INICIAR SESIÓNKara berdiri di ambang ruang tamu, tangan kecilnya masih bergandengan dengan Arka. Wajahnya berbinar seperti lampu natal yang baru dinyalakan."Papa! Mama! Arka bilang dia mau tidur di sini besok malam! Boleh ya? Kita bisa main mobil-mobilan sampai pagi, terus bangun bareng, terus sarapan bareng!"Arka mengangguk malu-malu di sampingnya, matanya besar penuh harap. "Boleh, Om? Kak Kara bilang ada kamar tamu yang kosong."Ruangan seolah membeku.Radit merasa darahnya berhenti mengalir sejenak. Ia melirik Maya sekilas, istrinya masih tersenyum, tapi senyum itu kaku, seperti topeng yang hampir retak. Tangan Maya di pangkuannya mengepal pelan."Wah… itu ide yang seru ya," kata Radit akhirnya, suaranya berhasil terdengar ringan. Ia berlutut di depan kedua anak itu, mengusap kepala Kara dan Arka bergantian. "Tapi besok malam masih agak jauh. Kita lihat dulu ya, nanti Papa dan Mama atur. Sekarang kalian main dulu di kamar Kara. Ada trek mobil baru loh."Kara cemberut sebentar, tapi Arka langs
Radit bangun jam lima pagi, matanya perih karena semalaman hampir tidak tidur. Ia menyelinap ke ruang tamu sambil membawa ponsel cadangan dan kamera kecil yang dibeli online kemarin malam.Dengan tangan gemetar ia memasang kamera di rak buku, sudut yang tepat untuk merekam seluruh sofa dan meja tamu. Ponsel cadangan diletakkan di laci meja, rekaman aktif, mikrofon diarahkan ke tengah ruangan. Semua sudah diuji. Semua sudah siap.Maya muncul dari dapur dengan dua cangkir kopi. Wajahnya pucat, tapi matanya tajam. "Sudah nyala?" tanyanya pelan.Radit mengangguk. "Semua rekaman otomatis ke cloud. Kalau ada yang aneh, kita punya bukti."Mereka tidak banyak bicara lagi. Hanya saling pandang sebentar, lalu Maya kembali ke dapur menyiapkan sarapan untuk Kara. Hari ini mereka berdua yang antar ke sekolah. Tidak ada yang mau meninggalkan putrinya sendirian, meski hanya sebentar.Kara turun dengan seragam yang rapi, tapi langkahnya lebih pelan dari biasanya. Ia memeluk boneka kelincinya erat-e
Jam menunjukkan pukul lima lewat lima puluh. Radit duduk sendirian di meja makan, laptop terbuka di depannya. Layar menyala terang di tengah kegelapan ruangan. Di hadapannya adalah draft revisi Lena, dokumen yang sudah ia baca ulang berkali-kali sampai matanya perih.Tangan Radit gemetar saat ia menggerakkan mouse ke kolom tanda tangan digital. Maya berdiri di belakangnya, tangannya bertumpu di bahu suaminya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Hanya napas yang berat dan detak jam dinding yang terdengar terlalu keras."Aku nggak percaya aku benar-benar melakukan ini," gumam Radit. Suaranya parau karena semalaman tidak tidur.Maya menekan bahunya lebih kuat. "Kita cuma beli waktu. Ini bukan menyerah. Ini strategi. Ingat kata Pak Budi, kita kumpulkan bukti, kita siapkan tuntutan. Tapi hari ini... hari ini kita lindungi Kara dulu."Radit mengangguk pelan. Ia menekan tombol "Tanda Tangani". Layar berkedip, lalu muncul tanda centang hijau. Dokumen terkirim ke email Lena, Alya, da
Radit menatap layar ponselnya lama sekali. Jarinya melayang di atas tombol balas, tapi tidak kunjung menekan.Di sampingnya, Maya duduk diam, tangannya mencengkeram tepi kursi mobil sampai buku jarinya memutih. Di depan mereka, gerbang sekolah Kara masih ramai dengan anak-anak yang berlarian masuk kelas."Aku nggak bisa," kata Radit akhirnya. Suaranya serak. "Kalau kita terima syarat mereka, besok mereka akan minta lebih. Lusa mereka akan minta Arka tidur di rumah kita. Dan Kara... dia akan tumbuh dengan pikiran bahwa Papa punya dua keluarga."Maya menutup mata sebentar. Air matanya sudah kering, tapi wajahnya pucat seperti kertas. "Tapi kalau kita tolak... besok pagi foto-foto itu akan beredar. Kara akan dengar teman-temannya bisik-bisik. Guru akan panggil kita. Dan dia akan tanya, Papa, kenapa Tante Lena bilang Papa punya istri dua? Aku nggak mau dia dengar itu dari orang lain, Radit."Radit mematikan mesin mobil. Suasana di dalam mobil menjadi hening total, hanya suara napas mere
Kara tidur lebih awal setelah makan malam yang dipaksakan. Matanya masih bengkak karena menangis di mobil tadi siang. Radit dan Maya duduk di tepi tempat tidur putrinya cukup lama, mengusap rambutnya bergantian sampai napas Kara benar-benar teratur. Boneka kelinci kesayangan dipeluk erat di dada kecilnya.Begitu pintu kamar Kara tertutup pelan, Radit dan Maya berjalan ke ruang tamu tanpa bicara. Lampu dimatikan. Hanya cahaya samar dari lampu taman yang masuk lewat jendela.Maya duduk di sofa, lututnya ditarik ke dada. Radit duduk di lantai di depannya, punggung bersandar ke meja kopi. Mereka saling pandang dalam diam yang panjang."Aku nggak tahan lihat dia nangis tadi," kata Maya akhirnya. Suaranya pecah. "Dia cuma tujuh tahun, Radit. Dia nggak ngerti kenapa teman-temannya tiba-tiba nanya soal istri dua dan tante yang aneh. Dia cuma mau punya adik."Radit mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Matanya merah. "Aku tahu. Aku juga nggak tahan. Tapi kalau kita kasih apa yang Lena mau...
Malam itu adalah malam terpanjang yang pernah Radit dan Maya alami sejak Radit sadar dari koma.Mereka duduk di ruang tamu sampai larut, lampu hanya menyala redup. Draft perjanjian masih tergeletak di meja, bersama amplop fotokopian surat Victor dan screenshot chat Kara dengan Mira. Tidak ada yang disentuh. Hanya dua cangkir teh yang sudah dingin dan ponsel Maya yang sesekali bergetar, notifikasi grup orang tua sekolah."Dia benar-benar kirim," kata Maya untuk kesekian kalinya, suaranya serak karena sudah hampir habis bicara. "Foto gambar Kara dengan Tante Lena. Caption-nya, "Adik baru Kara lucu banget ya! Keluarganya besar sekali."Radit mengusap wajahnya kasar. Matanya merah karena kurang tidur. "Besok pagi seluruh orang tua kelas Kara akan komentar. Besok siang guru mungkin panggil kita. Dan Kara... dia akan ditanya-tanya."Maya menarik lututnya ke dada, memeluknya erat. "Aku takut dia pulang sekolah nangis. Atau lebih buruk, dia senang karena merasa keluarganya besar dan mulai cer
Radit duduk di tepi ranjang hotel dengan kepala tertunduk, kedua tangannya menutupi wajahnya. Dia tidak tahu harus ke mana setelah keluar dari rumah. Tidak bisa ke rumah Mama Jessica, dia tidak siap menghadapi tatapan kecewa Mama. Tidak bisa ke kantor, sudah terlalu malam. Tidak bisa ke tempat tem
Aku bangun dengan pikiran yang masih kalut. Cek satu miliar dari Bu Siska tersimpan di laci meja, tersembunyi di balik tumpukan buku lama.Aku ingin bicara dengan Pak Darma hari ini. Tapi tidak tahu bagaimana cara membuka pembicaraan tanpa terlihat tidak sopan atau tidak percaya.Mama Jessica sudah
Radit sudah menghabiskan empat malam berturut-turut tidur di kamar tamu. Dinda tidak mengusirnya lagi, tapi juga tidak mengizinkannya masuk ke kamar utama.Mereka hidup di rumah yang sama tapi seperti dua orang asing.Sarapan bersama tanpa bicara. Makan malam dengan ponsel masing-masing. Sesekali b
Keesokan paginya, Radit, Rara, dan Maya (yang terbang ke Jakarta semalam setelah panggilan video, mengambil cuti darurat) duduk di ruang rapat kecil dengan laptop, dokumen, dan kopi yang sudah dingin."Oke," kata Maya sambil membuka laptop. "Kita punya 36 jam sebelum batas waktu Bima. Kita butuh st







