LOGINChapter 2
Tidak Ingin Menjadi Dewasa Anran baru saja selesai memindahkan barang-barangnya ke lantai atas tempat tinggal barunya, ia berdiri di depan kamar barunya sembari berkacak pinggang. Rumah sakit tempatnya bekerja terlalu jauh dari rumah orang tuanya, sehingga mengendarai mobil sendiri dirasa tidak aman karena setelah bekerja pasti kelelahan apalagi jika sif malam. Anran sudah mencoba berbagai metode agar jarak dari tempat bekerja dan tempat tinggalnya bukan masalah besar baginya. Namun, semuanya terasa tidak cocok untuk dirinya sekarang. Ia pernah mencoba menggunakan transportasi kereta cepat bawah tanah, tetapi dari rumah orang tuanya ke stasiun bawah tanah memerlukan waktu lima belas menit. Ia juga pernah mencoba jalur MRT karena stasiun MRT lebih dekat dari rumahnya, tetapi karena kelelahan dan jaraknya tempuhnya empat puluh menit, ia justru ketiduran dan baru terbangun di pemberhentian terakhir. Anran mendengus menatap tumpukan barang-barangnya, sebagian bahkan barang-barang yang dibawa dari London dan belum sempat dibongkar. Rumah yang ditempati sekarang adalah rumah neneknya dulu, dua tahun yang lalu kakeknya meninggal dunia dan ibunya tidak tega membiarkan nenek hidup seorang diri di rumah lamanya sehingga nenek sekarang tinggal bersama di rumah ibunya yang merupakan putri tunggal. Dari rumah sakit, jarak tempat tinggalnya sekarang kurang dari sepuluh menit jika mengendarai mobil dan jika berjalan kaki mungkin hanya memerlukan waktu dua puluh menit. Anran kemudian keluar dan berdiri di balkon kamar, menatap daerah sekitarnya yang sudah banyak berubah. Dulu tempat tinggal neneknya merupakan kawasan tempat tinggal yang cukup bergengsi pada masanya. Tidak heran nenek dan kakeknya mampu membeli properti itu karena neneknya seorang apoteker dan kakeknya seorang dokter spesialis jantung anak yang di masa itu keberadaannya masih cukup langka. Dengan penghasilan mereka, membeli properti di kawasan bergengsi bukan hal yang sulit. Dulu setiap perayaan tahun baru China, ia selalu mengunjungi rumah nenek dan kakeknya, tetapi terakhir merayakan tahun baru di Shanghai adalah lima tahun yang lalu karena setelah menjadi mahasiswa kedokteran tidak lagi memiliki waktu untuk bersantai dan seingatnya rumah di sebelah barat persis sebelah rumah neneknya dulu tidak sebesar itu. Sepertinya pemiliknya merenovasinya menjadi hunian yang bergaya modern Eropa, atau mungkin anak pemilik lama menjualnya karena orang tua mereka sudah meninggal. Anran mengambil ponselnya karena mendapati sinar matahari sore di atas atap rumah itu terlihat tidak biasa, langitnya cerah, tetapi awannya sedikit gelap, sementara cahaya jingga menyusup di antara awan menghasilkan semburat indah. Ia memotret pemandangan itu dan ketika sedang mengamati hasil fotonya, sebuah pesan muncul di layar ponselnya. "Ada restoran gaya Perancis baru buka. Ayo pergi ke sana!" Anran tersenyum membaca pesan dari Shen Kexin, salah satu sahabat di sekolah menengah atas. Kexin selalu bersemangat untuk semua hal dan menyukai tempat-tempat makan baru, tetapi semua pilihannya adalah restoran gaya Eropa kelas atas. Anran menoleh ke dalam ruangan, menatap barang-barangnya yang masih berada di dalam koper dan beberapa kontainer yang masih tertutup lalu menekan tombol panggil. "Halo," sapa Kexin. "Hari ini... saya...." "Anda dalam sif malam?" potong Kexin dan nadanya sepertinya kecewa. "Saya libur hari ini." "Kebetulan sekali. Kalau begitu, saya akan menjemput Anda," kata Kexin, kali ini terdengar sangat bersemangat. Anran tersenyum. Apa pun alasannya untuk menolak ajakan Kexin, sahabatnya itu tidak akan mendengarkan. "Tidak perlu, kirim saja alamatnya." "Tidak! Saya tidak mau dengar keluhan Anda lagi, malam ini biar Saya yang menjemput. Masalah kakak Anda yang berwajah dingin itu, biar saya yang menghadapi kalau dia mempersulit Anda." Anran tersenyum mendengar ocehan Kexin. Ia memiliki dua kakak laki-laki, kakak tertuanya adalah seorang dokter bedah jantung dan kakak keduanya sedang melanjutkan studi untuk menjadi dokter spesialis ortopedi, yang dimaksud oleh Kexin adalah kakak pertamanya, Zhao Ming Yuan. Yuan itu tipikal pria perfeksionis, memiliki disiplin tinggi, dan sangat posesif terhadap Anran. Tetapi, kakaknya yang merupakan kebanggaan keluarga Zhao itu selalu bisa diandalkan oleh Anran. Kakaknya adalah dompet cadangan setiap kali uang saku Anran sudah menipis atau ingin membeli sesuatu di luar uang saku dari orang tuanya. "Kebetulan saya baru saja pindah ke rumah lama nenek, takutnya Anda akan kesulitan menemukan alamat sayasekarang," kata Anran sambil menatap langit sore. "Anda serius?" Suara Kexin nyaris melengking membuat Anran sesaat menjauhkan ponsel dari telinganya. "Kalau begitu, bukan masalah jika kita minum dan pulang agak malam, kan?" lanjut Kexin. "Itu jika kakak saya tidak menelepon." "Jangan dijawab kalau dia menelepon," kata Kexin, kali ini nadanya terdengar kesal. Anran menyeringai mendengar saran konyol Kexin yang sudah sering didengarnya. "Sayangnya besok giliran saya sif pagi, tidak bisa minum banyak apalagi pulang larut malam." "Baiklah, baiklah... asal malam ini Anda bisa pergi, sampai jam berapa pun sudah cukup. Kirimkan alamat, jam delapan saya akan menjemput Anda," kata Kexin. Anran menghela napas pelan, padahal rencananya hari ini hanya akan memindahkan barang, menyusunnya, lalu malamnya ingin beristirahat. Namun, bertemu sahabatnya lebih penting dari pada beristirahat di tempat tinggal barunya. "Baiklah," kata Anran. "Oke! Saya akan memberitahu Yiran, dan Xiaoyu sekarang." "Hanya mereka?" "Anda pasti belum membuka grup obrolan hari ini, Xizuan pergi ke Nanjing dan Wei Wei, dia masih di Beijing." "Baiklah, sampai jumpa," kata Anran lalu panggilan terputus. Anran meninggalkan balkon kemudian mengeluarkan barang-barangnya dan mulai menyusunnya perlahan, tetapi setelah beberapa kali menyusun barang-barang itu Anran merasa jika furnitur di kamar utama yang dulunya adalah kamar neneknya terlihat tidak cocok dengan gayanya. Ia memutuskan berhenti dan berpikir jika tahu akan seperti ini seharusnya lebih baik tinggal di apartemen saja yang dipastikan memiliki furnitur modern dan minimalis sehingga tidak perlu repot-repot membelinya lagi, tetapi gaji seorang dokter muda sepertinya tidak cukup untuk menyewa sebuah apartemen dengan lingkungan strategis di Shanghai ditambah biaya kehidupan sehari-hari. Anran menghela napas sembari berpikir menjadi dewasa dan memasuki dunia kerja ternyata tidak terlalu menarik karena harus bisa bertanggung jawab sepenuhnya pada diri sendiri, sementara menjadi seorang pelajar satu-satunya tanggung jawabnya terhadap diri sendiri hanya belajar. Tidak perlu memikirkan mencari uang dan mengelolanya agar cukup sampai waktunya gajian lagi. Anran naik ke atas tempat tidur yang baru saja diganti dengan seprei baru lalu merebahkan tubuhnya, kasur bekas neneknya juga terasa kurang nyaman. Ia merentangkan kedua lengannya di atas kasur sembari mendengus. "Ya Tuhan, aku perlu kasur, lemari, dan barang-barang baru," ucapnya putus asa. Anran mengangkat ponselnya dan mengetik pesan, sepuluh menit kemudian sebuah pesan dari layanan bank masuk ke ponsel Anran, ia menyeringai senang sembari berbaring di atas sofa ruang tengah lantai atas. "Ah... ternyata menjadi dewasa juga tidak mengerikan," gumam Anran dan tersenyum lebar lalu mengetik kembali. "Terima kasih, Kak Yuan. Saya menyayangi Anda!"Chapter 43Masa LaluSetelah menghabiskan hari liburnya di rumah orang tua dan kembali mendapat jadwal masuk siang, anran belum sempat bertemu Zeyan. Rencana kecil di rumah orang tua Anran ternyata juga mendadak gagal, Yuan mengatakan ada kesibukan mendadak, padahal Anran sudah bersusah payah menyetir pulang ke rumah orang tuanya setelah bekerja.Paginya, Anran terbangun lebih cepat dari biasanya dan saat berusaha memejamkan mata lagi, ternyata kantuknya sepertinya sudah hilang. Mungkin karena terlalu memikirkan kejanggalan alasan kakaknya yang tiba-tiba membatalkan acara makan malam keluarga di rumah mereka. Kakaknya adalah orang yang sangat rapi, bahkan dalam hal kecil sekalipun. Namun, Anran tidak ingin mendesak kakaknya untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena meskipun mereka sangat dekat, bukan berarti tidak ada batasan di antara mereka. Karena masih memiliki cukup banyak waktu sebelum berangkat bekerja, ia tidak langsung bersiap ke rumah sakit. Setelah beberapa saat memikir
Chapter 42PulangSetelah menyelesaikan beberapa urusan di rumah dan beristirahat sebentar, Anran yang sedang mendapatkan liburnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya pada sore hari. Sudah beberapa hari ia tidak pulang, bukan karena tidak ingin bertemu keluarganya, tetapi karena belakangan sela waktu luangnya ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Zeyan.Anran sengaja membeli beberapa kotak makanan, kue, dan hidangan yang disukai orang tuanya dan neneknya. Saat memasuki rumah, ia mendengar suara percakapan dari ruang keluarga dan ternyata benar saja ibunya, ayahnya, dan neneknya sedang berada di sana.Anran baru berjalan beberapa langkah ketika ibunya langsung menoleh."Anda akhirnya pulang juga," kata Xu Jinghua sambil tersenyum. "Kata Yuan, Anda kemarin mentraktirnya makan?"Anran yang masih membawa beberapa kotak makanan langsung menghela napas panjang. "Mama benar-benar tidak bisa menunggu saya duduk?" Ia meletakkan kotak-kotak tersebut di atas meja sebelum duduk di
Chapter 41CiumanAnran masih melingkarkan kedua tangannya di leher Zeyan ketika pria itu membawanya naik menuju lantai atas. Tubuhnya terasa ringan dalam pelukan Zeyan, sementara wajahnya masih sedikit panas karena ucapan yang tadi tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Ia benar-benar datang hanya untuk melihat Zeyan, tetapi sekarang memang sudah sangat terlambat untuk pulang. "Bagaimana makan malam Anda dengan Kak Yuan?" tanya Zeyan."Baik-baik saja," jawab Anran sambil memainkan ujung rambut Zeyan dengan jarinya. "Saya makan cukup banyak."Zeyan tersenyum tipis. "Bagus.""Saya juga bertemu Kexin sebentar.""Kexin?" Zeyan mengangkat alis, lalu kembali menatap tangga di depannya.Anran mengangguk. "Minum kopi. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya."Zeyan hanya mengangguk pelan. "Teman Anda... yang mabuk itu, kan?"Anran langsung melotot menatap Zeyan. "Anda selalu mengingat itu?"Zeyan justru tersenyum. "Anda sering menyebutnya, saya rasa dia yang paling dekat dengan Anda."Anran te
Chapter 40Sahabat yang TerlupakanSetelah makan malam bersama kakaknya, Anran tidak langsung pulang tetapi mampir ke sebuah toko untuk membeli beberapa pengharum ruangan karena pengharum di kamarnya akan segera habis. Setelah mendapatkan barang dan membayar, Anran keluar berjalan menuju area parkir sambil membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk di grup pertemanan mereka. Salah satunya dari Kexin yang sejak beberapa hari terakhir memang belum sempat ditemuinya.Kexin: Anran, Anda masih hidup?Anran langsung tersenyum dan mengetik balasan: Tentu saja.Tidak sampai beberapa detik, balasan Kexin muncul: Bagus. Saya kira Anda sudah meninggal karena sibuk pacaran.Anran tertawa kecil ketika membaca pesan itu lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil berjalan menuju mobil, tetapi kemudian berhenti sebentar sebelum akhirnya membalas.Anran: Kalian di mana?Kexin langsung membalas seolah memang sedang menunggu kesempatan untuk mengomel: Akhirnya Anda ingat kami masih sahab
Chapter 39Mentraktir Kakak Anran datang lebih awal ke restoran yang sudah dipilih Yuan. Restoran tersebut merupakan salah satu restoran Shanghai cuisine yang cukup terkenal dan selalu ramai, tetapi suasananya tetap nyaman dan tidak terlalu mewah. Begitu masuk, Anran langsung melihat Yuan dan Shenya yang sudah lebih dulu datang. Yuan mengangkat tangan untuk memanggilnya, sementara Shenya tersenyum ketika melihat Anran berjalan menghampiri mereka."Maaf membuat kalian menunggu," ucap Anran sambil menarik kursi."Kami juga baru sampai," jawab Shenya.Anran duduk di sebelah Yuan dengan wajah ceria. Entah karena baru menerima gaji atau karena akhirnya bisa mentraktir kakaknya menggunakan uang hasil kerjanya sendiri sehingga malam itu suasana hatinya terasa lebih baik. "Bagaimana pekerjaan Anda hari ini?" tanya Yuan seraya menyodorkan buku menu pada Anran. "Lumayan lelah, UGD hampir tidak pernah sepi," jawab Anran seraya membuka buku menu lalu membaliknya beberapa kali untuk membaca kes
Chapter 38Kunci Rumah SebelahSetelah dua hari berada di rumah Zeyan, kondisi Anran akhirnya benar-benar pulih. Demamnya sudah turun, kepalanya tidak lagi terasa berat, tenggorokannya juga sudah jauh lebih baik dan ia sudah bisa makan seperti biasa. Li Shuyan yang sejak datang terus memperhatikan keadaan Anran akhirnya merasa tenang setelah memastikan Anran benar-benar tidak lagi terlihat seperti orang sakit. Setelah makan siang, Li Shuyan dan Nuonuo pun bersiap untuk pulang. Nuonuo sempat beberapa kali memeluk Anran dan mengatakan bahwa ia akan merindukan Kakak Dokter, sementara Li Shuyan kembali mengingatkan Anran agar menjaga tubuh dan tidak terlalu memaksakan diri bekerja.Anran berdiri di depan rumah bersama Zeyan ketika taksi online yang dipesan Li Shuyan berhenti di depan pagar. Nuonuo melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan wajah ceria, tetapi setelah mobil mulai bergerak, Anran masih berdiri di tempat sambil memandanginya sampai kendaraan itu berbelok dan menghilang da







