Masuk“Sudah bangun?”Anika yang baru saja membuka mata sudah disambut dengan sang suami yang berada tepat di depannya. Bibirnya langsung membentuk senyum lebar, merasa bahagia setiap kali melihat Noah yang tampak begitu bersinar di depannya. Ditambah kecupan di bagian kening, membuat Anika semakin merasa bahagia.“Kamu sudah rapi. Memangnya mau kemana?” tanya Anika dengan sorot mata bingung.“Kamu lupa?” Noah malah balik bertanya, “hari ini kita akan pulang. Aku juga sudah merapikan pakaian kita. Jadi, kamu tinggal mandi dan kita bersiap check out.”Anika yang mendengar penjelasan sang suami langsung membuang nafas kasar. Dia yang awalnya masih asik berada di balik selimut pun langsung bangkit. Anika duduk bersandar dengan punggung ranjang. Bibirnya dimanyun. Tampak ekspresi penuh kekecewaan. Noah yang melihat pun semakin bingung. Dia yang awalnya duduk di sofa kali ini mulai bangkit dan melangkah ke arah istrinya berada. Dia mulai duduk di pinggir ranjang, tempat di sebelah Anika.“Kamu
“Sudah bangun?”Anika yang baru saja membuka mata sudah disambut dengan sang suami yang berada tepat di depannya. Bibirnya langsung membentuk senyum lebar, merasa bahagia setiap kali melihat Noah yang tampak begitu bersinar di depannya. Ditambah kecupan di bagian kening, membuat Anika semakin merasa bahagia.“Kamu sudah rapi. Memangnya mau kemana?” tanya Anika dengan sorot mata bingung.“Kamu lupa?” Noah malah balik bertanya, “hari ini kita akan pulang. Aku juga sudah merapikan pakaian kita. Jadi, kamu tinggal mandi dan kita bersiap check out.”Anika yang mendengar penjelasan sang suami langsung membuang nafas kasar. Dia yang awalnya masih asik berada di balik selimut pun langsung bangkit. Anika duduk bersandar dengan punggung ranjang. Bibirnya dimanyun. Tampak ekspresi penuh kekecewaan. Noah yang melihat pun semakin bingung. Dia yang awalnya duduk di sofa kali ini mulai bangkit dan melangkah ke arah istrinya berada. Dia mulai duduk di pinggir ranjang, tempat di sebelah Anika.“Kamu
“Arga.”Arga yang mendengar panggilan itu pun langsung mengalihkan pandangan. Melihat kedatangan Ivana, refleks dia menyingkirkan tangan Haura yang berada di bibirnya. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman dengan istrinya lagi. “Sayang. Kamu ke sini?” Arga mencoba untuk bersikap biasa. Lagi pula dia tidak mendua di belakang Ivana. Rasanya tidak perlu ada yang ditakutkan. Namun, Ivana tidak menjawab. Wanita yang masih berdiri tidak jauh dari Arga itu pun mulai melangkahkan kaki. Manik matanya masih menatap lekat ke arah Arga dan Haura berada. Ekspresi terlihat tenang, tetapi tatapannya cukup mematikan.‘Bukannya Mereka cuma teman? Kenapa aku merasa jika wanita itu memiliki maksud lain?’ batin Ivana ketika sudah berhenti tepat di depan Arga. Dia masih mengamati Haura lakat-lakat. “Sayang, Kenapa kamu ke sini? Kamu ada urusan?” tanya Arga lagi. Ivana tidak ingin kalau suaminya dan Haura menjadi curiga dan berpikir macam-macam. Dia pun menghentikan pengamatan dan menatap ke arah suaminya
“Arga, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”Arga yang mendengar hal itu pun langsung membuang nafas kasar. Dia tahu jika Haura adalah sahabatnya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini Arga merasa risih dengan kedatangan wanita itu. Haura tampak berbeda dan tidak seperti sebelumnya. “Apa kamu sibuk?” tanya Haura karena Arga yang hanya diam saja. “Seperti yang kamu lihat. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan,” jawab Arga tanpa basa-basi. Dia bahkan tidak menutupi pekerjaannya sama sekali. Haura yang mendengar tersenyum Canggung. Padahal niat awal hanya ingin berbasa-basi saja, tetapi siapa sangka Kalau Arga menjawab secara blak-blakan. Arga bahkan tidak memikirkan perasaannya, membuat Haura merasa malu. “Tapi kalau ada yang memang ingin kamu bicarakan, katakan saja. Cuma aku tidak memiliki banyak waktu. Malam ini aku ingin makan malam di rumah. Makanya pekerjaan ini harus diselesaikan sekarang juga,” ucap Arga. Haura pun menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Dia melangkahka
“Apa aku harus kerja di perusahaan Arga? Tapi aku malas kalau ujung-ujungnya cuma diperlakukan seperti putri yang gak boleh ngapa-ngapain.”Ivana masih memikirkan mengenai tawaran Arga. Rasanya tetap saja tidak nyaman kalau harus bergantung dengan suaminya itu. Sejak awal ivana sudah mandiri. Semua hal dilakukan sendiri.Namun, sekarang Arga malah membuatnya seperti ketergantungan. Kalau bekerja di perusahaan pria itu juga terasa sama saja. Ivana tidak bisa memulai karirnya sendiri. Dia tidak bisa melakukan apapun Kalau nantinya hubungan dia dan Arga bermasalah. “Tapi kalau aku tidak bekerja di perusahaannya, dia tidak akan membiarkanku bekerja. Terus aku harus bagaimana? Masa iya aku harus minta terus sama dia?”Ivana benar-benar dilanda kebingungan. Dia merasa gundah dan tidak menemukan jawaban sama sekali. Hal itu karena Arga yang sudah memberikan keputusan final. Suaminya itu tidak akan mengubah keputusan begitu saja. ‘Sekarang aku harus mencari cara supaya bisa membujuk Arga,’
Ivana membuka mata secara perlahan. Dia mengalihkan pandangan, menatap ke sisi sebelah ranjang. Tempat itu sudah kosong, membuat Ivana membuang nafas kasar. “Sepertinya Arga sudah berangkat,” gumam Ivana. Ivana menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Entah kenapa hari ini dia merasa enggan untuk bangkit dari tidurnya. Selimut yang sempat turun pun langsung dinaikkan. Ivana malah memiringkan tubuh dan berniat menutup mata kembali. Namun, di waktu yang sama pintu kamarnya terbuka. Ivana pun mengurungkan niatnya dan mengalihkan pandangan, menatap asal suara. Hingga dia melihat sang pelaku, membuatnya membuang nafas kasar.“Sayang, Kamu sudah bangun?”Ivana yang ditanya pun menganggukan kepala. Dia langsung duduk dan bersandar dengan punggung ranjang. Padahal dia berniat ingin istirahat kembali.“Aku sudah menyuruh Kevin menyiapkan posisi yang tepat untukmu,” kata Arga. ‘Jadi, dia benar-benar menyuruhku bekerja di perusahaannya?’Ivana membuang nafas lirih. Rasanya tidak ses







