Share

Bab 70

Penulis: Ipak Munthe
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 08:30:35

“Bos, saya harus menikah dengan Nona Lala. Anak itu adalah anak saya,” ucap Aran dengan suara mantap, seolah tak gentar.

Bima terdiam. Kepalanya terasa berdengung. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya bahwa Aran—asisten yang selama ini ia percaya—memiliki hubungan sejauh itu dengan Lala.

Bima dan Lala memang terlahir dari ibu yang berbeda, namun mereka memiliki ayah yang sama. Dan meski jarang menunjukkan secara terang-terangan, Bima selalu melindungi Lala dengan caranya sendiri. Diam-diam. Bahkan Aran adalah orang yang selama ini ia libatkan untuk menjaga keselamatan adiknya.

Namun pagi ini, semua keyakinan itu runtuh.

Sofia pun terkejut. Kakak ipar Lala itu melangkah mendekat dengan wajah bingung, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.

“Kak… Lala minta maaf,” suara Lala pecah.

Ia tiba-tiba berlutut di hadapan Bima. Tangannya mencengkeram lantai, punggungnya bergetar hebat seiring tangis yang tak lagi mampu ia tahan.

“Kak, Lala nggak kuat lagi tinggal di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 72

    Malam merambat pelan. Rumah itu berubah hening, seolah ikut menahan napas. Di salah satu kamar, Lala sudah dipakaikan kebaya sederhana. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi sorotnya justru terlalu tenang—ketenangan yang lahir dari kelelahan panjang. Sofia yang membantu bersiap sejenak menatap Lala, ada kesedihan yang jelas terpancar dari wajah Lala. Lala duduk di tepi ranjang, tangannya gemetar memegangi perutnya. “Maaf…” bisiknya lirih. Entah pada siapa. “Kita keluar ya, penghulu sudah di luar,” kata Sofia pelan. Lala menggeleng cepat, tangannya refleks mencengkeram lengan Sofia. “Sofia… tolong bilang sama mereka. Aku nggak mau nikah sama suami orang,” mohon Lala dengan suara bergetar. Sofia terdiam. Matanya berkaca-kaca melihat wajah Lala yang pucat dan putus asa. “Kalau aku bisa, aku pasti bantu, La,” katanya jujur. “Tapi aku juga takut sama kakakmu. Aku nggak berani membantah keputusannya.” Kalimat itu seperti palu terakhir yang menghantam hati Lala. Ia melep

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 71

    Beberapa menit kemudian, seorang dokter datang tergesa bersama perawat. Wajahnya langsung berubah serius begitu melihat kondisi Lala. “Tekanan darahnya rendah,” ujar dokter setelah memeriksa singkat. “Napasnya tidak stabil.” Aran berdiri kaku. “Tapi masih dikatakan amankan, Dok?” tanya Sofia. Dokter menoleh, sorot matanya tegas namun penuh keprihatinan. “Keadaannya sangat buruk. Pasien mengalami stres berat, dan kandungannya dalam kondisi sangat lemah.” Sofia menutup mulutnya kaget. “Maksud Dokter…?” “Jika terus berada dalam tekanan seperti ini,” lanjut dokter, “risiko keguguran sangat tinggi.” Ruangan seketika sunyi. “Kami sarankan segera dibawa ke rumah sakit,” kata dokter tegas. “Perlu observasi lebih lanjut dan perawatan intensif.” “Terima kasih. Dan satu hal lagi,” suara Bima mengeras. “Tentang keadaan adik saya, jangan sampai orang luar tahu.” “Baik, Tuan,” jawab dokter itu singkat. “Kamu boleh pergi,” lanjut Bima. Dokter dan perawat pun segera mening

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 70

    “Bos, saya harus menikah dengan Nona Lala. Anak itu adalah anak saya,” ucap Aran dengan suara mantap, seolah tak gentar. Bima terdiam. Kepalanya terasa berdengung. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya bahwa Aran—asisten yang selama ini ia percaya—memiliki hubungan sejauh itu dengan Lala. Bima dan Lala memang terlahir dari ibu yang berbeda, namun mereka memiliki ayah yang sama. Dan meski jarang menunjukkan secara terang-terangan, Bima selalu melindungi Lala dengan caranya sendiri. Diam-diam. Bahkan Aran adalah orang yang selama ini ia libatkan untuk menjaga keselamatan adiknya. Namun pagi ini, semua keyakinan itu runtuh. Sofia pun terkejut. Kakak ipar Lala itu melangkah mendekat dengan wajah bingung, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. “Kak… Lala minta maaf,” suara Lala pecah. Ia tiba-tiba berlutut di hadapan Bima. Tangannya mencengkeram lantai, punggungnya bergetar hebat seiring tangis yang tak lagi mampu ia tahan. “Kak, Lala nggak kuat lagi tinggal di

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 69

    “Bagaimana caranya aku melepaskan orang yang aku cintai?” tanya Aran putus asa. Suaranya pecah, tak lagi menyisakan ketegasan. “Kenapa bukan dari dulu?” balas Lala bingung dan kecewa. “Kenapa baru sekarang kamu mengatakan semua ini—setelah kamu menikah?” Aran menunduk. “Karena aku pikir… kita tidak sepadan.” Kalimat itu menusuk. “Apakah aku terlihat seperti perempuan gila harta?” tanya Lala lirih, matanya berkaca-kaca. “Bukan begitu,” Aran menggeleng cepat. “Aku pikir kamu hanya tertarik padaku. Selebihnya… aku pikir kamu punya seseorang di luar sana. Dan keluargamu—mereka terlalu baik padaku. Aku tidak sanggup menghancurkan kebaikan itu.” “Omong kosong,” sanggah Lala tegas. “Kamu tidak melindungi siapa pun. Kamu hanya takut.” Aran terdiam sejenak, lalu mengangkat wajahnya. “Kamu tahu kenapa sekarang aku memutuskan menerima warisan keluarga ibuku?” tanyanya. Lala diam. Ia bahkan tak pernah tahu soal warisan itu. “Agar kita seimbang,” lanjut Aran, pahit. “Agar aku

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 68

    Sepanjang perjalanan pulang, tangan Hani gemetar di setang motor. Angin malam terasa menusuk, bukan karena dingin, tapi karena perasaan bersalah yang makin menekan dadanya. Ia beberapa kali menoleh ke belakang, seolah berharap melihat Lala menyusul. Namun jalanan tetap kosong. "Lala…” gumamnya lirih. “Aku bener-bener keterlaluan.” Bayangan wajah Lala yang pucat terus terlintas di benaknya. Cara Lala memaksakan senyum, cara ia menenangkan Hani—padahal jelas-jelas Lala sendiri yang sedang butuh perlindungan. Sesampainya di rumah, suasana sudah jauh lebih sepi. Beberapa lampu masih menyala, sisa-sisa pesta belum sepenuhnya dibereskan. “Hani?” suara Bu Nining terdengar dari ruang tengah. “Kok sendiri? Lala mana?” Hani menelan ludah. “La… Lala nganter pasien rujukan ke kota, Bu,” jawabnya pelan, persis seperti yang Aran minta. “Ke kota?” Bu Nining tampak heran. “Jam segini?” “Iya, Bu. Katanya darurat,” Hani menunduk, menghindari tatapan Bu Nining. Bu Nining mengangguk, m

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 67

    Sore itu, pesta akhirnya selesai. Lampu-lampu tenda mulai dipadamkan, tawa dan musik yang sempat riuh kini hanya menyisakan gema samar. Di balik senyum dan sapaan hangat, Lala menyimpan luka yang tak terlihat oleh siapa pun—rahasia dan berat, hanya dirinya yang memikulnya. “Oma, langsung balik ke kota, ya,” ucap Oma, tersenyum hangat namun penuh kelelahan. Lala mengangguk pelan, menahan diri agar air mata tak jatuh. Ia melambaikan tangan, menatap mobil yang perlahan menjauh. Perlahan, suara mesin dan deru jalan menyatu dengan sunyi hatinya. Begitu mobil hilang dari pandangan, Lala menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Meski pesta telah selesai, pertarungan batin dan rahasia yang ia simpan… baru saja dimulai. Setelah itu, Lala pun kembali masuk ke dalam rumah bersama yang lainnya. Langkahnya pelan, wajahnya masih terlihat letih. “Bu… Lala mau langsung tidur, ya. Capek banget,” ucapnya sambil menunduk sedikit, mencoba tersenyum walau terasa berat. “Iya, istira

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status