MasukJudul : Predator Kota Outline : Cerita ini, menceritakan tentang seorang pemuda yang bernama Amat. Dia adalah seorang ahli beladiri dan tenaga dalam yang berasal dari desa dan merantau ke kota. Di kota, dia mengalami berbagai macam kejadian yang bersinggungan dengan dunia premanisme seperti perkelahian, pengeroyokan, teror, sampai pembunuhan. Namun, karena keahlian beladirinya dan tenaga dalam yang dia miliki, serta dukungan dari teman-temannya, dia mampu mengahadapi itu semua. Bahkan, dia dapat mengusai kota itu dengan kelompoknya. Dan menjadi predator kota yang menakutkan. Tokoh di cerita : 1.Amat sebagai tokoh utama 2. Kamal sebagai teman Amat yang culun, tetapi bijak dan romantis 3. Irwan sebagai mantan preman yang menjadi teman Amat sekaligus tangan kanannya. 4. Tuti yang menjadi kekasih Kamal 5. Pak Kadir sebagai tokoh antagonis utama yang pernah menjadi bos Amat, tetapi ternyata menghianati Amat. 6. Serta tokoh-tokoh lainnya yang membantu dalam cerita ini. Alur : Mundur Tema : Seputar persahabatan dan dunia premanisme Penonton : 18+
Lihat lebih banyakSRETT. "Aaa!" Gaun tipis Ayana seketika robek. Terpampang jelas bahu dan sebagian dadanya. Segera dia menutupi dadanya dengan tangan.
"Ha ha ha ha! Kita nikmati malam ini gadis manis." Pria yang hanya berbalut celana pendek itu segera mengukung Ayana."Jangan! Kumohon jangan!" teriak Ayana. Dia terus meronta, mendorong paruh baya berperut buncit itu.Pria itu terus berusaha menguasai Ayana. "Diam kamu! Aku sudah membayar mahal, sekarang lakukan tugasmu dengan baik!"Pria itu memegang dua tangan Ayana yang terus melawan. Dia letakkan di atas dengan satu tangan kuatnya. "Diam, dan layani aku dengan baik, jika kamu masih ingin hidup!" geram pria itu."Cuihh!" Ayana meludah. "Bunuh saja aku!" teriaknya dengan mata nyalang."Ini pilihanmu. Aku sangat suka bermain dengan gadis manis agresif. Berteriaklah sekuatmu! Ha ha ha ha ha ha!"Paruh baya itu menekan kaki Ayana kuat dengan kakinya. Kini dia mulai merebahkan di atas tubuh Ayana."Baumu wangi sekali." Pria itu mulai mengendus bagian ceruk leher Ayana.Ayana memutar otak, dia harus bisa lepas dari pria ini."Aaarrggghh!"Ayana menggigit telinga paruh baya itu. Dia langsung mendorong kuat, dan berlari meski hanya di sekitar kamar itu."Mau kemana kamu?!" Paruh baya itu murka, dia terus mengikis jarak dengan wajah merah."Kumohon jangan! Tolong lepaskan aku." Ayana merangkup tangannya memohon."Ha ha ha ha ha!" Pria itu malah tertawa mengerikan.--Sedang di lantai bawah.BRAKKKK!!!Pintu itu dibuka kasar oleh 5 pria. Wajah mereka ditutup masker. Sekelompok pemburu yang mencari kemenangan di malam hari.Black Skull. Mereka selalu datang membawa ketakutan bagi musuhnya.Kaget. Para penghuni Villa memberi perlawanan. "Penyusup!" teriak salah satu mereka.Mereka langsung maju melawan.Serangan mereka ditangkis. Bugh. Bugh. Prang! Seorang terlempar, sebuah guci pecah, dia tersungkur.Mereka tidak siap akan kedatangan Black Skull. Sekuat tenaga mereka melawan.Villa seorang koruptor sebuah perusahaan, yang sulit dilumpuhkan kliennya. Kini mereka mendapat pesanan membawa koruptor itu ke hadapan klien. Dan membawa bukti korupsinya.Bugh. Duk. Bugh. Bugh.Duk. Bugh. Prang!Rumah itu kini riuh dengan suara hantaman, dan barang pecah. Sisi Black Skull tetap memimpin kemenangan, meski jumlahnya lebih sedikit."Yaakk!" Bruk. Satu tendangan melempar musuh di depan. Bugh. Vincent juga menghantam sisi kanannya.Set. Pukulan ditangkis Leo, lalu dia putar dan melemparkan hingga menghantam tembok. Duk. Menendang keras di sisi kirinya.Duk. Robin menendang melempar seorang lagi. Bugh. Bugh. Juga hantaman untuk dua orang lain yang menghadang.Bugh. Duk. Bugh. Hantaman Brox dan tendangan beruntun, untuk mereka yang maju bersama dari berbagai sisi.Dor! Sebuah peluru berhasil dihindari Jovan. Dia lantas melempar mata pisau ke arah tangan penembak itu. Pistol terlempar tangannya terluka."Aaisshh!" teriak pria itu memegang tangannya."Brox!" teriak Jovan.Brox melompat, mengambil pistol itu.Satu pria bertubuh tinggi dan atletis masih menonton. Sambil mengibas kuat, mereka yang datang. Brak. Prang!!Mata elangnya kini menatap tajam lantai atas. Jovan kini siap beraksi. Dia meninggalkan temannya yang masih menikmati pesta meriah itu.Dia berlari, melompat bagai Leopard pada railing tangga. Memegang railing atas, bergelantung lalu salto, melompat ke lantai atas. Set, dia mendarat sempurnya.Kini matanya menghunus ke berbagai arah mencari targetnya. Menuju pada suatu kamar yang dia yakini itu kamar target."S*al!" Kamar menggunakan kunci sandi.Jovan mengambil jarak, dia berlari dan ... Buk. Buk. Buk. Dia mendorong kuat dengan bahunya. Bruk! Pintu itu roboh.Seketika mata Jovan membulat. "Dasar bandot tua!""Siapa kamu?!" teriak Paruh baya. "Pengawal!" Menebar pandangan."Jangan buang tenagamu, Pak tua! Anak buahmu sedang berpesta di bawah.""Tolong aku, kumohon!" teriak Ayana.Paruh baya itu berlari, dan segera membuka laci nakas."Jangan berani maju, jika masih ingin hidup!" teriak paruh baya itu. Dia berdiri menodongkan pistol gemetar pada Jovan."Benarkah? Tembak saja!" Jovan melangkah santai.Jovan semakin maju, dengan tatapan nyalang.DOR!! Satu tembakan melesat hampir mengenai Jovan."Aaaa!" teriak Ayana takut. Dia menunduk bersembunyi di belakang sofa.Jovan terkekeh. "Kamu salah memegang senjata, Pak Tua!"Pria itu masih bersiap menembak, dia melangkah mundur seiring Jovan melangkah maju.Menarik pelatuk. DOR. Jovan menghindar dan langsung mengambil pijakan, lalu melompat tinggi.Brakkk. Jovan menendang keras pria itu.Pria itu langsung tersungkur. Jovan menendang kuat pistol itu, hingga masuk dalam celah sempit.Paruh baya itu, menggeser tubuhnya hingga pojok nakas. Dia makin gemetar.Jovan maju, dia lantas berjongkok di depan pria itu.Mata Jovan menghunus menyiratkan banyak tekanan. Jovan memegang rahang pria itu, menekan kuat lalu dia hempaskan."Auw!" teriak pria itu, kesakitan."Berani kamu jadi tikus pengerat!" Suara Jovan berat menggetarkan lawan."Tolong lepaskan aku. Aku bisa membayarmu lebih dari mereka. Katakan berapa yang kamu minta!" takut pria itu mengatakan.Jovan menarik satu sudut bibirnya di balik masker hitam itu. "Berapa harga nyawamu? Berikan padaku!" Suara Jovan semakin menakutkan. Jovan tidak pernah mengecewakan klien.Jovan berdiri, lalu duduk di sisi king size. Sedikit menunduk, dengan dua tangan menyatu di tengah. "Apa aku harus membuatmu sekarat, baru kamu buka mulut?" tenang dan berat, suara itu menggoyahkan pikiran pria itu.Pria itu mengangguk gemetar. "Katakan saja apa yang kamu butuhkan!""Bukti bahwa kamu seorang tikus pengerat. Berikan padaku filenya!" bentak Jovan.Pria itu kaget dan bergetar. Dia lantas merangkak menuju laci meja, ditekannya tombol, lalu diambilnya flash disk, dan dia serahkan pada Jovan."Ambillah, lalu lepaskan aku!" Pria itu memohon.Jovan masih memandangi flash disk itu."Aku tidak menipumu. Bukankah kamu bisa datang lagi, jika itu palsu," takut pria itu."Kalau begitu, kamu juga harus ikut denganku." Buk. Jovan memukul tengkuk pria itu. Lalu dia pingsan.Dari belakang sofa itu, Ayana meringkuk ketakutan."Siapa kamu?!""Ah!" Ayana tersentak, dia berbalik dan mendongak. "Aku hanya wanita yang dijual oleh Pamanku. Tolong selamatkan aku. Kumohon, jika kamu musuhnya berarti kamu orang baik."Jovan menatap kondisi gadis mungil yang mengenaskan itu. Wajahnya berbalur make up luntur, dengan baju yang tipis robek.Jovan melepas blazernya. "Pakailah!" Menyodorkan."Terima kasih." Ayana langsung menyambarnya."Tempat ini sudah aman, silahkan kamu pergi!" Jovan berbalik, dia melangkah."Aku tidak punya tujuan. Aku tidak tau tempat ini!" seru Ayana.Langkah Jovan berhenti, sebentar berpikir lalu berbalik. Kembali memandangi wajah gadis malang itu."Kumohon, aku janji tidak akan merepotkanmu. Kamu bisa menjadikanku pembantu, atau apa saja. Kumohon, selamatkan aku."Jovan masih bergeming, dia belum pernah dekat dengan wanita manapun."Apa aku harus kembali pada Pamanku?""Dimana rumahmu, kamu pasti punya orang tua."Ayana menangis mendengar kata itu. "Kamu bisa membuangku nanti. Kumohon bawa aku keluar dari tempat ini. Aku pasti akan dikejar suruhan Mami Febby nanti."Jovan masih ragu."Mereka akan menjualku lagi." Semakin lirih dan sendu.Jovan menarik nafas, dan menatap gadis mungil itu.Waktu tidak terasa cepat berlalu. Sekarang sudah seminggu sejak hari itu. Mereka juga sudah mendapat izin untuk menggunakan ruko itu dari pemiliknya. Mereka juga sudah beberapa kali menggunakan tempat itu sebagai tempat latihan dan sekaligus sebagai markas. Terminal tempat mereka kerja juga semakin ramai. Sejak kejadian itu, banyak dari kelompok preman yang menaruh hormat kepada mereka. Dan dengan demikian tempat yang mereka kelola juga semakin aman. Keamanan yang mereka berikan ini membuat pedagang dan pembeli merasa terlidungi.Malam itu seperti biasa, mereka duduk santai di dalam markas. Beberapa dari mereka sedang ada di luar mengawasi hilir mudik orang-orang yang lewat."Mana Bang Amat?" tanya Irwan yang baru datang."Mungkin di balkon atas, Bang!" jawab Adit."Iya terima kasih," sahut Irwan yang langsung menuju ke dalam."Ada apa, Ya?" tanya Radit."Enggak tau!" Adit mengangkat kedua bahunya.Radit juga berhenti se
Tak lama kemudian, istri Irwan datang dengan membawa beberapa plastik di tangannya. Dan kelihatannya dia baru selesai belanja di pasar."Permisi!" ucapnya melewati mereka yang sedang duduk."Iya silahkan, Mba!" jawab mereka.Setelah meletakkan barang bawaannya di dapur, istri Irwan kembali keluar menemui Irwan."Ada apa?" tanya Irwan sambil memperhatikan istrinya yang mendekatinya."Di pasar seberang Ikan tidak ada dan hanya ada Ayam, itupun mahal." Istri memberitahu Irwan."Ya sudah nanti aku Radit buat beli," jawab Irwan."Tidak usah Wan, Ini ada ayam!" Amat berkata sambil menunjuk kantongan plastik di sampingnya."Abang beli ayam?" tanya Radit kaget."Iya!" jawab Amat singkat."Aku kira tadi itu pakaian, Bang!" sahut Radit sambil sedikit tertawa.Mendengar itu, Irwan langsung menatap Radit. Radit yang melihat tatapan Irwan langsung terdiam seketika.Irwan berbicara kepada Amat. "Bene
Sesampainya di rumah Irwan, Amat melihat teman-teman sedang duduk di dalam. Kemudian, Amat masuk dan langsung duduk diantara mereka."Ini ada beberapa kue buat mengganjal perut."Amat berkata sambil tersenyum dan menaruh sebuah kantongan plastik di depan mereka."Terima kasih Bang," jawab Agung dengan senyumnya.Kemudian, satu persatu dari mereka mengambil kue itu dan mulai memakannya."Beli di depan, Bang?" tanya Broto sambil memakan kuenya."Iya," jawab Amat singkat."Ditempat Pakde ya, Bang?" Radit bertanya."Aku tidak tahu." Amat menggelengkan kepalanya."Ya iya lah pasti! Siapa lagi yang jualan kue di depan selain Pakde?" Jamal menyahut pertanyaan Radit."Iya juga sih," jawab Radit sambil tersenyum.Tak lama kemudian, Adit datang dari dapur dengan membawa seteko kopi dan beberapa gelas."Pas banget nih!" Jamal berkata sambil tersenyum.Adit meletakkan teko kopi dan cangkir itu di hadapan
Malam yang semakin larut kini telah berganti dengan pagi. Cahaya matahari mulai bersinar dari upuk timur. Cahaya itu membawa kehangatan dan harapan bagi orang-orang untuk memulai pekerjaannya. Krek.... Amat terbangun saat istri Irwan membuka pintu kamarnya. Istri Irwan hanya tersenyum dan mengangguk saat melihat Amat yang sedang mengosok-gosok matanya. Setelah itu, Istri Irwan keluar setelah mengambil sesuatu dilemarinya. Amat yang terbangun segera duduk dan menyandarkan dirinya di tembok. Kemudian, Dia mengalihkan pandangannya kearah teman-temannya yang masih tertidur pulas. Dia hanya tersenyum tipis melihat teman-temannya yang masih tertidur pulas itu. Setelah itu, dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.Setelah selesai mencuci muka, Amat berjalan keluar menuju pintu. Krek.... Dia membuka pintu dan menutupnya kembali. Dia menyusuri gang kecil itu untuk menuju terminal. Dia melihat keadaan terminal yang sudah bersih dan rapi. Walaupun
Namun, tak berselang lama, Irwan datang dari arah belakang Amat. Wajahnya terlihat lesu dan seperti seseorang yang lagi kesusahan.Kemudian, Amat bertanya, "Kamu kenapa, Wan? Seperti lagi ada masalah!." Irwan tak langsung menjawab, matanya tajam memandang ke arah Amat.Dia menghela
Seminggu telah berlalu sejak kejadian malam itu. Kamal yang dirawat di rumah sakit sudah baikkan dan esok sudah bisa pulang. Para preman yang menyerang mereka kemarin juga sudah ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara.Pagi itu, Amat pergi ke kantin rumah sakit untuk sara
Polisi kemudian bertanya, "Apakah orang yang tertusuk itu temanmu?.""Iya, dia teman kami!" jawab Amat."Dan berarti orang yang ada disampingmu juga temanmu?" tanya polisi itu sambil melirik orang yang disamping Amat."I-iya dia juga teman kami!" Sambil memandang orang yang a
Taksi itu tak langsung pergi dari terminal itu. Namun, menunggu beberapa orang yang sepertinya sudah menghubungi taksi itu. Setelah tiga orang yang masuk ke dalam taksi, taksi langsung berangkat meninggalkan terminal itu.Supir taksi itu memilih jalur alternatif yang jarang d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan