Share

19. Kemenangan Leon

Author: Dezaa_Author
last update Last Updated: 2025-12-15 21:53:37

Leon tiba tepat waktu.

Gedung keluarga Louise berdiri angkuh dengan arsitektur klasik yang sengaja dipertahankan untuk menegaskan satu hal: kekuasaan mereka sudah ada bahkan sebelum Leon Karlsson belajar berjalan.

Namun langkah Leon tetap tenang saat ia melewati lorong marmer itu. Jasnya rapi, wajahnya datar seperti biasa, sikapnya… terlalu sopan untuk seorang pria yang baru saja menghancurkan pertunangan.

Pintu ruang kerja itu terbuka.

Tuan Louise sudah duduk di balik meja besar dari kayu ek tua, punggungnya tegak, tongkat kesayangannya bersandar di sisi kursi. Tatapannya tajam, penuh perhitungan—tatapan seorang pria yang terbiasa melihat orang lain runtuh di hadapannya.

Leon membungkuk sopan. Ia begitu formal tanpa emosi.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu, Tuan Louise.”

Keheningan menggantung beberapa detik sebelum pria tua itu tertawa pendek dan penuh kekecewaan.

“Aku sudah tahu untuk apa kau datang,” katanya akhirnya. “Dan sejujurnya, Leon… aku sangat kecewa.”

Leon duduk dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   36. Diselamatkan lagi

    Wajah Shenina nyaris tak bisa menyembunyikan kepuasannya.Dari kejauhan, matanya beberapa kali melirik Maria yang berdiri kaku di antara para tamu. Wanita itu tampak semakin masam, senyumnya kaku, sorot matanya penuh tekanan. Semakin banyak tamu berdatangan, semakin jelas bahwa Maria kehilangan kendali atas pesta Leon dan Shenina. Dan yang paling menyiksa, Maria tidak bisa berbuat apa-apa.Saat Leon tengah sibuk berbincang dengan para relasi bisnis dan para pria penting yang sengaja ia undang untuk menegaskan dominasinya, Shenina melepaskan genggaman lengan suaminya.Ia melangkah pelan menuju arah Maria.Senyum tetap terukir di bibir Shenina.Senyum itu justru membuat Maria ingin merobek wajah Shenina.Langkah Shenina terhenti sejenak ketika melihat beberapa wanita yang seumuran dengan Maria, berbalut perhiasan mencolok dan gaun mahal, mendekati Maria. Tawa mereka dibuat-buat. Gerak-gerik mereka terlalu terlatih.Shenina mengamati dari kejauhan, matanya menyipit tipis. “Para nenek sos

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   35. Ancaman

    “Dan orang itu adalah ibumu, Leon. Maria Karlsson.”Shenina baru tersadar ketika sepasang lengan kuat memeluknya tiba-tiba. “Leon?”Shenina sedikit terkejut. Kalimat itu beruntungnya hanya bergaung di kepalanya. Tapi pelukan ini terasa nyata. Ia bisa merasakan kehangatan yang tulus. “Shenina,” panggil Leon lirih.Pria itu merasakan sesuatu yang perih, sesuatu yang asing, setelah mendengar penderitaan masa kecil Shenina. Ia memeluk istrinya begitu ingin melindungi, meski egonya menolak mengakui bahwa cerita itu benar-benar melukai hatinya.“Aku janji,” ucap Leon tiba-tiba. “Mulai sekarang, kau akan merasakan kebahagiaan.”Nada suaranya tetap datar, namun Shenina mendengar ketulusan yang tak biasa di sana. Meski begitu, Shenina tidak goyah. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan datar.“Kebahagiaanku sudah mati sejak dulu, Leon,” batinnya dingin. “Kini hidupku hanya untuk menghancurkan keluarga kalian.”Ia justru membalas pelukan itu lebih erat, seolah perempuan yang sangat m

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   34. Sisi Lain Shenina

    “Kita tidak akan ke rumah?” tanya Shenina saat mobil yang seharusnya berbelok ke kanan justru melaju lurus.Leon menyetir dengan kecepatan sedang bahkan terlalu pelan untuk ukuran dirinya. Tidak ada lagi raungan mesin dan desakan emosi. Jalanan terasa stabil, cukup membuat napas Shenina kembali teratur, meski sisa trauma masih mengendap di dadanya.“Tidak,” jawab Leon singkat. “Kita ke rumah baru. Kau perlu menenangkan diri dulu.”Kata-kata itu menusuk telinga Shenina. Rumah baru dan ketenangan bukan bagian dari rencananya. Shenina tidak memerlukan semua itu. Justru yang ia tunggu adalah bagian dari menjadi parasit di keluarga Karlsson.Shenina menatap lurus ke depan, lalu suaranya turun menjadi dingin.“Aku kira setelah menikah, aku akan langsung mendapat pengakuan sebagai bagian keluarga Karlsson. Rupanya aku terlalu berharap.”Ia menoleh, menampilkan raut sedih yang nyaris sempurna. Namun Leon tetap menatap jalanan, ekspresinya tak berubah.“Kita akan datang malam ini,” balas Leon

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   33. Pertemuan dan rasa trauma

    Shenina tercekat. Kata-kata seolah lenyap dari tenggorokannya. Seharusnya pertemuan ini membuat Shenina senang atau setidaknya puas. Namun wajah Eren yang pucat dan terluka justru membuat dadanya mengencang tanpa alasan yang ia suka. Eren melangkah mendekat dengan langkah goyah, seolah setiap jarak yang ia tempuh adalah pertaruhan antara harapan dan kenyataan. Dalam benaknya, ia masih berharap ini semua hanya mimpi buruk. “Shenina…” panggil Eren lagi, lirih dan serak. “Eren,” balas Shenina pelan. Satu detik yang hening sebelum akhirnya pecah. Leon menatap Eren dengan sorot tajam yang langsung membeku. “Eren!” sentaknya. Terlalu kaget dan tidak percaya jika adiknya bisa mengenal Shenina. Eren mengangkat wajahnya. Tatapannya yang penuh luka bercampur amarah, kini bertabrakan dengan mata kakaknya. “Leon.” Leon beralih menatap Shenina, dingin, menuntut jawaban. “Kau mengenalnya?” Namun Eren lebih dulu berbicara, emosinya tumpah tanpa kendali. “Tentu saja dia menge

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   32. Kembali ke Austria

    Leon tertidur begitu nyenyak sepanjang perjalanan. Nafasnya teratur, wajahnya terlihat begitu lelah. Shenina menatapnya datar dari samping, tanpa emosi yang jelas terbaca.“Sejak dulu...”Meski kalimat itu keluar dari bibir Leon berjam-jam yang lalu, gema katanya masih berputar-putar di kepala Shenina, menolak pergi. Leon mengaku mencintainya sejak dulu, namun saat Shenina mencoba bertanya lebih jauh, pria itu memilih diam seolah kalimat itu tidak pernah diucapkan.“Ini tidak perlu menjadi pikiran,” gumam Shenina, berulang kali menenangkan dirinya sendiri.Ia hanya perlu fokus pada langkah selanjutnya.Shenina menyandarkan punggung, senyum miring terbit di sudut bibirnya saat membayangkan betapa kacaunya keluarga Karlsson setelah mereka sampai. Retakan yang selama ini ia ciptakan akan segera berubah menjadi kehancuran nyata.“Aku jadi sudah tidak sabar,” bisiknya lirih.Pandangan Shenina kembali jatuh pada Leon. Ia mendekat perlahan, nyaris tanpa suara, lalu mengangkat tangan dan memb

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   31. Gereja, danau, dan perasaan cinta Leon

    “Tidak mungkin.”Mata Eren melebar ketika pengantin pria itu menatapnya tajam dari altar. Pria itu ternyata bukan Leon.Kesunyian yang sempat membeku seketika pecah. Gereja berubah riuh. Bisik-bisik tajam bergulir, disusul suara-suara penuh amarah. Beberapa tamu berdiri, menunjuk Eren tanpa ragu.Wajah keluarga pengantin memerah menahan murka.“Siapa kau?!” bentak ayah mempelai perempuan, melangkah maju dengan emosi yang tak tersembunyi.“A-aku…” Eren tercekat. Kata-kata lenyap dari tenggorokannya yang mendadak kering.“Pengacau!”“Ini pelecehan terhadap acara suci!”“Laporkan saja ke polisi!”Dua petugas gereja segera menarik Eren keluar. Polisi yang telah dipanggil tak lama kemudian datang menjemputnya. Eren tidak melawan. Ia hanya menunduk sambil menanggung rasa malu atas kekacauan yang ia timbulkan.Di ruang interogasi terasa begitu dingin dan hampa. Kepala kepolisian duduk di hadapan Eren menatapnya tanpa ekspresi. Ujung pena diketukkan perlahan ke meja dengan ritme yang menekan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status