Partager

Bab 205

Auteur: Joker Sarjana
last update Date de publication: 2026-03-12 22:06:57

Radit menceritakan tentang tawaran perpanjangan kontrak dan keputusannya untuk menerimanya dengan pengaturan bolak-balik Jakarta.

Mama Jessica terlihat bimbang.

"Radit, Mama senang kamu punya kehidupan yang baik di Singapura. Tapi... Mama juga kangen kamu. Dan yayasan itu butuh kamu lebih dari sebulan sekali."

"Mah, teknologi sekarang sudah canggih. Aku bisa rapat virtual hampir setiap hari kalau perlu..."

"Itu tidak sama, Radit," potong Papa dengan nada yang serius. "Kepemimpinan itu tidak cum
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Godaan Mama Muda   Bab 335

    Pagi itu, rumah mewah Victor Lang Junior terasa terlalu hening untuk Kara. Kamar tidurnya yang luas dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal yang bergantung seperti bintang-bintang kecil, seharusnya membuatnya merasa seperti putri. Tapi Kara justru merasa seperti burung kecil yang terkurung dalam sangkar emas yang dingin.Ia duduk di tepi ranjang king-size yang baru, memeluk bantal besar beraroma lavender, matanya kosong menatap taman luas di balik jendela kaca besar. Pohon-pohon hijau tertata rapi, air mancur mengalir tenang, tapi semua itu tak mampu mengisi kekosongan di dada kecilnya.Pintu kamar terbuka pelan. Victor Junior masuk dengan senyum lembut, membawa nampan sarapan yang terlihat seperti dari restoran bintang lima: pancake fluffy dengan topping buah segar, sirup maple asli, dan secangkir cokelat panas yang mengepul harum.“Pagi, adik kecilku,” sapanya lembut sambil meletakkan nampan di meja kayu mahoni. “Kamu tidur nyenyak semalam?”Kara menggeleng pelan, rambutnya ya

  • Godaan Mama Muda   Bab 334

    Pagi itu datang dengan sinar matahari yang terlalu terang, menyusup melalui tirai sutra tebal dan menerangi setiap sudut kamar mewah yang terasa asing bagi Kara.Ruangan itu luas sekali, penuh dengan mainan dan boneka baru yang masih berlabel harga, seolah semuanya berusaha menggantikan kehangatan yang hilang.Namun bagi Kara, semua itu terasa dingin. Ia duduk meringkuk di tepi ranjang raksasa, lutut didekap erat ke dada, sementara tangannya sesekali meraba-raba sisi ranjang yang kosong—mencari boneka kelinci kesayangannya yang kini hanya tinggal kenangan.Ia belum memejamkan mata sejak semalam. Setiap kali mencoba, suara Papa yang mabuk kembali bergema di kepalanya: “Aku menyesal Kara lahir…”Kara menarik napas panjang, berusaha menahan sesak di dada. Pintu kamar diketuk pelan. Tiga ketukan yang sopan, tapi penuh perhitungan.Victor Lang Junior masuk dengan senyum lembut yang sudah terlalu sering Kara lihat—senyum yang dipaksakan, senyum yang menyembunyikan sesuatu. Di tangannya ad

  • Godaan Mama Muda   Bab 333

    Mobil hitam itu melaju pelan meninggalkan gerbang rumah, lampu belakangnya menyala merah seperti dua mata setan yang mengejek di kegelapan malam. Radit berdiri membeku di tengah jalan, tubuhnya kaku seolah waktu berhenti berputar. Boneka kelinci Kara yang sudah usang masih didekap erat di dadanya, seolah itu satu-satunya yang tersisa dari anak perempuannya.“KARA!!!” teriaknya, suara itu pecah bagai kaca yang hancur, bergema menyayat di keheningan malam. Ia berlari menyusul mobil itu dengan langkah gontai, tapi Maya segera menahan lengannya dari belakang. Tubuh istrinya juga gemetar hebat.“Radit… dia sudah pergi,” bisik Maya lirih, air matanya jatuh tanpa henti membasahi punggung suaminya. “Dia memilih sendiri… dia bilang dia butuh yakin…”Di belakang mereka, Arka menangis keras dalam pelukan Alya. Suara kecilnya penuh keputusasaan, “Kak Kara… jangan pergi!! Arka kangen!! Arka mau Kak Kara pulang!!” Tangisannya menyayat hati siapa pun yang mendengar, memb

  • Godaan Mama Muda   Bab 332

    Malam berikutnya datang bagaikan hukuman yang tak terelakkan. Langit hitam pekat menyelimuti rumah besar itu, seolah ikut merasakan kesedihan yang menggantung berat di udara.Rumah telah dijaga ketat. Puluhan polisi dan petugas keamanan swasta berjaga di setiap titik masuk. Semua pintu terkunci ganda, kamera pengawas menyala terang di setiap sudut, dan lampu sorot menyapu halaman secara bergantian. Namun Radit tahu, ancaman kali ini bukan datang dari luar pagar. Ancaman terbesar justru bersemayam di dalam hati putrinya sendiri.Sejak pagi, Kara hampir tak bersuara. Gadis kecil itu makan hanya beberapa suap, bermain sebentar dengan Arka di ruang tengah, lalu kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Boneka kelinci kesayangannya tak pernah lepas dari pelukan. Ia memeluknya erat seolah benda itu adalah satu-satunya pegangan yang tersisa di dunia yang tiba-tiba terasa asing.Radit duduk di lantai tepat di depan pintu kamar Kara sejak sore hari. Punggungnya bersa

  • Godaan Mama Muda   Bab 331

    Malam itu, rumah terasa seperti benteng yang sedang dikepung musuh tak kasat mata. Angin malam yang biasanya sejuk terasa dingin menusuk tulang. Radit berdiri sendirian di teras belakang, cahaya layar ponsel menyinari wajahnya yang tegang. Pesan dari Victor Lang Junior masih terbuka, kata-katanya seperti racun yang meresap pelan ke dalam jiwa.“Besok malam. Aku akan ambil Kara di depan matamu. Dan kali ini… aku akan pakai cara yang paling menyakitkan. Cara yang membuatnya sendiri yang meminta pergi darimu.”Tangan Radit gemetar. Ia mengepalkan kepalan tangan yang satu lagi hingga buku jarinya memutih.Tiba-tiba sepasang tangan lembut melingkar di pinggangnya dari belakang. Maya. Istri yang selalu menjadi sandarannya di saat-saat tersulit. “Kita harus hubungi Pak Budi sekarang juga,” bisik Maya, suaranya pelan tapi tegas. “Kita nggak boleh menunggu sampai besok malam. Dia sudah gila, Dit.”Radit mengangguk pelan, tapi matanya

  • Godaan Mama Muda   Bab 330

    Mobil Radit berhenti mendadak di depan rumah. Ban mobil nyaris menjerit di aspal. Jari-jarinya masih mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Suara Victor Lang Junior masih bergema di kepalanya seperti vonis mati yang tak terhindarkan.“Pa… orang itu siapa?” tanya Kara pelan dari kursi belakang. Suaranya kecil, hampir tak terdengar, tapi sudah tak ada getaran ketakutan yang dulu sering membuatnya gemetar. Kini hanya ada kelelahan yang dalam, seperti anak kecil yang sudah terlalu sering melihat dunia orang dewasa yang kejam.Radit menoleh, berusaha tersenyum meski bibirnya terasa kaku. “Papa nggak akan biarkan dia ambil kamu, Sayang. Kita masuk dulu ya.”Di dalam rumah, aroma pancake hangat menyambut mereka. Maya dan Arka sudah menunggu di meja makan. Senyum Maya yang semula cerah langsung pudar begitu melihat wajah suaminya yang pucat dan tegang.“Apa lagi?” tanya Maya, suaranya langsung berubah was-was.Radit duduk di

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status