Batalnya Pernikahan Sang CEO

Batalnya Pernikahan Sang CEO

last updateLast Updated : 2026-01-15
By:  NH_berkahOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
16Chapters
803views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Aku tidak butuh tanggung jawabmu dengan pernikahan, Bastian. Tapi cukup kau bayarkan utang ibuku pada pamanku!" "Apa kamu gadis yang bodoh? Bukankah dengan pernikahan kamu bisa meminta segalanya? Coba pikirkan!" ucap seorang pria di depannya. degh! Nara tersadar. Benar yang dikatakan Bastian pria di hadapannya ini. Dengan pernikahan, dia bisa meminta apapun yang ia inginkan. Terlebih lagi, Bastian adalah pemilik hotel tempatnya bekerja. Tapi.... "Tapi aku bukan cewek matre, Bastian. Jangan samakan aku dengan yang lain." "Aku bukan mereka!" tegaskan Nara. "Jika alasanmu tidak ingin menikah sebab takut disangka matre, lalu apa dengan pernyataan ini, apa kamu bisa mengelaknya?" "Pernyataan apa maksudmu?" "Maaf, kamu sudah ternoda. Apa dengan keadaanmu seperti ini kamu masih punya harga diri untuk minta dinikahi pria lain? Coba pikirkan sekali lagi!" Nara terdiam. Perkataan Bastian seperti penghinaan tersendiri untuknya. walau kenyataannya memang benar seperti itu. "Kurang ajar kamu Bastian! Kamu pria bren**ek! Baj**gan! Kamu sudah tega merenggut semua masa depanku." umpat Nara sangking kesalnya tapi tak bisa berbuat apa-apa. "Jadi bagaimana, setuju dengan tawaranku atau...?" >> Hai kak, ikuti kisah Nara dan Bastian sampai selesai ya. terimakasih <<

View More

Chapter 1

bab 1 (BPSC)

"Batalkan pernikahan ini! Aku tidak bisa datang!" Suara Bastian memecah keheningan dalam kamar tersebut.

Ponsel seketika ia matikan dan ia simpan kembali di atas meja. Berbalik belakang, dirinya mendapati gadis yang baru saja ia nodai semalam sedang menatapnya tajam.

Bastian yang paham dengan tatapan gadis itu cukup menanggapinya dengan keadaan diri yang tenang dan santai.

"Bastian, seenaknya kamu batalkan acara sakral itu?! Kamu benar-benar keterlaluan!"

"Itu pernikahanmu. Dan kamu tahu, kamu telah memalukan seluruh keluarga besarmu di sana." Nara marah. Berapi-api menatap Bastian. Pria semalam yang dengan keadaan setengah sadar telah merenggut kesuciannya.

"Ada apa denganmu, gadis kecil? Kurasa, aku tak melakukan kesalahan apapun." Ucapnya santai sambil melihat wanita yang sedang duduk di atas ranjang itu.

"Kamu masih saja tak mengerti letak kesalahanmu dimana? Dengarkan aku baik-baik, akan ku beritahu,"

"Pertama, kamu sudah menodai ku semalam. Kedua,- ?" Nara sejenak melengos kala Bastian menyahut.

"Hum... Lalu?" Ucapnya pelan tanpa amarah saat melihat Keynara.

"Kedua, kamu sudah membatalkan pernikahanmu sesuka hati,"

"Itu artinya, di saat yang sama, kamu sudah menyakiti perasaan dua wanita, Bastian."

"Kamu brengsek. Benar-benar brengsek kamu Bastian! Kurang ajar!" Umpat Nara menggebu.

Bastian menarik napasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan. "Ada lagi yang ingin disampaikan?" Tanyanya sambil berjalan lebih dekat dengan ranjang Nara.

"Kamu bajingan!" Sekali lagi, Nara mengumpatnya dengan kata-kata kasar.

Menurutnya, kata-kata kasar itu tidaklah cukup untuk Bastian. Kalau perlu dan boleh, dia ingin sekali menghajar Bastian saat ini juga. Terlampau kesal dan marah dengan ulah Bastian semalam.

Membungkuk sedikit menatap Nara, Bastian langsung mengusap lembut kepalanya sambil berkata, "Pergilah mandi, bersihkan tubuhmu. Setelah itu kita sarapan." Tuturnya lembut.

"Jangan sok perhatian, Bastian! Pikirkan perasaan calon istri dan keluarga besarmu sekarang!"

"Mereka pasti akan kecewa dan marah besar karena kau permalukan!"

"Satu lagi, kita tidak saling kenal sebelumnya. Jadi jangan sok menjadi bagian penting dalam hidupku!"

"Untuk ke depannya nanti, aku tidak ingin mengenalmu lagi! Anggap saja, kita tidak pernah melakukan hal apapun sebelumnya,"

"Lupakan! Pokoknya lupakan. Titik!" Ucap Nara penuh penekanan. Tatapannya pun tajam mengarah Bastian.

"Aku tidak akan lupa, Nara. Dan ke depannya nanti, kita akan sering komunikasi dan bertemu." Ujar Bastian tak ingin kalah.

"Seperti janjiku yang akan bertanggung jawab seratus persen atas dirimu. Jangan lupakan itu!" Bastian tetap mengingatkan lagi akan janjinya semalam dan tadi jika ia ingin bertanggung jawab sepenuhnya atas Nara.

"Aku tidak mau. Dan aku tidak sudi menerima tanggung jawab darimu." Nara kekeh menolaknya.

"Baik, kita lihat saja nanti." Bastian mengalah dari perdebatan mereka. Namun dibalik itu, ada senyum tipis tersungging dalam hatinya.

Nara yang seperti bisa membaca pikiran orang seketika memakinya kembali. "Brengsek kamu, Bastian." Katanya dengan wajah merah padam karena marah. Diri merasa sedang dipermainkan oleh Bastian.

Mereka saling beradu tatap kali ini. Tak ada yang ingin mengalah dari salah satunya. Kobaran api terlihat jelas dimata Nara sejak tadi.

Sementara Bastian, tetap santai dan terlihat tenang seperti tak terjadi masalah besar diantara mereka sebelumnya.

"Nara, sebab diri lelaki brengsek, maka izinkan aku menjadi lelaki baik di hadapanmu," ucap Bastian serius.

"Aku tidak peduli. Minggir lah!" Nara ogah menanggapi omong kosong Bastian yang menurutnya cuma rayuan semata.

Sekarang, bukan tangis lagi yang Nara tunjukkan seperti semalam, melainkan wajah super kesal, marah serta kecewa teramat dalam terhadap Bastian yang sudah menodainya.

Kesal dan juga nyesal sebab kebaikan dirinya justru membawa petaka untuk masa depannya kelak. Semua terjadi gara-gara dirinya mengantar minuman ke kamar Bastian semalam.

Andai tahu akan terjadi seperti ini, maka akan ia biarkan teman seprofesinya itu yang mengantar minuman ke kamar Bastian. Tidak perlu repot diri ini menawarkan bantuan.

Waktu berlalu,...

Nara sudah selesai mandi dan memakai baju seadanya milik Bastian di kamar tersebut. Hanya kaos oblong berukuran big size dan celana panjang yang super besar kedodoran untuknya.

Suara bel pintu memecah keheningan yang ada di kamar tersebut. Nara menoleh, tapi tidak ingin beranjak dari tempat duduknya untuk membuka pintu. Dia takut jika yang datang teman seprofesinya.

Jangan sampai, mereka melihat dirinya satu kamar dengan Bastian. Bisa jadi bumerang untuknya nanti.

Bastian yang paham dengan keadaan ini tak banyak suara cukup dengan tindakan ia bangkit membuka pintu. Karena dia tahu, yang datang itu asisten pribadinya yang ia suruh membeli makanan.

Benar saja setelah pintu dibuka, ada Bara di sana. "Pagi, bos?"

"Ya, pagi. Apa kamu sudah membawanya?" Tanya Bastian diambang pintu.

"Sudah bos, semua lengkap di dalam sini," jawab Bara menyerahkan beberapa paper bag yang ia bawa kepada Bastian.

"Terimakasih."

"Jika ada yang dibutuhkan lagi, kabari saya bos." Pesan Bara.

"Ya."

"Oh ya, Om Saka dan tante Anja terus menghubungiku sejak pagi tadi. Menanyakan keberadaan anda sekarang." Bara memberitahu.

"Lakukan saja seperti yang kukatakan sebelumnya. Abaikan kalau perlu matikan atau blokir kontak mereka sementara." Saran Bastian yang tak peduli dengan kepanikan orang tuanya.

"Sudah saya lakukan sesuai keinginan anda, bos."

"Bagus." Bastian memujinya.

"Kalau begitu, saya permisi."

"Ya. Jangan lupa ambil kunci duplikat kamar ini di resepsionis."

"Dan ingat, jangan beritahu siapapun tentang keberadaanku di sini!"

"Baik bos, permisi." Pamitnya pergi.

Mengunci kembali pintunya, Bastian berjalan mendekat ke arah Nara menyodorkan satu paper bag yang berisi pakaian wanita.

"Tidak perlu khawatir, yang datang tadi Bara."

"Dia membawa pakaian untukmu. Kamu bisa menggantinya dengan yang baru." Tutur Bastian di hadapan Nara.

"Terimakasih," tanpa basa-basi, Nara menerima paper bag tersebut.

"Jika kamu nyaman dengan milikku, pakailah! Tak perlu diganti. Aku tidak keberatan." Ujar Bastian memberi pilihan.

"Aku akan memakai yang baru," sahut Nara cepat kemudian berlalu dari hadapan Bastian. Dia pergi ke kamar mandi guna mengganti bajunya.

Namun, alangkah terkejutnya saat diri melihat pakaian yang dibawakan asisten pribadi Bastian itu. "Astaghfirullah... Pakaian apa ini?!" Nara membelalak melihatnya.

Sebuah dress teramat mini dan ketat dengan belahan bawah yang teramat tinggi sampai di paha, membuatnya gemetar sendiri saat melihat.

"Sebenarnya, mereka ini niat membelikan baju untukku apa tidak sih? Kalau niat, kenapa harus modelan begini?"

"Ini jelas bukan pakaianku. Tapi pakaian seorang LC."

"Keterlaluan sekali mereka. Bos dan asisten sama-sama gila!" Gerutu Nara kesal.

Sebuah ketukan dan panggilan membuyarkan fokusnya dari pakaian menjijikkan ini. Pakaian yang sangat tidak pantas untuk dipakai.

"Nara, apa kamu baik-baik saja di dalam?" Bastian mengetuk pintu kamar mandi sambil bertanya.

"Ya, aku baik."

"Kenapa lama sekali? Cepat keluar!" Perintahnya.

"Ak-aku...?"

"Keluar Nara!" Perintah Bastian sekali lagi.

Tak ingin berlama-lama dikamar mandi takut Bastian menggila, Nara akhirnya memasukkan dress tersebut sembarangan yang penting asal masuk saja ke tempatnya.

Ceklek!!

Pintu dibuka. Bastian menyipitkan mata saat melihat pakaiannya masih menempel ditubuh Nara.

"Apa kamu tidak menggantinya?" Bastian spontan bertanya.

"Ini bukan pakaianku. Kamu bisa memberikannya pada wanita lain. Maaf, aku pinjam yang kupakai." Nara acuh.

"Apa Bara salah membelikan pakaian untukmu?" Nara cuma mengendikkan bahunya saja dengan berjalan santai melewati Bastian.

"Nara, ayo jawab!" Bastian tidak puas dengan tanggapan tersebut. Dia membuntuti Nara dibelakang.

"Lihat aja sendiri." Ucap Nara setelah duduk di ujung tempat tidur.

Mendengar jawaban ketus itu, Bastian langsung saja membuka isi dari paper bag itu. "Astaghfirullah?!" Dia sama terkejutnya seperti Nara.

"Kenapa istighfar? Bukankah itu bukti jika selama ini kamu sering gonta-ganti wanita?"

"Pakaian seperti itu 'kan, yang sering kau pesan dari asisten pribadimu untuk diberikan pada wanita-wanita yang sudah kau pakai?"

"Nara, jangan memfitnah! Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun. Kecuali kamu."

"Aku tidak percaya. Untung mbak Bella tidak jadi menikah denganmu."

"Walau pahit dijalani di awal dan sangat memalukan karena batal menikah, seenggaknya mbak Bella sudah selamat dan terbebas dari lelaki bren**ek pemain wanita sepertimu!" Cibir Nara.

"Allahu'Akbar Nara!! Jangan keterlaluan."

"Aku hanya mengungkapkan sesuai fakta Bastian, tidak memfitnah."

***

Bersambung,...

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

NH_berkah
NH_berkah
Hai kakak readers yg udh mampir, lanjut baca buku pertamaku di sini yaa, sampai tamat. terimakasih...
2025-11-19 21:20:19
3
0
16 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status