Masuk“Yasmin, Sayang… Kamu masih di sana?”Yasmin tersadar dari lamunannya yang mendalam. Ia mengerjap beberapa kali, baru bisa menjawab panggilan Satrio.“Iya, Mas. Aku dengar kok,” jawabnya sambil mengusap wajah yang terasa basah oleh keringat dingin.“Jadi bagaimana tawaranku tadi? Kamu mau, kan?” Satrio kembali mengulang pertanyaannya, menunggu jawaban dengan penuh harap.Yasmin menggigit pelan bibir bawahnya, kembali terjebak dalam kebingungan yang makin berat. “Mas, masalah ini kita bahas lain kali saja ya…” jawabnya akhirnya, berusaha menghindari keputusan yang mendadak.Di seberang sambungan, terdengar helaan napas panjang yang terasa berat. Yasmin bisa merasakan rasa kecewa dan frustasi dalam nada bicara pria itu. “Baiklah, Sayang. Maaf kalau aku terkesan terlalu terburu-buru.”“Maafkan aku juga, Mas,” ucap Yasmin dengan kepala tertunduk, seolah Satrio bisa melihatnya.“Tidak apa-apa, Sayang. Memang aku yang salah.”Yasmin hanya bisa terdiam. Ia tahu, meski Satrio berusaha terdeng
Angga menjemput anak-anaknya pulang sekolah—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan sebelumnya. Dulu, urusan ini selalu diserahkan sepenuhnya kepada istrinya, dan ia tak pernah sekalipun menyadarinya.Jujur saja, Angga sangat menyesal telah menyia-nyiakan Yasmin selama ini. Baru setelah rasanya hampir kehilangan, ia sadar betapa berartinya sosok wanita itu dalam hidupnya.“Ayahhh!!”Angga segera menunduk dan membuka kedua tangannya lebar-lebar saat melihat Brayan berlari menghampiri. Bocah berusia delapan tahun itu terlihat sangat gembira melihat ayahnya yang datang menjemput.“Aduh, jagoan Ayah…” Angga memeluk tubuh mungil itu erat-erat.“Tumben Ayah yang jemput. Bunda di mana?” tanya Brayan setelah melepaskan pelukan.“Bunda lagi ada urusan sebentar. Gak apa-apa kan kalau kali ini Ayah saja yang menjemput?” Angga menatap wajah polos putranya dengan lembut.Brayan langsung mengangguk semangat. “Boleh banget! Aku suka kok!” serunya riang, lalu kembali memeluk tubuh ayahnya.“Ayah sayang
"Bu Yasmin yakin dengan keputusan Anda?"Yasmin menatap lembaran kertas dihadapannya, ia mendongak menatap Topan–pengacara yang akan membantunya mengurus perceraiannya dengan suaminya–Angga."Iyaa, Pak. Saya sudah yakin dengan keputusan saya." Topan tersenyum lembut. "Baiklah, nanti tinggal ibu tunggu surat dari pengadilan buat mediasi, nanti pas sidang Ibu tidak usah datang saja. Biar prosesnya cepat.""Baik Pak, saya paham." Yasmin mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, nanti kita bertemu lagi pas mediasi." Topan mengulurkan tangannya, yang langsung disambut oleh Yasmin. "Terima kasih atas bantuannya, Pak." ucap Yasmin tulus. "Sama-sama Bu, sudah menjadi tugas pekerjaan saya." Topan tersenyum tulus. "Dilihat dari kasus ibu, saya yakin kita akan menang dipengadilan nanti." ucapnya dengan yakin. "Iya, Pak. Semoga..."Yaa, semoga semuanya lancar. Angga maupun mertuanya tidak akan membuat drama untuk menghambat perceraian ini. Atau mungkin mereka akan senang, karena akan segera
"Bi... Are you okay?" tanya Niko sambil menatap temannya dengan wajah prihatin.Bianca menggeleng cepat, air matanya sudah membasahi pipi dan terus mengalir tanpa bisa ditahan."I'm not okay, Nik. I'm not okay... Hiksss..." Bianca menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu tangisnya pun pecah seketika.Bahu mungil gadis yang hampir berusia sebelas tahun itu bergetar hebat, membuat Niko tak kuasa menatapnya lebih lama. Ia seolah melihat bayangan dirinya sendiri beberapa bulan yang lalu—saat ayah dan ibunya sering bertengkar hebat hingga akhirnya memutuskan berpisah, tanpa mempedulikan sedikit pun perasaan anak mereka.Kedua anak yang mulai beranjak remaja itu kini hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Seolah-olah keadaan memaksa mereka tumbuh dewasa lebih cepat dari seharusnya."Menangislah saja, Bi. Kalau dengan menangis hatimu jadi lebih lega, tidak apa-apa," ucap Niko tulus sambil mengusap pelan punggung Bianca."Kalau Bunda dan Ayah berpisah, aku dan Brayan gimana, N
"Sayang... buka pintunya..." Angga mengetuk pelan pintu kamar mandi. Tangannya terkepal erat hingga urat-uratnya menonjol jelas.Sudah hampir lima belas menit Yasmin mengurung diri di dalam.Yang membuat dadanya semakin perih adalah suara isakan yang terdengar samar di sela gemericik air shower yang sengaja dinyalakan. Tangisan itu teredam, tapi justru terdengar lebih menyayat."Yasmin... sayang... buka, nanti kamu sakit..." bujuk Angga lagi, suaranya mulai bergetar.Tak ada jawaban. Hanya tangis yang semakin pecah."Yasmin... aku minta maaf, sayang... Tolong jangan siksa diri kamu seperti ini. Kamu mau marah? Pukul aku. Hina aku. Apa pun... asal jangan begini." Suaranya pecah. "Tolong, sayang... jangan siksa diri kamu...""Yasmin... jangan buat aku makin merasa bersalah..." Angga berbalik, menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi. Perlahan tubuhnya meluruh ke lantai. Ia memeluk lututnya sendiri, napasnya tak teratur."Yasmin... maafkan aku..." jemarinya menjambak rambutnya frust
Angga melepas pelukannya, ia menunduk dalam di hadapan Yasmin. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan, tubuhnya terasa kaku seolah membawa beban berat yang tak bisa ditanggung lagi."Dia pacar gelap kamu?"Deg.Pertanyaan Yasmin mampu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Tubuhnya sedikit menggigil, tangan kanannya menggenggam ujung sprei dengan kuat. "Maaf..." dan akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya—suara yang hampir tak terdengar."Sejak kapan?" tanya Yasmin kembali, nada suaranya semakin dingin dan datar seperti es yang membeku. Matanya menatap Angga dengan pandangan yang menyakitkan, namun tak ada satu pun air mata yang keluar."Satu tahun terakhir..." jawab Angga dengan suara yang terengah-engah, membuat dada Yasmin sesak seperti di timpa beban berat yang tak tertahankan. Ia merasa dunia seolah runtuh di depannya—setahun lamanya dia merasa ada yang salah namun selalu membujuk diri sendiri bahwa itu hanya khayalan."Kalian... Sudah tidur bersama?" pe







