ログインPengadilan, pukul 15:15 WIB, setelah musyawarah.Satu jam lima belas menit terasa seperti seumur hidup.Ketika panitera akhirnya memanggil mereka kembali ke ruang sidang, tangan Maya gemetar begitu hebat sampai Radit harus membantunya berdiri.Hakim Sari masuk dengan wajah yang tegas, mustahil dibaca."Sidang dilanjutkan. Setelah meninjau semua bukti, kesaksian, dan perkembangan baru yang signifikan, pengadilan telah mencapai keputusan."Hening total di ruangan."Pertama, mengenai klaim Bapak Bima Prakasa bahwa Ibu Maya Kusuma tidak layak sebagai orang tua pengasuh utama: pengadilan menolak klaim ini. Bukti menunjukkan bahwa Ibu Maya adalah ibu yang penuh kasih dan mampu, dan bahwa sebagian besar 'bukti' yang dipresentasikan oleh pemohon adalah hasil dari manipulasi dan pengasingan orang tua."Maya menangis, kelegaan yang luar biasa.Tapi Hakim belum selesai."Namun, pengadilan juga khawatir dengan ketidakstabilan dalam kondisi tempat tinggal Ibu Maya. Hubungan dengan Bapak Radit Pram
Permohonan diajukan jam 6 pagi. Pada jam 8, mereka menerima tanggapan.Hakim setuju untuk meninjau bukti baru. Sidang darurat dijadwalkan untuk hari itu juga. Jam 2 siang."Sial," napas Radit. "Cepat sekali.""Hakim ingin penyelesaian," kata Ibu Ratna. "Dia mungkin sudah frustrasi dengan bolak-balik kasus ini. Ini akan jadi sidang terakhir. Setelah hari ini, keputusan akan final."Mereka punya 6 jam untuk bersiap.Tapi ada satu masalah.Alya perlu hadir untuk memverifikasi bukti. Untuk memastikan keasliannya dan menjelaskan bagaimana dia mendapatkannya."Dia tidak akan datang," kata Maya. "Dia punya perintah penahanan. Secara hukum dia tidak bisa berada di ruangan yang sama dengan kita.""Perintah penahanan bisa dicabut sementara untuk proses pengadilan," jelas Ibu Ratna. "Kalau dia setuju untuk bersaksi.""Jadi seseorang harus menghubunginya," kata Radit.Semua orang menatap Radit."Oh tidak," kata Radit. "Aku sudah cukup bermasalah dengan Maya karena bertemu dia sekali, ""Kamu satu
Hotel - Jam 4 SoreRadit kembali ke hotel dengan tablet. Maya dan Mama Jessica sedang menonton TV dengan hampir tanpa perhatian."Radit!" Maya langsung berdiri saat melihat dia. "Bagaimana pertemuannya?"Radit menarik napas dalam."Tidak ada pertemuan dengan donor. Aku berbohong."Maya terdiam. Mama Jessica menegang."Kamu... apa?""Aku bertemu seseorang. Seseorang yang punya informasi tentang Bima. Dan aku tidak memberitahumu karena aku tidak tahu apakah informasi itu valid atau jebakan.""Siapa?" suara Maya dingin."Alya."Keheningan yang memekakkan.Lalu Maya meledak:"Kamu ketemu Alya?! Setelah semua yang dia lakukan?! Setelah kamu berjanji untuk tidak menyimpan rahasia?!""Maya, dengar...""Tidak!" Maya gemetar karena marah dan sakit hati. "Kamu bohong ke aku! Kamu melakukan ini diam-diam di belakangku! Kamu...""Dia punya bukti!" Radit meninggikan suaranya, menunjukkan tablet. "Bukti bahwa Bima berselingkuh! Ini bisa mengubah kasus hak asuh!"Maya berhenti, menatap tablet."Apa?
Radit terbangun dengan leher yang kaku, dia tertidur di sofa hotel karena tidak mau mengganggu Maya yang akhirnya bisa tidur setelah minum obat penenang yang diresepkan dokter.Ponselnya menunjukkan 47 panggilan tak terjawab dan 89 pesan belum dibaca.Sebagian besar dari media yang minta wawancara atau komentar.Beberapa dari donor yayasan yang khawatir.Satu dari nomor tidak dikenal dengan pesan yang membuat darahnya dingin:Tidak Dikenal: Radit, ini sudah di luar kendali. Kita perlu bicara. Temui aku. Sendiri. - AAlya.Sialan Alya.Dia hampir menghapus pesan itu tanpa baca lebih lanjut, tapi ada lampiran, sebuah foto.Foto Bima... dengan wanita yang bukan Maya. Di restoran. Intim. Penanda waktu: dua minggu lalu.Radit memperbesar foto. Wanita itu... dia tidak kenal. Tapi bahasa tubuh mereka jelas lebih dari sekadar makan malam bisnis.Pesan lain masuk:Tidak Dikenal: Aku punya lebih banyak. Video. Pesan. Bima sudah berselingkuh selama berbulan-bulan. Aku bisa membantumu. Tapi kamu
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan - Jam 9 PagiRuang sidang ternyata penuh. Ada media (terbatas yang diizinkan masuk), ada anggota keluarga dari kedua pihak, ada juga pengamat yang entah kenapa tertarik.Radit duduk di barisan belakang, dia secara teknis bukan pihak dalam kasus ini jadi dia tidak bisa duduk bersama Maya di depan.Maya duduk dengan Ibu Ratna di sisi penggugat (secara teknis Bima adalah pemohon jadi Maya adalah termohon, tapi istilahnya bisa berbeda-beda).Bima duduk di sisi berlawanan dengan tim pengacaranya, tiga pengacara untuk satu kasus, menunjukkan sumber daya yang dia miliki.Hakim masuk, Ibu Hakim Sari Kusuma, perempuan di usia 50-an dengan reputasi tegas tapi adil."Sidang dibuka. Kasus permohonan perubahan hak asuh, Bima Prakasa melawan Maya Kusuma Prakasa."Pengacara Bima berdiri, menyampaikan argumen dengan sangat profesional:"Yang Mulia, kami mengajukan permohonan darurat karena ada perubahan signifikan dalam keadaan yang memengaruhi kesejahteraan anak. Se
Respon Bima datang cepat dan brutal.Pertama: siaran pers dari perusahaannya dengan bahasa hukum yang pada intinya mengatakan tuduhan itu tidak berdasar, mencemarkan nama baik, dan akan ditangani melalui jalur hukum.Kedua: permohonan darurat diajukan ke pengadilan untuk mempercepat sidang hak asuh, dari hari Jumat menjadi besok (Kamis sore/malam) dengan argumen bahwa "anak berada dalam bahaya langsung karena perilaku ibu yang semakin tidak stabil."Ketiga: dan ini yang paling mengejutkan, Bima entah bagaimana mendapatkan wawancara eksklusif dengan media berita besar yang akan tayang jam 8 malam.“Bagaimana bisa dia dapat slot utama dalam waktu kurang dari 6 jam?” tanya Radit dengan tidak percaya.“Uang,” jawab Rara muram. “Dan koneksi. Bima punya keduanya.”Mereka menonton wawancara itu bersama di kamar hotel, Radit, Maya, Ibu Ratna, Rara, Mama Jessica, dan Priska.Bima tampil tenang, simpatik, dengan energi “ayah yang peduli” yang sangat pas.Pewawancara: “Bapak Bima, ada tuduhan se
"Waktu aku tanya soal itu, dia cuma bilang, 'Nanti juga kamu kebiasa.'" Kiara menirukan dengan suara getir. "Seolah-olah aku cuma objek yang bisa dia miliki, bukan manusia yang punya perasaan.""Trus orangtuaku?" Kiara menelan ludah sebelum melanjutkan, suaranya bergetar halus. "Mereka tau semua it
"Aku... aku tau, Bu.""Kamu tau?" Bu Siska menaikkan alisnya. "Trus... kamu pikir kamu cocok sama dia?"Aku terdiam. Tidak bisa menjawab.Bu Siska berjalan mendekat. Ia berdiri tepat di depan kursi ku, menatapku dari atas."Radit... aku gak bermaksud nyakitin kamu. Tapi aku cuma mau kamu realistis.
"KIARA!"Suara keras itu membuat kami berdua tersentak.Kami cepat-cepat menoleh ke arah sumber suara, dan pelukan kami terlepas.Seorang pria berjalan cepat ke arah kami dengan langkah besar penuh amarah. Tinggi, mungkin sekitar 185 cm, berperawakan atletis dan berotot, mengenakan kemeja Ralph Lau
Sabtu pagi, aku bangun dengan rambut acak-acakan. Tidurku semalam tidak nyenyak. Bayangan wajah Kiara yang menangis, masih membekas di pikiranku.Hidupku perlahan terasa hancur. Bukan hubungan dengan Kiara saja yang sebenarnya belum ada kejelasannya, tapi juga dengan Mama Jessica di rumah.Sudah be







