LOGIN"The way you behave...behave around me, with me it's highly inappropriate. I don't want you think I'll be your little assistant that you fuck on top of your desk or in the break room, if that's your intention I think it's best if you fire me or atleast send me back to work for Mr Caine," I told him after a couple seconds of silence I turned to face him to be greeted with a hard look on his face."Amelia....I'm sorry if you thought that was my intention, I can see where you would get that idea.. and I apologize for my lack of communication, in what I want,""So what do you want?" I asked my voice sounding strange I cleared my throat, he reached forward taking my ice-cream placing it on the bench his hand moving to my chin making sure I held eye contact."You..I want you Amelia," he answered his voice soft but held a level of firmness. Before another thought can pass through my mind, his lips are on mine
View More“Apa-apaan ini?! Kamu bukan Disa!”
Dira Aureli terkejut setengah mati saat pria tampan yang sudah resmi menjadi suaminya itu berteriak di hadapannya. Padahal beberapa jam yang lalu, Alif Ferdiansyah terlihat begitu tenang, bahkan senyum bahagia terus terukir menghiasi raut tampannya.
Semua kata-kata yang ia ucapkan saat ijab kabul terdengar lancar tanpa kendala. Bahkan ia terlihat manis selama acara resepsi digelar, tanpa ada tanda-tanda dia akan berubah seperti ini.
“Katakan padaku! Kamu sembunyikan di mana Disa?!” sergah Alif penuh murka.
Dira hanya membisu, menelan saliva sambil menatap amarah yang terlihat jelas di mata pria tampan itu.
Hari ini harusnya menjadi hari pernikahan Alif dan Disa, saudari kembar Dira. Mereka sudah dijodohkan sejak masih remaja. Meski awalnya menolak, pada akhirnya baik, Alif maupun Disa menerimanya.
Disa dan Dira adalah kembar identik. Wajah, suara, gestur tubuh sangat mirip dan sulit dibedakan. Pembedanya hanya di warna rambut. Rambut Disa berwarna hitam, sedangkan Dira berwarna coklat. Dira tidak menyangka Alif akan secepat ini mengenalinya.
“Mas, dengerin dulu. Aku … aku melakukan ini dengan terpaksa. Aku … aku–”
“Omong kosong! Aku tahu selama ini kamu selalu iri dengannya. Pasti kamu yang menghasutnya, kan?”
Wanita cantik dengan mata sipit dan rambut coklat terurai itu hanya diam sambil menggelengkan kepala. Wajahnya terlihat muram dan serba salah, tampak sekali penyesalan di raut cantiknya.
“Bukannya aku sudah bilang? Aku hanya mencintai Disa, bukan kamu, Dira! Apa belum cukup penolakanku saat itu?”
Dira terdiam sambil menganggukkan kepala. Dia memang pernah mengutarakan perasaannya ke Alif, jauh sebelum Alif bertunangan dengan Disa. Bisa jadi, dulu itu hanya cinta monyet yang dirasakan sesaat oleh Dira. Karena itu, ketika Alif menolaknya, Dira dapat memakluminya dengan mudah.
Namun, entah mengapa, sejak saat itu Alif selalu menyalahartikan sikapnya. Bahkan tidak jarang semua kejadian yang menimpa Dira dianggap untuk mencari perhatian Alif.
“Iya, aku tahu, Mas. Aku mohon … dengarkan dulu penjelasanku. Aku tidak melakukannya dengan sengaja, demi Tuhan, Mas Alif.”
Tidak ada jawaban dari Alif. Dia malah bangkit, mengenakan kembali kemejanya dan berjalan menuju pintu.
Dira melihat gelagat Alif. Dira merasa bersalah dan menyesal sudah menyetujui permintaan papanya. Andai saja Disa tidak menghilang, tentu dia tidak akan terlibat dalam masalah ini.
“Mas, kamu mau ke mana?” tanya Dira, berusaha menahan pria itu.
Sementara Alif sudah membuka pintu dan bersiap keluar. Ia menghentikan langkahnya dan melirik Dira sekilas. Mata elangnya menatap tajam bagai pisau yang menghunus langsung ke ulu hati Dira.
“Bukan urusanmu!” ketus Alif.
Dira menghela napas panjang sambil bangkit menghampiri Alif. Ia menarik lengannya saat pria tampan itu hendak berlalu pergi. Sontak Alif mengibaskan tangannya dengan kasar.
“Jangan sentuh aku!” sentak Alif marah.
Tidak hanya mengibaskan tangan, ia juga sudah mendorong Dira menjauh hingga wanita cantik itu terhuyung ke belakang.
“Aku mohon dengerin penjelasanku dulu, Mas! Aku—”
Namun, Alif seolah menulikan telinga. Ia terus berjalan menyusuri lorong hotel menuju lift.
Memang hari ini mereka melakukan ijab kabul dan resepsi pernikahan di sebuah hotel bintang lima. Bahkan rencananya akan menikmati malam pertama di sana juga. Sayangnya, kejadian beberapa menit tadi sudah merusak segalanya.
Dira tidak putus asa. Dia langsung berlari mengejar Alif, menahan pintu lift dengan tangannya agar tetap terbuka. Alif menoleh, melihat dengan tatapan yang semakin tajam.
Seakan tahu jika Alif sedang bertanya dengan ulahnya, Dira kembali membuka mulut.
“Bukankah kamu ingin mencari Disa? Aku ikut.”
Alif terdiam sesaat. Dia tidak tahu keberadaan Disa, dan pastinya dengan bantuan Dira, tugasnya akan menjadi sedikit ringan.
“Masuk!”
Selang beberapa saat mereka sudah berada di dalam mobil. Tujuan pertama mereka adalah bandara, stasiun dan terminal bus. Namun, hingga larut malam mencari, mereka tidak juga ditemukan Disa.
Alif terlihat lelah, tapi dia tidak putus asa dan terus mencari.
Dira merasa serba salah. Ia turut bertanggung jawab dengan keadaan Alif. Dira takut Alif jatuh sakit gara-gara pencarian ini.
“Kamu benar-benar tidak tahu kemana Disa pergi, Dira?”
Mereka masih di dalam mobil usai mencari di sekitar terminal dan kali ini Alif bertanya pada Dira. Dira menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.
“Aku tidak tahu, Mas.”
Alif berdecak, meraup kasar wajahnya sambil melirik sinis ke Dira.
“Kamu tidak bohong, kan?”
Dira menggeleng dengan mantap sambil menundukkan kepala. Alif kesal melihat reaksi Dira. Serta merta dia menarik kepala Dira dan meraup pipinya hingga Dira menatap ke arahnya.
“Kalau sampai aku tahu kamu di balik kepergian Disa, aku tidak akan pernah mengampunimu. Kamu dengar aku?!”
Dira menelan ludah. Jantungnya berdegup semakin cepat. Ia sudah berjanji akan menyembunyikan rahasia ini dari Alif. Namun, kalau Alif terus meminta penjelasan, rasanya Dira harus mengingkari janjinya pada papanya.
Alif melihat perubahan di wajah Dira dan merasa wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu. Alif mendekatkan wajahnya hingga Dira bisa menghirup aroma maskulin dari tubuhnya.
“Apa? Kamu mau bilang apa, Dira? Katakan.”
Dira menarik napas panjang seolah sedang mengeluarkan seluruh beban di dadanya, kemudian Dira menatap Alif yang berada tidak berjarak di depannya.
Wajah pria ini begitu tampan, masih sama seperti dulu. Hanya saja ekspresi wajahnya yang membuat Dira menggigil ketakutan.
Perlahan, Dira mengulurkan secarik kertas ke Alif dengan tangan gemetar.
“Mas Alif … Disa … Disa tidak mau menikah denganmu.”
Xavier's POVI walked into the house with Ace in one arm, Amelia's medication in the other. I used my body to close the door as Ace continued to run his hands across my stumble, small giggles leaving him. Amelia left work earlier today after falling ill before a meeting, which worried me since she didn't really do well with illness. Lesley and I had stopped at the pharamacy before I dropped her off, getting pills for headaches and an upset stomach."Juice" Ace exclaimed as I moved into the kitchen and I smiled placing him to sit in his highchair, pulling the fridge door open."What kind?" I asked him as I filled a glass of water for Amelia."Apple" He pronouced as perfectly as he could and I filled his sippy cup handing it to him. Footsteps sounded and I looked up to see Amelia walking towards us dressed in my clothes from head to toe, her hair flowing down her back."How are you feeling?" I asked as she moved around the island, walking into my hold, and she laughed slightly her hands
Xavier's POVI opened my eyes after realizing that I was alone in the bed, I immediatley placed my hand where her body was supposed to be frowning when it was cold.I was about to go downstairs but my search was cut short when the cold night air made me aware of the opened door that lead to the balcony. I got up walking over to it, to see her leaning against the railing looking at the view below."Are you okay?' I asked loving the way the moonlight shinned against her skin."I'm fine, just thinking" she replied and I sighed reaching for the blanket in the chair by the door before making my way to her."About what?" I asked covering her body, watching as she turned to face me, walking into my embrace, both our eyes staying on the scenary the sky offered."My mother," she replied and I kissed her forehead, knowing how hard it was to rekindle damaged relationships, especially ones that involed a parent."What do you think I should do?" she asked softly closing her eyes."As your husband I
Tell me, have you ever had a gentleman?If not, then girl you deserve a gentlemanEat you out for dinner like a gentlemanKnock before I enter like a gentlemanGallant
2 weeks laterXavier's POVI held Ace against my chest as he continued to sleep my eyes following Amelia as she moved over to me holding my hand. We watched the casket being lowered into the ground, my emotions high as a tear fell behind my glasses.The light
Amelia's PO
Amelia's PO












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore