LOGINSaat itu Neil dan Lucy memadu kasih, Neil menuntunnya dengan sangat hati-hati. Ia tidak hanya memuaskan dirinya sendiri, tapi juga memuaskan sang istri. Dan setelah mencapai puncak kenikmatan, Lucy tertidur di sisi Neil di atas tempat tidur mereka.Neil mendengar bunyi pesan masuk ke ponsel miliknya. Ia bangkit dan menurunkan kedua kakinya ke lantai, membuka pesan itu. Pesan itu berasal dari Maria.[Izinkan aku masuk ke dalam hidup kalian dengan cara baik-baik, atau Lucy tahu dari orang lain? Neil, segera putuskan. Atau aku sendiri yang memberitahu Lucy, kalau aku ibu kandung Ethan. Cinta pertamamu.]Neil memijat keningnya. Ia bukanlah seorang mafia yang membunuh Maria, hanya untuk menyingkirkan wanita itu dari hidupnya. Meskipun ingin memutuskan hubungan, Neil masih memikirkan perasaan Ethan. Hanya karena menghargai putranya itu.Neil tidak membalas pesan itu, ia meletakan kembali ponselnya di nakas. Lalu membenamkan wajahnya. Setelah itu, ia pergi mandi. Neil langsung berganti pakai
“Kesempatan katamu?” ulang Neil. Ekspresinya seolah baru saja mendengar sebuah lelucon yang begitu luar biasa. “Aku sudah banyak memberimu kesempatan. Tapi, kesempatan yang aku beri, waktu yang kamu luangkan. Kamu habiskan untuk membunuhnya. Jangan lupakan itu.” Rahang Neil mengeras. Maria melihat Neil marah, tapi Maria tidak goyah. Ia meraih tangan Neil.“Sekali—” Neil sudah lebih dulu menghempaskan tangan Maria.“Eh, kamu jangan ganggu Lucy lagi. Jangan muncul lagi di hidup kami.”Ada kesedihan di mata Maria. “Semakin kamu melarangku, semakin aku bersemangat untuk melawanmu Neil. Izinkan aku terus berada di sisi Ethan, atau semua orang tahu kalau aku ibu kandungnya. Menurutmu, jika Lucy tahu—kamu pernah menjadi orang ketiga dalam pernikahanku. Sampai aku memiliki anak dari pria lain, saat statusku belum bercerai dengan suamiku. Menurutmu, apa dia masih menerimamu?”Mata Neil menajam. Amarahnya meledak-ledak sampai ke ubun-ubun, darahnya bergejolak. Maria tidak sembarangan bicara. I
Neil menarik napas dalam. Ia tahu, saat ini tidak ada gunanya berbohong lagi. Cepat atau lambat ini semua tidak dapat ia sembunyikan lagi."Lucy," kata Neil pelan. Tangannya mengeratkan genggaman pada tangan Ethan. "Maria, adalah... teman lamaku."Maria menatap Neil terpaku, hanya teman lama? Setelah semua yang mereka lalui bersama? Lucy menatap wajah Maria, lalu menatap Neil. "Teman lama?" ulang Lucy pelan, terkejut. “Kamu tidak pernah memberitahuku, kalau kamu dan Kak Maria berteman.”Neil menghampiri Lucy. Lalu memegang kedua bahu Lucy, berusaha menenangkan sang istri.”Itu karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Selain itu, jika aku bilang aku mengenalnya. Aku takut kamu tidak percaya, bagaimanapun kami sudah lama tidak komunikasi. Benar, begitu Maria?”Maria tidak langsung menjawab. Lalu mengangguk.“Ya— aku sangat terkejut, Lucy. Suamimu ternyata teman lamaku. Sebuah kebetulan.” Maria tersenyum.Lucy mengangguk. Namun, ia merasa ada yang tidak bisa dari ekspresi keduanya.
Maria membalasnya dengan tanda tanya. Lalu, kembali mengirimkan pesan.[Kamu juga di sini? OMG kenapa bisa kebetulan?][Aku sedang ada acara keluarga. Bagaimana denganmu?][Berlibur dengan seseorang. Bagaimana kalau kita bertemu, besok. Itupun jika kamu ada waktu.]Lucy yang membaca pesan itu, menyimpulkan kalau Maria pasti sedang berlibur dengan kekasih barunya. Ada rasa bahagia, karena akhirnya Maria membuka hati. Namun, Lucy yang tersenyum tidak langsung menanyakannya.[Baik. Kamu yang tentukan mau dimana.][Kamu sedang hamil, kan. Biar aku saja yang datang ke sana, bagaimana?][Oke. Maaf merepotkanmu.][Tentu saja tidak, baby. Sampai bertemu besok.]Setelah itu Lucy menggeletakkan ponselnya di atas meja. Lalu memesan layanan kamar, mereka pun makan malam bersama. Sedangkan di seberang sana, Neil bersama dengan keluarga Lucy. Mereka mengobrol, adapun Roselia merasa kesal karena Lucy tidak datang malam ini. Jadi, hadiah yang disiapkan untuk mempermalukannya sia-sia.“Sayang sekali L
Lucy menatap suaminya yang kini mencolek hidungnya. Di hari pernikahan Roselia dan Noah, mereka malah pamer kemesraan. “Setidaknya, kamu harus makan sedikit sekarang.” Neil menatap lembut.Lucy mengangguk. “Aku akan menyuapimu,” kata Neil.Ucapan Neil membuat ibu Lucy, neneknya hingga orang tua Noah membelalak. Tidak menyangka sosok seperti Neil begitu memanjakan Lucy secara terang-terangan. Perlakuan hangat Neil terhadap istrinya, membuat semua mata tertuju padanya. Begitu juga dengan Noah yang memperhatikan mereka. Kebahagiaan Lucy membuatnya tidak begitu senang. Tangannya mengepal.Lalu, Roselia muncul bersama ayah Lucy. Mata Lucy kini tertuju pada sosok Roselia yang terlihat cantik dalam balutan gaun pengantinnya. Matanya sempat menyapu ke arah Lucy sesaat, sebelum akhirnya tertuju pada Noah di depan sana.‘Noah, akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya.’Noah yang berada di seberang sana tersenyum.‘Selangkah lagi untuk mendapatkan asetmu, Roselia.’Hari itu, Lucy menyaksikan ja
Neil memejamkan matanya. Ia tidak rela menukar kebahagiaan Lucy dengan kesedihan. Meskipun pada akhirnya, harus memberitahu yang sebenarnya pada Lucy.‘Sebentar lagi, Lucy. Beri aku sedikit waktu lagi’Lucy mengelus tangan Neil yang kini melingkar di pinggangnya. Memeluk seutuhnya tubuhnya.“Jangan bicara seperti itu. Seburuk apapun ibunya, dia tetap ibunya. Sudahlah, itu hanyalah mimpi.” Lucy menghela napas. “Jika aku jadi Ethan, pasti sedih karena tidak tahu ibu kandung siapa. Tapi, bukan akhir dari segalanya.”Lucy mengangkat wajahnya, mendongak menatap Neil. Neil menghela napas, membuka mata dan mengecup pipi Lucy. Keduanya sama-sama tersenyum.—Noah sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dalam hitungan jam. Dia sudah mendengar kalau Lucy juga datang bersama Neil. Namun, tidak kunjung datang kesini. Lucy juga tidak menerima pakaian keluarga yang sudah dipesankan oleh Noah.Noah yang menatap jam tangannya masih mengingat Lucy. Dia tahu keputusannya salah, tapi ambisinya jauh leb







