Share

Bab 67

Author: Ipak Munthe
last update Last Updated: 2026-01-11 01:44:04

Sore itu, pesta akhirnya selesai. Lampu-lampu tenda mulai dipadamkan, tawa dan musik yang sempat riuh kini hanya menyisakan gema samar. Di balik senyum dan sapaan hangat, Lala menyimpan luka yang tak terlihat oleh siapa pun—rahasia dan berat, hanya dirinya yang memikulnya.

“Oma, langsung balik ke kota, ya,” ucap Oma, tersenyum hangat namun penuh kelelahan.

Lala mengangguk pelan, menahan diri agar air mata tak jatuh. Ia melambaikan tangan, menatap mobil yang perlahan menjauh. Perlahan, suara mesin dan deru jalan menyatu dengan sunyi hatinya.

Begitu mobil hilang dari pandangan, Lala menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Meski pesta telah selesai, pertarungan batin dan rahasia yang ia simpan… baru saja dimulai.

Setelah itu, Lala pun kembali masuk ke dalam rumah bersama yang lainnya. Langkahnya pelan, wajahnya masih terlihat letih.

“Bu… Lala mau langsung tidur, ya. Capek banget,” ucapnya sambil menunduk sedikit, mencoba tersenyum walau terasa berat.

“Iya, istira
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 71

    Beberapa menit kemudian, seorang dokter datang tergesa bersama perawat. Wajahnya langsung berubah serius begitu melihat kondisi Lala. “Tekanan darahnya rendah,” ujar dokter setelah memeriksa singkat. “Napasnya tidak stabil.” Aran berdiri kaku. “Tapi masih dikatakan amankan, Dok?” tanya Sofia. Dokter menoleh, sorot matanya tegas namun penuh keprihatinan. “Keadaannya sangat buruk. Pasien mengalami stres berat, dan kandungannya dalam kondisi sangat lemah.” Sofia menutup mulutnya kaget. “Maksud Dokter…?” “Jika terus berada dalam tekanan seperti ini,” lanjut dokter, “risiko keguguran sangat tinggi.” Ruangan seketika sunyi. “Kami sarankan segera dibawa ke rumah sakit,” kata dokter tegas. “Perlu observasi lebih lanjut dan perawatan intensif.” “Terima kasih. Dan satu hal lagi,” suara Bima mengeras. “Tentang keadaan adik saya, jangan sampai orang luar tahu.” “Baik, Tuan,” jawab dokter itu singkat. “Kamu boleh pergi,” lanjut Bima. Dokter dan perawat pun segera mening

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 70

    “Bos, saya harus menikah dengan Nona Lala. Anak itu adalah anak saya,” ucap Aran dengan suara mantap, seolah tak gentar. Bima terdiam. Kepalanya terasa berdengung. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya bahwa Aran—asisten yang selama ini ia percaya—memiliki hubungan sejauh itu dengan Lala. Bima dan Lala memang terlahir dari ibu yang berbeda, namun mereka memiliki ayah yang sama. Dan meski jarang menunjukkan secara terang-terangan, Bima selalu melindungi Lala dengan caranya sendiri. Diam-diam. Bahkan Aran adalah orang yang selama ini ia libatkan untuk menjaga keselamatan adiknya. Namun pagi ini, semua keyakinan itu runtuh. Sofia pun terkejut. Kakak ipar Lala itu melangkah mendekat dengan wajah bingung, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. “Kak… Lala minta maaf,” suara Lala pecah. Ia tiba-tiba berlutut di hadapan Bima. Tangannya mencengkeram lantai, punggungnya bergetar hebat seiring tangis yang tak lagi mampu ia tahan. “Kak, Lala nggak kuat lagi tinggal di

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 69

    “Bagaimana caranya aku melepaskan orang yang aku cintai?” tanya Aran putus asa. Suaranya pecah, tak lagi menyisakan ketegasan. “Kenapa bukan dari dulu?” balas Lala bingung dan kecewa. “Kenapa baru sekarang kamu mengatakan semua ini—setelah kamu menikah?” Aran menunduk. “Karena aku pikir… kita tidak sepadan.” Kalimat itu menusuk. “Apakah aku terlihat seperti perempuan gila harta?” tanya Lala lirih, matanya berkaca-kaca. “Bukan begitu,” Aran menggeleng cepat. “Aku pikir kamu hanya tertarik padaku. Selebihnya… aku pikir kamu punya seseorang di luar sana. Dan keluargamu—mereka terlalu baik padaku. Aku tidak sanggup menghancurkan kebaikan itu.” “Omong kosong,” sanggah Lala tegas. “Kamu tidak melindungi siapa pun. Kamu hanya takut.” Aran terdiam sejenak, lalu mengangkat wajahnya. “Kamu tahu kenapa sekarang aku memutuskan menerima warisan keluarga ibuku?” tanyanya. Lala diam. Ia bahkan tak pernah tahu soal warisan itu. “Agar kita seimbang,” lanjut Aran, pahit. “Agar aku

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 68

    Sepanjang perjalanan pulang, tangan Hani gemetar di setang motor. Angin malam terasa menusuk, bukan karena dingin, tapi karena perasaan bersalah yang makin menekan dadanya. Ia beberapa kali menoleh ke belakang, seolah berharap melihat Lala menyusul. Namun jalanan tetap kosong. "Lala…” gumamnya lirih. “Aku bener-bener keterlaluan.” Bayangan wajah Lala yang pucat terus terlintas di benaknya. Cara Lala memaksakan senyum, cara ia menenangkan Hani—padahal jelas-jelas Lala sendiri yang sedang butuh perlindungan. Sesampainya di rumah, suasana sudah jauh lebih sepi. Beberapa lampu masih menyala, sisa-sisa pesta belum sepenuhnya dibereskan. “Hani?” suara Bu Nining terdengar dari ruang tengah. “Kok sendiri? Lala mana?” Hani menelan ludah. “La… Lala nganter pasien rujukan ke kota, Bu,” jawabnya pelan, persis seperti yang Aran minta. “Ke kota?” Bu Nining tampak heran. “Jam segini?” “Iya, Bu. Katanya darurat,” Hani menunduk, menghindari tatapan Bu Nining. Bu Nining mengangguk, m

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 67

    Sore itu, pesta akhirnya selesai. Lampu-lampu tenda mulai dipadamkan, tawa dan musik yang sempat riuh kini hanya menyisakan gema samar. Di balik senyum dan sapaan hangat, Lala menyimpan luka yang tak terlihat oleh siapa pun—rahasia dan berat, hanya dirinya yang memikulnya. “Oma, langsung balik ke kota, ya,” ucap Oma, tersenyum hangat namun penuh kelelahan. Lala mengangguk pelan, menahan diri agar air mata tak jatuh. Ia melambaikan tangan, menatap mobil yang perlahan menjauh. Perlahan, suara mesin dan deru jalan menyatu dengan sunyi hatinya. Begitu mobil hilang dari pandangan, Lala menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Meski pesta telah selesai, pertarungan batin dan rahasia yang ia simpan… baru saja dimulai. Setelah itu, Lala pun kembali masuk ke dalam rumah bersama yang lainnya. Langkahnya pelan, wajahnya masih terlihat letih. “Bu… Lala mau langsung tidur, ya. Capek banget,” ucapnya sambil menunduk sedikit, mencoba tersenyum walau terasa berat. “Iya, istira

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 66

    Tok. Tok. Suara ketukan pintu terdengar. Lala tersentak. Ia cepat-cepat menatap bayangannya di cermin, mengusap air mata yang masih membekas di pipi. Ia menarik napas dalam-dalam, menata wajahnya sebaik mungkin. Sesaat kemudian, ia membuka pintu. Namun baru saja terbuka, pintu itu didorong dari luar. Aran masuk dengan cepat, lalu seketika menutup pintu di belakangnya. Lala mematung. Ia sama sekali tak menyangka orang yang mengetuk pintu itu adalah Aran. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Lala lalu menetralkan dirinya, mencoba melangkah untuk keluar. Sayang, Aran sudah berdiri tepat di depan pintu, menghalangi jalan. “Kak, buka,” kata Lala panik. “Aku mau keluar. Kalau ada yang lihat kita di sini gimana?” “Sejak kemarin kamu terus menghindari aku,” desak Aran. “Jawab dulu pertanyaanku.” “Pertanyaan apa? Minggir!” Lala makin gelisah. “Kalau kamu mau menghancurkan hari ini, silakan,” ucap Aran dingin. “Itu terlalu mudah. Ada banyak tamu di l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status