LOGIN“Arga.”Arga yang mendengar panggilan itu pun langsung mengalihkan pandangan. Melihat kedatangan Ivana, refleks dia menyingkirkan tangan Haura yang berada di bibirnya. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman dengan istrinya lagi. “Sayang. Kamu ke sini?” Arga mencoba untuk bersikap biasa. Lagi pula dia tidak mendua di belakang Ivana. Rasanya tidak perlu ada yang ditakutkan. Namun, Ivana tidak menjawab. Wanita yang masih berdiri tidak jauh dari Arga itu pun mulai melangkahkan kaki. Manik matanya masih menatap lekat ke arah Arga dan Haura berada. Ekspresi terlihat tenang, tetapi tatapannya cukup mematikan.‘Bukannya Mereka cuma teman? Kenapa aku merasa jika wanita itu memiliki maksud lain?’ batin Ivana ketika sudah berhenti tepat di depan Arga. Dia masih mengamati Haura lakat-lakat. “Sayang, Kenapa kamu ke sini? Kamu ada urusan?” tanya Arga lagi. Ivana tidak ingin kalau suaminya dan Haura menjadi curiga dan berpikir macam-macam. Dia pun menghentikan pengamatan dan menatap ke arah suaminya
“Arga, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”Arga yang mendengar hal itu pun langsung membuang nafas kasar. Dia tahu jika Haura adalah sahabatnya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini Arga merasa risih dengan kedatangan wanita itu. Haura tampak berbeda dan tidak seperti sebelumnya. “Apa kamu sibuk?” tanya Haura karena Arga yang hanya diam saja. “Seperti yang kamu lihat. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan,” jawab Arga tanpa basa-basi. Dia bahkan tidak menutupi pekerjaannya sama sekali. Haura yang mendengar tersenyum Canggung. Padahal niat awal hanya ingin berbasa-basi saja, tetapi siapa sangka Kalau Arga menjawab secara blak-blakan. Arga bahkan tidak memikirkan perasaannya, membuat Haura merasa malu. “Tapi kalau ada yang memang ingin kamu bicarakan, katakan saja. Cuma aku tidak memiliki banyak waktu. Malam ini aku ingin makan malam di rumah. Makanya pekerjaan ini harus diselesaikan sekarang juga,” ucap Arga. Haura pun menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Dia melangkahka
“Apa aku harus kerja di perusahaan Arga? Tapi aku malas kalau ujung-ujungnya cuma diperlakukan seperti putri yang gak boleh ngapa-ngapain.”Ivana masih memikirkan mengenai tawaran Arga. Rasanya tetap saja tidak nyaman kalau harus bergantung dengan suaminya itu. Sejak awal ivana sudah mandiri. Semua hal dilakukan sendiri.Namun, sekarang Arga malah membuatnya seperti ketergantungan. Kalau bekerja di perusahaan pria itu juga terasa sama saja. Ivana tidak bisa memulai karirnya sendiri. Dia tidak bisa melakukan apapun Kalau nantinya hubungan dia dan Arga bermasalah. “Tapi kalau aku tidak bekerja di perusahaannya, dia tidak akan membiarkanku bekerja. Terus aku harus bagaimana? Masa iya aku harus minta terus sama dia?”Ivana benar-benar dilanda kebingungan. Dia merasa gundah dan tidak menemukan jawaban sama sekali. Hal itu karena Arga yang sudah memberikan keputusan final. Suaminya itu tidak akan mengubah keputusan begitu saja. ‘Sekarang aku harus mencari cara supaya bisa membujuk Arga,’
Ivana membuka mata secara perlahan. Dia mengalihkan pandangan, menatap ke sisi sebelah ranjang. Tempat itu sudah kosong, membuat Ivana membuang nafas kasar. “Sepertinya Arga sudah berangkat,” gumam Ivana. Ivana menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Entah kenapa hari ini dia merasa enggan untuk bangkit dari tidurnya. Selimut yang sempat turun pun langsung dinaikkan. Ivana malah memiringkan tubuh dan berniat menutup mata kembali. Namun, di waktu yang sama pintu kamarnya terbuka. Ivana pun mengurungkan niatnya dan mengalihkan pandangan, menatap asal suara. Hingga dia melihat sang pelaku, membuatnya membuang nafas kasar.“Sayang, Kamu sudah bangun?”Ivana yang ditanya pun menganggukan kepala. Dia langsung duduk dan bersandar dengan punggung ranjang. Padahal dia berniat ingin istirahat kembali.“Aku sudah menyuruh Kevin menyiapkan posisi yang tepat untukmu,” kata Arga. ‘Jadi, dia benar-benar menyuruhku bekerja di perusahaannya?’Ivana membuang nafas lirih. Rasanya tidak ses
Hening. Ruang kamar Ivana terasa begitu sunyi. Tidak ada yang membuka percakapan sama sekali. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Ivana sibuk dengan ponsel. Sedangkan Arga hanya sibuk memeriksa dokumen. Sampai Ivana meletakkan ponsel dan membuang napas kasar, membuat Arga mengalihkan pandangan.“Kamu kenapa?” tanya Arga dengan sorot mata bingung. Padahal tadi istrinya terlihat baik-baik saja, tetapi sekarang Arga melihat jika wanita itu seperti kesal. ‘Apa dia kesal karena aku yang sibuk dengan pekerjaan?’Arga pun langsung menutup dokumen di pangkuannya. Dia meletakkan dokumen tersebut di nakas dan mulai fokus dengan istrinya. Dia menatap lekat, memperhatikan istrinya itu lekat-lekat. “Sayang, apa aku membuatmu kesal?” tanya Arga lagi. Ivana pun menatap ke arah Arga berada dan menggelengkan kepala dan menjawab, “Tidak.”“Kalau begitu, Kenapa kamu terlihat seperti kesal?” Arga benar-benar bingung. Kenapa istrinya bisa berubah secara tiba-tiba? “Aku hanya merasa bosan saja.
“Apa memang aku sudah keterlaluan? Apa memang seharusnya aku bertanya lebih dulu dengan Noah dan tidak mengambil keputusan seperti ini?”Anika yang masih berada di tempat persembunyiannya mulai memikirkan ucapan Ivana. Dia memang langsung pergi begitu saja setelah melihat Noah bersama dengan wanita lain. Anika seakan tidak membutuhkan penjelasan dari suaminya itu. Saat merasa kesal dan sakit hati, dia bahkan memilih pergi dan menjauh seperti sekarang. “Aku rasa memang aku yang salah. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Aku harus minta maaf dengan Noah,” kata Anika pada akhirnya. Dia sadar dengan kesalahannya kali ini. Anika langsung mengambil ponsel dan siap menghubungi sang suami, tetapi di waktu yang sama ponselnya tidak menyala. Hal yang membuat Anika semakin cemas. Dia pun membuang nafas kasar, merasa tidak berdaya. “Baterai ponselku habis. Bagaimana aku bisa menghubungi Noah? Dia pasti sedang mencemaskanku.”Anika benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Tempatnya bers







