Inicio / Horor / HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA / BAB 4 Malam Ketiga, Giliran Dipanggil

Compartir

BAB 4 Malam Ketiga, Giliran Dipanggil

last update Última actualización: 2025-12-17 17:01:58

Malam ketiga tidak datang dengan gelap.

Ia datang dengan cahaya yang terlalu terang.

Lampu-lampu bohlam di halaman rumah saya menyala seluruhnya, memutihkan wajah-wajah warga yang duduk bersila di pendopo. Tidak ada bayangan. Tidak ada sudut gelap untuk bersembunyi. Segala sesuatu terlihat jelas—dan justru itulah yang membuat rasa takut merayap pelan, menghimpit dada satu per satu.

Udara terasa berat, seolah setiap tarikan napas harus meminta izin. Keringat dingin mengalir di pelipis saya. Dari dapur, bau anyir bercampur kemenyan kian menyengat, membuat perut saya mual.

Tidak ada pembukaan. Tidak ada sambutan. Tidak ada doa.

Hajatan malam ketiga dimulai dengan bisikan.

Bisikan itu tidak datang dari satu arah. Ia menyusup dari sela tiang pendopo, dari bawah kursi, dari tanah yang kami injak. Seolah desa ini sendiri memiliki mulut.

“Paijo…"

Seorang lelaki paruh baya di barisan tengah tersentak. Bibirnya bergetar, matanya berair. Ia menoleh ke kiri dan kanan, berharap ada kesalahan. Namun bisikan itu datang lagi, lebih tegas.

“Paijo…"

Ia berdiri perlahan. Langkahnya tertatih, tetapi tak ada yang berani menahannya. Istrinya menutup mulut, menahan tangis agar tidak pecah. Paijo menunduk ke arah pendopo, lalu berjalan menuju dapur.

Begitu pintu dapur tertutup, suara lesung ditumbuk terdengar.

Tok.

Tok.

Tok.

Irama itu lambat dan teratur, seperti menghitung sisa waktu hidup seseorang.

Nama berikutnya dipanggil.

“Wagini…"

Seorang perempuan tua menangis tersedu. Ia memeluk cucunya erat-erat, mencium ubun-ubun kecil itu seolah hendak menghafalkan aromanya. Dua warga menarik lengannya perlahan.

“Jangan… jangan…” rintihnya.

Tak ada yang menjawab.

Saya bangkit berdiri. Lutut saya gemetar, tetapi suara saya berhasil keluar.

“Cukup!” teriak saya. “Hentikan ini! Kalian semua masih manusia! Ini rumah saya—desa ini tanggung jawab saya!”

Tak satu pun warga menoleh. Mata mereka tertunduk. Beberapa berbisik doa yang terputus-putus.

Mbah Wiryo berdiri. Tongkatnya menghentak lantai pendopo satu kali, cukup keras untuk mematikan bisikan.

“Tenanglah, Rangga,” katanya lirih. “Hajatan belum sampai puncaknya.”

“Berapa banyak lagi?” tanya saya, suara saya parau. “Berapa nyawa yang harus kalian ambil?”

Ia menatap saya lama. “Sebanyak yang diminta.”

“Siapa yang meminta?”

Hening. Dari dapur, asap hitam tipis keluar dari celah atap.

“Mereka yang pertama membuka tanah ini,” ujar Mbah Wiryo akhirnya. “Dan mereka yang tidak pernah benar-benar pergi.”

Ratna mencengkeram tangan saya. Kuku-kukunya menekan kulit saya hingga perih.

“Mas… aku mendengar namaku,” bisiknya.

Saya menggeleng keras. “Tidak. Kau salah dengar.”

Namun bisikan itu datang lagi, lebih dekat, lebih jelas, seperti berada tepat di belakang telinga.

“Ratna…"

Istri saya terisak. Tubuhnya melemas.

“Tidak!” saya berteriak. “Dia tidak ikut! Ambil saya kalau perlu!”

Beberapa warga akhirnya menoleh. Wajah mereka bukan marah, melainkan ketakutan yang sama seperti yang saya rasakan.

Pak Darman mendekat. “Pak Lurah… yang menolak biasanya diganti.”

“Diganti dengan apa?”

Ia menelan ludah. “Dengan kepala desa berikutnya.”

Kata-kata itu menghantam saya lebih keras dari pukulan.

Saya melangkah ke depan, berdiri di hadapan Ratna. “Kalau harus ada yang menggantikan,” kata saya lantang, “biarkan saya.”

Angin dingin menerpa pendopo. Lampu-lampu berkedip liar. Sesaji bergetar hebat. Dari dapur terdengar dentuman keras, seperti sesuatu yang menolak pilihan saya.

Mbah Wiryo mendekat. “Kau tidak bisa memilih, Rangga.”

“Saya kepala desa!”

“Kau hanya penjaga sementara,” jawabnya dingin.

Bisikan itu muncul tepat di telinga saya.

“Bukan giliranmu… belum.”

Lutut saya lemas. Saya jatuh terduduk. Ratna memeluk saya erat-erat, tangisnya pecah tanpa suara.

Nama-nama kembali dipanggil. Jeritan terdengar makin sering. Pendopo semakin lengang. Kursi-kursi kosong bertambah.

Hujan turun deras. Tanah halaman berubah becek. Saya memperhatikan jejak kaki menuju dapur.

Tak satu pun kembali.

Seorang pemuda tiba-tiba roboh di tengah pendopo. Tubuhnya kejang, matanya terbalik, busa keluar dari mulutnya.

“Dia menolak,” kata Mbah Wiryo datar.

“Dan itu hukumannya?” tanya saya putus asa.

“Bukan,” jawabnya. “Itu peringatan.”

Menjelang dini hari, hanya tersisa separuh warga.

Malam ketiga berakhir tanpa penutupan.

Tak ada doa. Tak ada syukur.

Hanya ketakutan yang menetap di rumah saya.

Dan di dalam hati saya, satu tekad tumbuh perlahan:

Jika hajatan ini menuntut kepala desa, maka saya akan memastikan rahasia desa ini ikut terkubur bersamanya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 50 - Setelah Kita Memilih

    Tidak ada hari raya setelah itu.Tidak ada pengumuman bahwa dunia kembali normal.Yang ada hanyalah pagi-pagi yang terasa sedikit lebih berat—dan sedikit lebih jujur.Ruang Harmoni tetap berdiri.Di beberapa kota, ia ditutup sementara.Di kota lain, jam operasionalnya dipersingkat.Di sebagian tempat, ia berjalan seperti biasa—seolah malam itu tidak pernah terjadi.Namun orang-orang yang pernah ada di sana tahu:sesuatu telah retak.Dan retakan, meski kecil, tidak pernah benar-benar hilang.Jaka terbangun di ruang perawatan sederhana.Bukan rumah sakit besar.Bukan tempat istimewa.Hanya ruangan dengan jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai.Cahaya pagi masuk tanpa izin.Dadanya masih berat.Namun napasnya utuh.Dian duduk di samping ranjang.Tidak bicara lama.Tidak bertanya banyak.Kadang, kehadiran adalah bentuk keberanian paling sederhana.“Kamu berdiri terlalu lama,” kata Dian akhirnya.Jaka tersenyum tipis.“Dan kamu tidak masuk.”Dian mengangguk.“Aku duduk di luar,” kata

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 49 - Ketika Tidak Ada Lagi yang Berdiri

    Tidak ada hari khusus yang menandai puncaknya.Tidak ada sirene.Tidak ada pengumuman darurat.Semua terjadi seperti kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh: pelan, wajar, dan nyaris tak disadari.Di banyak kota, Ruang Harmoni kini menjadi bagian dari rutinitas.Datang pagi sebelum kerja.Duduk sepuluh menit.Pulang dengan kepala lebih ringan.Awalnya hanya untuk menenangkan diri.Lalu untuk menahan marah.Lalu untuk tidak merasa apa-apa sama sekali.Dan ketika tidak ada rasa, tidak ada pertanyaan.Jaka membaca data terakhir dengan tangan dingin.Angka konflik menurun.Produktivitas naik.Keluhan publik turun drastis.Namun satu grafik membuat dadanya terasa runtuh:partisipasi protes sosial turun hampir nol.Bukan karena semua masalah selesai.Karena tidak ada lagi yang ingin repot berdiri.Di salah satu Ruang Harmoni terbesar, sesi malam berlangsung penuh.Tidak ada kursi kosong.Lampu temaram.Udara hangat.Suara napas serempak.Di tengah ruangan, meja—yang kini tak lagi berbentuk fi

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 48 - Ketika Pilihan Diresmikan

    Pengumuman itu disiarkan serentak.Bukan sebagai peringatan.Bukan sebagai larangan.Melainkan sebagai solusi.Pemerintah pusat meresmikan program baru bernama Ruang Harmoni Terpadu. Dalam siaran persnya, program itu digambarkan sebagai langkah progresif untuk menurunkan konflik sosial, meningkatkan kesejahteraan mental, dan “mengembalikan rasa kebersamaan yang hilang.”Tidak ada satu kata pun tentang meja.Namun Jaka tahu—ini adalah bentuk akhirnya.Di layar televisi, grafik-grafik ditampilkan.Angka konflik menurun.Keluhan publik berkurang.Produktivitas meningkat.“Data tidak berbohong,” kata seorang pejabat dengan senyum tenang. “Masyarakat merasa lebih ringan.”Jaka mematikan televisi.Ia merasakan dingin merambat di punggungnya.Karena meja selalu menang lewat data.Ruang Harmoni Terpadu tidak dibangun seragam.Setiap daerah diberi kebebasan menyesuaikan bentuk:balai warga, aula kantor, halaman sekolah, bahkan ruang tunggu rumah sakit.Namun satu prinsip selalu sama:ada titi

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 47 - Yang Dibawa Pulang

    Dian tidak langsung pulang malam itu.Ia berdiri cukup lama di luar Zona Harmoni, seolah tubuhnya sudah keluar tetapi pikirannya masih tertinggal di tengah pelataran. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang perlahan kembali: rasa lelah yang utuh.Bukan lelah yang diambil alih.Lelah yang harus ditanggung sendiri.Dan itu menakutkan.“Aku tidak tahu harus ke mana,” kata Dian lirih pada Jaka.“Pulang,” jawab Jaka sederhana.“Aku takut,” Dian jujur. “Kalau pulang, aku harus memilih lagi.”Jaka tidak menyangkal.“Ya,” katanya. “Itu harga yang sebenarnya.”Di rumahnya, Dian menyalakan lampu ruang tamu.Meja kecil di sudut ruangan tampak biasa saja. Tidak bergerak. Tidak hangat. Tidak memanggil.Namun Dian tidak duduk.Ia berdiri lama, lalu menangis.Tangis yang selama ini ditunda oleh ketenangan palsu.Keesokan harinya, Dian tidak datang ke Zona Harmoni.Ia datang ke rumah ibunya.Ibunya terkejut.“Kamu kurus,” katanya.Dian hanya tersenyum lelah.Namun sore i

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 46 - Yang Tetap Duduk

    Pagi setelah Jaka berteriak pulang, kota Waringin Raya terbelah.Tidak dengan kekerasan.Tidak dengan kerusuhan.Dengan diam yang berbeda arah.Sebagian orang pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka berjalan tanpa bicara, seolah baru terbangun dari tidur panjang. Beberapa menangis tanpa tahu alasannya.Namun sebagian lain—tetap tinggal.Duduk.Menunggu.Mereka menyebut diri mereka Penjaga Harmoni.Bukan organisasi resmi.Bukan kelompok tertutup.Hanya orang-orang yang merasa lebih tenang saat berada di Zona Harmoni.“Kami tidak dipaksa,” kata seorang perempuan paruh baya pada kamera. “Kami memilih.”Kata itu berbahaya.Zona Harmoni tidak ditutup.Pemerintah kota justru mengeluarkan pernyataan:“Ruang publik tetap aman dan opsional.”Namun relawan tambahan ditempatkan.Bangku dibersihkan lebih sering.Lampu diperhalus agar “menenangkan”.Meja tidak perlu muncul.Ia dirawat.Jaka mengamati dari kejauhan.Ia melihat pola.Orang-orang yang tetap duduk bukan yang paling lemah—melainkan

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 45 - Zona Harmoni

    Zona Harmoni dibangun bukan karena meja.Ia dibangun karena ketakutan pada kekacauan.Kota itu bernama Waringin Raya, pusat administratif yang selama ini merasa terlalu modern untuk percaya pada cerita desa. Namun ketika laporan konflik sosial meningkat—pertengkaran kecil, pengunduran diri massal, orang-orang yang “tidak betah” tinggal—pemerintah kota memilih satu solusi:menyatukan kembali manusia dalam satu ruang tertib.Mereka tidak menyebutnya meja.Mereka menyebutnya desain sosial.Zona Harmoni terletak di tengah kota, berupa alun-alun besar dengan bangku-bangku permanen yang tersusun melingkar. Tidak ada sudut tajam. Tidak ada meja makan. Tidak ada simbol ritual.Namun ada titik pusat—sebuah pelataran datar, kosong, yang disebut Ruang Bersama.“Di sinilah dialog dimulai,” kata wali kota dengan bangga.“Tanpa hierarki,” kata arsiteknya.“Tanpa konflik,” tambah brosurnya.Jaka membaca semua itu dengan tangan gemetar.Ia datang ke Waringin Raya malam sebelum peresmian.Di alun-alun

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status