak terbatas dan satu-satunya yang tidak ada, adalah Jazli.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 22

    Hati Jazli menegang. Dia segera teringat kejadian beberapa hari lalu ketika dia berkelahi dengan Adrian di depan klinik hingga masuk berita. Besar kemungkinan Veronica melihat berita itu dan berniat membalas dendam pada Helena!Sementara itu, Veronica telah tiba di bandara Kota Bridge. Wajahnya tertutup masker, rambutnya kering dan menguning. Dia mengenakan celana panjang dan atasan lengan panjang biasa, menutupi tubuhnya rapat-rapat, tetapi tetap terlihat kurus kerempeng.Saat dia membungkuk memungut tas yang terjatuh, terlihat jelas memar di pergelangan tangannya.Tatapannya suram dan penuh kebencian. Dia naik taksi dan langsung menuju klinik tempat Helena bekerja.Di perjalanan, dia terus mengingat potongan-potongan hidupnya selama tiga tahun terakhir. Keluarga Kartono bangkrut, ayahnya meloncat bunuh diri, ibunya hidup miskin melarat, sementara dirinya dikurung di rumah sakit jiwa dan disiksa siang malam.Kondisi mentalnya sudah lama tidak normal. Satu-satunya hal yang menopangnya

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 21

    Kedua pria itu berdiri di depan pintu mobil.Adrian menyerahkan secangkir kopi kepadanya. "Jazli, aku harap kamu nggak muncul di hadapan Helena lagi."Wajah Jazli menggelap. Dia menepis tangan Adrian dengan kasar. Kopi pun tumpah ke tanah. "Kamu punya hak apa?"Matanya memerah. Kedua tangannya mengepal. "Helena itu milikku! Dia hanya belum memaafkanku! Kami menjalani hubungan delapan tahun! Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali ke sisiku!"Jazli berbicara sendiri, seolah-olah sedang meyakinkan dirinya. "Helena mencintaiku! Cepat atau lambat, dia pasti akan memaafkanku!"Adrian hanya menatapnya dalam diam. Baru setelah Jazli selesai berbicara, dia membuka mulut. "Saat Helena meninggalkanmu dulu, dia menderita depresi berat. Setelah itu dia pernah mencoba bunuh diri dan aku yang menyelamatkannya."Wajah Jazli langsung pucat pasi. Dia tiba-tiba teringat kejadian ketika Helena mencabut bunga mawar di taman. Saat menggendongnya, Jazli menyadari berat badannya turun banyak. Namun, saat i

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 20

    "Aku yang menyuruhmu mencariku?" tanya Helena dengan suara dingin, lalu menyunggingkan senyuman sinis. "Jazli, kamu melakukan semua ini untuk diperlihatkan ke siapa?""Kita sudah lama cerai. Aku sudah mengatakan dengan sangat jelas agar kamu benar-benar enyah dari duniaku! Kenapa kamu masih muncul di hadapanku untuk membuatku muak?""Kamu nggak merasa sikapmu ini disebut cinta yang dalam, 'kan? Ini namanya merendahkan diri!"Mendengar kata-kata Helena, kepala Jazli terasa berdengung hebat. Dia tidak menyangka Helena memandangnya seperti ini, membuat tiga tahun pencariannya tampak seperti lelucon.Suaranya tercekat sedikit. "Helena, karena kamu, rambutku memutih dalam semalam ...."Pandangan Helena berhenti dua detik pada rambut putihnya dan tubuhnya yang kurus kering, lalu dia kembali mencibir dingin. "Itu akibat dari perbuatanmu sendiri."Jazli menatap ekspresi sinisnya. Hatinya seakan-akan disobek. Suaranya bergetar menahan sakit. "Helena, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku menci

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 19

    Saat itu, Helena baru saja meninggalkan tanah air. Pertama-tama, dia naik kapal pesiar ke Jepang, lalu berkeliling hingga sampai ke Eropa.Dia memiliki aset yang cukup, tetapi telah kehilangan tujuan hidup. Dia berkelana ke beberapa negara di Eropa, hingga perlahan tiba di Finlandia. Sebuah negara yang indah dan romantis, tetapi juga sangat menyesakkan hati.Helena menyewa sebuah homestay. Setiap hari dia duduk di depan jendela memandangi salju dan aurora. Pikirannya terus dipenuhi bayangan anaknya yang telah tiada, pernikahan yang gagal dan penuh tipu daya, serta ayahnya yang telah tiada. Hidupnya kehilangan jangkar. Dia benar-benar kehilangan dorongan untuk melangkah.Suatu kali setelah selesai melihat aurora, Helena tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju danau yang membeku. Saat air sedingin es perlahan menenggelamkan kepalanya, tiba-tiba seseorang melompat ke dalam air, menariknya dengan kuat ke arah daratan.Dia meronta dengan keras, tetapi orang itu menggenggamnya erat, tak mau me

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 18

    "Helena." Dengan mata memerah, Jazli memanggil pelan dengan suara tercekat.Perempuan yang semula menampilkan senyuman profesional itu seketika memasang ekspresi dingin. Dalam sekejap, semua kenangan yang sengaja dia bekukan menyeruak ke benaknya.Meskipun sudah menerima terapi psikologis berkali-kali, emosi Helena tetap bergolak saat ini. Namun, profesionalisme sebagai seorang dokter membuatnya menekan paksa seluruh emosinya.Hanya dalam sesaat, dia kembali mengenakan topeng profesional. "Silakan duduk, Pak Jazli. Konsultasi di bidang apa yang ingin Bapak lakukan?"Sikap memperlakukannya seperti pasien asing itu bagaikan pisau yang menusuk keras jantung Jazli. Nada suaranya sedikit bergetar. "Helena, aku mencarimu selama tiga tahun ...."Helena melirik jam tangannya. "Pak Jazli, kalau nggak ada masalah psikologis untuk dikonsultasikan, silakan pergi. Aku sebentar lagi ada janji dengan pasien lain."Mata Jazli semakin memerah. "Helena, beri aku beberapa menit saja ...."Helena menekan

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 17

    Di hadapannya adalah wajah yang asing.Jazli tertegun. Itu hanyalah seorang perempuan dengan punggung yang mirip.Suami perempuan itu berjalan di sampingnya. Melihat Jazli tak mau melepaskan tangannya, dia maju dan mendorong Jazli dengan keras. "Kamu mau apa?"Seolah-olah kehilangan tenaga, Jazli terdorong olehnya. Seluruh tubuhnya terguling menuruni anak tangga batu dan jatuh menghantam tanah dengan keras.Dia terbaring di tanah dengan tubuh berlumuran darah. Matanya menatap langit dengan tatapan kosong.Di detik-detik sebelum pingsan, di benaknya hanya ada satu pikiran. 'Helena, sebenarnya kamu di mana ....'Jazli mengalami gegar otak berat, dengan banyak patah tulang dan memar di sekujur tubuh. Dia masih ingin memaksakan diri untuk mencari Helena, tetapi orang tuanya yang datang segera memaksanya pulang.Ibunya memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. "Jazli, lihat dirimu sekarang seperti mayat hidup. Apa kamu mau menghancurkan hidupmu demi Helena? Sudah tiga bulan! Kamu harus kemba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status