Batalnya Pernikahan Sang CEO

Batalnya Pernikahan Sang CEO

last updateLast Updated : 2025-12-07
By:  NH_berkahOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
12Chapters
252views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Aku tidak butuh tanggung jawabmu dengan pernikahan, Bastian. Tapi cukup kau bayarkan utang ibuku pada pamanku!" "Apa kamu gadis yang bodoh? Bukankah dengan pernikahan kamu bisa meminta segalanya? Coba pikirkan!" ucap seorang pria di depannya. degh! Nara tersadar. Benar yang dikatakan Bastian pria di hadapannya ini. Dengan pernikahan, dia bisa meminta apapun yang ia inginkan. Terlebih lagi, Bastian adalah pemilik hotel tempatnya bekerja. Tapi.... "Tapi aku bukan cewek matre, Bastian. Jangan samakan aku dengan yang lain." "Aku bukan mereka!" tegaskan Nara. "Jika alasanmu tidak ingin menikah sebab takut disangka matre, lalu apa dengan pernyataan ini, apa kamu bisa mengelaknya?" "Pernyataan apa maksudmu?" "Maaf, kamu sudah ternoda. Apa dengan keadaanmu seperti ini kamu masih punya harga diri untuk minta dinikahi pria lain? Coba pikirkan sekali lagi!" Nara terdiam. Perkataan Bastian seperti penghinaan tersendiri untuknya. walau kenyataannya memang benar seperti itu. "Kurang ajar kamu Bastian! Kamu pria bren**ek! Baj**gan! Kamu sudah tega merenggut semua masa depanku." umpat Nara sangking kesalnya tapi tak bisa berbuat apa-apa. "Jadi bagaimana, setuju dengan tawaranku atau...?" >> Hai kak, ikuti kisah Nara dan Bastian sampai selesai ya. terimakasih <<

View More

Chapter 1

bab 1 (BPSC)

"Batalkan pernikahan ini! Aku tidak bisa datang!" Suara Bastian memecah keheningan dalam kamar tersebut.

Ponsel seketika ia matikan dan ia simpan kembali di atas meja. Berbalik belakang, dirinya mendapati gadis yang baru saja ia nodai semalam sedang menatapnya tajam.

Bastian yang paham dengan tatapan gadis itu cukup menanggapinya dengan keadaan diri yang tenang dan santai.

"Bastian, seenaknya kamu batalkan acara sakral itu?! Kamu benar-benar keterlaluan!"

"Itu pernikahanmu. Dan kamu tahu, kamu telah memalukan seluruh keluarga besarmu di sana." Nara marah. Berapi-api menatap Bastian. Pria yang semalam dengan keadaan setengah sadar telah merenggut kesuciannya.

"Ada apa denganmu, gadis kecil? Kurasa, aku tak melakukan kesalahan apapun." Ucapnya santai sambil melihat wanita yang sedang duduk di atas ranjang itu.

"Kamu masih saja tak mengerti letak kesalahanmu dimana? Dengarkan aku baik-baik! Akan ku beritahu,"

"Pertama, kamu sudah menodaiku semalam. Kedua,- ?" Nara menghentikan sejenak ucapannya kala Bastian menyahut.

"Huum? Lalu?" Sahutnya pelan tanpa amarah saat melihat Keynara.

Nara sejenak melengos dari tatapan mata elang Bastian yang bisa kapan saja memabukkan dirinya itu. "Kedua, kamu sudah membatalkan pernikahanmu sesuka hati,"

"Itu artinya, di saat yang sama, kamu sudah menyakiti perasaan dua wanita."

"Kamu benar-benar brengsek, brengsek kamu Bastian! Kurang ajar!" Umpat Nara menggebu.

Bastian menarik napasnya dalam-dalam dan,... "Ada lagi yang ingin disampaikan?" Tanyanya sambil berjalan lebih dekat dengan ranjang Nara.

"Kamu bajingan!" Sekali lagi, Nara mengumpatnya dengan kata-kata kasar.

Menurutnya, kata-kata kasar itu tidaklah cukup untuk Bastian. Kalau perlu dan boleh, dia ingin sekali menghajar Bastian saat ini juga. Terlampau kesal dan marah dengan ulah Bastian semalam.

Membungkuk sedikit menatap Nara, Bastian langsung mengusap lembut kepalanya sambil berkata, "Pergilah mandi! Bersihkan tubuhmu. Setelah itu kita sarapan." Tuturnya lembut.

"Jangan sok perhatian, Bastian! Pikirkan perasaan calon istri dan keluarga besarmu sekarang!"

"Mereka pasti akan kecewa dan marah besar karena kau permalukan!"

"Satu lagi, kita tidak saling kenal sebelumnya. Jadi jangan sok menjadi bagian penting dalam hidupku!"

"Untuk ke depannya nanti, aku tidak ingin mengenalmu lagi! Anggap saja, kita tidak pernah melakukan hal apapun sebelumnya,"

"Lupakan! Pokoknya lupakan. Titik!" Ucap Nara penuh penekanan. Tatapannya pun tajam mengarah Bastian.

"Aku tidak akan lupa, Nara. Dan ke depannya nanti, kita akan sering komunikasi dan bertemu." Ujarnya.

"Seperti janjiku yang akan bertanggung jawab seratus persen atas dirimu. Jangan lupakan itu!" Bastian tetap mengingatkannya dengan janjinya semalam dan tadi jika ia akan bertanggung jawab sepenuhnya atas Nara.

"Aku tidak mau. Dan aku tidak sudi menerima tanggung jawab darimu." Nara tetap menolaknya.

"Baik, kita lihat saja nanti." Bastian mengalah dari perdebatan mereka. Namun dibalik itu, ada senyum tipis tersungging dalam hatinya.

Nara yang seperti bisa membaca pikiran orang seketika memakinya kembali. "Brengsek kamu, Bastian." Katanya dengan wajah yang merah padam sebab marah. Dia seperti sedang dipermainkan oleh Bastian.

Mereka saling beradu tatap. Tanpa ada yang ingin mengalah dari salah satunya untuk mengalihkan pandangannya. Kobaran api terlihat jelas dimata Nara sejak tadi.

Sementara Bastian, santai dan terlihat tetap tenang seperti tak terjadi masalah besar diantara mereka sebelumnya. Namun tiba-tiba,....

"Sebab diri lelaki brengsek, maka izinkan aku menjadi lelaki baik di hadapanmu," ucap Bastian manis.

"Aku tidak peduli. Minggirlah!" Sahut Nara tak ada manis-manisnya sama sekali saat berkata.

Bukan tangis lagi yang ia tunjukkan seperti semalam, melainkan wajah dan perasaan super kesal, marah, kecewa teramat dalam terhadap diri Bastian yang sudah menodainya.

Kesal dan juga nyesal sebab kebaikan dirinya justru membawa petaka untuknya dan masa depannya kelak. Semua terjadi gara-gara dirinya mengantar minuman ke kamar Bastian semalam.

Andai tahu akan terjadi seperti ini, maka akan ia biarkan teman seprofesinya yang mengantar minuman ke kamar Bastian. Tidak perlu repot diri ini menawarkan bantuan.

Waktu berlalu,...

Nara sudah selesai mandi dan memakai baju seadanya milik Bastian di kamar tersebut. Hanya kaos oblong berukuran big size dan celana panjang yang super besar kedodoran untuknya.

Suara bel pintu memecah keheningan yang ada di kamar tersebut. Nara menoleh, tapi tidak ingin beranjak dari tempat duduknya untuk membuka pintu. Dia takut jika yang datang teman seprofesinya.

Jangan sampai, mereka melihat dirinya satu kamar dengan Bastian. Bisa jadi bumerang untuknya nanti.

Bastian yang paham dengan keadaan ini tak banyak suara cukup dengan tindakan ia bangkit dari duduknya pergi membuka pintu. Dia tahu, yang datang itu asisten pribadinya yang ia suruh membeli makanan tadi.

Benar saja setelah pintu dibuka, ada Bara di depannya. "Pagi, bos?"

"Ya, pagi. Apa kamu sudah membawanya?" Tanya Bastian diambang pintu.

"Sudah bos, semua lengkap di dalam sini," jawab Bara menyerahkan beberapa paper bag yang ia bawa kepada Bastian.

"Terimakasih."

"Jika ada yang dibutuhkan lagi, kabari saya bos." Pesan Bara.

"Ya."

"Oh ya, Om Saka dan tante Anja terus menghubungiku sejak pagi tadi. Menanyakan keberadaan anda sekarang." ucap Bara memberitahu.

"Lakukan saja seperti yang kukatakan sebelumnya. Abaikan kalau perlu matikan atau blokir kontak mereka sementara." Saran Bastian tak peduli.

"Sudah saya lakukan sesuai keinginan anda, bos."

"Bagus." Bastian memujinya.

"Kalau begitu, saya permisi."

"Ya. Jangan lupa ambil kunci duplikat kamar ini di resepsionis."

"Dan ingat, jangan beritahu siapapun tentang keberadaanku di sini!" Pesannya.

"Baik bos, permisi." Pamitnya pergi dari sana.

Mengunci kembali pintunya, Bastian berjalan mendekat ke arah Nara menyodorkan satu paper bag yang berisi pakaian wanita pada Nara.

"Tidak perlu khawatir, yang datang tadi Bara."

"Dia membawa pakaian untukmu. Kamu bisa menggantinya dengan yang baru." Tutur Bastian di hadapan Nara.

"Terimakasih," sahut Nara tanpa basa-basi menerima paper bag tersebut.

"Jika kamu nyaman dengan milikku, pakailah! Aku tidak keberatan." Ujar Bastian lagi memberi pilihan.

"Aku akan memakainya," sahut Nara cepat, berlalu dari hadapan Bastian. Dia pergi ke kamar mandi mengganti pakaiannya di sana.

Tapi alangkah terkejutnya saat dirinya melihat pakaian yang dibawakan asisten pribadi Bastian itu.

"Astaghfirullah... Pakaian apa ini?!" Nara terkejut bukan main.

Sebuah dress teramat mini dan ketat dengan belahan bawah yang teramat tinggi sampai dipaha membuatnya bergetar sendiri melihat itu.

"Sebenarnya, mereka ini niat membelikan pakaian untukku apa tidak sih? Kalau niat, kenapa harus modelan begini?"

"Ini bukan pakaianku. Tapi ini pakaian seorang LC." Ujarnya.

"Keterlaluan sekali mereka. Bos dan asisten sama-sama gak ada akhlaq!" Gerutu Nara kesal sekali.

Sebuah ketukan dan panggilan menghentikan fokusnya dari pakaian yang menurutnya sangat menjijikkan ini. Sangat tak pantas untuk dipakai.

"Nara, apa kamu baik-baik saja di dalam?" Tanya Bastian saat mengetuk pintu kamar mandi.

"Ya, aku baik."

"Kenapa lama sekali? Cepat keluar!" Perintahnya.

"Ak-aku...?"

"Keluar Nara!" Perintah Bastian sekali lagi.

Tak ingin berlama-lama dikamar mandi takut Bastian menggila, Nara memasukkan dress tersebut sembarangan yang penting asal masuk saja ke tempatnya.

Ceklek!!

Pintu dibuka. Bastian menyipitkan matanya saat melihat pakaiannya yang masih menempel ditubuh Nara.

"Apa kamu tidak menggantinya?" Bastian spontan bertanya.

"Ini bukan pakaianku. Kamu bisa memberikannya pada wanita lain. Maaf, aku pinjam yang kupakai." Jawab Nara acuh.

"Apa Bara salah membelikan pakaian untukmu?" Nara hanya mengendikkan bahunya saja dengan terus berjalan melewati Bastian.

"Nara, ayo jawab!" Bastian tidak puas dengan tanggapan tersebut.

"Lihat aja sendiri." Ucap Nara sembari duduk di ujung tempat tidur.

Mendengar ucapan Nara, Bastian langsung saja melihatnya. Dan .... "Astaghfirullah?!" Bastian sama terkejutnya seperti Nara.

"Kenapa istighfar? Bukankah itu bukti jika selama ini kamu sering gonta-ganti wanita?"

"Pakaian seperti itu 'kan, yang sering kau pesan dari asisten pribadimu untuk diberikan pada semua wanita-wanita yang sudah kau pakai?"

"Nara, jangan memfitnah! Aku tidak pernah melakukannya."

"Aku tidak percaya. Untung, mbak Bella tidak jadi menikah denganmu."

"Walau pahit dijalani dan sangat memalukan sebab batal menikah, tapi setidaknya mbak Bella bisa terbebas dari laki-laki bren**ek, pemain wanita sepertimu!" Cibir Nara.

"Astaghfirullah.... Nara, jangan keterlaluan!"

"Aku hanya mengungkapkan sesuai fakta."

***

Bersambung,...

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

NH_berkah
NH_berkah
Hai kakak readers yg udh mampir, lanjut baca buku pertamaku di sini yaa, sampai tamat. terimakasih...
2025-11-19 21:20:19
2
0
12 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status