LOGIN“Aaaaaa …!” “Tunggu aku, Yasmin!” Yasmin berlari menyusuri bibir pantai dengan tawa lepas, kaki telanjangnya menapak pasir basah yang sesekali tersapu ombak. Di belakangnya, Satrio mengejar sambil merentangkan kedua tangan, wajahnya dipenuhi senyum usil. Baju mereka sudah basah kuyup sejak tadi, air laut dan tawa bercampur menjadi satu. Deburan ombak saling bersahutan, berpadu dengan hembusan angin pantai yang membawa aroma asin laut, menciptakan suasana yang terasa begitu hidup. “Kena!” “Aaaah!” Yasmin terpekik saat Satrio berhasil menangkapnya dari belakang. Tubuhnya terangkat begitu saja ketika Satrio memutar tubuhnya dengan enteng. “Kamu nggak bisa lari dari aku,” ucap Satrio dengan napas memburu. Yasmin yang berada dalam gendongannya tertawa lepas, kedua tangannya refleks mencengkeram bahu Satrio agar tak terjatuh. “Ampun Mas, turunin aku! Nanti jatuh!” protesnya di sela tawa. "Gak! Kamu harus di hukum dulu." tolak Satrio menggeleng cepat. "Hahahah ... Aku takut bener
Yasmin menangis sesegukan di dalam pelukan Satrio. Pria itu menenangkannya dengan sabar, mengusap punggungnya perlahan sembari melontarkan kata-kata penenang.“Sabar, Yas … mungkin kalian cuma kurang komunikasi,” ucap Satrio lembut.Yasmin menggeleng pelan, air matanya tak berhenti mengalir.“Enggak, Mas. Dia seperti punya perempuan lain… mana ada pria yang tahan gak menyentuh istrinya sampai berbulan-bulan?”“Ada,” sahut Satrio spontan.Yasmin mendongak menatapnya, sedikit terkejut.“Pria seperti itu pasti ada, Yas,” lanjut Satrio dengan suara tenang. “Tapi bukan berarti dia selingkuh, atau gak punya rasa lagi sama pasangannya.”“Terus apa dong?” tanya Yasmin lirih.Satrio terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Rasa jenuh… dan mungkin saja ia lelah masalah kerjaan, atau ada masalah lain di luar.”Yasmin membeku.Hening menyelimuti mereka beberapa detik, hingga Satrio kembali membuka suara.“Tapi… mungkin itu bukan alasan yang sama kenapa suami kamu berubah. Tiap orang beda-beda,
Yasmin menatap pantulan dirinya di cermin wastafel kamar mandi, ia baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk sebatas paha. "Kamu cantik, Yasmin ... Namun sayang, suamimu sudah tidak tertarik sama kamu." gumamnya pelan. Tampak jelas luka di matanya saat teringat perlakuan Angga padanya selama ini. "Apa aku mundur saja?" sering terbesit di dalam pikirannya, untuk berpisah dari Angga. Namun Yasmin takut.. Yasmin tidak ingin anak-anaknya nanti jadi korban. Jadi ... Biarlah ia yang berkorban demi anak-anaknya. Mungkn nanti setelah keduanya mengerti, Yasmin akan memantapkan niatnya untuk berpisah. Saat tengah asik dengan pikirannya, Yasmin tidak sadar sepasang tangan membelit perutnya dari belakang. "Astagaa!" serunya panik, sambil berusaha. Melepaskan tangan yang bertengker manis di perutnya. "Lepas ihh!" Yasmin heran, kenapa pria itu bisa masuk kedalam kamarnya. Namun bukannya lepas, Satrio malah semakin mengeratkan pelukannya. "Kamu wangi, Yas... Aku suka ..." bisiknya
"Ibu, akhirnya datang juga." Angga menghela napas panjang, sembari melebarkan pintu agar ibunya bisa masuk. Utari–ibunda Angga mendengus menatap putranya dengan sengit. "Kamu lagi ngapain sih? Buka pintu lama banget!" "Lagi siapin makan malam, Bu." jawab Angga, lalu meraih tangan ibunya, menciumnya takjim. Padahal belum ada lima menit bell rumahnya berbunyi, tapi rupanya sudah hampir setahun yang di rasa ibunya. "Istri kamu kemana? Kenapa kamu yang nyiapin makan malam?" cerocos Utari sembari melangkah masuk kedalam rumah Yasmin. "Kan aku udah bilang di telpon, dia sedang pergi ke rumah sodaranya," jawab Angga beralasan. Tiba di ruang tamu, Angga menyimpan tas ibunya di sofa, lalu memanggil bi Iroh. "Bibi...!" panggilnya. Tak berapa lama, seorang wanita tua datang dengan terpongoh-pongoh. "Dalem, Pak?" ucapnya sopan. "Tolong ambilkan minum buat ibu saya," titah Angga. "Baik Pak," bi Iroh mengangguk, lalu menghadap majikan tuanya. "Nyonya mau minum apa?" tanyanya kemudian. "A
"Kamu boleh pesan apapun yang kamu mau, Yas." Satrio tersenyum manis, sambil menyodorkan buku menu kehadapan Yasmin, yang masih menatapnya sebal. Dengan gerakan kasar, Yasmin mengambil buku menu itu lalu membacanya asal. "Nasi goreng satu." ucapnya kemudian. Satrio menautkan kedua alisnya. "Nasi goreng?""Kenapa?" ketus Yasmin. Satrio mengulum senyumnya, tak kuasa melihat wajah ketus Yasmin yang menurutnya menggemaskan. "Gak apa-apa, minumnya mau apa?" tanyanya lembut. "Air putih." jawab Yasmin singkat. Satrio menghela napas dalam-dalam, lalu mengatakan pesanannya pada pelayanan restoran yang sejak tadi berdiri di samping mejanya. "Di tunggu pesanannga, Mas." ujar si pelayan resto, kemudian berlalu dari sana. Meninggalkan ketegangan yang masih berlangsung di antara dua sejoli itu. Satrio menatap Yasmin, melipat kedua tangannya di atas meja. "Yas ...!" panggil Satrio. "Apa?" jawab Yasmin, tanpa meliriknya. "Jangan ketus gitu, napa?""Biarin, terserah aku dong!" sahut Yasmin ke
"Yasmin, tunggu dulu." Satrio mencekal lengan Yasmin saat wanita itu hendak keluar dari pintu keluar stasiun, di tangan mereka sama-sama mendorong koper kecil yang mereka bawa. "Ada apa lagi?" tanya Yasmin datar, tanpa menoleh sedikitpun. "Kamu mau kemana?" tanya Satrio, menatapnya tanpa berkedip. "Ke tempat sodara." jawab Yasmin ketus. "Aku anterin yaa ...." ajak Satrio, yang langsung di balas gelengan Yasmin. "Gak usah, saya bisa sendiri." "Tapi Yas .... " "Mas bisa berhenti gak?" Yasmin berbalik menatap Satrio. "Tolong jangan ikutin saya lagi, anggap saja tadi hanya sebuah kesalahan. Gak lebih!" "Kesalahan?" tanya Satrio, terkekeh geli. "Kesalahan apa yang bikin kamu mendesah?" "Maas!" pekik Yasmin dengan suara tertahan, sambil mengedarkan pandangannya kesekitar. Bisa-bisanya pria itu membahas masalah tabu seperti itu di tempat umum. "Jangan bicarakan itu di sini!" lanjutnya dengan mata melotot. "Ya udah, kalo gitu kamu ikut saya. Kita lanjutkan yang tadi." bala







