Mag-log inMy name is Margaret Turner. After my daughter, Sarah McDowell, becomes pregnant, I am shocked to find that I can hear the thoughts of the baby in her womb. "Grandma, please don't let Mommy get the prenatal checkup! If they learn I'm a girl, Dad will make her get rid of me. I don't want to die!" I can't believe what I'm hearing. Knowing that my son‑in‑law, Jeremy O'Brien, works at a hospital and can use his connections to learn the baby's gender, I do everything in my power to keep Sarah from being examined. But three months later, doctors confirm that Sarah's baby has a congenital deformity and is fated to be born disabled. Sarah is devastated, and guilt consumes me. Suddenly, I hear my granddaughter's voice again. "It's all because of Dad. He cheated with that nurse and returned home soaked in her cheap perfume. As soon as Mommy breathed it in, I was fated to come into the world deformed. Poor Mommy…" Rage explodes inside me. Without a second thought, I storm into Jeremy's workplace, determined to catch him in the act. I don't expect to walk in on a critical heart surgery he is performing. My intrusion throws the room into chaos, and the patient dies on the operating table. The patient's family loses control, and they cause a violent scene in the hospital. In the mayhem, Jeremy is killed on the spot. When Sarah learns what I've done, she is consumed by rage and declares she wants nothing more to do with me. At that moment, my granddaughter's voice echoes in my mind once more. "Mommy is heartbroken and needs time to heal. Grandma, please don't make things worse. Mommy will be okay after she rests." Hearing this, I force myself to stay calm. But that very night, word arrives that Sarah has thrown herself into a river and ended her life. Shattered by grief, I eventually make the same tragic choice. As my final breath fades, my granddaughter's chilling laugh echoes in my ears. When I open my eyes again, I find myself back on the day her voice first crept into my mind.
view moreNamanya juga jodoh. Kita tidak pernah tahu, kapan akan dipertemukan
~Fall in love ~
Namaku Stevie Andini. Hari ini ialah hari besar bagiku. Bukan hari dimana aku akan dilamar atau menikah dengan pangeran tampan berkuda dan akan tinggal di istana megah dan mewah. Biarkan saja itu untuk Cinderella dan para putri lainnya. Aku cukup sebagai penonton mereka saja.
Hari ini ialah hari pertamaku memasuki dunia perkuliahan dan kedepannya akan mulai merasakan bagaimana rasanya pengenalan kampus yang banyak diceritakan orang-orang. Tolong doakan semoga aku baik-baik saja hingga studiku selesai disini.
Sebenarnya aku bukan sedang dalam masa pendaftaran, tapi sedang masa pengenalan kampus. Tak perlu aku ceritakan semuanya dari awal, cukup tahu saja jika sampai ke titik dan situasi hari ini tidaklah mudah.
Karena memang tidak pernah ada kata mudah dalam mencapai sesuatu. Terkecuali jika kau lahir dalam keadaan serba berkecukupan dan tidak kekurangan satu hal pun.
Tapi bahkan, para putri yang biasa aku tonton saja tidak akan memiliki hidup semulus itu bukan ?
Biarku beri tahu saja jika beberapa minggu terakhir ini, aku terlalu tegang karena khawatir tentang hari besarku, tepatnya hari ini.
Apa aku baru saja bilang kalau aku nervous ?, mungkin aku terlalu berlebihan dalam menceritakannya. Tapi bukankah akan selalu ada kali pertama dalam setiap hal ?
Percayalah, rasanya tidak seburuk itu. Aku cukup santai hari ini. Karena memang dasarnya aku orang yang acuh, bisa dianggap masa bodo juga.
Tidak perlu terlalu berlebihan, karena semuanya akan berlalu dengan cepat. Namun hal yang harus selalu kamu syukuri adalah, sesulit apapun harimu, poin pentingya adalah kau masih tetap hidup. Apalagi yang lebih baik dari itu selain keberhasilan itu sendiri ?
Belajarlah bersikap optimis kapanpun dan dimanapun. Itu yang sedangku usahakan sekarang.
Baik, Mari mulai dengan cerita pagi ini..
Pagi ini kami dikumpulkan dalam sebuah lapangan luas. Tentu saja luas, jika tidak maka bukan lapangan namanya. Kami mengenakan topi kerucut dengan papan berisikan nama dan jurusan yang sebelumnya sudah kami pilih.
"Ternyata ini rasanya ospek !" batinku.Sudah aku bilang rasanya tidak buruk. Sebentar juga pasti akan selesai.
Aku berada pada barisan kedua, dengan teman-teman baruku. Rasanya seru mengenal banyak teman baru dari berbagai tempat dan budaya yang berbeda.Namun, aku belum menemukan teman yang suaranya menggelegar, atau tipe yang biasa disebut urat malunya putus.
Sebenarnya teman SMAku dulu banyak yang seperti itu. Suatu kelas, suatu angkatan, hingga suatu sekolah pasti memiliki tipe murid seperti itu. Mereka memang beragam. Mungkin aku juga bisa dibilang termasuk salah satunya. Itung-itung mengurangi pengeluaran untuk membeli speaker atau toa.
Aku mendapatkan beasiswa di kampus ini. Beasiswa berprestasi, dan kampus ini adalah salah satu perguruan tinggi swasta di kota Jogja. Aku diterima dijurusan Akuntansi.Sekedar informasi, aku berasal dari jurusan Mipa semasa SMA tapi entah kenapa bisa diterima di jurusan Soshum. Ini kah yang dinamakan linjur alias lintas jurusan ? Tentu saja iya.
Bukannya mengambil jalur dan kesempatan anak IPS. Tapi bukankah semuanya sudah diatur oleh yang maha kuasa ?, aku pikir itu ada benarnya. Kamu tidak tahu apa takdirmu, makanya kamu hanya bisa berusaha.Pengenalan kampus hari pertama ini berjalan lancar, walau ada beberapa kejadiaan lucu yang tak luput dari perhatian semua peserta. Inilah senangnya mengenal orang baru. Kau tidak akan tahu kepribadiannya sebelum mengenal mereka lebih jauh lagi.
Aku berharap tak akan ada dosen yang mengetahuinya, atau senior yang memperhatikannya.
Oh iya, Banyak teman-temanku yang dibawa ke bagian medis, itu karena mereka kelelahan. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan, walau ada juga beberapa laki-laki.Aku merasa biasa saja saat melihat mereka. Untung aku tidak suka merepotkan orang lain, jika iya, maka aku sudah berpura-pura pingsan sejak tadi.
Tidaklah, sebenarnya aku merasa biasa saja karena aku anak Pramuka sejak SD namun baru aktif saat SMA. sehingga berdiri berjam-jam disini pun rasanya masih biasa saja. Walau kami sedang disuruh duduk, tapi tetap saja sangat terik disini. Apa itu karena matahari hari ini sedang semangat melihat kami ? Apa ini salah satu bentuk dukungannya ?, semoga saja tidak ada teman mataharinya yang ikut.
Oh astaga, apa yang sedang aku bicarakan ?
Baik, Kita lihat saja hingga dua hari kedepan, apa aku masih kuat dengan panas yang terik ini atau tidak. Karena aku juga manusia biasa, dan lawanku matahari. Itu sama sekali bukan manusia.
Bercanda, jangan terlalu dibawa serius.
Aku juga ingin mengatakan bahwa aku juga anak PMR semasa SMA, rasanya tak tenang melihat orang-orang yang mulai kelelahan disekitarku.Andai saja aku bisa bergabung disana, pasti rasanya bangga banget. Itung-itung ibadah. Bisa sekalian kenalan juga gitu.
Saat sedang asik dengan fikiranku, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengalihkan pikiranku.Apa itu ?
Ternyata ada seorang cowok yang sepertinya kelelahan disebelahku.Huffhh, untung saja bukan senior yang ku kira mau menegur. Maafkan aku senior, aku selalu berbicara tentangmu dalam ceritaku.
Tapi cowok ini aneh. Dia tanpa rasa bersalah malah bersandar dibahuku dengan nyamannya. Pasti pacar terakhirnya meminta putus karena dia yang selalu bersandar seperti ini. Itu pasti karena mereka merasa pegal-pegal.Tapi hal yang membuatku kesal adalah, dia tidak kunjung beranjak dari sana.
Dasar tidak tahu tempat. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu.
Palingan ini cuman modus, badannya aja kelihatan segar bugar gitu, masa iya dalamnya lemah lembut.Eh, bisa jadi.
Kan kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja.
Aku tidak tahu pasti. Namun yang aku tahu adalah hal ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi.
"Eh eh !" kataku mulai tak santai saat cowok itu tak kunjung beranjak dari bahuku.“Kenapa sih ?” tanyaku
"Jangan gerak dulu, bentar aja kok.” UjarnyaLo pikir ini halte, bentar-bentar.
“Lo sakit yah ?” tanyaku
“Hmmm,” gumamnya
Apa artinya itu ?
“Sana ke UKS, jangan malah nyandar kesini !” ketusku
“Bentar aja, Nyaman banget disini." katanya
Modusnya tingkat dua ini.
"Gila nih cowok. Baru kenal modusnya minta ampun !" kataku pelan.Tentu saja dia mendengarnya, memang itu tujuanku. Menjauh dari para cowok tukang modus dan gombal haruslah dengan suara yang lantang dan perkataan yang bisa dengan jelas dipahami. Jangan pakai permisalan, mereka nggak akan pernah ngerti.
“Sana minggir !” usirku lagi
"Cantik-cantik galak. Tipe istri idaman banget ini," katanyaYa tuhan, apakah ini ?, apa ini godaan di pagi hari ?
Kenapa bukan Justin Bieber saja yang datang ?
Kalau itu mah, hamba enggak nolak. Kalau Justinnya mau sih.
“Kamu jualan kasur yah ?” tanya cowok itu
Apa lagi sekarang ?
“Enggak. Kenapa ?” kataku bingung
“Abis bahu kamu nyaman banget. Ngalahin kasur Unit Kesehatan !” jawabnya
Aku memutar mataku malas.
Pasti nih anak pengunjung setia uks dulu. Sampe dibawa-bawa ke kampus.
"Heh. Baru kenal juga, udah sana jauh-jauh," kataku mencoba mengusirnya.Sungguh, cowok ini sangat tidak tahu malu.
Bisa-bisanya dia santai saja saat para senior sedang melihat kearah mereka sekarang.
"Bentar aja, ini bakalan jadi tempat bersandar paling nyaman mulai sekarang," kata cowok itu
Andai bukan tempat umum, sudahku teriaki anak ini.
Berapa banyak cewek yang sudah dia gombali seperti ini ?
Apa ucapanku kurang jelas ?, aku harus mencoba cara lain.
"Kalau mau modus tolong jangan sama saya,” kataku“Situ tuh ada cewek lain, modusin sana !" Lanjutku seraya menunjuk seorang cewek disebelahnya lagi.
"Lebih cantik juga, pasti bahunya lebih nyaman," sambungku "Enggak mau !" TolaknyaDia bahkan belum melihat cewek itu dan sudah menolak.
Apa dia sengaja menggangguku ?
Aku memerhatikan para senior didepan yang menatap kami.
Ada juga beberapa senior cewek yang seperti-ya menatapku dengan pandangan kesal.
Sumpah. Gue belum mau punya musuh. Terus itu senior lagi. Tapi badan gue juga enggak kecil-kecil amat.
Tinggi 180 cm, berat 52 kg.
. . .
Sampai ketemu dibab selanjutnya. Hope you enjoy it :)
Sarah immediately plastered on a pitiful expression."You've always competed with me because you can't stand to see me have a better life than you," she said. "You've done everything you could to destroy my family. I'm beautiful, but you call me promiscuous. Do you even realize how much it hurts to live in your shadow? You don't deserve to be my mother!"With that, Sarah covered her face and began crying loudly. I didn't waste another word on her. Instead, I pulled out my phone and played the surveillance footage of her giving birth right on my doorstep."This so-called 'ugly baby' was born from your womb. Why are you refusing to acknowledge her now? What were you thinking when you were cheating on Jeremy behind his back?"I've spoiled you, loved you, and tolerated your nonsense more times than I can count. I've bent over backwards to keep your secret safe."But because you were so terrified of the truth being exposed, you nearly killed me. Have you forgotten that I'm your mother?
"Mom, please don't say anything to anyone, okay? This is my last request. I swear I won't trouble you again."I know I messed up. I never should've hurt anyone, and I never should've lied to you. But, Mom, you always said your love for me was unconditional. Surely you're not abandoning me now, are you?"I have to go to the hospital… It hurts so much."My hands shook uncontrollably. Seeing Sarah covered in blood, I immediately rushed to assist the doctors in getting her into the emergency room.When Sarah finally opened her eyes in the hospital bed, the first thing she did was call out for me."I'll tell you everything, Mom. I just hope you can find it in your heart to forgive me."I lost my husband, and my baby came into this world deformed. My entire life has collapsed. I don't know how to go on without you."I gave a nod, signaling her to continue.Sarah's face turned pale. She reached out and removed the necklace from around my neck."I'm sorry, Mom. The 'voice' you heard w
In an instant, Sarah's face turned pale, but she quickly regained her composure."Mom, I'm confused. What exactly are you trying to say?"Why on earth would I deliberately hurt my beloved baby? Why would I turn my back on a good life just to kill the man I married? And what do you mean you're 'hearing voices'? Mom, you're not seriously losing your mind, are you?"Her words left me speechless. For a moment, I couldn't find a response.I knew no one would believe I could hear the voice of Sarah's baby. To anyone else, the idea that someone as gentle and kind as Sarah could ever harm those she loved was unthinkable.However, the moment she had plunged into the lake, I could sense that something was off with her.I'd trained Sarah in diving ever since she was a child, and over the years, she had won countless swimming competitions. There was no way she could have drowned.When she had leaped into the water, I noticed a thin life jacket hidden beneath her clothes. In that instant, it
"Mom! I'm here! Please help me! I can't breathe!"Mom! Aren't you a good swimmer? How can you just stand there and watch me die? I'm carrying your grandchild, for crying out loud! I regret jumping in. I'm so scared. Mom, please save me!"Sarah's desperate cries pierced the hearts of everyone around her. Her struggle was agonizing to watch.A crowd began to gather. Ignorant of the truth, they pointed at me, and their voices rose with outrage."How can you just stand there and do nothing? She's your daughter, for heaven's sake! How can you watch her drown without even trying to help?""Oh, please! Someone like that doesn't deserve to be a mother. It's disgusting. If my own daughter fell into the water, I'd give anything to save her!"Their cruel words rolled off me; not one of them reached my heart.Without a second thought, I pulled out my phone and called the police. "What could a woman like me possibly do? I'd only end up drowning with her," I said.I remained eerily composed,






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.