LOGIN
Chapter 1
Bunuh Diri Zhao Anran baru kembali dari kencan butanya untuk ketiga kali setelah kembali ke Shanghai. Ia melirik jam tangannya lalu mendengus pelan karena untung saja sampai di tempat kerjanya tepat waktu. Jika neneknya mengatur kencan buta sekali lagi, Anran bersumpah tidak akan datang. Namun, pasti neneknya tidak akan menyerah. Anran menghela napas berat mengingatnya. Bahkan setelah menjadi dokter lulusan Imperial College London dan bersusah payah agar bisa bekerja di salah satu rumah sakit terbaik di Shanghai, neneknya hanya berpikir untuk menikahkannya. Tentunya bukan tanpa alasan dan alasannya hampir tidak bisa diterima oleh Anran. Katanya takut tidak panjang umur dan tidak bisa melihat cucu perempuan satu-satunya memakai gaun pengantin. Anran membuka lokernya lalu menyimpan barangnya dan belum sempat mengunci lokernya, seseorang memanggilnya. "Dokter Zhao... syukurlah, akhirnya Anda datang." Anran menoleh dan mendapati Yiyi, salah satu perawat di UGD muncul dengan wajah sedikit panik. "Ya?" sahut Anran. "Dokter Jiang barusan pergi dan ada seorang pasien datang dengan luka di pergelangan tangannya. Kemungkinan percobaan bunuh diri," kata Yiyi. Anran mengangguk sembari mengikat rambutnya hitam panjangnya sampai menyentuh sikunya lalu mengambil stetoskopnya dan memasukkan ke dalam saku seragamnya. Ia berjalan keluar dari ruang penyimpanan melewati konter perawat dan administrasi, ketika tiba di ruang gawat darurat, pandangannya langsung tertuju pada seorang pria yang duduk di atas ranjang pasien dengan pergelangan tangan dibalut dengan lilitan kain kasa yang berdarah-darah, dililit sembarangan. Pria itu terlihat masih muda, rambutnya rapi, dan kulitnya tidak pucat. Tidak terlihat tanda-tanda depresi di ekspresinya wajahnya, namun bisa saja dia benar-benar sudah putus asa. Hanya saja bisa menyembunyikan kesedihannya di depan orang lain. Anran menarik kursi dan duduk di hadapan pasien itu. Dari dekat, pria tersebut terlihat lebih muda, wajahnya bersih, tidak ada janggut berantakan atau mata sembab seperti pasien-pasien depresi yang pernah ia tangani selama masa praktik. Sebaliknya, pria itu terlihat sangat tenang untuk seseorang yang baru saja datang ke UGD dengan pergelangan tangan berlumuran darah. Sementara Anran mengamati pasiennya, pria itu juga menatapnya dengan tenang seolah menunggu pemeriksaan dimulai. "Saya dokter Zhao yang akan menangani Anda," kata Anran memperkenalkan diri dan pria itu mengangguk. "Tolong sebutkan nama Anda," lanjut Anran sambil membuka berkas pasien. "Wang Zeyan," jawab pria itu. Anran menuliskan nama itu lalu melirik tanggal lahir yang tertera di kartu identitasnya, dua puluh empat tahun. Anran mengangkat alis karena usia pria itu masih sangat muda, tapi sudah depresi hingga mencoba bunuh diri. Malang sekali, batinnya. "Kenapa Anda terluka?" tanya Anran. "Terkena pecahan kaca," jawab Zeyan. Jawaban itu membuat Anran berhenti menulis sejenak karena pasien yang mencoba bunuh diri juga sering memberikan jawaban sesingkat itu. "Kaca apa?" "Rak penyimpanan." "Di rumah?" "Di restoran." Anran mengangguk pelan sambil tetap menulis. Namun, di dalam hati ia masih belum sepenuhnya percaya. Pengalamannya mengajarkan bahwa pasien dengan gangguan psikologis sering kali menyembunyikan alasan sebenarnya, apalagi pria ini terlihat terlalu tenang. Kalau memang hanya terluka karena kecelakaan, kenapa ekspresinya seperti orang yang sedang menunggu pesanan kopi? "Apa ada masalah pribadi akhir-akhir ini?" tanya Anran lagi. Zeyan menatap Anran selama beberapa detik sebelum menjawab, "Masalah seperti apa?" "Masalah keluarga, pekerjaan, hubungan." "Tidak." "Yakin?" "Yakin." Anran menutup pulpennya lalu menyandarkan tubuh ke kursi dan menatap Zeyan dengan tatapan curiga. Sementara di otaknya terpikirkan sebuah teori: makin dicurigai makan akan makin tenang. Makin tenang, makin mencurigakan. Berbagai tebakan mulai bermunculan, mungkin putus cinta, mungkin tunangannya kabur dengan orang lain, atau mungkin ditinggal menikah. Mungkin ini salah satu kasus yang sering dibahas dosennya dulu, pasien depresi berat terlihat normal di depan semua orang sampai akhirnya.... "Dokter Zhao." Suara Zeyan membuyarkan lamunannya, Anran berdehem kecil lalu menjilat bibirnya. "Ya?" "Anda sedang mendiagnosis atau sedang menulis naskah drama?" tanya Zeyan. Anran hampir tersedak ludahnya sendiri dan untuk beberapa detik ia hanya bisa menatap pria itu tanpa ekspresi sementara dari belakang, Yiyi buru-buru menundukkan kepala dan pura-pura sibuk memeriksa komputer agar tidak ketahuan sedang menahan tawa. Anran berdeham pelan lalu menarik pergelangan tangan pasien. "Saya hanya memastikan kondisi Anda. Sekarang biarkan saya melihat lukanya." Zeyan mengangguk dan mengulurkan tangannya pada Anran. Perban darurat yang melilit pergelangan tangan Zeyan segera dibuka dan begitu lapisan kain kasa terlepas, Anran langsung fokus pada luka di hadapannya. Sayatan itu cukup panjang, tetapi arah dan bentuknya sama sekali tidak menyerupai luka percobaan bunuh diri yang biasa ia temui. Luka itu lebih mirip luka akibat benda tajam yang pecah secara tidak sengaja. "Bagaimana rak kaca itu bisa mengenai Anda sampai seperti ini?" tanya Anran pelan dan tenang. "Saya menangkisnya." "Menangkisnya?" "Melindungi wajah saya." Anran mengangguk pelan seraya sekilas menatap wajah Zeyan dan berpikir memang pantas wajahnya untuk dilindungi, tetapi ia belum percaya dengan penjelasan Zeyan. "Dan Anda berhasil menyayat pergelangan tangan sendiri?" "Ya." Anran mengangkat alis. "Tentu." Nada suara Anran membuat Zeyan menatapnya sebentar. "Dokter, Anda tidak percaya?" "Saya percaya, hanya saja kebetulan luka Anda berada di tempat orang yang mencoba...." Anran berhenti sejenak dan menatap Zeyan. "Anda mengerti maksudku." "Saya tidak mencoba bunuh diri." "Bagus." "Saya serius." "Saya juga serius." Zeyan menatap Anran seolah sedang mengamati sesuatu. "Apa semua pasien mendapat interogasi seperti ini?" "Tidak." "Lalu kenapa aku?" "Karena pasien lain tidak datang dengan luka di pergelangan tangan dan ekspresi seperti orang yang sudah menyerah pada dunia," jawab Anran. Sudut bibir Zeyan bergerak tipis. "Saya baru kehilangan satu rak kaca." "Dan itu tidak membuat Anda sedih?" "Sangat sedih." "Nah." "Namun, tidak cukup sedih untuk mati." Anran terdiam beberapa detik untuk mempertahankan sikap profesional, tetapi jawaban itu terdengar seperti sedang mengejeknya dan dari belakang meja perawat, Yiyi langsung menunduk kembali berpura-pura sibuk mengetik padahal bahunya sudah bergetar menahan tawa dan bukannya Yiyi yang pertama kali menduga pasien itu adalah pasien percobaan bunuh diri? Anran membersihkan luka itu dengan antiseptik lalu berkata, "Anda beruntung karena lukanya tidak mengenai struktur penting." "Syukurlah." "Kalau sedikit lebih dalam, Anda mungkin perlu dioperasi." "Kalau begitu, saya memang beruntung." Anran melirik Zeyan sekilas karena sikapnya yang sejak tadi sangat tenang. Tidak mengeluh, tidak panik, bahkan tidak terlihat kesakitan saat lukanya dibersihkan. Entah benar-benar santai atau memang aneh. Untuk sementara, Anran memilih opsi kedua. Holaaaaaa...! Jumpa lagi dengan cerita baru di sini, ini buku ke 25 Cherry dan terima kasih karena menjadi bagian dari perjalananku. Oke, jangan lupa masukkan ke rak buku dan kasih bintang! Selamat membaca!Chapter 43Masa LaluSetelah menghabiskan hari liburnya di rumah orang tua dan kembali mendapat jadwal masuk siang, anran belum sempat bertemu Zeyan. Rencana kecil di rumah orang tua Anran ternyata juga mendadak gagal, Yuan mengatakan ada kesibukan mendadak, padahal Anran sudah bersusah payah menyetir pulang ke rumah orang tuanya setelah bekerja.Paginya, Anran terbangun lebih cepat dari biasanya dan saat berusaha memejamkan mata lagi, ternyata kantuknya sepertinya sudah hilang. Mungkin karena terlalu memikirkan kejanggalan alasan kakaknya yang tiba-tiba membatalkan acara makan malam keluarga di rumah mereka. Kakaknya adalah orang yang sangat rapi, bahkan dalam hal kecil sekalipun. Namun, Anran tidak ingin mendesak kakaknya untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena meskipun mereka sangat dekat, bukan berarti tidak ada batasan di antara mereka. Karena masih memiliki cukup banyak waktu sebelum berangkat bekerja, ia tidak langsung bersiap ke rumah sakit. Setelah beberapa saat memikir
Chapter 42PulangSetelah menyelesaikan beberapa urusan di rumah dan beristirahat sebentar, Anran yang sedang mendapatkan liburnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya pada sore hari. Sudah beberapa hari ia tidak pulang, bukan karena tidak ingin bertemu keluarganya, tetapi karena belakangan sela waktu luangnya ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Zeyan.Anran sengaja membeli beberapa kotak makanan, kue, dan hidangan yang disukai orang tuanya dan neneknya. Saat memasuki rumah, ia mendengar suara percakapan dari ruang keluarga dan ternyata benar saja ibunya, ayahnya, dan neneknya sedang berada di sana.Anran baru berjalan beberapa langkah ketika ibunya langsung menoleh."Anda akhirnya pulang juga," kata Xu Jinghua sambil tersenyum. "Kata Yuan, Anda kemarin mentraktirnya makan?"Anran yang masih membawa beberapa kotak makanan langsung menghela napas panjang. "Mama benar-benar tidak bisa menunggu saya duduk?" Ia meletakkan kotak-kotak tersebut di atas meja sebelum duduk di
Chapter 41CiumanAnran masih melingkarkan kedua tangannya di leher Zeyan ketika pria itu membawanya naik menuju lantai atas. Tubuhnya terasa ringan dalam pelukan Zeyan, sementara wajahnya masih sedikit panas karena ucapan yang tadi tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Ia benar-benar datang hanya untuk melihat Zeyan, tetapi sekarang memang sudah sangat terlambat untuk pulang. "Bagaimana makan malam Anda dengan Kak Yuan?" tanya Zeyan."Baik-baik saja," jawab Anran sambil memainkan ujung rambut Zeyan dengan jarinya. "Saya makan cukup banyak."Zeyan tersenyum tipis. "Bagus.""Saya juga bertemu Kexin sebentar.""Kexin?" Zeyan mengangkat alis, lalu kembali menatap tangga di depannya.Anran mengangguk. "Minum kopi. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya."Zeyan hanya mengangguk pelan. "Teman Anda... yang mabuk itu, kan?"Anran langsung melotot menatap Zeyan. "Anda selalu mengingat itu?"Zeyan justru tersenyum. "Anda sering menyebutnya, saya rasa dia yang paling dekat dengan Anda."Anran te
Chapter 40Sahabat yang TerlupakanSetelah makan malam bersama kakaknya, Anran tidak langsung pulang tetapi mampir ke sebuah toko untuk membeli beberapa pengharum ruangan karena pengharum di kamarnya akan segera habis. Setelah mendapatkan barang dan membayar, Anran keluar berjalan menuju area parkir sambil membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk di grup pertemanan mereka. Salah satunya dari Kexin yang sejak beberapa hari terakhir memang belum sempat ditemuinya.Kexin: Anran, Anda masih hidup?Anran langsung tersenyum dan mengetik balasan: Tentu saja.Tidak sampai beberapa detik, balasan Kexin muncul: Bagus. Saya kira Anda sudah meninggal karena sibuk pacaran.Anran tertawa kecil ketika membaca pesan itu lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil berjalan menuju mobil, tetapi kemudian berhenti sebentar sebelum akhirnya membalas.Anran: Kalian di mana?Kexin langsung membalas seolah memang sedang menunggu kesempatan untuk mengomel: Akhirnya Anda ingat kami masih sahab
Chapter 39Mentraktir Kakak Anran datang lebih awal ke restoran yang sudah dipilih Yuan. Restoran tersebut merupakan salah satu restoran Shanghai cuisine yang cukup terkenal dan selalu ramai, tetapi suasananya tetap nyaman dan tidak terlalu mewah. Begitu masuk, Anran langsung melihat Yuan dan Shenya yang sudah lebih dulu datang. Yuan mengangkat tangan untuk memanggilnya, sementara Shenya tersenyum ketika melihat Anran berjalan menghampiri mereka."Maaf membuat kalian menunggu," ucap Anran sambil menarik kursi."Kami juga baru sampai," jawab Shenya.Anran duduk di sebelah Yuan dengan wajah ceria. Entah karena baru menerima gaji atau karena akhirnya bisa mentraktir kakaknya menggunakan uang hasil kerjanya sendiri sehingga malam itu suasana hatinya terasa lebih baik. "Bagaimana pekerjaan Anda hari ini?" tanya Yuan seraya menyodorkan buku menu pada Anran. "Lumayan lelah, UGD hampir tidak pernah sepi," jawab Anran seraya membuka buku menu lalu membaliknya beberapa kali untuk membaca kes
Chapter 38Kunci Rumah SebelahSetelah dua hari berada di rumah Zeyan, kondisi Anran akhirnya benar-benar pulih. Demamnya sudah turun, kepalanya tidak lagi terasa berat, tenggorokannya juga sudah jauh lebih baik dan ia sudah bisa makan seperti biasa. Li Shuyan yang sejak datang terus memperhatikan keadaan Anran akhirnya merasa tenang setelah memastikan Anran benar-benar tidak lagi terlihat seperti orang sakit. Setelah makan siang, Li Shuyan dan Nuonuo pun bersiap untuk pulang. Nuonuo sempat beberapa kali memeluk Anran dan mengatakan bahwa ia akan merindukan Kakak Dokter, sementara Li Shuyan kembali mengingatkan Anran agar menjaga tubuh dan tidak terlalu memaksakan diri bekerja.Anran berdiri di depan rumah bersama Zeyan ketika taksi online yang dipesan Li Shuyan berhenti di depan pagar. Nuonuo melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan wajah ceria, tetapi setelah mobil mulai bergerak, Anran masih berdiri di tempat sambil memandanginya sampai kendaraan itu berbelok dan menghilang da







