Início / Horor / HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA / BAB 3 Dapur yang Tidak Pernah Tidur

Compartilhar

BAB 3 Dapur yang Tidak Pernah Tidur

last update Última atualização: 2025-12-16 09:41:13

Sejak malam kedua itu, saya tahu satu hal dengan pasti: dapur adalah jantung dari hajatan ini.

Bukan pendopo tempat warga berkumpul. Bukan pula halaman luas yang dipenuhi kursi dan tenda. Melainkan dapur—ruang sempit di belakang rumah saya—yang terus menyala, berdenyut, dan menelan apa pun yang mendekat.

Saya tidak tidur malam itu. Ratna terlelap dengan tubuh meringkuk, napasnya tersengal seperti orang yang baru saja lari jauh. Saya duduk di tepi ranjang, menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Setiap beberapa menit, suara dari arah dapur terdengar samar: bunyi pisau beradu dengan talenan, air disiramkan, dan sesekali… sesuatu seperti rintihan yang segera teredam.

Menjelang subuh, saya tak tahan lagi.

Saya keluar kamar perlahan, memastikan Ratna tetap tertidur. Lantai rumah terasa dingin menusuk telapak kaki. Saya menyelinap ke arah dapur dengan senter kecil di tangan.

Pintu dapur terbuka.

Tidak terkunci. Tidak tertutup. Seolah sengaja dibiarkan menunggu saya.

Di dalam, lampu minyak menyala redup. Asap tipis menggantung di udara. Bau anyir bercampur rempah jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Di atas meja kayu, saya melihat talenan besar dengan bekas goresan pisau yang dalam-dalam, seperti pernah digunakan untuk memotong sesuatu yang keras.

Saya mendekat.

Di sudut dapur, terdapat pintu kecil yang sebelumnya tidak pernah saya lihat. Tingginya hanya setengah badan orang dewasa. Daun pintunya lembap dan menghitam di bagian bawah.

Saya yakin pintu itu tidak ada sebelum hajatan ini.

Ketika saya menyentuh gagangnya, suara di belakang saya membuat tubuh saya menegang.

“Jangan ke situ, Pak Lurah.”

Pak Darman berdiri di ambang pintu dapur. Wajahnya pucat, matanya merah seperti kurang tidur berhari-hari.

“Apa yang kalian sembunyikan?” tanya saya pelan namun tegas.

Ia menghela napas panjang. “Bukan kami. Ini… sudah ada sejak dulu.”

Ia kemudian duduk di bangku kayu dan mulai bercerita, suaranya gemetar.

Puluhan tahun lalu, desa Sukamukti pernah dilanda pagebluk. Orang-orang mati satu per satu. Panen gagal. Anak-anak sakit tanpa sebab. Para leluhur kemudian membuat perjanjian—mengorbankan satu nyawa manusia setiap kali desa berada di ambang kehancuran.

Dan pusat ritual itu selalu dapur rumah kepala desa.

“Kenapa saya tidak pernah tahu?” suara saya tercekat.

Pak Darman menatap saya lama. “Karena tidak semua kepala desa boleh tahu. Yang tahu terlalu cepat… biasanya tidak bertahan lama.”

Pagi itu, saya mendapati kenyataan lain.

Anak Pak Suroso menghilang.

Ratna menemukannya pertama kali. Sandalnya tergeletak di dekat sumur belakang dapur. Air sumur tenang, terlalu tenang, seolah baru saja menelan sesuatu.

Saya berteriak memanggil warga. Namun mereka datang tanpa ekspresi terkejut. Seolah kehilangan itu hanyalah bagian dari rangkaian yang tak terelakkan.

“Satu untuk membuka jalan,” kata Mbah Wiryo ketika saya menuntut penjelasan. “Satu untuk menguatkan.”

“Dan berapa lagi?”

Ia tidak menjawab.

Menjelang malam ketiga, saya mencoba membawa Ratna pergi.

“Kita harus keluar dari desa ini sekarang,” bisik saya sambil memasukkan pakaian ke tas.

Ratna menatap saya dengan mata berkaca-kaca. “Mas… aku sudah coba keluar siang tadi.”

“Lalu?”

“Jalan ke luar desa berputar kembali ke sini.”

Darah saya terasa membeku.

Malam ketiga hajatan berlangsung lebih sunyi. Tak ada gamelan. Hanya bunyi lesung ditumbuk perlahan dari dapur. Warga duduk bersila, kepala tertunduk, seolah sedang menunggu giliran dipanggil.

Seorang lelaki tua tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah dapur tanpa sepatah kata.

Tak lama kemudian, suara jeritan terdengar—pendek, tertahan, lalu hilang.

Ratna menggenggam tangan saya erat-erat. “Mas… kita akan jadi apa?”

Saya tak bisa menjawab.

Saat itulah Mbah Wiryo mendekat dan berbisik di telinga saya,

“Kalau kau ingin menghentikan ini, kau harus masuk ke dapur. Tapi ingat… tidak semua yang masuk ke sana keluar sebagai manusia yang sama.”

Saya menatap pintu dapur yang kembali tertutup perlahan, seolah bernapas.

Dan untuk pertama kalinya sejak hajatan ini dimulai, saya merasa takut bukan hanya kehilangan jabatan—

melainkan kehilangan diri saya sendiri.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 50 - Setelah Kita Memilih

    Tidak ada hari raya setelah itu.Tidak ada pengumuman bahwa dunia kembali normal.Yang ada hanyalah pagi-pagi yang terasa sedikit lebih berat—dan sedikit lebih jujur.Ruang Harmoni tetap berdiri.Di beberapa kota, ia ditutup sementara.Di kota lain, jam operasionalnya dipersingkat.Di sebagian tempat, ia berjalan seperti biasa—seolah malam itu tidak pernah terjadi.Namun orang-orang yang pernah ada di sana tahu:sesuatu telah retak.Dan retakan, meski kecil, tidak pernah benar-benar hilang.Jaka terbangun di ruang perawatan sederhana.Bukan rumah sakit besar.Bukan tempat istimewa.Hanya ruangan dengan jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai.Cahaya pagi masuk tanpa izin.Dadanya masih berat.Namun napasnya utuh.Dian duduk di samping ranjang.Tidak bicara lama.Tidak bertanya banyak.Kadang, kehadiran adalah bentuk keberanian paling sederhana.“Kamu berdiri terlalu lama,” kata Dian akhirnya.Jaka tersenyum tipis.“Dan kamu tidak masuk.”Dian mengangguk.“Aku duduk di luar,” kata

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 49 - Ketika Tidak Ada Lagi yang Berdiri

    Tidak ada hari khusus yang menandai puncaknya.Tidak ada sirene.Tidak ada pengumuman darurat.Semua terjadi seperti kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh: pelan, wajar, dan nyaris tak disadari.Di banyak kota, Ruang Harmoni kini menjadi bagian dari rutinitas.Datang pagi sebelum kerja.Duduk sepuluh menit.Pulang dengan kepala lebih ringan.Awalnya hanya untuk menenangkan diri.Lalu untuk menahan marah.Lalu untuk tidak merasa apa-apa sama sekali.Dan ketika tidak ada rasa, tidak ada pertanyaan.Jaka membaca data terakhir dengan tangan dingin.Angka konflik menurun.Produktivitas naik.Keluhan publik turun drastis.Namun satu grafik membuat dadanya terasa runtuh:partisipasi protes sosial turun hampir nol.Bukan karena semua masalah selesai.Karena tidak ada lagi yang ingin repot berdiri.Di salah satu Ruang Harmoni terbesar, sesi malam berlangsung penuh.Tidak ada kursi kosong.Lampu temaram.Udara hangat.Suara napas serempak.Di tengah ruangan, meja—yang kini tak lagi berbentuk fi

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 48 - Ketika Pilihan Diresmikan

    Pengumuman itu disiarkan serentak.Bukan sebagai peringatan.Bukan sebagai larangan.Melainkan sebagai solusi.Pemerintah pusat meresmikan program baru bernama Ruang Harmoni Terpadu. Dalam siaran persnya, program itu digambarkan sebagai langkah progresif untuk menurunkan konflik sosial, meningkatkan kesejahteraan mental, dan “mengembalikan rasa kebersamaan yang hilang.”Tidak ada satu kata pun tentang meja.Namun Jaka tahu—ini adalah bentuk akhirnya.Di layar televisi, grafik-grafik ditampilkan.Angka konflik menurun.Keluhan publik berkurang.Produktivitas meningkat.“Data tidak berbohong,” kata seorang pejabat dengan senyum tenang. “Masyarakat merasa lebih ringan.”Jaka mematikan televisi.Ia merasakan dingin merambat di punggungnya.Karena meja selalu menang lewat data.Ruang Harmoni Terpadu tidak dibangun seragam.Setiap daerah diberi kebebasan menyesuaikan bentuk:balai warga, aula kantor, halaman sekolah, bahkan ruang tunggu rumah sakit.Namun satu prinsip selalu sama:ada titi

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 47 - Yang Dibawa Pulang

    Dian tidak langsung pulang malam itu.Ia berdiri cukup lama di luar Zona Harmoni, seolah tubuhnya sudah keluar tetapi pikirannya masih tertinggal di tengah pelataran. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang perlahan kembali: rasa lelah yang utuh.Bukan lelah yang diambil alih.Lelah yang harus ditanggung sendiri.Dan itu menakutkan.“Aku tidak tahu harus ke mana,” kata Dian lirih pada Jaka.“Pulang,” jawab Jaka sederhana.“Aku takut,” Dian jujur. “Kalau pulang, aku harus memilih lagi.”Jaka tidak menyangkal.“Ya,” katanya. “Itu harga yang sebenarnya.”Di rumahnya, Dian menyalakan lampu ruang tamu.Meja kecil di sudut ruangan tampak biasa saja. Tidak bergerak. Tidak hangat. Tidak memanggil.Namun Dian tidak duduk.Ia berdiri lama, lalu menangis.Tangis yang selama ini ditunda oleh ketenangan palsu.Keesokan harinya, Dian tidak datang ke Zona Harmoni.Ia datang ke rumah ibunya.Ibunya terkejut.“Kamu kurus,” katanya.Dian hanya tersenyum lelah.Namun sore i

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 46 - Yang Tetap Duduk

    Pagi setelah Jaka berteriak pulang, kota Waringin Raya terbelah.Tidak dengan kekerasan.Tidak dengan kerusuhan.Dengan diam yang berbeda arah.Sebagian orang pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka berjalan tanpa bicara, seolah baru terbangun dari tidur panjang. Beberapa menangis tanpa tahu alasannya.Namun sebagian lain—tetap tinggal.Duduk.Menunggu.Mereka menyebut diri mereka Penjaga Harmoni.Bukan organisasi resmi.Bukan kelompok tertutup.Hanya orang-orang yang merasa lebih tenang saat berada di Zona Harmoni.“Kami tidak dipaksa,” kata seorang perempuan paruh baya pada kamera. “Kami memilih.”Kata itu berbahaya.Zona Harmoni tidak ditutup.Pemerintah kota justru mengeluarkan pernyataan:“Ruang publik tetap aman dan opsional.”Namun relawan tambahan ditempatkan.Bangku dibersihkan lebih sering.Lampu diperhalus agar “menenangkan”.Meja tidak perlu muncul.Ia dirawat.Jaka mengamati dari kejauhan.Ia melihat pola.Orang-orang yang tetap duduk bukan yang paling lemah—melainkan

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 45 - Zona Harmoni

    Zona Harmoni dibangun bukan karena meja.Ia dibangun karena ketakutan pada kekacauan.Kota itu bernama Waringin Raya, pusat administratif yang selama ini merasa terlalu modern untuk percaya pada cerita desa. Namun ketika laporan konflik sosial meningkat—pertengkaran kecil, pengunduran diri massal, orang-orang yang “tidak betah” tinggal—pemerintah kota memilih satu solusi:menyatukan kembali manusia dalam satu ruang tertib.Mereka tidak menyebutnya meja.Mereka menyebutnya desain sosial.Zona Harmoni terletak di tengah kota, berupa alun-alun besar dengan bangku-bangku permanen yang tersusun melingkar. Tidak ada sudut tajam. Tidak ada meja makan. Tidak ada simbol ritual.Namun ada titik pusat—sebuah pelataran datar, kosong, yang disebut Ruang Bersama.“Di sinilah dialog dimulai,” kata wali kota dengan bangga.“Tanpa hierarki,” kata arsiteknya.“Tanpa konflik,” tambah brosurnya.Jaka membaca semua itu dengan tangan gemetar.Ia datang ke Waringin Raya malam sebelum peresmian.Di alun-alun

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status