MasukHari itu, setelah jam kerja selesai, Bimo berdiri di lobi kantor, menunggu Bunga yang tampak sibuk membereskan dokumen di meja kerjanya. la bersandar di dinding sambil tersenyum, menunggu waktu yang tepat untuk mengajaknya keluar.
"Bunga, aku antar pulang ya," ujar Bimo dengan nada santai saat Bunga berjalan mendekat."Iya Mas..." Bunga tersenyum senang dan seperti biasamereka akan mengendap-endap berjalan ke arah parkiran tanpa seorang pun yang tahu."Bunga, kita mampir dulu ke apartemenku ya," ajak Bimo setelah mobilnya keluar dari area kantor."Mau ngapain Mas?" Bunga melirik ke arah kekasihnya itu."Nggak ada apa-apa sih cuma pengen ajak kamu keapartemen saja kita santai dulu sejenak, ngobrol-ngobrol gitu.""Baiklah kalau gitu." Akhirnya Bunga mengangguk setuju.itu. Bimo tampak senang dan mempercepat laju kuda besinyaSesampainya di apartemen Bimo, Bunga segera memperhatikan ruangan itu.liishhh jangan dibahas dong Sayang." Wajah Bunga kembali bersemu merah. la malu sekali karena Bimo membicarakan hal itu lagi.Terus terang ia sangat menikmatinya tadi. Dan sepertinya ia juga akan ketagihan melakukannya lagi dengan Bimo.Drrrtt...Ponsel Bunga berbunyi. la melihat ibunya menelpon."Mama?!" Bunga terkejut dan segera menjawab panggilan ibunya."Bunga, kenapa kamu masih belum pulang? Sudah hampir jam tujuh malam nih, kamu kemana saja Bunga?" Suara Bu Rasti terdengar dipenuhi kekhawatiran."Iya Ma, sebentar lagi aku pulang. Aku lembur Ma dan ini masih kerja. Jam tujuh nanti baru selesai." Bunga mencari alasan agar ibunya percaya."Ya sudah, langsung pulang ya jangan kelayapan lagi.""Iya Ma," pungkas Bunga menutup panggilan telepon ibunya.Bimo terkekeh saat mendengar Bunga terpaksa berbohong pada ibunya."Semua ini gara-gara kamu Mas. Padahal aku tidak pernah berbohong sama Mama se
"Kalau begitu bersiaplah Sayang Bimo pun merangkak naik ke atas tempat tidur. Sepertinya sore ini akan menjadi hari keberuntungannya.Bimo mengecup lembut bibir Bunga lalu merambat turun dengan mengecupi leher jenjang gadis cantik itu dan tak lupa meninggalkan jejak di sana."Jangan Mas...!" Bunga teriak."Kenapa?" tanya Bimo menghentikan gerakannya seketika."Aku nggak mau membuat Mama curiga jika melihatnya." Bunga menggigit bibirnya malu.Bimo tersenyum dan mengusap bibir itu dengan lembut."Maaf aku lupa Sayang. Baiklah aku akan buat tanda di tempat lain saja. Bimo mengangguk.Aksi selanjutnya membuah dada Bunga kembali berdebar karena Bimo perlahan tapi pasti melepas pakaiannya dan memainkan melon segarnya lagi seperti di dalam mobil tadi."Aaahhh....!" Bunga kembali mele nguh pelan sambil menggigit bibirnya yang seksi.Bimo pun membuat beberapa tanda kepemilikannya di sana.Keduanya semak
"Kamu membuatku gila Bunga..." ucap Bimo di sela kecupan bibirnya.Tatapan keduanya saling bertemu. Jantung keduanya berdetak kencang. Mata Bimo terlihat sayu. Wajah cantik Bunga terlihat sangat gugup dengan rona merah yang menghiasi pipi tirusnya.Bimo kembali tak kuasa menahan hasratnya. Kali ini ia mencium bibir Bunga dengan lebih lembut namun begitu dalam hingga beberapa kali lidah mereka saling membelit dan saling menyesap.Tangan nakal Bimo kembali tak bisa diam. la menyentuh dua melon mengkal yang tersembul di balik kemeja yang Bunga pakai.Bunga tidak menolak, otaknya seolah sudah membeku hingga tak peduli lagi sedang berasa dimana mereka sekarang.Tangan Bimo perlahan melepaskan kancing baju Bunga tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Beruntung kaca mobil Bimo sudah dilapisi kaca film hingga apa yang mereka lakukan di dalam tidak akan terlihat dari luar."Aaahh...!" Bunga mende sah saat tangan Bimo mulai memainkan melon
"Shit! Bagaimana aku bisa konsentrasi kerja kalau bayangan Bunga terus menari dipikiraku?" Bimo mendesah kesal.Seharian ini konsentrasinya buyar. Bayangan wajah Bungal yang sedang mendesah terekam jelas diingatannya.Ditambah lagi masih terasa di telapak tangannya saat benda kenyal itu ada dalam genggamannya. Rasanya sungguh kenyal dan hangat.Bimo tersenyum sendiri sambil melihat kedua telapak tangannya yang begitu nakal kemarin malam."Ah, Bunga... kamu terlalu indah untuk dilupakan Sayang. Rasanya aku bakal kecanduan untuk menyentuhmu." Bimo memejamkan matanya.Membayangkan kembali saat ia berada di atas tubuh wanita itu. Menyesap melonnya yang segar dan memabukkan. Otaknya berpikir keras untuk membawa Bunga kembali ke apartemennya sore itu.Bimo menghela napas berat, melepas dasinya yang terasa mencekik. Tubuhnya terasa gerah, bukan karena suhu ruangan yang panas, melainkan karena debaran di dadanya yang sulit ia kendalikan.
Hari itu, setelah jam kerja selesai, Bimo berdiri di lobi kantor, menunggu Bunga yang tampak sibuk membereskan dokumen di meja kerjanya. la bersandar di dinding sambil tersenyum, menunggu waktu yang tepat untuk mengajaknya keluar."Bunga, aku antar pulang ya," ujar Bimo dengan nada santai saat Bunga berjalan mendekat."Iya Mas..." Bunga tersenyum senang dan seperti biasamereka akan mengendap-endap berjalan ke arah parkiran tanpa seorang pun yang tahu."Bunga, kita mampir dulu ke apartemenku ya," ajak Bimo setelah mobilnya keluar dari area kantor."Mau ngapain Mas?" Bunga melirik ke arah kekasihnya itu."Nggak ada apa-apa sih cuma pengen ajak kamu keapartemen saja kita santai dulu sejenak, ngobrol-ngobrol gitu.""Baiklah kalau gitu." Akhirnya Bunga mengangguk setuju.itu. Bimo tampak senang dan mempercepat laju kuda besinyaSesampainya di apartemen Bimo, Bunga segera memperhatikan ruangan itu.
Hari itu Revan sedang duduk di ruangannya, tenggelam dalam laporan keuangan yang harus ia review. Pikirannya penuh dengan pekerjaan, mencoba memastikan semuanya berjalan lancar untuk presentasi minggu depan. Tiba-tiba, suara ketukan di pintu ruangannya memecah konsentrasinya. "Masuk," ujar Revan, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Pintu terbuka, dan Citra melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Wanita itu mengenakan gaun merah elegan yang mempertegas pesonanya. Revan langsung mengangkat wajahnya, sedikit terkejut dengan kedatangan Citra tanpa pemberitahuan. "Bu Citra, ada yang bisa saya bantu?" tanya Revan dengan nada sopan, meski merasa sedikit tidak nyaman. Citra tersenyum manis. "Pak Revan, saya datang untuk membahas lanjutan dari meeting kita kemarin." Revan tertegun. Membicarakan bisnis, tapi pakaian yang digunakan oleh Citra seperti seseorang yang mau datang ke pesta. Pakaian wanita itu sedikit terbuka bahkan menampakkan belahan dadanya yang cukup menantan







