Share

Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi
Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi
Author: Raka Nandaka

Bab 1

Author: Raka Nandaka
Melalui kaca spion, Alfan melihat Rhea yang duduk di kursi belakang, hatinya dipenuhi kebingungan.

Direktur wanita yang biasanya sangat dingin itu, malah bertingkah tidak seperti biasanya hari ini. Dia duduk menyamping di kursi belakang. Wajahnya memerah dan pandangannya kacau. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri, sementara tangannya terus meraba lehernya.

Melihat keadaan Rhea seperti itu, Alfan merasa ada yang tidak beres.

Alfan adalah seorang dokter magang di Rumah Sakit Prima. Untuk membelikan pacarnya, Charista, sebuah iPhone terbaru, dia memanfaatkan waktu di luar jam kerja untuk menjadi pengemudi ojek online demi menabung.

Siapa sangka, hari ini dia malah mendapatkan direkturnya sendiri sebagai penumpang.

Rhea memiliki tinggi sekitar 170 cm, kulit putih, wajah cantik, dan kaki jenjang. Penampilannya sangat menawan. Hanya saja, sifatnya biasa sangat dingin. Meskipun Alfan sudah setengah tahun berada di Rumah Sakit Prima, dia belum pernah benar-benar berbicara dengan Rhea.

"Bu Rhea, apakah kamu merasa nggak enak badan? Gimana kalau aku antar kamu ke rumah sakit?" Akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Kamu ... kamu kenal aku?" Napas Rhea terdengar sedikit terengah.

"Aku dokter magang di Rumah Sakit Prima. Aku sering lihat Ibu waktu rapat."

"Aku nggak sakit. Antar aku pulang sesuai alamat."

Ketika Alfan kembali melihat ke kaca spion, tangan wanita itu sudah masuk ke dalam pakaiannya sendiri. Dia menggigit bibirnya yang merah dan kedua matanya setengah terpejam, tampak seperti menahan sesuatu yang sulit dikendalikan.

Meskipun hanya seorang dokter magang, dari kondisi yang ditunjukkan Rhea, Alfan merasa wanita itu kemungkinan mabuk atau tanpa sengaja mengonsumsi sesuatu seperti obat perangsang.

"Bu Rhea, menurutku kamu tetap perlu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa."

"Apa maksudmu? Kamu nggak mengerti kata-kataku? Aku bilang antar aku pulang, secepat mungkin. Kalau terjadi sesuatu, kamu yang tanggung jawab!"

Alfan tidak berani menunda. Dia segera menginjak pedal gas dan mempercepat laju mobil. Lima atau enam menit kemudian, mobil itu berhenti di depan Vila Nomor 66, Jalan Champ.

Mobil baru saja berhenti, Rhea buru-buru membuka pintu dan turun. Namun belum sempat berjalan beberapa langkah, tubuhnya sudah oleng lalu terjatuh ke tanah.

Alfan segera turun dan menahan tubuh wanita itu.

"Bu Rhea, aku tekan saja belnya supaya keluargamu keluar jemput kamu."

Saat Alfan baru saja menopangnya berdiri, tiba-tiba Rhea memeluk lengannya dengan erat. Dengan suara gemetar dia berkata, "Cuma aku yang tinggal di sini. Kata sandinya 333666. Tolong bukakan pintunya dan antar aku masuk."

Setelah masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa, Alfan berbalik untuk mengambilkan segelas air. Ketika dia kembali sambil membawa air putih dan berdiri di depan wanita itu, jantung Alfan tiba-tiba berdegup keras.

Entah sejak kapan, Rhea sudah menarik ritsleting gaun panjang berwarna merah anggurnya. Bahu putihnya yang mulus, bra hitamnya, serta lekuk tubuhnya yang indah kini setengah terlihat. Tatapannya kacau dan kosong, lidahnya menyapu bibirnya perlahan.

"Bu Rhea, kamu lagi ngapain? Cepat minum air ini. Aku ... aku harus pergi."

Walaupun Alfan sudah punya pacar, hubungan dia dengan pacarnya hanya sebatas berpegangan tangan dan berpelukan.

Saat melihat pemandangan yang begitu menggoda di depannya, jantungnya berdegup sangat kencang. Rhea tidak menerima gelas air itu. Sebaliknya, dia tiba-tiba memeluk Alfan dengan erat.

"Tolong bantu aku. Suamiku memberiku obat perangsang. Kalau kamu nggak menolongku, malam ini mungkin aku nggak akan bisa bertahan."

Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Alfan, sorot matanya tampak lembut dan menggoda.

Alfan benar-benar panik. Dia sama sekali tidak menyangka, direktur wanita yang biasanya dingin itu hari ini malah memeluknya dengan sukarela.

Sejujurnya, dia sangat ingin mengikuti arus dan menidurinya saat itu juga.

Namun, Alfan adalah orang yang setia pada perasaannya. Pacarnya masih menunggu di rumah. Dia tidak ingin mengkhianati pacarnya.

"Bu Rhea, kamu terkena racun perangsang. Aku antar kamu ke rumah sakit untuk infus dan diberi penawar, nanti juga cepat sembuh."

Jari-jari Rhea meraba tubuh Alfan dan napasnya terengah-engah. "Aku direktur Rumah Sakit Prima. Semua tenaga medis di Provinsi Sargana mengenalku. Kalau mereka tahu aku terkena racun seperti ini, bagaimana aku bisa menghadapi mereka?"

"Kalau kamu bantu aku dengan tubuhmu untuk menetralisir racunnya hari ini, setelah itu aku akan mengurus agar kamu diangkat menjadi pegawai tetap."

Alfan ragu. Dia bisa bersama direktur yang cantik dan dingin itu, sekaligus membantu orang. Yang paling penting lagi, dia bisa menjadi pegawai tetap.

Kenapa tidak?

Namun, Alfan tetap tidak ingin mengkhianati pacarnya. Saat dia sudah memutuskan untuk pergi, tangan Rhea malah membuka ikat pinggangnya tanpa ragu.

Alfan sudah hampir lima tahun berpacaran dengan kekasihnya, tetapi dia belum pernah mengalami perlakuan seperti ini.

Dalam sekejap, pikirannya seperti meledak. Seluruh dirinya pun terlena begitu saja. Ketika dia benar-benar sadar kembali, mereka sudah berada di tempat tidur di lantai dua.

Entah siapa yang lebih dulu memulai. Yang jelas, semuanya berlangsung begitu intens sampai mereka melupakan segalanya.

Satu jam kemudian, keduanya terbaring lemas di atas tempat tidur.

Alfan memandang Rhea yang terbaring lemah di sampingnya, lalu bertanya dengan gelisah, "Bu Rhea, gi ... gimana perasaanmu sekarang?"

Wajah Rhea kembali menjadi dingin. Dengan susah payah dia berkata, "Racun di tubuhku sudah hilang."

"Bagus kalau begitu. Kalau sudah sembuh, aku juga harus pergi." Alfan segera bangkit dari tempat tidur dan buru-buru mengenakan pakaiannya.

"Kamu benar-benar dokter magang di Rumah Sakit Prima? Siapa namamu?"

"Alfan. Aku memang dokter magang di Rumah Sakit Prima."

"Untuk kejadian malam ini, aku berterima kasih padamu. Tapi, ada dua hal yang harus aku sampaikan. Pertama, kamu harus meninggalkan Rumah Sakit Prima. Kedua, kejadian malam ini nggak boleh kamu ceritakan kepada siapa pun. Kalau kamu sampai membocorkannya, aku akan membuat hidupmu sangat menderita."

Alfan telah menempuh lima tahun kuliah di fakultas kedokteran dan akhirnya berhasil magang di Rumah Sakit Prima. Setelah dia menolong direktur wanita itu, kini malah diminta untuk keluar dari Rumah Sakit Prima.

Alfan langsung merasa kesal.

"Bu Rhea, kamu ini seperti habis manis sepah dibuang. Kalau aku harus keluar dari Rumah Sakit Prima, berarti kuliah kedokteranku selama ini sia-sia?"

"Kamu nggak perlu khawatir. Aku akan merekomendasikanmu ke Rumah Sakit Ferrum. Nggak perlu magang, kamu bisa langsung masuk kerja. Fasilitas dan tunjangannya nggak kalah dari Rumah Sakit Prima."

Alfan merasa itu cukup masuk akal. Lagi pula, jika dia bertemu lagi dengan wanita ini di Rumah Sakit Prima, pasti akan terasa canggung. Namun, dia tetap berkata, "Pacarku juga dokter magang. Bisa nggak kamu sekalian bantu dia?"

"Nggak masalah. Ke Rumah Sakit Ferrum, nggak perlu magang, langsung diangkat menjadi pegawai tetap."

Dalam hati Alfan merasa bersyukur. "Terima kasih, Bu Rhea. Istirahat yang baik, aku pamit dulu."

"Kenapa terburu-buru? Tinggalkan nomor teleponmu." Rhea membuka selimut dan meraih ponsel di meja samping tempat tidur.

Sekilas, Alfan melihat noda merah di atas seprai yang putih bersih.

Bagaimana bisa? Rhea adalah wanita yang sudah menikah, kenapa masih ada tanda seperti itu?

"Bu Rhea, kamu ... kamu masih perawan?"

Rhea meliriknya dengan kesal. "Apa yang aneh? Siapa bilang kalau sudah menikah nggak bisa tetap perawan?"

Alfan semakin bingung. Setahunya, direktur cantik berusia 26 tahun itu sudah menikah dua tahun yang lalu. Setelah ratusan hari berlalu, dia ternyata masih menjaga dirinya tetap suci?

Sebenarnya, apa yang telah terjadi pada wanita ini?
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 50

    Alfan mengernyit, menerima kartu bank itu, lalu membolak-balikkannya beberapa kali."Kamu kasih aku hadiah? Sepertinya nggak masuk akal, 'kan?"Alfan merasa sangat heran. Hari pertama masuk kerja sudah ada yang memberinya uang? Ini jelas tidak masuk akal."Dua miliar ini kamu terima. Mulai hari ini, jangan lagi mengobati Cindy."Alfan langsung mengerti. Ternyata begitu. Dia mendorong kembali kartu bank itu dengan pelan ke arah wanita itu."Cantik, jangan lupa, aku ini dokter. Tugasku adalah menyembuhkan dan menyelamatkan orang. Aku mengobati Cindy adalah hal yang wajar. Kenapa harus menghalangiku?""Nggak perlu alasan. Kalau kamu berhenti mengobati Cindy, kamu dapat 2 miliar, ayah angkatku dapat 20 miliar. Kita sama-sama untung. Kalau kamu menolak dan tetap bersikeras mengobati Cindy, di kota ini nggak akan ada tempat untukmu. Masalah ini bahkan bisa menyeret keluargamu."Punggung Alfan terasa dingin. Bukan karena dia takut pada ancaman wanita ini, melainkan dia samar-samar merasa bahw

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 49

    Rhea langsung tercengang. Dia agak tidak percaya dengan perkataan Alfan."Yang benar saja? Kamu cuma berdiri sebentar di depan pintu, tapi sudah bisa melihatnya?""Ya, aku melihatnya.""Dia gila ya? Masuk ke kantorku buat pasang kamera?""Tujuannya memang untuk mengincarmu dan aku. Kalau jejak hubungan kita berdua tertangkap olehnya, dia akan merekam video kita bersama. Dia sekongkol dengan suamimu. Kemarin mereka gagal menangkap basah kita. Mereka pasti nggak akan menyerah begitu saja."Mendengar penjelasan Alfan, wajah Rhea berubah karena marah."Orang tua itu benar-benar keterlaluan. Untung kamu menemukannya. Kalau sampai terekam, bukankah bakal jadi masalah besar?"Alfan mengangkat bahu. Wajahnya sedikit menunjukkan kekecewaan. "Ya, kalau di ruangan itu nggak ada kamera, kita bisa bermesraan kapan saja dan di mana saja."Rhea langsung mencubit keras pinggangnya. "Alfan, bisa nggak kamu lebih menahan diri? Gimana sekarang? Apa perlu aku lapor polisi?""Jangan lapor polisi dulu. Bebe

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 48

    Di dalam ruang rawat, Dexton duduk di atas ranjang. Wajahnya suram dan tatapannya penuh kebencian.Ketika mendengar bahwa satu-satunya buah zakar yang tersisa pun tidak bisa diselamatkan, dia hampir putus asa.Charista membawa semangkuk bubur dan mendekat. "Sayang, makan sedikit ya, aku suapi."Dia menyendok sesendok bubur dan menyuapkannya ke mulut Dexton.Dexton tiba-tiba mengangkat tangan dan menepis mangkuk itu dengan keras hingga jatuh ke lantai. Mangkuk porselen putih langsung pecah berkeping-keping dan bubur pun tercecer di mana-mana."Perempuan jalang, kamu pembawa sial! Kalau bukan karena kamu, apa aku akan jadi seperti ini?""Sayang, kamu nggak bisa menyalahkanku. Aku setia padamu. Masa kamu nggak tahu perasaanku padamu?"Mata Charista memerah. Dengan perasaan terhina, dia membungkuk, memunguti pecahan porselen di lantai."Pergi dari sini! Sejauh mungkin! Aku nggak mau melihatmu!"Pintu kamar terbuka. Darian masuk dengan mengenakan topi."Dexton, ngapain kamu mengamuk? Kondis

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 47

    Hati Alfan berbunga-bunga. Dia menggoda, "Belum tentu, aku keras di mana-mana."Setelah berkata begitu, dia berbalik dan mematikan lampu, lalu langsung memeluk Rhea."Bajingan, mau apa sih? Kenapa terburu-buru? Malam ini masih panjang, nggak bisa biarkan aku istirahat dulu?""Kita istirahat bersama."....Satu malam akhirnya berlalu. Dalam sekejap, sudah keesokan harinya. Di luar masih remang-remang, cahaya belum terang.Lampu kamar masih menyala. Alfan berbaring di ranjang dan yang terbaring di sampingnya adalah Rhea.Semalam mereka hampir tidak tidur. Alfan benar-benar merasakan kelembutan Rhea, Rhea juga benar-benar merasakan kejantanan Alfan.Yang paling penting, dalam semalam Alfan menyerap sangat banyak energi negatif. Energi negatif yang dia serap malam ini saja, jika tidak digunakan dalam beberapa hari ke depan, sudah cukup untuk menghilangkan Kutukan Gadis Suci di tubuh Cindy.Melihat Rhea yang terbaring di sampingnya, hati Alfan agak kacau. Dia tidak tahu bagaimana harus meng

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 46

    Melihat pesan yang dikirim oleh Rhea, Alfan agak tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.[ Yang benar saja? Kebahagiaan datang secepat ini? ][ Aku sudah bilang kirim alamat, kamu mau kirim atau nggak? Kuberi waktu satu menit. Kalau kamu kirim, aku akan datang mencarimu. Kalau nggak kirim, aku nggak jadi datang. ]Rhea segera membalas lagi.Alfan tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan wanita ini, tetapi tetap mengirimkan alamat hotel dan nomor kamar kepadanya dengan cepat.Setelah mengirimnya, dia segera masuk ke kamar mandi untuk mandi, bahkan menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya.Dengan balutan handuk putih bersih, dia berbaring di tempat tidur dan menunggu dengan tenang.Waktu berlalu detik demi detik. Dalam sekejap, sudah lebih dari setengah jam. Namun, di luar sama sekali tidak ada pergerakan apa pun.Saat itu, Alfan mulai merasa Rhea hanya sedang mempermainkannya. Wanita ini murni seperti air. Malam itu, mereka bisa melakukan hal seperti itu karena Rhea dikendalikan o

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 45

    Rhea mengetuk dahi Alfan. "Bocah berengsek, kukira orang desa itu semuanya jujur. Ternyata kamu licik sekali. Katakan yang sebenarnya, dengan cara seperti ini, sudah berapa gadis yang kamu tipu?"Alfan tersenyum pahit tanpa berkata apa-apa. Awalnya dia hanya ingin mengarahkan pembicaraan ke Teknik Sembilan Niskala. Namun, dia sama sekali tidak menyangka wanita ini akan salah paham, mengira dia sedang menggunakan cara lain untuk merayunya tidur bersama.Alfan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Bu Rhea yang terhormat, jujur saja, kamu wanita pertamaku. Sebelum bertemu denganmu, aku masih perjaka.""Siapa yang percaya? Kamu pacaran lima tahun dengan Charista dan kamu bilang masih perjaka? Mau nipu siapa?"Alfan mengerutkan kening. "Kamu nikah dua tahun dengan suamimu, bukankah kamu juga tetap perawan?"Rhea tersenyum pahit, lalu menenggak habis anggur di gelasnya."Sudahlah. Malam ini kamu tetap harus pergi. Aku kasih kamu uang. Kamu cari hotel untuk nginap. Jangan tinggal di sini lagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status