Se connecterAku tidak pernah berniat mengkhianati suamiku. Aku hanya... terlalu lama merasa tidak dicintai. Aku tinggal di rumah pintar tercanggih yang diciptakan oleh suamiku sendiri. Rumah yang bisa mengenali wajah, mengingat kebiasaan, dan memahami kebutuhan penghuninya. Namun tidak ada yang menyadari bahwa aku merasa kesepian di dalamnya. Setiap malam aku menunggu suamiku pulang. Dengan harapan sederhana. Dilihat. Diperhatikan. Dianggap ada. Tapi yang datang selalu sama. Rumah yang sunyi... dan hati yang kosong. Bastian bukan pria jahat. Dia hanya tidak pernah benar-benar hadir. Sampai suatu hari, sahabat suamiku mulai memperhatikanku. Mendengarkan hal-hal kecil yang kuucapkan. Mengingat hal-hal yang bahkan tidak dianggap penting oleh orang lain. Dan tanpa kusadari, perhatian itu berubah menjadi candu yang tidak bisa kuhentikan. Sekarang aku hamil. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap suamiku tidak pernah tahu rahasia di balik kehamilanku. Karena saat Bastian akhirnya mulai berubah, mulai peduli, dan mulai menginginkan seorang anak... Aku justru terjebak semakin dalam di dalam kebohongan yang kuciptakan sendiri. Sampai kapan rahasia ini bisa bertahan? Bisakah sebuah pernikahan bertahan setelah dihantam kebenaran yang sangat menyakitkan? Dan ketika semuanya terungkap... masih adakah cinta yang sanggup bertahan? Siapa yang sebenarnya akan kehilangan segalanya? Aku? Suamiku? Atau persahabatan yang mereka bangun selama bertahun-tahun?
Voir plusPOV ADELLA
Bastian: [Aku lembur. Jangan tunggu.]
Aku menatap empat kata singkat yang dingin darinya cukup lama. Ya… begitulah seorang Sebastian Wiraatmadja, Founder sekaligus CEO Vesta, Inc, suamiku yang biasa aku panggil Bastian. Dia bukan tipe pria yang menghabiskan waktu untuk menjelaskan sesuatu yang menurutnya sudah sangat jelas.
Jam dinding di ruang makan sudah menunjukan pukul 22.57, saat aku menerima pesan dari Bastian. Padahal sudah tiga jam sebelumnya aku mengirim satu pesan sederhana.
Aku: [Bas, kamu pulang jam berapa?]
Pesan itu sebenarnya sudah terlihat dibaca nggak lama setelah dikirim, tapi nggak di balas. Baru sekarang balasannya datang. Aku menghela napas. Lalu mengunci layar ponsel dan meletakkannya di atas meja makan.
Tiga tahun yang lalu kami hampir selalu punya banyak waktu buat makan malam bersama. Menghabiskan waktu cuma sekedar menonton bioskop, ngobrol receh dan tertawa bersama. Tapi dua tahun terakhir ini, sejak keguguran itu terjadi, dia mulai berubah.
Dulu aku pikir kami seharusnya melewati kehilangan itu bersama. Aku pun kecewa pada diriku sendiri. Aku berusaha terlihat kuat di depannya. Tapi justru setelah hari itu, aku merasa kehilangan dua orang sekaligus. Bayi kami... dan suamiku.
Hampir nggak ada lagi waktu untukku. Waktunya terlalu banyak dihabiskan buat kerja. Terkadang aku sudah tidur, dia baru pulang dan pagi dia sudah berangkat lagi sebelum aku bangun. Tapi terkadang aku juga nggak bisa tidur karena menunggu dia pulang.
Kalau dia pulang sebelum aku tidur, dia cuma bertanya “kenapa kamu belum tidur?” Aku jawab “tungguin kamu.” lalu dia akan berkata “Lain kali jangan tunggu.” Setelah itu selesai, dia nggak ada ngomong apa-apa lagi.
Padahal sebagai istri, aku cuma mau tahu kabar suamiku. Ingin diperhatiin.. Ingin dia bertanya gimana hariku? Apa aku salah punya keinginan seperti itu?
Pernah suatu kali, aku cuma ingin disentuh olehnya. Malam itu aku memberanikan diri memeluknya dari belakang. Dia melepas pelan tanganku. Waktu aku tanya “Bas, kamu kenapa sih?” Dia cuma menjawab “Aku capek.” tanpa memberi penjelasan yang lebih jelas.
Akhir-akhir ini dia malah lebih sering nggak pulang ke rumah. Memang beberapa tahun terakhir Vesta berkembang pesat sampai menjadi perusahaan startup teknologi rumah pintar terbesar di Arkandia. Tapi, menurutku ini sudah berlebihan. Sampai-sampai aku lebih sering ngobrol sama Vesta AI di rumah ini daripada suamiku sendiri.
Setelah berhenti bekerja, aku jadi sering menanyakan kabar Bastian ke Jay, sahabat Bastian yang juga bekerja di Vesta sebagai direktur operasional. Mereka membangun perusahaan itu bersama dari nol sejak masih bekerja dari garasi sempit bertahun-tahun lalu. Berbeda dengan Bastian, Jay hampir selalu membalas pesanku dengan cepat. Lama kelamaan dia juga sering menanyakan keadaanku.
Aku berdiri dari kursi dan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Lampu koridor langsung menyala mengikuti langkah kakiku, sementara sistem Vesta otomatis menyesuaikan suhu ruangan beberapa derajat lebih hangat.
Rumah pintar ini tahu kapan aku bangun. Tahu kapan aku tidur. Tahu kapan aku berjalan menuju dapur untuk mengambil air di tengah malam. Tapi sayangnya, nggak ada teknologi sepintar apa pun yang bisa memberitahu suamiku kalau aku kesepian.
Aku menatap meja makan. Dua piring kosong. Makanan yang tadinya hangat sudah menjadi dingin. Seperti pernikahan ini yang awalnya hangat, sekarang menjadi dingin.
Tok. Tok. Tok.
Aku tersentak dan menoleh ke arah pintu depan. Sekarang sudah hampir jam dua belas malam. Nggak banyak orang yang bisa datang ke Emerald Residence tanpa membuat janji lebih dulu.
Siapa yang datang selarut ini? Apa Bastian yang pulang? Tapi dia nggak mungkin mengetuk pintu rumahnya sendiri.
Sebelum jalan ke pintu depan, aku membuka panel keamanan di layar dekat ruang makan. Kamera CCTV depan teras langsung menampilkan sosok seseorang berdiri di depan teras rumah. Kamera itu pun langsung mengenali identitas orang itu dan menampilkan namanya di layar.
Wijaya Adi Pratama.
“Jay? Mau apa dia datang malam-malam begini?” gumamku pelan.
Aku mematikan layar, lalu berjalan menuju pintu depan. Saat sensor mendeteksi keberadaanku, sistem kunci otomatis mengaktifkan mode buka, hingga akhirnya pintu terbuka.
Aku lihat kemeja yang dipakainya sedikit basah terkena hujan. Dia memegang sebuah map hitam. Lalu menatapku beberapa detik sebelum membuka suaranya.
“Maaf aku ganggu malam-malam,” katanya pelan.
“Ada apa Jay?” tanyaku kebingungan.
“Aku mau nganter dokumen ini,” katanya sambil mengangkat map di tangannya.
Aku hampir saja tertawa melihat wajahnya yang datar itu. Kalau dipikir-dipikir memang cuma Jay yang bisa datang ke sini hampir tengah malam sambil bawa dokumen sebagai alasan yang paling masuk akal.
“Ya udah, kamu masuk dulu.” Aku menggeser badanku, memberinya jalan masuk. Aku menutup pintu lalu sensor otomatis mengaktifkan kembali sistem penguncian pintu. Vesta AI juga langsung menyapanya.
"Selamat malam, Pak Wijaya."
Sistem segera menyesuaikan cahaya lampu koridor menjadi sedikit lebih hangat. Lampu ruang makan otomatis menyala sedikit lebih terang, menyesuaikan mode kedatangan tamu yang sudah terprogram dalam sistem.
"Selamat malam, Vesta," jawab Jay santai.
Aku menggeleng kecil. Kadang aku merasa Jay lebih sering disapa oleh sistem rumah ini daripada oleh pemilik rumahnya sendiri. Tapi senyumku perlahan menghilang saat aku melihat arah pandangan Jay ke meja makan.
"Kamu belum makan?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
“Aku tungguin Bastian, kirain dia pulang, ternyata dia baru ngabarin kalau nggak pulang malam ini. “ jawabku cepat ingin segera memberi penjelasan.
Jay menghela napas pelan. “Rapat terakhir tadi sudah selesai dari jam sepuluh, Del.”
“Mungkin dia sibuk ngerjain kerjaan yang lain lagi kali, Jay,” jawabku berusaha membela Bastian.
“Padahal aku udah sering bilang ke dia buat pulang cepat dan lebih perhatian sama kamu. Tapi dia nggak pernah mau dengerin aku,” gumamnya lirih.
“Kamu juga pasti merasa kesepian di rumah sendirian sepanjang hari kan?” tanyanya sambil menatapku.
Aku mengangkat alis kaget. “Kamu sering bilang ke dia?”
“Lebih sering dari yang kamu kira, Del.” Sudut bibirnya terangkat tipis, tapi tatapannya tetap serius.
Dadaku terasa aneh. Sejak kapan Jay peduli sampai sejauh itu?
Ruangan mendadak hening. Cuma terdengar suara hujan deras, petir di luar, dan napas kami yang terlalu terasa. Lalu Jay melangkah pelan mendekat. Tapi pasti.
“Adella…” Jay memanggil pelan. Suaranya rendah, seolah takut pertanyaannya akan melukaiku. “Kamu nggak capek nungguin dia terus kaya gini?”
Ironis. Pertanyaan perhatian itu membuatku tertawa hambar karena malah datang dari sahabat suamiku. Sedangkan suamiku saja berpikir aku baik-baik saja selama ini. Aku menggeleng pelan.
“Kamu duduk di sini… nungguin orang yang bahkan mikirin kamu aja nggak,” lanjutnya. Tatapannya nggak pernah lepas dariku. “Aku nggak ngerti…” Jay menggeleng pelan. “Kamu kuat atau… sudah terlalu terbiasa disakitin.”
Kalimat itu keras tapi tepat. Itulah yang membuatku nggak bisa membalas. Aku memalingkan wajah. Nggak mau dia lihat mataku yang mulai memanas tapi Jay malah semakin mendekat.
“Aku nggak bisa terima lihat kamu terus kayak gini,” suaranya lebih dalam dan serius. Tangannya mulai naik menyentuh pipiku. Seolah memastikan aku benar-benar mendengarkan setiap kata yang akan dia ucapkan. “Setiap kali aku lihat kamu sendirian… rasanya aku pengen bawa kamu pergi dari rumah ini.”
Jantungku seolah berhenti sesaat mendengar kalimat itu. Aku mengernyit melihat Jay. “Jay maksud kamu…”
“Kalau dia nggak mau kamu…” Jay menggeleng pelan sambil menatapku lebih dalam. “aku mau.”
BERSAMBUNG
POV ADELLATawa kami perlahan mereda. Ruang tengah kembali dipenuhi keheningan yang justru terasa nyaman. Jay meneguk lagi air mineral di tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Dia tersenyum tipis, kali ini tanpa nada bercanda."Del… rasanya udah lama ya kita nggak ngobrol santai kayak gini."Kalau dipikir-pikir, dia memang benar. Beberapa tahun terakhir kami masih sering bertemu. Kadang di rumah, kadang di acara kantor, kadang saat Jay datang menemui Bastian. Tapi hampir semua percakapan kami selalu singkat, sekadar bertanya kabar atau membahas pekerjaan. Selalu ada sesuatu yang membuat obrolan kami terpotong.Aku mengangguk pelan. "Iya. Udah lama banget. Dulu kayaknya gampang banget ngobrol sama kamu.”
POV ADELLA"Aku nggak pernah merasa direpotin kalau itu soal kamu, Del."Aku terdiam. Kalimat itu masih menggantung di antara kami, bercampur dengan suara gemericik air kolam yang memenuhi halaman belakang. Jay pun ikut terdiam. Dia malah mengalihkan pandangannya ke arah kolam, seolah baru menyadari apa yang baru saja dia katakan.Aku menghembuskan napas pelan. Entah kenapa suasana tiba-tiba berubah canggung. Padahal beberapa menit yang lalu kami masih membicarakan pekerjaan dan pemasangan water heater."Masuk dulu, yuk." Ajakku memecah suasana hening saat itu."Nggak usah. Aku di sini aja nunggu Bastian." Jay langsung menggeleng pelan.Aku menatap langit yang sejak tadi nyaris tanpa awan. "Ta
POV JAY"Silakan masuk," kata Adella sambil membuka pagar samping yang mengarah ke halaman belakang rumah. Satu per satu teknisi mulai membawa peralatan melewati jalur setapak menuju kolam renang. Gue berjalan paling belakang sambil sesekali melihat gambar instalasi di tangan.Begitu sampai di belakang rumah, gue langsung mengedarkan pandangan ke seluruh area kolam. "Oke, semua berhenti dulu." Beberapa teknisi langsung menoleh."Pak Dimas, unit heat pump taruh dulu di situ." Gue menunjuk sudut taman yang paling dekat dengan ruang mesin. "Jangan langsung dipasang dulu sebelum jalur pipanya saya cek.""Baik, Pak," sahut Pak Dimas cepat.Gue berjongkok di dekat ruang pompa sambil membuka blueprint instalasi. Posisi filter, jalur sirkulasi air, sampai
POV JAYPagi itu gue baru setengah jalan menuju kantor saat ponsel di dashboard mobil tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar bikin kaki gue refleks sedikit mengangkat pedal gas.Bastian.Tumben. Biasanya kalau urusan kantor dia cukup chat atau nyuruh Maya nyampein pesan. Gue langsung menekan tombol headset di setir. "Kenapa, Bas?""Lo di mana?" tanyanya cepat."Masih di jalan.""Bagus." Suara Bastian terdengar datar seperti biasa. "Gue punya tugas penting buat lo."Genggaman tangan gue di setir langsung mengencang. "Tugas apa?""Nanti gue jelasin di kantor."












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus