แชร์

Bab 21

ผู้เขียน: Neng_gemoyy
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-07 22:41:43

Yasmin menatap pantulan dirinya di cermin wastafel kamar mandi, ia baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk sebatas paha.

"Kamu cantik, Yasmin ... Namun sayang, suamimu sudah tidak tertarik sama kamu." gumamnya pelan. Tampak jelas luka di matanya saat teringat perlakuan Angga padanya selama ini.

"Apa aku mundur saja?" sering terbesit di dalam pikirannya, untuk berpisah dari Angga.

Namun Yasmin takut.. Yasmin tidak ingin anak-anaknya nanti jadi korban. Jadi ... Biarlah ia yang berk
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Godaan Papa Teman Anakku   pertemuan Yasmin dan Sabrina

    Butiran embun di permukaan gelas menjadi bukti sudah berapa lama Yasmin duduk sendirian di sebuah kafe, sedangkan orang yang mengajaknya bertemu itu masih belum juga menampakkan batang hidungnya.“Ini orang niat datang gak sih?!” ucapnya kesal. Karena pertemuan ini tadi, ia jadi tidak sempat berbelanja ke pasar.Namun nyatanya, sudah hampir dua jam Sabrina belum juga datang.“Aku tunggu sepuluh menit lagi. Kalau masih belum datang, aku pulang saja,” putusnya, mengangguk yakin.Yasmin meraih gelasnya, lalu menghabiskan isinya hingga tandas.Tepat saat isi gelas itu kosong, pintu masuk kafe terbuka dari luar.Sabrina melangkah dengan angkuh menghampiri Yasmin. Setiap langkahnya dibuat seanggun mungkin, dagu terangkat tinggi. Ia menarik kursi di hadapan Yasmin, lalu duduk dengan gaya yang terkesan sombong.“Maaf menunggu lama, jalanan macet banget,” ucapnya sambil tersenyum sinis, menatap Yasmin dari atas hingga ke bawah.“Gak masalah,” balas Yasmin dengan senyum yang dipaksakan. “Jadi…

  • Godaan Papa Teman Anakku   tak ingin pisah

    “Yas… Saking inginnya kamu berpisah dariku, sampai-sampai buat cerita seaneh ini?”Angga tidak mungkin percaya begitu saja pada ucapan istrinya itu. Ia yakin betul, Yasmin bukan wanita yang akan berbuat seperti itu.Yasmin bangkit dari duduknya, lalu mendongak menatap suaminya yang berdiri tepat di hadapannya.“Aku bicara apa adanya, Mas. Kalau kamu sudah berani berselingkuh, aku pun bisa melakukan hal yang sama. Aku sudah berciuman dengan pria lain, dia sudah menyentuh setiap jengkal tubuhku. Kami berpelukan, saling merasakan kehangatan, sampai sama-sama menyebut nama satu sama lain dalam suasana yang paling intim—”“CUKUP, YASMIN!!”Suara teriakan Angga memecah keheningan malam itu, bergema di seluruh sudut kamar. Telinganya terasa panas menyengat, dan dadanya terasa sesak mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya.“Kenapa? Tidak sanggup mendengarnya, atau tidak terima kalau apa yang selama ini kamu anggap milikmu sudah disentuh dan dinikmati oleh pria lain?”“Yas… Ku

  • Godaan Papa Teman Anakku   kejujuran Yasmin

    “Yasmin, Sayang… Kamu masih di sana?”Yasmin tersadar dari lamunannya yang mendalam. Ia mengerjap beberapa kali, baru bisa menjawab panggilan Satrio.“Iya, Mas. Aku dengar kok,” jawabnya sambil mengusap wajah yang terasa basah oleh keringat dingin.“Jadi bagaimana tawaranku tadi? Kamu mau, kan?” Satrio kembali mengulang pertanyaannya, menunggu jawaban dengan penuh harap.Yasmin menggigit pelan bibir bawahnya, kembali terjebak dalam kebingungan yang makin berat. “Mas, masalah ini kita bahas lain kali saja ya…” jawabnya akhirnya, berusaha menghindari keputusan yang mendadak.Di seberang sambungan, terdengar helaan napas panjang yang terasa berat. Yasmin bisa merasakan rasa kecewa dan frustasi dalam nada bicara pria itu. “Baiklah, Sayang. Maaf kalau aku terkesan terlalu terburu-buru.”“Maafkan aku juga, Mas,” ucap Yasmin dengan kepala tertunduk, seolah Satrio bisa melihatnya.“Tidak apa-apa, Sayang. Memang aku yang salah.”Yasmin hanya bisa terdiam. Ia tahu, meski Satrio berusaha terdeng

  • Godaan Papa Teman Anakku   keputusan Yasmin

    Angga menjemput anak-anaknya pulang sekolah—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan sebelumnya. Dulu, urusan ini selalu diserahkan sepenuhnya kepada istrinya, dan ia tak pernah sekalipun menyadarinya.Jujur saja, Angga sangat menyesal telah menyia-nyiakan Yasmin selama ini. Baru setelah rasanya hampir kehilangan, ia sadar betapa berartinya sosok wanita itu dalam hidupnya.“Ayahhh!!”Angga segera menunduk dan membuka kedua tangannya lebar-lebar saat melihat Brayan berlari menghampiri. Bocah berusia delapan tahun itu terlihat sangat gembira melihat ayahnya yang datang menjemput.“Aduh, jagoan Ayah…” Angga memeluk tubuh mungil itu erat-erat.“Tumben Ayah yang jemput. Bunda di mana?” tanya Brayan setelah melepaskan pelukan.“Bunda lagi ada urusan sebentar. Gak apa-apa kan kalau kali ini Ayah saja yang menjemput?” Angga menatap wajah polos putranya dengan lembut.Brayan langsung mengangguk semangat. “Boleh banget! Aku suka kok!” serunya riang, lalu kembali memeluk tubuh ayahnya.“Ayah sayang

  • Godaan Papa Teman Anakku   Rencana Sabrina

    "Bu Yasmin yakin dengan keputusan Anda?"Yasmin menatap lembaran kertas dihadapannya, ia mendongak menatap Topan–pengacara yang akan membantunya mengurus perceraiannya dengan suaminya–Angga."Iyaa, Pak. Saya sudah yakin dengan keputusan saya." Topan tersenyum lembut. "Baiklah, nanti tinggal ibu tunggu surat dari pengadilan buat mediasi, nanti pas sidang Ibu tidak usah datang saja. Biar prosesnya cepat.""Baik Pak, saya paham." Yasmin mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, nanti kita bertemu lagi pas mediasi." Topan mengulurkan tangannya, yang langsung disambut oleh Yasmin. "Terima kasih atas bantuannya, Pak." ucap Yasmin tulus. "Sama-sama Bu, sudah menjadi tugas pekerjaan saya." Topan tersenyum tulus. "Dilihat dari kasus ibu, saya yakin kita akan menang dipengadilan nanti." ucapnya dengan yakin. "Iya, Pak. Semoga..."Yaa, semoga semuanya lancar. Angga maupun mertuanya tidak akan membuat drama untuk menghambat perceraian ini. Atau mungkin mereka akan senang, karena akan segera

  • Godaan Papa Teman Anakku   gugatan untuk Angga

    "Bi... Are you okay?" tanya Niko sambil menatap temannya dengan wajah prihatin.Bianca menggeleng cepat, air matanya sudah membasahi pipi dan terus mengalir tanpa bisa ditahan."I'm not okay, Nik. I'm not okay... Hiksss..." Bianca menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu tangisnya pun pecah seketika.Bahu mungil gadis yang hampir berusia sebelas tahun itu bergetar hebat, membuat Niko tak kuasa menatapnya lebih lama. Ia seolah melihat bayangan dirinya sendiri beberapa bulan yang lalu—saat ayah dan ibunya sering bertengkar hebat hingga akhirnya memutuskan berpisah, tanpa mempedulikan sedikit pun perasaan anak mereka.Kedua anak yang mulai beranjak remaja itu kini hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Seolah-olah keadaan memaksa mereka tumbuh dewasa lebih cepat dari seharusnya."Menangislah saja, Bi. Kalau dengan menangis hatimu jadi lebih lega, tidak apa-apa," ucap Niko tulus sambil mengusap pelan punggung Bianca."Kalau Bunda dan Ayah berpisah, aku dan Brayan gimana, N

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status